Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Hati-hati Memasang Foto di Blog (?)

Selasa, 08 Agustus 2006 @ 11:14 | Ngeblog

EHM…, LAGI-SOAL RANJAU: PEMUATAN WAJAH HARUS SEIZIN PEMILIK.

Foto nenek melamun di pasar. Foto bocah meringis penggembala kambing. Foto kerumunan berebut barang diskonan di toko. Aha! Menarik untuk diblogkan. Foto jepretan sendiri, bukan membajak karya orang lagi. Lihat misalnya jepretan si Earth.

Atas nama pasal minat insani foto-foto macam itu tak hanya menghibur melainkan juga mengantarkan kepada perenungan tentang kehidupan (ciehhhh…)

Saya sering memuat foto orang di blog saya, baik di tempat lama maupun yang sekarang. Malah pekan lalu, menjelang tengah malam, saya memotret beberapa pedagang kakilima di Cawang, Jakarta Timur.

Anda juga memuat foto dalam blog Anda. Ada foto artis pujaan maupun artis mbencekno, ada foto teman tapi gimana maupun bekas mesra tapi bisa diperkawan. Eh, nanti dulu. Amankah?

Tampaknya ini ranjau dalam ngeblog. Jika merujuk UU tentang Hak Cipta (pasal 20), publikasi foto seseorang atau lebih harus minta izin orang yang terfoto. Kalau yang kita foto sepuluh orang maka kita harus beroleh izin dari kesepuluh pemilik wajah itu.

Bagaimana dengan rumusan ruang publik dan privat yang menjadi lokasi penjepretan? Video dan foto konser di stadion yang Anda bikin di tengah larangan manajemen si artis dan promotornya, lalu Anda siarkan di blog, itu melanggar hukum. Kalau cuma di hard disk dan kartu memori, belum menjadi masalah.

Tentu itu di luar kenyataan bahwa bootleg ada penggemarnya. Lebih penting lagi, HaKI (Hak atas Karya Cipta) tak membedakan apakah blog kita itu media arus besar atau independen-personal; tak menyoal menguntungkan atau malah buang duit; bahkan tak peduli foto artis atau orang biasa.

Akbar Tandjung, saat mengetuai Golkar, empat tahun lalu pernah memenangi perkara. Seorang penulis membuat buku, berbahan kliping media, tentang kasus korupsi Bulogate. Yang Akbar persoalkan bukan isi buku melainkan pemuatan fotonya di sampul tanpa seizin darinya. Si penulis mendapatkan foto si tokoh publik dari Antara dan memuatnya dengan izin.

Bagaimana dengan foto berita yang diwartakan oleh koran dan majalah? Secara hukum pihak yang dirugikan boleh memerkarakan, tapi hasilnya tergantung sidang pengadilan.

Selama ini, dalam blog, yang terjadi adalah saling pengertian. Saya bertemu Didats dan Andry, juga Fahmi, oh ya tentu Lusi, lalu memotretnya. Kemudian foto mereka nongol di blog saya. Mereka tenang (belum tentu hepi sih), padahal saya tak memegang bukti kuat sudah minta izin. Padahal lagi, ahli waris mereka pun berhak menuntut.

Bagaimana dengan foto yang ada di masing-masing blog? Secara teoritis pemiliknya boleh keberatan, bahkan protes maupun memerkarakan, kalau fotonya saya angkut. Bukan soal niat saya baik, yaitu ikut membagikan kebahagiaan (misalnya dulu, Didats di pantai hahaha, eh kok haha, maaf Dats!), melainkan ada atau tidak izin dari pemilik hak atas karya cipta, termasuk dari (para) pemilik wajah.

Bagaimana dengan gravatar, favicon, dan pasfoto di Technorati? Saya tak tahu. Bisa saja kita bilang itu memang maunya si pemilik wajah, yang menyediakan diri untuk diangkut oleh browser. Tapi apa ya cuma itu masalahnya?

Tentu, nyuwun sewu, mohon ampun, ahli waris dari Pak Tua yang fotonya saya mainkan untuk identitas lama itu juga berhak menggugat. Begitu pula seorang ibu penjual buah di Cawang dan ahli warisnya yang saya potret malam itu.

Bloggers yang melek hukum mungkin bisa mencerahkan saya dan Anda. Bloggers yang bijak dalam soal etika mungkin bisa membantu kita.

