Pengamat & Pakar
MEDIA TAHBISKAN MEREKA. KEHIDUPAN MEMANG AJAIB.
“Menurut pengamat sosial Gombalwijaya dari Universitas Gambulgembol Cendekia Persada….” Waks! Apa sih pengamat sosial? Semacam pelaku hobi menceriwisi kehidupan masyarakatkah?
Media kadang bilang begitu. Menahbiskan orang lain sebagai pengamat bahkan pakar, tanpa menyebutkan latar kemampuan maupun kiprah si tokoh. Pembaca, karena terkena redundansi, akhirnya terbawa.
Penahbisan juga bisa dilakukan dalam keterangan tulisan: “Penulis adalah pengamat sosial.”
Sekarang gantilah “sosial” dengan “humor”, “horor”, “terorisme”, “transportasi”, “telematika”, “multimedia”, atau…. hahahaha… “internet”.
Bukti dan beban
Kepakaran, ekspertisi, keempuan, bukanlah soal gampang. Harus ada bukti penguat. Kepengamatan juga serupa: harus ada bukti.
Pengukuhan keahlian oleh sebuah pihak kepada orang lain, dan apalagi pengukuhan diri, berarti memberi hak kepada khalayak untuk menagih bukti — dan tentu saja juga mengoreksi pernyataannya, sama seperti terhadap setiap orang siapapun dia.
Pada gilirannya, jika penyebutan itu tak pas, bahkan berlebihan, malah bisa membenani si tersebut. “Siapa yang pakar? Siapa yang pengamat? Saya ndak pernah ngaku gitu,” gerutu si tersebut, tapi bantahan itu diabaikan oleh khalayak.
Penyebutan yang aman
Agar tak terjebak dalam main tahbis, media bisa memilih cara yang aman.
Jika menyangkut narasumber atau penulis dari kalangan akademis, sebut saja “dosen psikologi sosial pada Fakultas Psikologi Unversitas Inidanitu.”
Jika ruangnya cukup, info lain yang relevan bisa ditambahkan. Misalnya “…dengan disertasi tentang blablabla…”
Boleh juga dengan info lain, dengan mencantumkan lembaga, baik di dalam kampus maupun luar kampus. Misalnya, “… adalah Direktur Lembaga Studi Perilaku Masyarakat Gombal…”
Haruskah narasumber terujuk membawa cantelan akademis? Nggak. Bisa saja begini, “Penulis adalah pengamat bintang, anggota Klub Astronomi Galaksi Cengengesan.” Atau, “Dadamanuk Bidang, sekretaris merangkap pereparasi teropong Cicicuit Birdwatch Institute…”
Tanpa cantelan lembaga? Juga bisa. Misalnya, “…., seorang warga Mauk, Tangerang.” Boleh ditambahi “(akusukanulis.belogsepot.com)”. Orang biasa juga boleh dan bisa mengemukakan masalah kan?
Skeptisisme terhadap jamu
Bisa saja dalam sebuah rapat perencanaan liputan ada orang media yang secara default mengusulkan “pakar” dalam daftar narasumber. Tanpa hirau apa kebisaan si pakar maupun pengamat. Apa yang dilabelkan oleh media lain terhadap seseorang pasti benar, karena tidak pernah dikoreksi oleh yang dilabeli. Orang pintar, selain minum jamu, pasti serbabisa. :D
Jika menyangkut imaji digital, sesungguhnya narasumber tak hanya satu. Ada sejumlah ahli imaji digital, malah ada yang buka kursus, bikin workshop dan menulis buku.
Jika menyangkut internet fraud, ada sejumlah spesialis keamanan jaringan baik di universitas maupun lembaga keuangan. Ini hanya contoh lho. Jangan lari ke mana-mana.
Bagaimana dengan klaim diri seseorang? Boleh saja. Budiarto Danujaya, misalnya, sering menyebut diri “penikmat sastra dan filsafat“. Bahwa bagi orang lain filsfafat itu kurang nikmat ya bukan soal. Bahwa Kompas, bekas kantornya, menyebutnya sebagai “pengamat sosial“, pasti punya alasan. :) Setahu saya sih Pak Bud memang oke — tak soal apakah dia doyan jamu atau tidak.
Tapi saya belum menemukan bagaimana cara media menyebut dirinya, terutama dalam liputan. Sebagai eseis, cerpenis, wartawan, sarjana filsafat, warga Banten, atau penyuka keris?
Apapun pilihan penyebutan utama pastilah relevan dengan topik. Menanyakan pemilihan gubernur Banten kepada Budiarto sebagai penyuka keris maupun apresiator tosan aji rasanya aneh. Kecuali calon gubernurnya juga suka keris. Ini cuma misal lho, Pak Bud.
Palabelan, tak selamanya mudah
Tentu, saya terbuka terhadap setiap kemungkinan penyebutan terhadap seseorang, yang berkaitan dengan otoritas dan kapabilitas, karena kehidupan ini memang kaya dan ajaib.
