Burung Taiko di Rumah
PENGAMBILAN KEPUTUSAN: SENI ATAU ILMU PASTI?
Ternyata saya bukan orang yang ramah dan menyenangkan. Setidaknya untuk burung emprit maupun gereja.
Saya tunggu mereka mendekat, mencloki di atas nomor rumah untuk beol, seperti biasanya. Tapi sampai setengah sembilan pagi, Ahad ini, mereka menjauh. Hanya bertengger di genteng dan kabel PLN yang tersambung ke rumah.
Duduk bersila di teras, cuma sarungan dan beroblong, yang saya lakukan hanya menunggu dan akhirnya menjepret sekenanya. Bukan hanya tidak (atau kurang) ramah, ternyata saya juga tak sabar.
Lantas saya pun teringat laporan Day, putri saya, tadi malam. Serial lama Taiko (Eiji Yoshikawa) sudah tamat dia baca. Saya ingat kesan pertama dia saat memulai baca novel epik atau roman sejarah ini.
Bagaimana jika seekor burung tidak mau berkicau?
Nobunaga menjawab: “Bunuh burung itu!”
Hideyoshi menjawab: “Buat burung itu ingin berkicau.”
Ieyasu menjawab: “Tunggu.”
Dia belum membaca Musashi. Biarlah sampai waktunya nanti tertarik dan sempat. Tapi dari Taiko, dia mendapatkan pelengkap dari game lawas strategi yang disukainya, tentang perang samurai.
Malam ini, ya tadi, saya tanya dia tentang apa yang dia petik dari kasus burung itu. Katanya, beda kepribadian beda cara menangani masalah. Lantas? “Orang yang nggak sabaran, brangasan, biasanya nggak bisa menyelesaikan masalah dengan baik.”
Saya tertawa. Dia juga.
18 Responses to Burung Taiko di Rumah
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Berangkat Gelap Pulang Gelap
December 14, 2006 by AntyoSERBAKLISE. TAHU-TAHU AYAH JADI BREWOK.
Seorang anak heran mengapa kulit ayahnya tetap hitam padahal tak pernah dibakar Matahari. Ayah dan bundanya (yang berkulit terang) berangkat menjelang fajar, saat si bocah masih memeluk guling, dan dalam sisa mimpi dia hanya ditinggali ciuman.
Malam, paling awal pukul setengah delapan, barulah ayahnya tiba di rumah. Bundanya lebih [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





paman kok banyak nulis tentang burung ya?
hewan lain dong.. macan kek, ato mengupas ttg bawang, kentang, wortel, ditambah ayam jadilah sup *lho?*
paman post yg lama ga ada di list arsipnya tuh, padahal aku baru aja kenal paman, mw baca yg lama ga da linkx, jd cm cari link dari comment
[...] Walah, ternyata dari games lawas Day, yaitu Battle Realms. Dia memang menyukai games lawas macam itu, termasuk Shogun: Total War, terlebih setelah membaca Taiko. Saya tak telaten memainkannya, karena saya memang bukan gamer. Main Zuma pun selalu kalah skor dari istri saya. [...]
Watricht ! kabetoelan ik djoewa soeda noelis itoe boeng…di sinih
[...] Saya bukan manusia yang ramah bagi burung. Buktinya burung gereja itu tak mau hinggap di jendela. Tak pernah mau. Hanya di kejauhan, di luar jendela, dia hinggap. Sama seperti ketika saya dulu bicara tentang burung dalam Taiko. [...]
weleh, bacaan aye kalah sama non day…
ta kira sebelumnya sampeyan mo nembaki itu burung :)
Om, putrinya penggemar game Shogun Total War tho? Tumben, aku ngelijat anak putri suka baca Taiko dan semacamya (sory, gue sexist :-D)
Makanya Om usaha lagi lebih keras, biar punya anak lelaki ;-D
Kalau Day belum tertarik baca Musashi suruh baca komik Vagabond aja. Bikinan Takehiko Inoue, ceritanya Miyamoto Musashi juga. Kayaknya yang original udah keluar.
kalo plu burung diselesaikan dengan mbakari unggas2 itu termasuk brangasan gak paman?
hayo, coba jenis manuk apa sing kerep ketok neng film unyil?
(jawabane mesti dudu manuk cucakrowo). hik…hik….
pak de,blog nya anyar…
apik..rapi temen pak de..
lain orang lain cara:
“Bagaimana jika seekor burung tidak mau berkicau?”
saya menjawab: “Biarkan saja. Saya akan cari burung lain yang mau”.
halo paman tyo! :D
hehe, burung memang mengandung banyak pelajaran. itulah kenapa manusia tidak bisa lepas dari burung ?#@$%
Day TOP!!! untung Bapaknya sudah tidak kemplu dan tidak kere lagi :D
Soal Ieyasu yang bener-bener “asu” itu, Day mau cerita?
emang ndak miara burung sendiri pakde?
belajar sabar ah.. *merasa diri kadang suka esmosi*
wah.. pak antyo ini pasti orangnya sabar.. gak kayak saya ya pak–, pemberang..
–budiw
di sini lagi musim taiko ditabuh, maklum lagi musim panas:D
btw, hebat ya Day, di usia masih belia udah tamat baca taiko.