<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Ya, Nak. Pamanmu di Sini&#8230;</title>
	<atom:link href="http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/</link>
	<description>catatan ringan angin-anginan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 05:28:30 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: fahrudin</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/comment-page-2/#comment-500309</link>
		<dc:creator>fahrudin</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 13:38:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/#comment-500309</guid>
		<description>mana goanya aku gak lihat tu ....
---&lt;em&gt;
Namanya juga goa hantu, sebangsa goa siluman. Gaib. :D
/tyo/&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mana goanya aku gak lihat tu &#8230;.<br />
&#8212;<em><br />
Namanya juga goa hantu, sebangsa goa siluman. Gaib. :D<br />
/tyo/</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jabon</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/comment-page-2/#comment-500308</link>
		<dc:creator>Jabon</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 13:37:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/#comment-500308</guid>
		<description>@masmuh
ada goa goa&#039;an ha ha ha</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@masmuh<br />
ada goa goa&#8217;an ha ha ha</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: masmuh</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/comment-page-2/#comment-500305</link>
		<dc:creator>masmuh</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 03:27:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/#comment-500305</guid>
		<description>hehe... ini si buta bukannya di goa hantu tapi di bloggombal, emang ada goa di blog ini ya....?
---&lt;em&gt;
Ada! :D
/tyo/&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hehe&#8230; ini si buta bukannya di goa hantu tapi di bloggombal, emang ada goa di blog ini ya&#8230;.?<br />
&#8212;<em><br />
Ada! :D<br />
/tyo/</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jabon</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/comment-page-2/#comment-500295</link>
		<dc:creator>Jabon</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 05:56:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/#comment-500295</guid>
		<description>itu udah lebih dari cukup kandungan humornya BOSS.. hehe saya udah ketawa berkali-kali nich
---&lt;em&gt;
Wah, kok malah ketawa? :D
/tyo/&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>itu udah lebih dari cukup kandungan humornya BOSS.. hehe saya udah ketawa berkali-kali nich<br />
&#8212;<em><br />
Wah, kok malah ketawa? :D<br />
/tyo/</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: jabon</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/comment-page-2/#comment-499733</link>
		<dc:creator>jabon</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 08:58:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/#comment-499733</guid>
		<description>ha ha keren deh pokoky</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ha ha keren deh pokoky</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Terinspirasi Pak Kere Kemplu&#8230; : catatan si boi</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/comment-page-2/#comment-207576</link>
		<dc:creator>Terinspirasi Pak Kere Kemplu&#8230; : catatan si boi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 21:12:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/#comment-207576</guid>
		<description>[...] blogombal.org, Kere Kemplu akhirnya menunjukkan batang hidung aslinya lewat blogombal. Dia adalah Paman Tyo, Antyo Rentjoko – ‘blogger sejuta komentar’ itu. Dialah yang menginspirasi saya ngeblog. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] blogombal.org, Kere Kemplu akhirnya menunjukkan batang hidung aslinya lewat blogombal. Dia adalah Paman Tyo, Antyo Rentjoko – ‘blogger sejuta komentar’ itu. Dialah yang menginspirasi saya ngeblog. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: -tikabanget-</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/comment-page-2/#comment-195627</link>
		<dc:creator>-tikabanget-</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 16:47:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/#comment-195627</guid>