Ada Bondan Winarno, ada Seno Gumira Ajidarma, ada Wimar Witoelar, dan… ada Gus Dur. Apa label Anda untuk mereka?
*) Paman Tyo, seorang blogger yang masih doyan nasi tapi buta gizi, dan tak dapat membedakan rasa setiap beras. Tulisan ini tak memperoleh honor(arium) maupun (dis)honour. Menurut sobat saya, ini jenis footer yang “ngidih” dan “ndesit”.finance housing department loan authority alabamaloan k interest rate 401loan 500 mortgage scorealaska loans supplemental1003 applications loansoftware loans access store accounts andadvance application cash application payday loan2007 limits loan conformingagri loansstated loans subprime 100
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Tahu Bacem February 8, 2012Temannya tempe bacem. Tapi paling enak itu ya bacem dengan tahu segitiga berkulit dan tempe mlenuk. Permalink | Leave a comment » […]postyorous menerous »»»
- Tahu Bacem February 8, 2012
Cicitcuit!- RT @didinu: @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 InkaSativa (Twinika Sativa F)
- @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 didinu (didinugrahadi)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Pakaian Muslim, Pakaian Kristen, Pakaian Cina
October 6, 2006 by AntyoYOU ARE WHAT YOU WEAR. SO?
Mungkin sudah lebih dari sepuluh tahunan istilah ini diterima untuk busana pria: baju muslim (atau kemeja muslim).
Saya tak paham sejarah fashion, jadi terkaan saya bisa saja ngawur. Tapi ingatan itulah yang muncul saat membaca iklan Lebaran Sale Java Store di Kompas hari ini: kenapa kemeja muslim?
[...]
Recent Comments
danang» milih golput aja ah..selama masih tokohnya itu2 ajah,,
Kaget» Apa kita nantinya ngga pada bingung Paman? kamus IT, kamus tehnik, kamus bahsa,….. kedepan akan muncul kamus2 lain. masalahnya cuma satu,… zaman sekarang yang serba sibuk melihat gadget, kapan buka kamus-nya?
mpokb» Aha, bagus nih buat rujukan.. Lalu entri semacam “kerudung wajib lapor” atau “jilbab Islam KTP”, masuk di kamus mana ya, Bang Paman? :D
askep» Saya sebagai salah satu pembuat karya di situ kok merasa tidak terkesan dengan kehadiran Foke dan pembantu2nya di situ. Oh, ada sih, saya terkesan dengan sulitnya ijin yang berbelit2, untuk acara yang mereka selenggarakan sendiri.
ewesewes» Beli ah!
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





[...] Perihal pakar, kepakaran, dan pemakaran (bukan dari kata “makar”), saya sudah pernah menggombalkannya — tanpa harus naik ke Dago Pakar. [...]
Seandainya, dunia prostitusi juga ditahbisakan oleh media seperti para penulis, mungkin baik juga kayaknya. Seperti, prostitusi pakar mengankang..itu berarti kangkangannya memang luar biasa lho…Prostitusi penikmat isap buah pelir. Itu berarti, dia cukup jilat pelir…dan anda bisa merengkuh…atau Pakar ngebor….pakar nungging…..ah banyaklah! Hemat saya, yang menentukan bukan apa yang ditahbiskan oleh media tulisan itu….tapi apakah pembaca merasa ada “elan vital” tulisan itu. Itu baru ngetop.
Saya menyebut pemerhati agar tidak menanggung resiko terlalu berat. Tetapi, bukankah ini nanti dibilang tak percaya diri?
Sepertinya tepat kalau bung kere, sang opas tua ini jadi pengamat para pengamat
sapah banja noelis,semingkin diakoewin sebagih itoe pentasbihan boeng….
sirik tanda tak mampu, jaman skrg org hrs pandai marketing
[...] Seberapa dan bagaimana sih penetrasi internet di Indonesia? Tengoklah statistik dan data sejumlah lembaga. Atau tanyalah pakar dan pengamat. :) Kalau Anda ingin tahu bagaimana rakyat (Jawa) memandang internet, bacalah apa yang dilakukan oleh sopir angkot (atau juragannya?) terhadap kaca mobilnya. Jargon buster: 1. “mon-crot”: muncrat, memancar deras secara tiba-tiba (cairan), spurt, spout, squirt 2. “dhé-wé”: sendiri, [my]self, [your]self [...]
Kenalkan saya KRMT Sei
Pakar Telematika ;)
Tumben, tulisane pak puh agak serius, wong idiot koyo aku rodho nekuk-2 bathuk’e.
Wong media, yang diekspose & punya nilai jual harus BOMBASTIS, biar menarik yg pasang iklan, pirsawan & pirsawati alias UUD (ujung-ujungnya Du….)
Pekoro “pakar/pengamat” tenan apa bukan, sebetulnya kita ini semua sudah termasuk golongan di dalam tanda kutip, tentu saja dengan kualitas & versinya masing-masing.
Mekaten pak puh…???
Mediatahbis? Apik sing mbiyen: Kere kemplu, seorang opas tua dll…