NGEBLOG, BAHKAN YANG CENGENGESAN, TETAP BERISIKO.
Saya bisa meliput dan menulis, pernah dimuat di sejumlah media, dan saya mendapatkan uang dari situ. Baik sebagai honorarium saat saya masih freelancer maupun sebagai gaji imbalan untuk pegawai karena bekerja di perusahaan media. Lebih penting lagi: kadang saya mendapatkan keasyikan.
Lantas bagaimana dengan blog ini? Tetap sebuah jurnal pribadi, lengkap dengan segala tanggung jawab saya, disertai (kemungkinan) ganjalan etis maupun moral, komplet dengan ranjau hukum yang mungkin saya hadapi sebagai warga negara.
Halah, serius amat sih? Barusan ikut penataran? Biasa ngeblog cengengesan kok tiba-tiba ceramah?
Soal blog ini memang ada sisi seriusnya, terutama pada proses dan hasilnya, dan itu bisa menimpa semua bloggers.
Bukan sekadar laporan
Mari, mulai dari sisi yang paling ringan. Taruh kata saya melaporkan apa yang saya lihat, dengar dan rasakan di Pasar Cikini, Jakarta Pusat, seperti termuat di kontrakan lama. Saya bagikan kepada semua pembaca blog, melalui tulisan dan gambar.
Asyik dong? Bagi saya iya. Bagi sebagian pembaca juga. Tapi itu bukan sebuah laporan jurnalistik. Itu seperti surat terbuka untuk sejumlah kawan, yang bisa diintip semua orang. Khas eksibisionis, begitulah.
Jika yang saya lakukan adalah pekerjaan jurnalistik, maka prosesnya juga harus sesuai standar jurnalistik. Mau mainstream media atau bukan, ketika saya menanyai bahkan memotreti narasumber di pasar maka saya harus memperkenalkan diri, lalu menjelaskan maksud saya menanyakan ini-itu dan memotreti sana-sini.
Tentu di dalam paket dan perkenalan merangkap penjelasan maksud itu sudah termasuk info tentang media pribadi saya, yaitu blogombal.
Kalau narasumber tak paham apa itu blog, saya harus menjelaskan blog dengan bahasa yang dia mengerti, bahkan bila perlu setelah laporan saya ter-online-kan maka saya harus mencetakkan halaman web itu dan menunjukkannya.
Ngapain repot?
“Wah, nggak asyik!” kata Anda. “Kalo banyak batasan, hasil kupingan dan intipan nggak bakalan lancar tertayang,” kata Anda.
Nanti dulu, sabar. Kalau yang saya lakukan adalah pekerjaan jurnalistik, maka saya harus menanyakan kebenaran hasil kupingan maupun obrolan (bukan wawancara), bahkan hasil jepretan colongan (ini nih yang asyik), kepada pihak yang tepat, dan menghormati hak mereka untuk menyangkal.
Tanpa proses itu saya tak beda dari penguping, reserse, intel, dan penyebar fitnah — bahkan bisa menjadi penyiar rahasia keamanan negara (misalnya lokasi persis rudal yang dibiayai rakyat di kompleks industri strategis) dan etika peradilan (kasus susila dan sidang anak).
“Ah, udahlah. Nggak fun nih. Ngeblog ya ngeblog, jurnalistik ya jurnalistik. Napa sih sok repot? Yang penting kan kita nggak bo’ong, nggak ngarang, semuanya faktual, ada bukti foto, eksklusif lagi!” begitu mungkin kata Anda. Betul. Boleh. Tapi silakan melanjutkan baca…
Kalau di pasar ada pencopet tertangkap dan dipukuli, masa sih saya harus menyeruak, “Perkenalkan, saya Paman Tyo, dari blogombal, mau memotret dan melaporkan. Yang disebut blog adalah…”
Saya selesai menjelaskan si copet sudah bonyok bahkan mati. Bahkan saya mungkin sudah linglung gegar otak di sebelahnya akibat pukulan massa(l).