Barangkali Andalah orangnya. Silakan lho. Please, sumangga

Di luar soal jawaban Anda yang saya nantikan, inilah alasan saya mengapa menulis ini dan “Blog ini bukan Halaman Jurnalistik“. Ketika saya masih menjadi si orang lain, rasanya aneh kalau menulis beginian (pernah sih soal HaKi saya singgung), karena seolah mengajak orang lain terbuka dan bertanggung jawab tapi saya masih menjadi si alias (bedakan dengan anonim) yang ngumpet.

Lah, kok ngeblog ada ranjaunya yak? Nggak fun lagi nih. Begitu mungkin kata Anda.

Apapun yang menyangkut pernyataan pendapat kepada publik memang berisiko.

Ada 47 komentar | trackback | Depan

#47

lintasan — Memasang Foto Orang di Blog | 20 08 2008 @ 21:12:02

[...] boleh dan (mungkin) tidak boleh. Tapi kayaknya itu kurang jelas bagi awam. Makanya ada blog yang mencoba mengingatkan — tapi si blogger itu sendiri terus saja memotret orang. Persoalan kita, semua bloggers, [...]


#46

antown | 20 08 2008 @ 20:51:48

waaah…si earth gak bisa dibuka di tempat saya


#45

cK | 20 08 2008 @ 8:20:41

saya biasanya majang foto kopdar yang sebelumnya sudah minta ijin dulu dari ybs. saya jarang majang foto orang lain tanpa seijin mereka. biasanya malah foto saya sendiri yang dipajang. gak ada yang protes. :P


#44

blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Klik! Lalu Ter-online-kan…* | 07 04 2008 @ 21:50:09

[...] *) Sebuah pengulangan dari post lawas [...]


#43

annots | 08 02 2008 @ 18:52:07

Pak akbar tanjung agak geram karena fotonya dimuat dalam perkara bulogate, coba kalo foto dimuat dalam acara launching dagdigdug di taman menteng kemarin, pasti beliau dengan senang hati memberikan senyumnya yang khas seperti ini :)


#42

It’s a Xoclate Thing » Fotoku Hak Ciptanya | 08 11 2007 @ 13:41:58

[...] Hati-hati Memasang Foto di Blog (?) by BlogOmbal [...]


#41

aang | 19 06 2007 @ 11:55:04

ini aang ngirim komentar gimana diterima disana ayooo


#40

Belajar-yok | 31 05 2007 @ 14:51:09

Kalo pasang photo binatang ?


#39

donny | 18 05 2007 @ 0:05:05

hy lam semuanya


#38

ira rz | 31 03 2007 @ 12:07:59

duh..susyah ya mo pasang foto aja. bener2 prinsip birokrasi di indo deh -kalo bisa dipersulit, kenapa dipermudah- ?? hehehe


#37

elly.s | 19 12 2006 @ 21:59:19

walaaah…diblog saya paling banyak foto orang lain ketimbang foto saya…
Saya mau minta izin ngelink ini paman…


#36

stefanus arief s | 21 11 2006 @ 16:34:51

pertama bukak, secuil senyum langsung tersemburat dari bibirku…kayaknya ayah dari dua putri dan suami dari satu istri ini cukup cuek dan apa adanya.salam kenal aja.


#35

koeaing! | 16 10 2006 @ 13:22:36

tetep sahadja ik tijada mahoe itoe boewat mbeliin hak tjipta…hidoep bebaaaaaaaaasss..!!


#34

wingoke | 28 08 2006 @ 15:32:04

waduhhh… untung kemarin mo motret peternakan ayam nggak jadi…

salam kenal


#33

wingoke | 28 08 2006 @ 15:31:49

waduhhh… untung kemarin mo peternakan ayam nggak jadi…

salam kenal


#32

jalansutera | 21 08 2006 @ 15:25:58

coba liat blog baru saya lewat link ini. apa perlu saya minta ijin ke tukang tahu, tukang air nira, tukang es campur? yang penting niatnya deh. kita nggak punya niat buruk, kok. hehehehe…


#31

koeaing! | 18 08 2006 @ 19:45:47

wa…bole graties sahadja ah, pasal djikalaw terlaloe bakoe samah itoe oekoem, bole tijada madjoe inih doenija blog poen….