		<description>ABCD ya? hihihi...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ABCD ya? hihihi&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: eka</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/comment-page-2/#comment-118873</link>
		<dc:creator>eka</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Jan 2008 13:32:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/#comment-118873</guid>
		<description>wahhhhh jan ra ndeso, ga katrok kakean omong tok.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wahhhhh jan ra ndeso, ga katrok kakean omong tok&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Saya Bambang &#171; Kopidangdut: Antara Idea dan Realita Kehidupan &#8230;</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/comment-page-2/#comment-70819</link>
		<dc:creator>Saya Bambang &#171; Kopidangdut: Antara Idea dan Realita Kehidupan &#8230;</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Sep 2007 03:49:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/#comment-70819</guid>
		<description>[...]  Saya sudah lanjut usia. Umur saya kira-kira 41 tahun. Bagi sampeyan yang sering mengunjungi blog gombal, maka segitulah kira-kira usia saya. Hampir sama dengan penggombal yang plontos itu. Saya tinggal di dusun. Jauh dari keramaian kota. Singgasana saya di pinggir jalan besar yang mlipir mau ke arah Semarang, itu pun bila sampeyan berangkat dari Magelang.  Setelah pertigaan ke kiri yang menuju kota Temanggung, sampeyan lurus saja. Nanti bertemu pom bengsin pinggir jalan. Ya, saya tinggal di Pringsurat, tepatnya Desa Rejosari. Lebih akurat lagi bila sampeyan ingat dengan dusun saya, namanya dusun Pondoh. Tempat tinggal saya asri. Bayangkan saja perkampungan Asterix. Ya! Seperti itulah. Persis! Jalan disusun dengan bebatuan dari pecahan cadas sungai yang mengalir di dusun saya. Rumah-rumah di sini tidak memakai pagar. Hanya tanaman. Pagar sudah habis. Dibabat dan dimakan oleh tanaman di sini.  Tanaman makan pagar. Sungguh! Pohon klengkeng begitu rimbun, mengalahkan kerimbunan pohon beringin yang tenar itu. Beringin tak laku di sini. Madu, klengkeng, kayu nangka yang kuning-kuning dan pasir kali adalah kebanggaan kami dalam menghidupi keluarga. Sekali lagi, beringin tak laku di desa kami. Mau tahu juga tentang pekerjaan saya? Pekerjaan saya begitu penting. Bikin sampeyan terus hidup. Bisa bekerja, hidup dengan layak dan tertawa gembira. Saya petani. Petani beras yang memberi makan seluruh rakyat di negara ini. Jadi saya jauh lebih penting bila dibandingkan dengan  jabatan dan pekerjaan si Bambang Gentolet, Bambang yang lain di desa saya.  Bambang yang satu itu, hanya menjabat Lurah.  Jangan bayangkan dan perkirakan saya onlain memakai apa. Bikin blog ini bagaimana caranya. Belajar dari mana. Saya masih tergolong warga desa yang canggih. Saya punya modem. Saya juga punya leptop. Lewat itu lah saya berkoneksi ria. Berjejaring dengan sampeyan semua. Ponakan saya di Van Lith-lah yang mengajarkan semua ini. Oh ya, saya juga kaya.  Kaya batin tepatnya. Karena saya punya banyak waktu luang dalam kehidupan yang so biutiful ini. Sungguh. Tentu saja. Begini contohnya: Berapa lama sampeyan bisa ngobrol enak sama istri sampeyan sendiri. Tentu saja lebih banyak sampeyan ngobrol dengan teman sejawat, teman kantor, dan bos sampeyan. Iya khan? Bahkan mungkin lebih banyak ngobrol dengan istri orang lain, bila istri orang lain tersebut kebetulan teman sekantor sampeyan. Tentu saja! Saya bisa sesukanya mengobrol dan bercengkrama dengan istri saya. Bisa dari pagi sebelum pergi bersama ke sawah, dilanjutkan saat menyiangi, makan siang, sampai saat ashar sebelum istri saya pulang terlebih dahulu untuk mengambil jemuran. pulang Saya senang di sini. Kerasan deh… Apalagi bisa tahu betul keadaan Jakarta liwat internet ini. Saya memang tidak punya henpon secanggih sampeyan. Tapi untuk apa? Saya mau bicara dengan, Pardjo, teman SMP saya di Perum Bulog untuk ikut tender beras? Pardjo bisa langsung datang kemari. Atau saya yang kesana. Tiba-tiba saya kangen dengan sahabat saya? Lha, ya langsung saja bertandang dengan sepeda ontel kesayangan. Rumah di sini asri. Jalannya juga mulus, menurut saya. Untuk bertamu, tidak perlu ketuk pintu apalagi datang dengan janji. Saya juga tidak memiliki kamera canggih dengan teknologi digital. Untuk apa? Lha, saya tidak mau mengabadikan apa-apa! Semuanya sudah terlahir abadi di sini. Saat anak-anak saya masih lucu dan kecil-kecil, saya perlakukan sebagaimana mestinya. Sepanjang waktu saya ikuti perkembangannya. Saya ajak beliau ke sawah, ke sungai, ke balai desa, ke acara penyuluhan kelompok tani dan tentu saja saat jagongan tetangga.  