Harga Berdasarkan Warna Piring
TENTANG DARMAJI DAN HAMDANI HARTOYO, BUKA KEDAI TANPA NGOYO.
Kita makan secukupnya lantas pelayan kedai menghitung piring berdasarkan warna. Beda warna beda harga. Hanya matematika ringan, kan? Menjadi ribet kalau setiap piring punya banyak warna.
Tapi bagi orang tertentu itu bukan semata soal matematis. Ini soal besar: kesanggupan pengudap untuk tidak menukar piring makanan pada tatakan berjalan. Mungkinkah harga berdasarkan warna piring diberlakukan di semua kedai, termasuk kantin sekolah dan kampus bahkan terminal?
Seorang suster kepala sekolah di Bogor (Mpokb pasti tahu) pernah memberlakukan kantin jujur. Tak ada kasir, pembeli hanya menaruh uang pembayaran di wadah.
Ada juga “warung gelap” dalam yang tak memiliki kasir. Uang pembayaran dan kembalian untuk pembelian kue, minuman, dan permen diurus sendiri oleh pembeli melalui sebuah stoples.
Nyatanya ada saja saja interaksi nyaman dan saling percaya dalam bisnis. Tapi bagi Bung Pesimis, Indonesia tak bakalan punya vending machine yang tersebar luas tanpa pengawasan. Tak bakal banyak kedai yang percaya begitu saja kepada pembeli. Alasannya, banyak orang bermental kere, padahal secara finansial bukan kere.
Ah, ini jelas menghina kere. Dia menganggap semua kere adalah penilap dan pengemplang. Teman saya, arek Suroboyo, punya istilah “Darmaji” — dhahar lima ngakune siji (memakan lima tapi mengaku ambil satu).
Kalau saja Bung Pesimis itu orang Surabaya, pasti dia akan berpantun, “Hamdani Hartoyo, dikandhani gak percoyo.”

18 Responses to Harga Berdasarkan Warna Piring
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Pecat Dulu, Rekrut Kemudian
November 7, 2006 by AntyoIKLAN LOWONGAN YANG ANEH….
Pecat dulu 500-an orang, lantas carilah pengganti. Maka pencari kerja pun deg-degan: “Setelah itu giliran saya untuk didepak. Duh…” Bisa juga para pelamar adalah eks-karyawan yang dipecat, lantas mendaftar sebagai orang baru.
© Ilustrasi: Iklan baris Berita Kota, Senin 6 November 2006, halaman 8.
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





ih koq bisa sih.. kemaren daku (juga) makan kayak gini
hmm… tetap lebih enak di all u can eat… ga repot ngitung lagi deh tinggal ngukur malunya aja :D
edi sud surya paloh, maksud loh?
:))
mangan ora mangan sing penting mbayar…
menjadi jujur itu mudah pak antyo..
http://budiwijaya.or.id/node/177
–budiw
menjadi jujur itu mudah pak antyo..
http://budiwijaya.or.id/node/177
–budiw
restoran jepang dimana neeh om?
jadi pengen sushi
hihihih… *mengenang masa lalu mode ON*
btw, yg suka ngemplang begono biasanya bukan kere. kere gak punya akses..
emm.. pelayannya harus TIDAK BUTA WARNA! wadaw.. diskriminatip lagi. :p
eh, darmaji bareng hartoyo jualan piring warna di warungnya? *saalh fouks*
Pernah temen gw waktu makan sate di purwodadi ditambah terus oleh penjualannya, dia bingung.
“sampun…sampun” katanya
Padahal yang dihitung sujennya saja,piye jal..?
Endonesah banget gituh. maunya murah, kalo bisa gratis!
bibit-bibit koruptor. ayo bernyanyi: “jagalah hati, jangan kau nodai.” :)
Jadi ingat..
waktu di Yogya, aku menyembunyikan sepotong dari dua daging di balik nasi. Alhasil, mbak warung makannya mengira aku cuma mengambil satu daging.
Tapi dasar terlalu jujur, setelah mbaknya selesai menghitung, dengan muka polos tak bersalah, dengan sendok kubuka “gundukan nasi” sehingga terkuaklah daging tersembunyi itu. Mbaknya langsung mesem-mesem menyadari telah tertipu sementara teman-teman kampus tertawa.
Ah.. tapi waktu itu aku memang sedang bercanda, bukan untuk merugikan orang.
*siapin perut untuk makan makanan jepang lagi ahh*
wah darmaji itu nama dosenku. orangnya unik lucu dan nyentrik pokoknya…
Orang Indonesia itu super geblek. Vending machine dikira celengan umum. Kalau butuh duit ya dibongkar!! Eh, itukah yang namanya mental kere, pak Kemplu ? :D
makan sushi yang pake ban berjalan ya harga dihitung berdasrkan warna piring. lha ada juga Mr.Celup di bogor … berdasarkan torehan warna di biting.