#30

pika | 13 08 2006 @ 18:42:31

dengan ini saya minta ijin pasang fotonya paman tyo di blog saya
*tinggal 2 blogger lagi nih yang belum*


#29

Djony Herfan | 11 08 2006 @ 7:39:52

Foto yang dipublikasikan hanya untuk kepentingan nonkomersial memang bebas izin, asalkan sumber foto dituliskan. Artinya foto nonkomersial adalah foto yang dimanfaatkan untuk kalangan sendiri. Diblog kalangan sendiri lebih sempit lagi pengertiannya karena hanya untuk si blogger. Namun, diblog ternyata ada pembaca lain. Nah, pembaca lain inilah yang dikategorikan sebagai pembaca di luar blog. Apakah ada keuntungan yang diperoleh dari pembaca lain ini? Selama si blogger tidak mendapatkan vitamin D alias Duit, selama itu pula statusnya nonkomersial. Artinya, foto yang dipublikasikan tidak untuk diperjualbelikan yang mendatangkan keuntungan bagi si blogger. Oleh karena itu, dasar hukumnya tetap sah tanpa tindakan pidana. Akan tetapi, foto mana yang mau diambil? Saya hanya merekomendasikan foto yang berafiliasi di google dari blogspot misalnya. Itu masuk kategori non-izin. (Meski sekecil apa pun bentuk publikasi, etikanya izin diperlukan!)

Hal lain lagi, kalau foto yang diambil oleh si blogger membuat objek foto gerah, bisa dikirimkan keberatan. Adakah wadahnya? Ada, misalnya via komentar atau kolom chatbox. Ibaratnya kolom itu bagi saya diperlakukan sebagai hak jawab. Lalu si blogger bisa menghapus foto yang terpampang di blog yang dianggap merugikan obyek fotonya.

Akan tetapi, ada hal lain yang bisa diseminarkan untuk memperkuat isi pernyataan hukum-menghukum foto yang diambil itu. Saya pun masih belajar soal kekuatan hukumnya yang tepat!


#28

dedenf | 10 08 2006 @ 14:02:12

nanti susah nih nyari objek photo yang bisa/boleh candid


#27

koeaing! | 09 08 2006 @ 16:27:24

Watricht ! Bole tjilaka toelen djikalaw inih djahadi mas’alah dikela kamoedijan ari poen. Pasal ik banja moewat itoe gambar en photo tjomotan asal darih itoe mbah goegel poen…matjem manah itoe ? Bole djadi sasaran toewan fiskaal en dikassie djeblos ka boei djahadi orang rante di boven digoel-tanamera ntaran…..Godverdomme zig !!1


#26

Fernando | 09 08 2006 @ 15:46:27

gimana kalo video?
di blog saya banyak video, tapi video keponakan :D


#25

ahlulJEPRETwalJAMA'AH | 09 08 2006 @ 15:11:08

pinginnya sih ngasih komentar. tapi niat mesti diurungkan karena kuatir jadi larut pada ‘jebakan’ yang dipasang Paman Tyo: semua orang dipengaruhi jadi serius supaya tidak suka meremehkan persoalan hidup.

jangan-jangan, Paman To lagi punya problem perut dan kesadaran. maksudnya, status ekonomi masih KERE sehingga membuat otak kian KEMPLU. waduh!!!

prens, saweran yuk… kasihan kalau sakit Paman Tyo tambah serius (tunjukkan perhatian dong, kalau memang masih sayang sama dia)


#24

Stevie | 09 08 2006 @ 15:07:16

Saya juga akhir-akhir ini mulai merenung yang sama, sampai akhirnya beberapa posting terakhir yang menggunakan foto hasil download saya bela-belain tambahin tulisan copywright dan nama lembaga penerbit pertamanya (atau mungkin pemiliknya juga).

Mudah-mudahan cukup menjadi titik temu.


#23

budiw | 09 08 2006 @ 13:07:52

hehe.. kalo misalnya masang blog di foto juga harus hati-hati pak ker?

–budiw


#22

herman | 09 08 2006 @ 9:51:20

kreatif2x ..


#21

fahmi jelek, narsis pula, huh | 08 08 2006 @ 20:28:51

hore! foto saya pernah nongol di blogombal… kewl \:D/


#20

golda | 08 08 2006 @ 19:04:28

wuah, kalo ngeblog aja jadi kurang lancar karena banyak ranjaunya, ngeblog bisa menjadi hal yg kurang menyenangkan lagi dong?


#19

mbah dipo | 08 08 2006 @ 18:56:10

oo… mangkanya pas judul nyang ini gak ada potonya…


#18

bhq | 08 08 2006 @ 18:01:21

Gitu aja kok repot?


