Cawang dan Blog Kerawanan Kota
ADA NGGAK SIH BLOG YANG MENGAJAK KITA WASPADA?

Sial! Ketika turun dari bus, ponsel dalam saku celana cowok itu berdering. Satu dari empat pria yang juga barusan turun dari bus langsung meminta, “Mana barang lu? Mana?” Ponsel berpindah tangan ke bedebah laknat di tengah keramaian.
Itu peristiwa yang menimpa teman dari kawan saya enam tahun silam, ketika ponsel masih agak mewah, dan yang lebih penting lagi Cawang masih sangat rawan.
Beberapa tahun silam saudara saya menyusuri trotoar Cawang menuju halte bus yang akan mengangkutnya ke Bogor. Di tengah jejalan pelintas dan pedagang itu seseorang mendorongkan benda keras-dingin ke pinggangnya dari belakang sambil berbisik penuh ancaman, “Diem lu. Diem. Diem…”
Kawan si penodong menjalankan motornya perlahan di tepi trotoar. Saudara saya bisa meloloskan diri di tengah jubelan manusia lain yang tak peduli.
Dulu, siang hari, istri saya menyaksikan seorang kakek mengejar sekawanan copet. Orang-orang di sekitar halte bukannya membantu si kakek malah tertawa-tawa, menyoraki pencopet, “Sukurin lu! Sukurin!” Selera humor yang aneh.
Cawang? Orang bilang “UKI”. Bukan kampusnya, melainkan sepenggal jalan di depan kampus itu. Mpokb dan Wonkito bisa bercerita aman tidaknya Cawang seputar UKI kini.
Ya, kini. Setelah UKI lebih terang, terutama setelah jalan kolong (apa sih bahasa Indonesianya underpass?) jadi. Tepatnya: Cawang malam hari seberang UKI, bukan Cawang dekat rumah sakit.
Subhan S.D., dalam Danger Zone: Jalanan, Perempatan & Kawasan Rawan di Jakarta (GagasMedia, Jakarta, 2003), ketika membahas Cawang UKI menyatakan:
Seperti halnya para penjudi, penjahat-penjahat yang merajalela di kawasan ini juga seperti di rumah sendiri. Tidak takut, termasuk kepada polisi. Gawat dong!
[...]
Apakah sekarang aman? Mimpi kalau Cawang aman. Tanggal 2 Agustus 2003, 20 preman di situ mengeroyok seorang alumnus UKI, Arya Wiryawan, hingga tewas.
Kesan saya sih sekarang Cawang lebih aman. Memotret sendirian menjelang tengah malam sampai pergantian hari masih bisa — tanpa harus berlagak sok serdadu maupun preman. Ojek makin banyak, penjual ada yang 24 jam, masih ada pos polisi di sana.
Kewaspadaan tentu masih kita perlukan. Informasi terbarui tentang wilayah tertentu kita harapkan. Makanya saya merindukan blog yang berisi danger zone, yang dikelola oleh (sekelompok) orang yang banyak ngeluyur, hapal kawasan rawan, dan selalu updated. Yah semacam Jaga-jaga itulah.
Ayo, siapa mau memulai? Masa sih kita minta reserse bikin blog?
22 Responses to Cawang dan Blog Kerawanan Kota
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Khasiat Kamera Digital
May 29, 2008 by AntyoDARI BODY PARTS SAMPAI NOMOR SASIS.
Ketimbang repot mencatat secara manual, petugas pembaca meteran PLN akhirnya memakai kamera digital. Semoga jepretannya fokus. Dan semoga kartu memori tidak rusak sebelum angka yang terbaca itu disalin. Bagaimana kalau timbul dispute? Gampang: retake. Tak perlu menanya ahli metadata apalagi metafisika.
Kamera digital memang menyenangkan. Praktis. Gampang. Makin [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)











hmmmm…very interesting!
Thanks google
uki-cawang. lahir dan besar disini. memiliki omset jutaan rupiah setiap hari cuman dari uang’timer’ dan pajak lainnya. bayangkan berapa juta bis dan angkutan umum lainnya termasuk taksi yg lewat disitu. dan mau tidak mau harus bayar ‘pajak’ setiap melintas di UKI. kalo tips saya jangan pernah naik jembatan penyebrangan kalo malam hari atao jalan di lorong menuju tempat2 bis ke bogor. jangan terlalu lama menunggu bis khususnya pada malam hari karena itu waktu ‘pasukan air’/peminum tiba. pasti ada aja modus2 perampokan/pemalakan. dari yg nanya alamat, menuduh anda memukul kerabatnya, diajak berkenalan, samapi langsung meminta anda ongkos. jadi berhati2lah di sana.
