Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Sekarang Beli di Saya, Setelah itu di Dia

Kamis, 21 September 2006 @ 18:52 | Umum

ETIKA BISNIS PENGASONG. TAPI TAK BERLAKU LUAS.

pengasong rokok di samping mal ciputra

“Ke situ aja, bos!” kata Warjono (31), mempersilakan saya membeli rokok dari pengasong di sebelahnya. Dia dan temannya, Nuryadi, jongkok di batas tangga pelataran utara Mal Ciputra, Jakarta Barat, menantikan pengunjung keluar yang butuh rokok dan permen.

Itulah aturan main mereka berdua. Kalau dagangan Warjono sudah terbeli, maka pembeli berikutnya dipersilakan membeli dari Nuryadi. Begitu pula sebaliknya.

pengasong rokok bernama warjonoBisa begitu karena yang mengasong di sana cuma mereka berdua. Lebih dari itu mereka adalah kawan seperantauan yang bertolak dari kampung yang sama: Desa Cikakak, Kecamatan Banjarharjo, Brebes, Jawa Tengah. Ramadan ini mereka akan mudik sepuluh hari, tinggalkan musala tempat numpang mereka di Tanjung Duren.

Jika pengasongnya banyak, berlainan asal pula, mungkin aturan mainnya beda lagi. Terhadap pengandaian itu mereka hanya cengar-cengir.

Etika bisnis adalah soal baik dan buruk dalam mencari rezeki, tak mesti melebar sampai ke benar dan salah. Dalam lingkup tertentu setiap orang punya. Hanya ukurannya yang berbeda.

Dulu semasa sekolah, saya berencana jual jasa mengetikkan kartu mahasiswa pada suatu musim registrasi. Maklumlah waktu itu belum zaman komputer, tak setiap mahasiswa punya mesin tik. Kartu mahasiswa saya pun saya isi dengan Rugos.

Saya ingin menjual jasa separuh harga pasar. Pakai pita plastik Pelican, hasilnya akan seperti ketikan elektronik: tajam dan opaque. Tinggal bawa mesin tik manual, lantas ndeprok di pusat admisi dan registrasi, pasti laku. Tapi adik saya melarang. “Jangan gitulah. Kita memang bukan orang kaya, tapi mereka lebih butuh duit ketimbang kita. Kalo kita ngerusak harga, kasihan mereka,” katanya.

Hari itu saya batalkan ayunan langkah pertama kewiraswastaan. Etika kere membatasi saya. Tapi saya tak menyesal. Terbukti, dengan mesin tik manual itu saya bisa mendapatkan uang ratusan kali dari yang mereka petik, dan saya tak merasa merampas lahan siapa pun.

Tapi apa saja sih patokan etika bisnis? Kalau kita bilang nurani, termasuk nuraninya Siti Nuraini, itu pun masih belum jelas bentuknya. Guntar(ion) si Bintang Tauladan pernah menyinggung soal ini, dan saya menorehkan komentar yang rada nyiniyir di sana.

Apa yang kita yakini pantas dan baik, dan tak merugikan orang lain, bisa saja menurut orang yang lainnya lagi dianggap bodoh bahkan salah. Kalau kita nyaman, bahkan bahagia, dengan pilihan yang bodoh dan salah itu, tak masalah kan?

Tapi, hehehe, ketika kita tak menjalankan bisnis sendiri, karena jadi buruhnya orang lain, benturan nilai kadang terjadi. Apa boleh bikin. Seperti kata Tim Rice — penulis lirik hebat selain Bernie Taupin — dalam Chess (tanpa Webber): “Everybody’s playing the game, but nobody’s rules are the same.

Selamat beribadah di bulan Ramadan. Bagikanlah hikmah yang Anda petik untuk saya.

pengasong rokok di dekat mal ciputra

Ada 27 komentar | trackback | Depan

#27

Tukang Koran | 29 09 2006 @ 23.15.46

Layak jadi feature Kompas halaman 1 nih, paman.


#26

anto | 25 09 2006 @ 13.39.49

huhu, saya jadi berkaca-kaca nih paman :)


#25

budiwijaya.or.id | 25 09 2006 @ 10.02.35

Jujur itu mudah…

Jujur itu mudah, tapi jadi begitu sulit ketika ada unsur uang dan kesempatan didalamnya.
Saya tahu, ini cuma sebuah ujian dari beratus-ratus ujian lainnya. Dan saya hampir saja terpeleset masuk kedalamnya. Dan menjadi jujur itu sebetulnya mudah.


#24

Bangsari | 25 09 2006 @ 8.52.34

bisnis ketik kartu mahasiswa saat registrasinya sudah di jalan Kinanti apa masih di dekat teknik oom? saya mengalami kedua-duanya oom.