Saya nikmati tiap detiknya. Mumpung dia masih lucu. Jadi sekarang, saat dia sudah bersekolah, saya tidak merasa perlu buka-buka album foto. Album itu sudah ada dalam ingatan dan hati saya. Di sini! Coba deh.. pegang kening saya dan dada saya. Kalau berdegup kencang, berarti saya sedang ingat beliau semasa kecil. Tentu saja! Perkenalkan lagi, barang kali sampeyan lupa, nama saya Bambang. Bambang Kopdang Diredjono. Panggil saja Mas Kopdang.  Bila susah mengingat. Ingat saja Kopral Djono. Tapi ini beda. Saya Kopdang Diredjono. Panggil saja Mas Kopdang. Sekali lagi saya mau tanya. Lebih banyak mana sampeyan menghabiskan waktu mengobrol dengan istri sampeyan, atau sahabat sampeyan? Baik di kantor atau di jalan atau mungkin di kafe-warung kopi- dan gedung perkantoran di sana itu? Maaf bila kurang berkenan. Jadi, sebetulnya teman hidup sampeyan itu siapa? Istri sampeyan atau teman kantor sampeyan? Atau bos sampeyan yang sering sampeyan bilang gila itu. Kalau dalam kehidupan saya yang so biutiful ini, tentu saja. Bune’- istri saya- selalu dalam rangkulan. Setiap pagi, saat bangun dari tidur, Bune selalu sedang dalam keadaan melungker, mendekap erat saya, dan masih tersenyum juga. Persis setelah sesaat saya “kasih” semalaman.  Tidak kalah dengan perempuan kota, Bune saya bodinya yahud. Se’det. Seksyih dan padet. Bukan seperti model bintang dangdut sekelas Ambarwati, “Si Goyang Ngecrut” dari Ambarawa atau Bunga Citra Lestari yang posternya di dinding kamar anak saya yang pertama. Pokoknya Bune jauh lebih montok.  Muonnnntoks lebih tepatnya. Bune’ saya juga kaya. Kaya batin juga, sama seperti saya, tentu saja. Bune ndak pernah minta macem-macem. Lha wong, dia sudah punya semuanya. Bune saya ndak punya pegangan kertu kredit. Tapi pegangannya ya omongannya. Kalau saya lagi ndak punya uang, Bune belanja pakai omongan. “Yu, tak bayar sisuk yo, nek Mas-ku wis nduwe dit.” Yayuk Prapti, penjual kain keliling itu, ya percaya. Bune saya dan warga lainnya ndak pernah ngemplang kok.   Bune saya ndak suka macam-macam. Pakai baju ya seadanya. Dengan kain yang bagus dibeli dari Yuk Parti di Solo jaman saya plesiran ke sana, jaman si Ciprut, anak saya, masih kecil.  [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...]  Saya sudah lanjut usia. Umur saya kira-kira 41 tahun. Bagi sampeyan yang sering mengunjungi blog gombal, maka segitulah kira-kira usia saya. Hampir sama dengan penggombal yang plontos itu. Saya tinggal di dusun. Jauh dari keramaian kota. Singgasana saya di pinggir jalan besar yang mlipir mau ke arah Semarang, itu pun bila sampeyan berangkat dari Magelang.  Setelah pertigaan ke kiri yang menuju kota Temanggung, sampeyan lurus saja. Nanti bertemu pom bengsin pinggir jalan. Ya, saya tinggal di Pringsurat, tepatnya Desa Rejosari. Lebih akurat lagi bila sampeyan ingat dengan dusun saya, namanya dusun Pondoh. Tempat tinggal saya asri. Bayangkan saja perkampungan Asterix. Ya! Seperti itulah. Persis! Jalan disusun dengan bebatuan dari pecahan cadas sungai yang mengalir di dusun saya. Rumah-rumah di sini tidak memakai pagar. Hanya tanaman. Pagar sudah habis. Dibabat dan dimakan oleh tanaman di sini.  Tanaman makan pagar. Sungguh! Pohon klengkeng begitu rimbun, mengalahkan kerimbunan pohon beringin yang tenar itu. Beringin tak laku di sini. Madu, klengkeng, kayu nangka yang kuning-kuning dan pasir kali adalah kebanggaan kami dalam menghidupi keluarga. Sekali lagi, beringin tak laku di desa kami. Mau tahu juga tentang pekerjaan saya? Pekerjaan saya begitu penting. Bikin sampeyan terus hidup. Bisa bekerja, hidup dengan layak dan tertawa gembira. Saya petani. Petani beras yang memberi makan seluruh rakyat di negara ini. Jadi saya jauh lebih penting bila dibandingkan dengan  jabatan dan pekerjaan si Bambang Gentolet, Bambang yang lain di desa saya.  Bambang yang satu itu, hanya menjabat Lurah.  Jangan bayangkan dan perkirakan saya onlain memakai apa. Bikin blog ini bagaimana caranya. Belajar dari mana. Saya masih tergolong warga desa yang canggih. Saya punya modem. Saya juga punya leptop. Lewat itu lah saya berkoneksi ria. Berjejaring dengan sampeyan semua. Ponakan saya di Van Lith-lah yang mengajarkan semua ini. Oh ya, saya juga kaya.  