Taman Prasasti bukan Taman Hati
NASIB BEKAS MAKAM MODERN TERTUA DI DUNIA.

Kurang terurus. Boleh juga pakai istilah “tidak terurus”. Itu kesan saya ketika Ahad kemarin menyinggahi Taman Prasasti. Pelataran rumputnya mengering dan di sana-sini gundul. Sampah pengunjung bisa ditinggalkan di mana saja. Grafiti boleh tertuliskan.
Saya tak tahu apakah penguranglengkapan masih berlangsung, sehingga sayap patung masih akan ada yang melayang, kelereng mata patung masih akan tercomot, dan seterusnya.

Anda tahu Museum Taman Prasasti, kan? Itu lho yang di Kebon Jahe Kober, Tanah Abang,dekat kantor Wali Kota Jakarta Pusat. Dulunya makam Belanda, merupakan “makam modern” tertua di Jakarta (1795).
Pada 1977 lahan itu dijadikan taman berisi prasasti, sebagian besar merupakan nisan, tanpa kubur di dalamnya. “Ini punya Hok Gie!” kata Raras, anak saya, kegirangan ketika menemukan nisan sang legenda.
Saya sendiri tak hapal nisan siapa ada di mana. Seorang petugas taman malah kebingungan waktu saya tanya di mana nisan Pieter Eberveld. Siapa itu? Bukan pemusik progrock, melainkan tokoh yang dihukum seperti gambar Levi’s: tubuhnya ditarik kuda dari dua arah sampai terbelah.
Penghukuman terhadap Eberveld itu membuahkan jejak toponimis bernama Pecah Kulit. Sekarang jarang disebut, itulah nama jalan yang akhirnya kita kenal sebagai Jalan Pangeran Jayakarta.

Andaikan taman itu teduh menghijau, alangkah nyamannya. Orang boleh datang untuk menyepi dari gaduh metropolis, dan melamunkan apa saja — bukan cuma menunggui sesi foto dan syuting klip video.

Termasuk dalam lamunan itu adalah nisan besar yang polos, hanya berisi lambang, karena pemesannya tak kunjung menitipkan nama dan epitaf. Apakah orang yang dipesankan mati di tempat lain? Atau tukang nisannya yang mati duluan? Lantas siapa yang kemudian memakai nisan polos itu?
Bisa juga kita melamun, mengapa nisan Dr. Willem Frederik Stutterheim, ahli relief kuno itu, menggunakan ragam hias yang sama sekali tidak Eropa, melainkan Hindu-Jawa. Itu wasiat, ataukah bentuk penghormatan dari orang-orang tercinta?
Saya tak tahu kenapa anak-anak SD di Jakarta jarang diajak ke sini, dan museum lain, oleh gurunya. Setahu saya mereka mendapatkan pelajaran sejarah dan muatan lokal bernama PLKJ (Pendidikan Lingkungan Kehidupan Jakarta).

Menurut Nirwono Joga, kober Kebon Jahe itu lebih tua daripada Fort Canning Park (Singapura, 1926), Gore Hill Cemetery (Sydney, 1868), La Chaise Cemetery (Paris, 1803), Mount Auburn Cemetery (Cambridge, Massachusetts, 1831, yang diklaim sebagai taman makam modern pertama di dunia), dan Arlington National Cemetery (Washington D.C., 1864).


Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Taksi dan Aksi
February 13, 2008 by AntyoPELAT KUNING, NYAMAN, GAYA, TAPI UNDANG GUNJING.
Bagi sebagian orang, termasuk saya, naik taksi adalah kemewahan, sehingga maknanya berimpit dengan keterpaksaan. Jika dan hanya jika alasan mengizinkan, dan dompet membolehkan, maka saya naik taksi.
Sekarang, maksud saya beberapa bulan belakangan, ada taksi keren. Pakai Mercedes Benz C230. Tapi Budi Rahardjo kuciwa. Saya? Belum [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Trima kasih informasinya, minggu depan saya dan kawan2 ada pemotretan buku tahunan d sana dengan gaya Victorian lho…
apakah ada register nama nama orang yang di makamkan di Tama Prasasti ini. Saya yakin ada banyak organg die Belanda yang ingin mengetahui informasi ini. Pertanyaan ke dua: apakah mungkin ada seseorang yang mau bikin portret dari bekas bekas makam ini?
Kirim reaksi, ya?
Salam dari Amsterdam,
Lucie