Kalau blog ini adalah sebuah halaman jurnalistik maka saya bisa saja langsung memotret pengeroyokan itu. Mengamati keberlangsungannya. Stop dulu: ini pun masalah moral, bukannya menghentikan malah mengabadikan acara main hakim sendiri — tapi ini buat diskusi lain kali.
Setelah itu saya harus mengumpulkan keterangan dari pengeroyok, saksi, polisi, dan sebisa-bisanya si pencopet itu. Setelah itu saya tulis, lantas klik, online. Blog (jurnalistik) telah terbarui.
Walah, repot bener. Nggak asyik. Telat. Kalah cepat sama media arus besar yang punya pasukan untuk mengumpulkan dan menyajikan informasi. Memang.
Risiko pahit
Uh, mulai nggak menghibur nih. Bagaimana kalau demi keamanan pribadi, karena kita berada dalam represi penguasa atau ancaman preman yang ditoleransi oleh penegak hukum? Masa sih harus terang-terangan? Sudah tanpa nama alias, masih konfirmasi ke sana-sini pula sebelum online?
Apa boleh buat, kalau sebuah blog memang diniatkan menjadi halaman jurnalistik — dengan penerbit, peliput, fotografer/kameraman dan editor ada pada satu orang, tapi semuanya (seolah) terlembagakan — maka prosedur tadi harus ditempuh, dengan sejumlah risiko.
Uh, sok heroik! Emang berani dipukulin? Nggak. Sakit itu. Nggak ada yang mau.
Eh, entar dulu. Masih ada soal lain. Klarifikasi dari pihak tertentu, kesanggupan saya meralat dan meminta maaf, bayar ganti rugi dan denda, dan seterusnya yang akan panjang kalau ditulis di sini.
Mau lebih rumit dan berat juga ada: jika keyakinan ngeblog jurnalistik saya — dengan atau tanpa investor — mewajibkan saya melindungi sumber berita maka risikonya ada pada saya.
Selalu ada ranjau
Jadi, gimana dong? Setelah bertele-tele, dan memutar sana-sini, maka saya cuma menyatakan bahwa ngeblog njurnalistik itu tidak gampang. Bahkan ngeblog tanpa niat jurnalistik pun tetap berkemungkinan tersandung perkara. Dengan catatan: tersandung belum tentu kita yang bersalah.
Blog ini, ya blogombal ini, tetap sebuah halaman suka-suka. Bukan halaman jurnalistik di web. Bukan blog tentang jurnalisme.
Meskipun halaman suka-suka, risiko tetap ada. Manajer TI kantor saya berhak menutup akses saya ke hosting karena yang saya lakukan — ya: ngeblog — tak termasuk dalam uraian pekerjaan saya. Artinya sama bersalahnya dengan saya menggunakan internet kantor untuk mengunduh gambar dewasa dan menggunakan jam produktif untuk chatting, bahkan untuk transfer duit, sudah begitu sering mengeluhkan kuota bandwidth pula.
Bahkan sebagai blog, tulisan ini tak memenuhi standar. Tiada tautan dengan rujukan tertentu, bahkan untuk kata “blog” dan “jurnalistik”, “journalist”, “jurnalisme”, “journalism” — apalagi untuk kasus blogger Amrik yang lagi hangat maupun blogger top peliput (pe)perang(an).
Dalam ngeblog, jika menyangkut pihak lain, maka ranjau selalu ada. Ini seperti Anda menyemprotkan Pylox (merek nih) ke tembok pagar saya “botak tua jelek!”
Faktual, sih. Meyakinkan, takkan terbantahkan. Tapi saya berhak memerkarakan Anda karena telah mengganggu properti saya dan melakukan tindakan tidak menyenangkan — bukan isi pernyataan Anda — apalagi jika Pylox-nya punya saya.
Lah lahhhh…, berat juga ya ngeblog, padahal niatnya kan suka-suka? Keliru menyebut nama latin kucing gerong bakal dikoreksi sambil dihina sebagai goblok. Menyalin jepretan orang dibilang nyolong.