#17

Imponk | 08 08 2006 @ 17:39:26

saya jadi ingat dengan orang tua berkacamata tebal. dia muncul di tas belanja. di manakah dia?


#16

loucee | 08 08 2006 @ 17:37:42

saya=model, mister=photographer. dalam kasus ini ketika photo diambil, model telah merelakan hak penggunaan photo sepenuhnya kepada sang photographer, termasuk memajang di blog.
HEPI?? jelasss!! lha wong banci tampil kok… :P


#15

R.E. Cursive Jr. | 08 08 2006 @ 16:47:46

Beberapa hari yll, saya juga nempel foto di blog saya. Tapi mosok keturunanku nanti mau menuntutku gara-gara masang fotoku sendiri, juga diblogku sendiri.


#14

pepeng | 08 08 2006 @ 16:22:25

wekkzz…semua emang butuh prosedur kyknya….!!
tapi,itu emang buat kenyamanan buat semua pihak..”artinya”,biar ga ada yg pihak yg di rugikan….bener ra kui..??


#13

tito | 08 08 2006 @ 15:59:28

Wuadouuuuhhh!!!! Aku masang foto polisi meluk Nita Talia, je. Tapi polisi ‘kan pernah tak kasih ijin njepret mukaku pas bikin SIM, nah, itu bisa dibilang impas, nggak ?
Berita baiknya, maling yang tertangkap kamera surveillance boleh nuntut hak cipta.


#12

budiw | 08 08 2006 @ 13:46:19

oh ya lupa..
kalo nulis profile harus izin pemilik profile yah?

–budiw


#11

budiw | 08 08 2006 @ 13:43:48

wah, postingannya kok sekarang garing, kayak postinganku. Tanpa skrinsyut adalah basbang, begitu kata anak-anak idgmail pak kere..

–budiw


#10

babu negara | 08 08 2006 @ 13:22:23

aku tau masang foto ra yo??? huahahahahaha


#9

mpokb | 08 08 2006 @ 13:14:53

sampai sekarang aye blum tega pasang poto ponakan.. padahal pingin bangettt..


#8

lantip | 08 08 2006 @ 13:11:40

repot juga pakdhe. saya mau memajang poto saya sendiri, wajah saya sendiri, lha tapi diprotes sama diri saya sendiri. dia mau menuntut saya karena saya berniat memajang wajah saya, yang juga wajah dia. hla terus piye?
*fight-club effect* :p


#7

rendy | 08 08 2006 @ 13:03:45

narsis…


#6

hendra | 08 08 2006 @ 12:59:05

Ooomm untungnya di negara kita ini banyakan orang yang agak narcist ya…hehe jadi kalo potone tertampilken di belog orang lain malah seneng dan tidak menggugats ya hehehe. Kapan ya poto (sesungguhnya) Omm Tyo akan terpampang dengan indahnya di blog ini? Apakah juga akan melanggar hukum?? hehe


#5

Mbilung | 08 08 2006 @ 12:45:48

Terima kasih Pakde saya merasa diingatkan jadinya. Untung belum majang fotonya Sumanto yang sebentar lagi bebas. Mau nemenin saya minta ijin ke Sumanto? Sampeyan yang di depan ya?


#4

ipoul-bangsari | 08 08 2006 @ 12:31:09

kalo gitu kapan saya bisa ngeblog? ngga punya kamera, ngga punya gambar sendiri. tanpa gambar kok rasanya ngga pede.


#3

Tjahjo | 08 08 2006 @ 12:30:12

Urun pendapat, sekaligus menyetujui #2… kalau memang sifatnya tidak merusak, tidak membodohi ataupun niat-niat buruk lainnya, aku rasa sudah cukup apabila sekedar memberikan ‘kredit’ fotonya.. kalo di kampus dulu dikenal dengan gerakan copyleft.. ‘bajak-membajak’ diperbolehkan untuk kepentingan edukasi.. tapi kalo untuk bisnis, tidak boleh :D ..


#2

firman | 08 08 2006 @ 12:18:55

iya, betul itu. kalo mau idealis ya mesti begitu. susah juga ya? kalo sekadar disebutkan kredit fotonya ga boleh ya?


#1

snydez | 08 08 2006 @ 11:30:47

apalagi masang poto [hasil] rekayasa ya ? :D