KITA KADANG TERPUKAU OLEH SIAPA, BUKAN APA. BAGAIMANA DENGAN BLOG?
Dua fotografer kondang menganggap pencantuman nama pewarta foto dalam karya akan membantu penilaian. Sebagai juri mereka akan lebih terbantu untuk memahami apalah sebuah sudut bidik itu sengaja atau bukan.
Maaf, itu tadi penyimpulan yang bisa saja salah. Saya membacanya dalam sebuah milis. Salah satu posting mengungkapkan rencana penjurian sejumlah karya jurnalistik. Di ada sana cuplikan kalimat yang tak saya pahami latarnya secara utuh, sehingga bisa saja saya salah tafsir.
Tentu, dua juri bereputasi bagus itu tak hendak mengatakan bahwa nama pewarta foto menentukan perolehan nilai. Saya memercayai profesionalisme mereka.
Tapi saya membatin, enak bener ya kalau punya nama, lebih banyak pintu terbuka untuk mereka. Ini seperti ungkapan bersungut saya kepada teman saya yang penggiat jaringan kerja seni rupa. Perupa tenar boleh ngapain saja atas nama seni kontemporer, tapi orang lain tidak.
Kalau cuma main bungkus dan ikat, lantas karya ditaruh di tempat bagus, dengan pencahayaan bagus, plus katalog bagus, saya juga bisa — padahal saya tak bisa menggambar dan belum pernah sekolah seni rupa.
Teman saya secara santai bilang, “Masalahnya kamu itu siapa?” Kami terbahak bersama.
Memang, masalahnya adalah siapa, bukan apa. Apalagi kalau si “siapa” menyertakan penjelasan konseptual yang memukau.
Adil? Tak adil? Seorang mahasiswa bisa saja bikin artikel bagus, bernalar, dan memukau. Tapi karena jumlah halaman terbatas, editor koran/majalah lebih memilih penulis topik yang sama, yang isinya mungkin belum matang, tapi namanya lebih tenar.
Bisa saja kita mendengingkan kaleng dalam gedung konser dan menyatakan itu sebagai musik. Tapi hak orang lain untuk menagih apakah kita paham teori musik, melek partitur, dan bisa memainkan instrumen yang lumrah dengan benar.
Seorang sastrawan dan eseis pernah bilang, “Tulisan saya dulu juga sering ditolak. Capek.” Tapi ada tambahannya, “Orang-orang nggak tahu, sekarang pun tulisan saya kadang masih ditolak.”
Sungguh ungkapan yang membesarkan hati. Di dunia blog ini saya sering mendapati tulisan bagus, foto bagus, dan desain grafis bagus, karya orang-orang yang tak tenar — atau mungkin tenar tapi menyamar.
Bahwa sebagian dari mereka akhirnya tenar, setidaknya di kalangan bloggers, itu soal lain.
Tentu orang yang skeptis bisa mengritisi secara tepat, “Emang kalo blogger tenar itu jaminan tulisannya bagus? Jangan-jangan cuma kentut dalam wujud kata! Ini soal dia dan blognya kadung punya nama, dan ada satu dua bloggers yang pingin meninggalkan jejak promosional buat blognya.”
Orang sinis adalah pembawa lampu senter. Tapi terang sinarnya kadang tak menyenangkan bagi orang lain karena menyorot sudut-sudut ruang yang tak diinginkan terlihat. Sudut-sudut yang sudah diketahui bersama, bahkan dimaklumi (dan dimaafkan) bersama.
Selamat berakhir pekan. Boleh dong sesekali bikin renungan.





mulut | 10 01 2008 @ 7:21:23
welgedewelbeh
Weladalah … pak tyo, juga pernah merenung soal beginian ternyata. Maap lho pak mulut emang sedang nguri-uri pendapat para blogger tentang identitas di blog, meski udah ditulis ratusan hari yang lalu. Soalnya mulut juga lagi ngangkat isu ini di posting terakhir mulut. Urun rembuk njenengan mulut tunggu di sna lho.
oya .. sekalian ijin masukin di M.M.K kami.
Gus Brur | 09 03 2007 @ 0:35:27
Ditolak?
Wis biasa iks, yo pora coy?
Kekekek ke.. sing penting wani komen.
Rian | 05 09 2006 @ 19:29:36
manut wae… setujuuuu..!! :)
orang ngetop | 04 09 2006 @ 22:44:46
ya mending orang ngetop nyamar ketimbang nggak ngetop nyamar jadi orang ngetop kayak saya ini …:)
catuy | 04 09 2006 @ 18:28:20
jadi blog gue gak bakal bisa ngetop dunkkkk
ndoro kakung | 04 09 2006 @ 18:11:31
ada yang bilang, daripada mengutuk gelap, lebih baik menyalakan lilin. karena itu saya memilih nge-blog. lah opo hubungane? embuh …
budiw | 04 09 2006 @ 16:56:48
setuju..