Lebih sial lagi, jika saya tersandung urusan legal akibat ngeblogombal, maka juragan saya tak berkewajiban menyediakan pengacara, tak perlu terlebih dahulu meminta ombudsman untuk melakukan pemeriksaan internal. Sama seperti kalau saya naik sepeda menabrak bocah, padahal di luar tugas, maka urusan saya tanggung sendiri.
Kebebasan berpendapat dan takaran risiko
Jadi? Hmmm… gimana ya enaknya? Kalau mau aman, semuanya dibatin saja. Jangan diucapkan, jangan dituliskan, apalagi dipublikasikan… :D Tapi layanan blog buat apa, coba? Ya buat nggombal karena nggombal adalah bagian dari kebebasan menyatakan pendapat.
Tapi mau blog jurnalistik atau blog cengengesan, jika (misalkan) sebagian (kecil) pembacanya, juga satu-dua media resmi, pada percaya bahkan memanfaatkan (minimal mengilhami), terus bagaimana?
Lah lah…, ruwet lagi. Balik lagi ke atas, paragraf demi paragraf. Kalau belum ketemu berarti kita diskusi soal lagi — dengan catatan kalau ada waktu dan mood kita cocok.
Kalau mau digampangkan sih jawabannya ini: sejauh apa si blogger, eh saya, sanggup bertanggung jawab. Anda benar, kalimat barusan itu klise dan tak menjelaskan apapun.
Saya sudah capek mengetik ini. Sudah hampir meneruskan “kepada siapa tanggung jawab blogger setelah kepada dirinya sendiri: masyarakat pembaca, negara, atau…?” Tapi capek. Gombal kan?
Yang baca aja capek apalagi yang nulis. Lagi pula saya mau ketemu orang.




FIA | 29 10 2008 @ 20:37:18
ngeblog bagaimanapun tetap disebut jurnalisme, meskipun isinya sekadar hahahihi, opini, atau catatan pirbadi..
Catatan Antyo Rentjoko» Blog Archive » Semua Menjadi Pewarta, Lantas Mana yang Bisa Dipercaya? | 15 10 2008 @ 9:50:11
[...] Jadi, bagaimana dong? Aha! Mari berdiskusi. Pendekatan saya terhadap masalah bisa jadi salah. Begitu pula klaim lama saya ketika awal ngeblog dengan nama asli dan domain sendiri: “Blog ini Bukan Halaman Jurnalistik“. [...]
MattGar | 17 05 2007 @ 19:47:17
Totally agree
Arda Dinata | 28 04 2007 @ 11:13:39
Saya setuju dengan isi artikel tulisan ini. jadi, memang tulislah hal-hal yang bermanfaat saja, ok. makasih.
Arda Dinata
1. Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini: http://www.penulissukses.com?id=buku
viagra online | 09 03 2007 @ 13:16:02
viagra online…
…
hydrocodone | 02 02 2007 @ 3:36:14
hydrocodone…
news…
Quality Indonesian Blogger » Blog Archive » Blog, Karya Jurnalistik? | 18 01 2007 @ 23:07:15
[...] Paman Tyo, begitu ia ingin disebut, punya tulisan menarik apakah blognya adalah karya jurnalistik, beriku kutipannya: Lantas bagaimana dengan blog ini? Tetap sebuah jurnal pribadi, lengkap dengan segala tanggung jawab saya, disertai (kemungkinan) ganjalan etis maupun moral, komplet dengan ranjau hukum yang mungkin saya hadapi sebagai warga negara. Kemudian, paman yang juga jurnalis ini mengutip lagi bahwa bila blog dianggap sebagai jurnalis, ia juga harus melakukan langkah-langkah peliputan seperti jurnalis: Jika yang saya lakukan adalah pekerjaan jurnalistik, maka prosesnya juga harus sesuai standar jurnalistik. Mau mainstream media atau bukan, ketika saya menanyai bahkan memotreti narasumber di pasar maka saya harus memperkenalkan diri, lalu menjelaskan maksud saya menanyakan ini-itu dan memotreti sana-sini. [...]