Kalo bisa preman di sana aja yang bikin blog….. isinya ya foto-foto mereka plus jadwal operasi mereka sekaligus tips-tips praktis jika dicopet, dijambret ataupun ditodng…
met kenal pakde, saya sering maen ksini (ke yg lama juga :p).. pi baru sharing sekarang,
secara baru minggu kemaren saya ngalamin ndiri penjambretan. walo saya bukan korbannya, pi kejadian pas depan mata. di atas metromini. yg bikin aneh, smua penumpang pada turun, termasuk keneknya. supir diem aja. tinggal saya, si ibu dan 1 orang mbak plus si copet tentunya. gak ada yg nolong!! lha? kita2 para perempuan ini mo nglawan juga takut. yah, tindakan pencegahan, sekarang saya udeh gak pake perhiasan lagi… saya lepas semua. n skrg saya juga bawa spray gitu.. buat jaga2..
btw, lokasi bukan si cawang sih.. pi terminal senen…
bukan cuman di cawang (or UKI) doang yang rawan T_T.. pi masih banyak daerah laennya juga…..
pakde, saya termasuk lumayan apal dan sering liat gerombolan copet. Di atas jembatan penyebrangan, di halte, di bus kota, dan di konser2. Tips saya : 1. Jangan naruh tas di punggung (taruh di depan badan) ! 2. Ketika ada yang orang lain yang menabrak,memegangi celana anda, pura2 muntah di dekatmu, atau menghalangi jalanmu, maka tetap fokus ama barang bawaanmu. Biasanya mereka pake metode mngalihkan perhatian
bener sih pakde..sekarang sih udah rada terang,banyak orang, nggak terlalu serem kayak dulu, tapi gimana juga tetep udah “terkenal” sebagai kawasan rawan :(
kenapa nggak pakde tyo aja yg bikin blognya :D
akhir tahun 2005, tepatnya dari september sampai desember aku sering pp jakarta-karawang. kebetulan bis ke karawang yang terdekat dan banyak itu ada di uki (cawang). kadang pagi, terkadang malam naik bis dari uki. selama rentang waktu itu, aku rasa kawasan uki aman-aman saja. hanya, kewaspadaan harus itu.
preman/penjahat di sana dipelihara polisi, setor menyetor…
duh dah lama gak naik bus dari UKI… Parno deh kayanya…
Mendingan bikin Blog yang judulnya SERGAP!!!!!!!! adminnya bang napi aja
endonesyah itu negara kapitalis salah urus dan udh bangkrut (tepatnya membangkrutkan diri). jgn harap ada jaminan sosial jg keamanan. anarki ae..homo homini lupus.
umpama badan manusia yg digerogoti kanker dr dalam, dan sekujur kulitnya pun penuh luka borok bernanah..
ancur minah
mending gak usah ke sana sekalian deh.. serem..
dulu saya pernah hampir dipalak di kawasan pasar minggu. waktu itu, saya berdua dengan teman lagi jalan-jalan pagi. para preman itu berjumlah banyak sekali. untung saja, saya memang tidak berbekal apa2. teman gue ngakunya orang jakarte. orang situ aje. jadi aman deh! mereka percaya saja. hihi.. bisa aja dibooingin!
Bagi siapa saja yang selalu ingin waspada, jangan lupa terus kunjungi blog Paman Tyo ini. Kayaknya tagline-nya akan segera berubah: CATATAN WASPADA ANGIN-ANGINAN…
Jadi, pls deh, jangan suka berangin-angin di troroar Cawang — apalagi sampe lesehan di tengah jalan!
tetep.. surabaya memang hebat!
{saya sendiri masih heran kok pak kere kemplu–,begitu saya mengenalnya, begitu terheran-heran dengan muda-mudi yang pacaran di jembatan penyeberangan surabaya yang aman}
–budiw
juragan paman, di halte uki ada guguk teman saya.. kok gak dipoto sekalian?
=’.'=
gara-gara mbisikin ke temen agar hati-hati waktu jalan di cawang, tiba-tiba kepala gue dijitak oleh copet. mereka berkelompok. wah, ngeri sekali sampe sekarang kalo harus lewat cawang uki. lebih baik menghindar saja deh. super rawan, bos!
setahu saya, peristiwa pengeroyokan pernah terjadi saat ada demonstrasi entah apa. hampir 10 tahun mondar-mandir di situ, sempat jeda tahun 1998-2000, rasanya aman2 aja.. mungkin gak, uki dijadikan model untuk ngatur jakarta yg melting pot?
di sini, asal kampung perantau bisa dilihat dari barang dagangan ato mata pencahariannya lho :)
PREMAN sekarang Banyak Versi… yang versi kelas 5 REPES sampe KELAS 5 MILYAR… jadi waspadalah… kita singkirkan kelas REPESnya eeh kelas MILYARnya… sante dengan LEHA LEHA… Lha wong mau nampilin PREMAN model KORUPTOR di TIPI aja susahnya minta ampun :D
Kalau kita sikat CEMREnya yaa CUMA dapat CEMRE :D Mari Mari
paman, siapa yang mau mbikin blog kok totohan nyowo… baru sak postingan, langsung mbikin lelayu et causa digorok preman malam… wehhh…
ngga bisa minta poskota bikin blog?
tapi emang kalau sial di Ind. tuh ngga ada yg nolongin sama sekali kayak posting saya pas kena pelecehan seksual dulu
wah bagus banget idenya. walaupun gak tinggal di jkt lagi tapi support sekali usaha seperti ini.
mengenai cawang, 8 tahun saya nungguin bis dari situ, abis sekolah di kawasan kebayoran, terus ganti pake metro atau mikrolet disitu.
kebetulan pas gua di cawang itu, gak pernah dipalak preman, mungkin karena gua dikira orang preman juga … ha ha ha :)
eh,deket cawang pas belokan di kalimalang kebetulan ada jualan martabak yang enak. masih ada gak ya.
btw, kalau mau aman, mungkin bagus kalo bisa bawa taser gun jalan2 di cawang.
hmm.. waspada dari diri sendiri aja kali ya, percuma sepertinya kalo ngandelin aparat. Pernah kena juga di daerah Senen (terminal) dan setelah lapor ke kantor polisi setempat cuma dibuatin laporannya aja, udah itu udah, ga ada kejelasannya lagi :(