Kaya batin tepatnya. Karena saya punya banyak waktu luang dalam kehidupan yang so biutiful ini. Sungguh. Tentu saja. Begini contohnya: Berapa lama sampeyan bisa ngobrol enak sama istri sampeyan sendiri. Tentu saja lebih banyak sampeyan ngobrol dengan teman sejawat, teman kantor, dan bos sampeyan. Iya khan? Bahkan mungkin lebih banyak ngobrol dengan istri orang lain, bila istri orang lain tersebut kebetulan teman sekantor sampeyan. Tentu saja! Saya bisa sesukanya mengobrol dan bercengkrama dengan istri saya. Bisa dari pagi sebelum pergi bersama ke sawah, dilanjutkan saat menyiangi, makan siang, sampai saat ashar sebelum istri saya pulang terlebih dahulu untuk mengambil jemuran. pulang Saya senang di sini. Kerasan deh… Apalagi bisa tahu betul keadaan Jakarta liwat internet ini. Saya memang tidak punya henpon secanggih sampeyan. Tapi untuk apa? Saya mau bicara dengan, Pardjo, teman SMP saya di Perum Bulog untuk ikut tender beras? Pardjo bisa langsung datang kemari. Atau saya yang kesana. Tiba-tiba saya kangen dengan sahabat saya? Lha, ya langsung saja bertandang dengan sepeda ontel kesayangan. Rumah di sini asri. Jalannya juga mulus, menurut saya. Untuk bertamu, tidak perlu ketuk pintu apalagi datang dengan janji. Saya juga tidak memiliki kamera canggih dengan teknologi digital. Untuk apa? Lha, saya tidak mau mengabadikan apa-apa! Semuanya sudah terlahir abadi di sini. Saat anak-anak saya masih lucu dan kecil-kecil, saya perlakukan sebagaimana mestinya. Sepanjang waktu saya ikuti perkembangannya. Saya ajak beliau ke sawah, ke sungai, ke balai desa, ke acara penyuluhan kelompok tani dan tentu saja saat jagongan tetangga.  Saya nikmati tiap detiknya. Mumpung dia masih lucu. Jadi sekarang, saat dia sudah bersekolah, saya tidak merasa perlu buka-buka album foto. Album itu sudah ada dalam ingatan dan hati saya. Di sini! Coba deh.. pegang kening saya dan dada saya. Kalau berdegup kencang, berarti saya sedang ingat beliau semasa kecil. Tentu saja! Perkenalkan lagi, barang kali sampeyan lupa, nama saya Bambang. Bambang Kopdang Diredjono. Panggil saja Mas Kopdang.  Bila susah mengingat. Ingat saja Kopral Djono. Tapi ini beda. Saya Kopdang Diredjono. Panggil saja Mas Kopdang. Sekali lagi saya mau tanya. Lebih banyak mana sampeyan menghabiskan waktu mengobrol dengan istri sampeyan, atau sahabat sampeyan? Baik di kantor atau di jalan atau mungkin di kafe-warung kopi- dan gedung perkantoran di sana itu? Maaf bila kurang berkenan. Jadi, sebetulnya teman hidup sampeyan itu siapa? Istri sampeyan atau teman kantor sampeyan? Atau bos sampeyan yang sering sampeyan bilang gila itu. Kalau dalam kehidupan saya yang so biutiful ini, tentu saja. Bune’- istri saya- selalu dalam rangkulan. Setiap pagi, saat bangun dari tidur, Bune selalu sedang dalam keadaan melungker, mendekap erat saya, dan masih tersenyum juga. Persis setelah sesaat saya “kasih” semalaman.  Tidak kalah dengan perempuan kota, Bune saya bodinya yahud. Se’det. Seksyih dan padet. Bukan seperti model bintang dangdut sekelas Ambarwati, “Si Goyang Ngecrut” dari Ambarawa atau Bunga Citra Lestari yang posternya di dinding kamar anak saya yang pertama. Pokoknya Bune jauh lebih montok.  Muonnnntoks lebih tepatnya. Bune’ saya juga kaya. Kaya batin juga, sama seperti saya, tentu saja. Bune ndak pernah minta macem-macem. Lha wong, dia sudah punya semuanya. Bune saya ndak punya pegangan kertu kredit. Tapi pegangannya ya omongannya. Kalau saya lagi ndak punya uang, Bune belanja pakai omongan. “Yu, tak bayar sisuk yo, nek Mas-ku wis nduwe dit.” Yayuk Prapti, penjual kain keliling itu, ya percaya. Bune saya dan warga lainnya ndak pernah ngemplang kok.   Bune saya ndak suka macam-macam. Pakai baju ya seadanya. Dengan kain yang bagus dibeli dari Yuk Parti di Solo jaman saya plesiran ke sana, jaman si Ciprut, anak saya, masih kecil.  [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: kwulandari</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/comment-page-2/#comment-5407</link>
		<dc:creator>kwulandari</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Jan 2007 03:00:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/08/01/ya-nak-pamanmu-di-sini/#comment-5407</guid>
		<description>khas dan lucu</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>khas dan lucu</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