–budiw
melly | 04 09 2006 @ 16:01:19
tapi paman yang asik, kadang blog gak bisa nipu juga, soalnya ada loohh yang biar katanya om om kere, tetep aja ketauan kalo yang mpunya (sok sok’an tidak) punya nama *wink*
firman firdaus | 04 09 2006 @ 14:05:59
kalau begitu, shakespeare benar-benar salah ya. nama itu begitu berarti, hehe
jalansutera | 04 09 2006 @ 9:37:27
iya, kadang kita terpukau oleh penyanyinya, bukan oleh lagunya. nggak adil ya, bos…
Qky | 04 09 2006 @ 7:50:36
Jadi siapa aja boleh kirim tulisan ke media sampeyan, yak, Boss?
ipoul-bangsari | 04 09 2006 @ 7:39:10
ini sedang berbicara tentang siapa pakde? :)
ario dipoyono | 04 09 2006 @ 5:58:36
salam kenal aja yah pak…
zam | 04 09 2006 @ 1:14:10
makanya saya pasrah dgn riang saja ktika paman kasih panggil ‘zamronie’. jd ktika kelak blog saya ngetop, itu ya smata krana si zamronie, bukan oleh siapa atau apa. gitu kan ‘man?
Mbah Dipo | 04 09 2006 @ 1:10:40
merenung dulu… komennya entar…
Imponk | 04 09 2006 @ 0:49:17
wah, dalem banget renungannya.
inilah realitas, kadang membuat kita merasa tidak adil. tapi mau bagaimana lagi, misalkan tulisan bagus tetapi tidak punya nama, kok kesannya dicurigai sebagai ‘hasil curian’. gak asli, atau apalah…
Ben | 03 09 2006 @ 23:29:29
jadi, siapa nama si penyanyi? judul lagunya?
*lihat judul posting sambil siyul-siyul*
dhany | 03 09 2006 @ 22:17:57
buat para blogger..
MERDEKAAAA…..!!!
kikie | 03 09 2006 @ 17:02:25
blogger tenar menghasilkan tulisan bagus? tenar di kalangan blogger seperti apa dulu nih .. :D
popularitas dikejar mah pusing, apalagi kalo dari sananya ga ada bakat jadi tenar. nyambung nggak ya?
entah dimana nyambungnya di antara sudut bidik & nama pewarta foto… tapi akuh sendiri memang kurang mengerti soal fotografi.
Anang | 03 09 2006 @ 15:45:51
Apalah artinya sebuah nama???
oón | 03 09 2006 @ 14:26:05
hi roy!™
devie | 03 09 2006 @ 12:39:28
tapi kalo yang nyanyi Krisdayanti saya pasti suka. [ra nyambung ya?]
Mbilung | 03 09 2006 @ 9:59:30
Lha pertanyaannya sekarang Pakde … bagaimana awalnya orang-orang yang punya nama itu menjadi terkenal? Bikin apa dia hingga jadi terkenal. Hanya sekali bikin yang WAH! maka nama dikenang sepanjang sejarah … begitu?
Bhq | 03 09 2006 @ 9:31:10
Blind review …
harusnya begitu ya paman gober eh… paman tyo :D
tukangKoding | 03 09 2006 @ 8:51:48
wah..saya bolak balik mikir mau komen ga bisa pak . sampeyan handal pas lagi serieus..hehehe
wis ah..komen iki ae. ringan .
Andry | 03 09 2006 @ 8:36:09
Sama seperti blognya para Mentri itu donk.
Buat saya, jauuuuuh lebih menarik blog Kementrian Desain RI ketimbang mentri yang lain.
Hla gimana lagi, blog pak mentri memang ndak bisa dipahami orang naif awam yang berpikiran dangkal seperti saya.
feha | 03 09 2006 @ 5:32:40
nama bukanlah segalanya dan bukanlah jaminan akan apa yang ia lakukan….itulah yang saya percayai sampai sekarang :)
Hedi | 03 09 2006 @ 3:19:10
Lagi-lagi subyektivitas ya, bukan obyektivitas-nya :)
ono | 03 09 2006 @ 2:50:15
Seniman bila merenung biasanya dikala bintang menampakkan ujudnya nah… kalau politikus selalu merenung dikala ada demo, keramaian juga kemacetan.
Itulah enaknya Ngeblog, apapun bisa terjadi, baik jadi seniman, poli”tikus”, ataupun orang biasa tanpa identitas.
Hebringlah pokoknya…
//nyangkut ya syukur//