Wahed Morales | 10 11 2006 @ 20:57:35
Angin-anginan… wesss whuzzz…
udin | 06 11 2006 @ 10:47:18
suka-suka yang punya blog, mau dijadikan apa blog miliknya itu.
mau buat cengengesan, laporan peristiwa layaknya laporan jurnalistik, berpuisi, maupun tempat mengumpat sekalipun nggak masalah.
dengan “label” itu, dia sudah bisa mempertimbangkan kepada siapa akan bertanggungjawab.
kirang lankung mekaten nggih Paman Tyo. matur suwon sampun mampir.
usi | 02 11 2006 @ 20:53:53
jadi penasaran ma jurnalistik…kadang yang dipikiran tuh repot gitu dan khusus orang yang rada cepet mikir tapi ternyata semua itu berproses dan tanpa kita sadari kita sedang berkenalan dengan dunia jurnalistik
Djony Herfan | 14 08 2006 @ 16:16:35
Apalah arti sebuah nama, itu pepatah yang kelamaan beredar. Hehehehe, …. Begitu itu yang saya pahami jurnalistik dari blog ini. Mau menyebut dengan istilah apa pun, kegiatan yang ditulis, dilapor, dibincangkan, dan diekspose tetap menuntut pengetahuan dasar penulis. Oleh karena itu, jurnalistik dasar akan jadi tulisan “ngawur” kalau penulis nir prinsip-prinsip jurnalistik. Walau demikian, seseorang sering menjalankan teori jurnalistik tanpa si blogger tahu jurnalistik itu sendiri. Jurnalistik blog setara dengan karya jurnalis blog otodidak. Untuk itu, tetaplah saya belajar dan mencuri pengetahuan jurnalistik yang luas dari penulis blog ini!
Nor Pud Binarto | 10 08 2006 @ 19:02:22
saya pikir blog adalah dunia bebas yang mengasyikan, ngapain harus mikir yang tidak musti kita pikirin. capek tau
Tukang Koran | 10 08 2006 @ 15:18:19
Paman, posting ini bisa dijual ke biro skripsi. Trus mahasiswa jurusan komunikasi yang beli tesis ini dapat dipastikan bakal lulus dengan sukses deh. Bravo!
golda | 10 08 2006 @ 2:38:41
tumben mas tyo capek :D
Fernando | 09 08 2006 @ 15:45:04
gombalism.. :D
JaF | 07 08 2006 @ 23:51:05
Si mbah agaknya tengah mencari jatidiri di rumah yang baru hehehehe.. Maap saya memilih panggilan mbah saja lah ketimbang Paman yang terlalu AT Mahmud sekali..
Ya mbok sekali2 cerita tentang siapa sih sosok mbah berkacamata tebal yang biasa majang di rumah kontrakan yang dulu itu? Bukan anda kan bos? Siapakah dia?
Hedi | 07 08 2006 @ 22:23:18
buat saya, blog sampeyan kadang memuat jurnalistik, misalnya soal warung yg juga berfungsi sbg wartel. Kalo sampeyan ga mewartakan, toh orang ga tahu meski bukan dalam format mainstream :)
budiw | 07 08 2006 @ 22:22:50
duh panjang postingannya..
komentar dulu ah.. baca belakangan..
–budiw
qq | 07 08 2006 @ 20:15:16
Paman, blognya dilink yaaa … Thx
qq | 07 08 2006 @ 19:58:57
Wah … saya jg sama bingungnya paman, emang ngeblog itu utk apa ya? Yang saya tahu saya cuma pengen nulis dan berbagi cerita dgn teman2 tanpa resiko dicontek orang laen (ini pengalaman para bloggers)ketimbang berkali2 ngetik ceritanya di email .. hehehe
Weblog jg konon kabarnya digunakan pertama kali sebagai media utk ngeluarin hasil pemikiran sendiri yang ‘berbeda’ dibanding orang kebanyakan. Jadi ya ga ada salahnya klo ada pro dan kontra thd isi blog. Percaya ato engga ama isi blog ya diserahkan kpd yang mbaca … :)
Eh … sebenernya Paman lagi ngomongin apa seh? *ga nyambung* :D
ndoro kakung | 07 08 2006 @ 19:57:37
jan-jane kowe arep ngomong opo to, kang? tumben ruwet? ada masalah di rumah….*ngacir*
IMW | 07 08 2006 @ 19:08:10
Cuma satu kalimat “top tenan”
jalansutera | 07 08 2006 @ 19:05:54
oke blog kita bukan karya jurnalistik. kalo begitu cuma masuk kelas narcistis bin eksebisionis, ya?