#23

bedhez | 24 09 2006 @ 18.20.21

Dhe …
Makin seringnya goprak-gapruk, gebuk-gebukan di seantero Indonesia Raya ini, pa karena masing-masing makhluk punya “rules” nggak same, ya…
Mbikin “rules” sendiri, ahhhh.
Ben tambah rame.


#22

dhany | 24 09 2006 @ 7.11.07

semoga ada pelajaran yang kita petik buat kita.
selamat berpuasa, jangan lupa hikmahnya untuk saya juga, pak puh.


#21

Boe | 24 09 2006 @ 1.27.16

Yang buruk tak selalu salah dan bukannya tak mungkin membawa bahagia.
Yang benar belum tentu baik dan kalau ternyata tak membawa bahagia boleh tidak dipraktikan kah?
Trus kriteria mana yang baik (atau benar?)nya kita pakai, paman?
:)


#20

frozi | 23 09 2006 @ 21.24.52

berbagi itu lebih indah untuk dinikmati bersama.


#19

atta | 23 09 2006 @ 15.34.55

kebersahajaan
ini juga yang saya petik dari rubrik humaniora di sebuah koran pagi tadi


#18

pakde nukman | 22 09 2006 @ 20.28.01

paman Antyo ini masih saja renyah tulisannya. Pakde jadi kangen grudag grudug kayak sepuluh tahun yang lalu tatkala kita rebutan serpihan berita


#17

Mbah Dipo | 22 09 2006 @ 17.33.53

penampilan boleh kere, tapi watak adil dan beradab… daripada penampilan borju tapi mentalnya kere..


#16

danu | 22 09 2006 @ 14.30.45

rukun, aman, tentram dan damai… pedagang kelas asongan aja bisa begini, nah yang kelas di atas asongan bisa gak yak kayak gini? atau mau gak sih kayak gini? wong takkan lari rejeki dikejar ya paman…


#15

Guntar | 22 09 2006 @ 12.47.08

Menjalani taktik bisnis yg baik dan tak membuat orang lain terdzolimi (bgmn pula ini? :-P) mmg bisa datangkan reputasi. Tapi klo maksud dasarnya adl utk mendapat kekaguman org lain, jadinya malah repot sdr. Kita ndak bisa berharap semua orang bakal senang dg pilihan sikap kita. Mustahil.

Jika nurani menuntun kita tuk lakukan apa2 yg bagi orang lain konyol dan menggelikan, maka biarlah. Biarlah kita menuai kebaikan2 “konyol” yg kita tanam.

Dan lantas pertanyaannya adl “Sudah dewasakah nurani kita?” Saya ngaca ^_^


#14

mpokb | 22 09 2006 @ 12.30.50

rejeki udah ada jatah masing2 yak bang paman.. kagak lari ke mana dah..


#13

jalansutera | 22 09 2006 @ 11.36.14

coba kalo warjono dan nuryadi jadi konglomerat rokok. apa mereka berdua masih menerapkan prinsip yang sama? saya terus terang ragu, sih…


#12

budiw | 22 09 2006 @ 10.49.51

ini ngambilnya kapan paman?

–budiw


#11

Anang | 22 09 2006 @ 9.27.36

masih ngrokok ya pakdhe?


#10

Qky | 22 09 2006 @ 8.19.38

bukankah kalo bisnis yang penting untung doang, Oom… ??? wong, sampe-sampe, bulan Ramadhan jadi momentum bisnis pula….*weleh*


#9

trio macan | 22 09 2006 @ 5.42.38

…terbukti, dengan mesin tik manual itu saya bisa mendapatkan uang ratusan kali dari yang mereka petik, dan saya tak merasa merampas lahan siapa pun.

:)

apakah rajin nge-blog juga sebentuk penyaluran atas romantika produktivitas mesin tik manual itu?

*wink*


#8

bahtiar | 22 09 2006 @ 2.30.58

jadi inget, registrasi tiap semester depan gedung teknik sipil pojok pogong kidul … tukang ketik kertu mahasiswa ndeprok urut siji-siji … :)


#7

pipit | 21 09 2006 @ 23.22.42

Adik yang bijak …..


#6

medon | 21 09 2006 @ 23.07.36

bisa begitu ya..


#5

mbakDos | 21 09 2006 @ 22.48.10

Everybody’s playing the game, but nobody’s rules are the same.
Then, don’t even try to make the rules equal one to another, but try to live with them ;-)


#4

kikie | 21 09 2006 @ 22.30.20

salut, mereka masih bisa solider!


#3

golda | 21 09 2006 @ 19.35.03

hahaha.. Pak Dhe dikira berpuasa :p


#2

Ary | 21 09 2006 @ 19.26.33

justru mereka lebih sportif dalam berbisnis, ketimbang pengusaha di negeri ini…[sok teu ah]
btw Met berpuasa pakDhe…..


#1

devie | 21 09 2006 @ 19.18.57

seandainya semua dapat berjalan seirama seperti mereka, alangkah indahnya