Tahi Kuda di Sebuah Titik Jakarta
DELMAN DI MONAS ITU PULANG KE TAMAN YANG LAIN.

Akhirnya saya masuki tempat itu. Selama ini saya hanya melihatnya dari jalan, saat belok kiri di jalur bawah maupun dari jalan layang di atasnya. Saya ingat tahun lalu masih ada pos polisi di situ.
Bukan, tempat itu bukan tempat rahasia. Berupa taman di lahan milik Departemen Pekerjaan Umum yang agaknya dikelola oleh DKI. Dari jalan tampak. Dari beberapa gedung tinggi juga terlihat.
Apa istimewanya? Tidak ada. Apa anehnya? Semuanya normal saja. Tumbuhan bisa hidup. Kolamnya mungkin berikan. Jalur pedestrian mengular melintasi taman, kadang berpotongan. Lima kali putaran lumayan menyehatkan. Ada pelataran untuk memarkir mobil.

Tapi sejauh saya tahu, pagi sebelum kerja tempat itu tak ramai. Tak sampai belasan orang yang memanfaatkan untuk berolahraga. Mereka warga sekitar, yang masuk lewat celah belakang, bukan dari pintu utama. Entahkah kalau siang atau sore pada hari libur. Tampaknya cocok juga untuk bermain layang-layang.
Tanaman, termasuk rumput, saat kemarau ini masih terawat. Kurang apa coba? Pagi melintasi taman tanpa masker akan terasa polutan menyeruak ke paru-paru. Taman itu, dari arah Semanggi, terbidang di sisi kiri simpang susun Tomang, Jakarta Barat, yang padat mobil, termasuk truk berat.
Taman yang sepi di tengah keramaian. Ketika saya menyusuri sudut belakang, melintasi balok titian, keluar dari taman, saya menemukan sebuah lahan sempit memanjang di pinggir kali berbau busuk. Ada kehidupan di sana.
Bukan kehidupan ingar bingar, karena hanya ada satu gubuk untuk manusia.
Selebihnya adalah jejeran belasan kandang kuda sekadarnya, lengkap dengan penghuninya, dan sejumlah delman hias pengisi Monas, Jakarta Pusat, sekitar sepuluh kilometer dari sana. Gubuk itu untuk pekatik (Jawa: perawat dan penjaga kuda).
O, jadi di situ rupanya delman mangkal selain di kolong jalan layang penghubung Kemanggisan dan Tanjungduren. Saya tak tahu apakah delman Monas dari sekitar Hek dan Pasar Rebo, Jakarta Timur, masih beroperasi.

Tentu delman dan kuda tak pergi-pulang melalui taman. Mereka punya jalan sendiri, selewat Build-a-Bike (United) dan markas Golkar di Slipi.
Pagi hari di situ, tanah lembab sisa malam di bawah pohon pisang sudah diisi tahi kuda yang hangat (kayaknya sih). Saya merasa ini bukan di Jakarta.

Ah berlebihan saya ini. Bukankah Jakarta kampung besar? Saya tengok arah utara. Terlihat sebagian dari delapan menara apartemen Mal Taman Anggrek yang menegak di tengah kepungan kabut asap polutan pengalang pandangan.
Ada taman saja kurang segar, apalagi kalau tanpa taman. Inilah Jakarta yang dalam kerepotan ruang ingin menjadi megalopolitan (kok bukan megapolitan?).
15 Responses to Tahi Kuda di Sebuah Titik Jakarta
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Angka, Hitungan, dan Peringkat
December 20, 2007 by AntyoSEBERAPA PENTING, SEJAUH APA PERLU?
Mas Rajinanto mungkin heran, karena Mas Biasawae yang dia kabari itu tampak tenang saja. Bukan karena merasa hebat, tapi Mas Biasawae memang menganggap Ki Gede Gugel mencatat setiap nama yang pernah muncul di internet. Maka wajar jika namanya terendus mesin pencari.
Bagi Mas Rajinanto, seorang periset, itu bukan soal [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Profesi kita diharuskan mau ngubek-ubek tahi.Tapi di lihat dari konsistensi dan warnanya saya yakin kuda tersebut pencernaannya sehat.
oh gitu ya tahi kuda? baru tau nih hehehe….
Jadi inget, ada seniman di Bali yang mengabadikan tahi kuda menjadi barang seni, yang dijual seharga 15 juta.
pakde… mbok main ke gorontalo… kota itu bakal aneh kalo gak nemu tai kuda di jalan protokol sekalipun…. hehehehe
jadi inget waktu jalan-jalan ke monas, menyak telek jaran. semprul…
wah tahinya pun difoto =))
hangat ya? :))
taman kaya gitu
gak ada di pinggiran kota.
tutupi godhong pring….
ben garing….
bener! jakarta itu emang kampung besar. buktinya aku kan kalo pulang kampung ke jakarta… hahaha…. :D
eh, kalo ada tahi versi lain di potret juga kagak? iseng amat si om…
hihihi
mungkin agar jakarta semangkin alamiah om?
di pasar rebo, cijantung, hek, masih banyak paman, terutama hari sabtu-minggu/libur, mau pesen? :p
makanya pak ker, minta pindah surabaya saja..
–budiw
jakarta emang kampung. asli kampung. buktinya ada kampung bali, kampung makasar, kampung melayu, kampung ambon, kampung…rambutan.. lho kok kampung, bukan kebon?! :D kedaerahan sekali yak? :P
saran aye mah, daripada nggede2in jakarta yg udah obesitas ini, mending nggedein daerah lain yg masing honger odeem..
Kasihan tuh yg teriak pertama, lomba teriak pa memancing sih.
TYO, gue suka 3 foto terakhir. Tahi nya gue ambil ya ???
horeee pertamaaaaaaaaaaaaaaaaaa