fahmi jelek | 07 08 2006 @ 18:41:22
ngeblog — tak termasuk dalam uraian pekerjaan. Artinya sama bersalahnya dengan menggunakan internet kantor untuk mengunduh gambar dewasa dan menggunakan jam produktif untuk chatting, bahkan untuk transfer duit, sudah begitu sering mengeluhkan kuota bandwidth pula.
heheheee… :D
penggenap_sahaja | 07 08 2006 @ 17:54:49
tidak bisa komentar, hanya menggenapi saja biar komen di sini tidak berjumlah 13. :)
A: menurutmu sendalku bagus?
B: jelek ah
A: menurutku bagus.
*ngikut si A, ngeloyor* hihihi
firman | 07 08 2006 @ 17:42:11
yang dimaksud kan ‘blog ini’ (blogombal), berarti blog lain bisa jadi merupakan karya jurnalistik. (komen sok filosofis).
ipoul-bangsari | 07 08 2006 @ 17:40:45
Hooh, dowo tenan ki…
Arif Widianto | 07 08 2006 @ 17:32:20
Blog, Karya Jurnalistik?
Tapi seharusnya para blogger tidak perlu takut. Kalau kita coba kritis dari awal, dan memerankan peran yang tepat sebagai blogger (dengan batasan, hak, dan kewajiban yang kita laksanakan), seharusnya blogger yang akan menjadi jurnalis akan aman-aman saja.
terapikomik | 07 08 2006 @ 16:54:20
Kok jadi ngomongin tanggungjawab? Ini blogombal apa blogserieus? Akibat pasang nama asli, ya, paman?
Imponk | 07 08 2006 @ 16:54:09
Tumben tulisannya panjang :D
mbah dipo | 07 08 2006 @ 16:33:24
sing moco nganti ngantuk, sing nyekrol nganti keju…. kesimpulannya : tetep ngeblog…
topan | 07 08 2006 @ 16:06:53
Ciieee…..jati dirine metu, cengengesan iso serius iso, bisa ngedaftar ISO 1400, piye jal….?
kekasih_gelap | 07 08 2006 @ 15:40:59
kearifan, kadang datang saat kita tertekan
kejengkelan, biasa datang saat kita terganggu mewujudkan keinginan
kangen, juga sering menyergap kala kita terpaut jarak (atau memperoleh pengalaman baru yang kurang mengesankan)
tapi, kelucuan bisa datang kapan saja. termasuk, ketika menyaksikan seseorang yang biasa kita kenali sebagai sosok slengekan, cengengesan, suka bercanda, namun tiba-tiba sangat serius.
dari jauh, aku hanya bisa menduga-duga. ada apa dengan Sang Prabu yang mendadak berubah sikap?!? :p
tukangKoding | 07 08 2006 @ 15:27:04
hidup gomballlll….
enda | 07 08 2006 @ 15:25:06
ini memang salah satunya kelemahan blogger: double standard! :D
kalo dianggap remeh, teriak2: ini sriussss!
kalo dianggap serius, harus tanggung jawab: ini kan cuma blog
heheheh.
yati | 07 08 2006 @ 14:22:08
bukan om kere yg gw kenal nih. Ada yang masalahin-kah om? blog ya blog…ini wilayah pribadi yg boleh dibaca org. mo jadi wartawan? nulisnya di media resmi. Lha, jadi ikut serius kek om kere…eh, om tyo
Mbilung | 07 08 2006 @ 14:09:28
Ada yang bilang gini Pakde “Whereof one cannot speak thereof one must be silent”, mungkin yang ngomong belum pernah nyoba ngeblog ya?
frozi | 07 08 2006 @ 14:04:35
huahahahahahahahaha!
bener2 guombal puol!
hayo ngeblog lagi!!!