Notebook Rp 116 Juta & Penampilan ala Perwira
MASIH SAJA KITA DIREPOTI SOAL INI.
Pria gemuk berkulit bersih, berambut cepak, itu hanya diam di pojok luar toko. Tangannya dilipat di dada. Mata sipitnya menatap tajam sekitar. Sumbat kuping Bluetooth terus terpasang. Para pegawai toko di sebuah mal di Jakarta itu tak menghiraukannya.
Kemarin itu saya membatin, apakah penyambut saya, Pak Bos dari negeri jiran itu, seperti juga beberapa eksekutif lainnya, menganggap Indonesia tak aman, sehingga perlu bawa pengawal yang berdiri di pojok itu?
Akhirnya Pak Bos yang menangani pemasaran Asia Tenggara itu memanggil si pria. Ternyata dia distributor di Indonesia untuk sebuah produk keren yang tergolong wish list, bahkan most wanted. Orangnya ramah.
Lagi-lagi saya salah. Terkecoh oleh penampilan. Tapi saya teringat pesan sejumlah orang, “Penampilan itu penting. Sangat penting.”
Saya juga teringat gerutu pemuda asal Gebog, Kudus, Jawa Tengah, yang sudah bergaji besar di Jakarta, tapi tak pernah didekati SPG parfum di mal. “Padahal aku mampu beli lho, Pak!” katanya.
Tak semuanya berbuah gerutu. Ada juga yang cengengesan, santai saja. Seorang blogger, petinggi sebuah badan PBB di Jakarta, sering ngerjain orang. Penyambut yang membuka pintu mobil berpelat CD kuciwa karena yang nongol orang biasa. Panitia semintar tak menyangka bahwa orang yang dikiranya singgah itu adalah sang pembicara.
Dua pekan lalu seorang distributor komputer bilang kepada saya bahwa pembelian notebook Rp 116 juta oleh seorang wanita itu bukanlah sebuah kemewahan, melainkan investasi.
Tanpa pasang iklan namanya langsung disebut beberapa media. Di tengah peluncuran produk dan lelang, namanya langsung diingat oleh ratusan pebisnis. Reputasi telah terbangun. “Kalau nanti dia mau bisnis, calon partner-nya langsung tahu ohhh itu yang beli notebook Rp 116 juta,” kata Pak Distributor.
Tapi ada juga kenyataan lain. Beberapa petugas satpam baru sebuah kumpeni mengikuti anjuran seniornya: anggaplah semua orang sama, karena jabatan dan posisi tak terwakili oleh busana maupun tunggangan. Yang wangi dan bermobil bagus boleh jadi adalah pegawai baru, dalam masa percobaan pula.
Bagi saya itu semua soal pilihan. Mana yang nyaman sajalah. Mau keren mentereng, silakan. Mau biasa saja, ya sumangga kersa. Mau selang-seling necis dan ngelemprot, juga boleh. Gitu aja kok repot.
Tapi Nona Jeli (bukan “jelly”) bilang, “Aku bisa bedain. Bahasa tubuh bos itu beda karena dia terbiasa kasih perintah. Biarpun lusuh dan pendiam, kelihatan dominant dan demanding banget.” Yang dia maksud pastilah perwira militer dan polisi.
© Foto ilustrasi: Ermenegildo Zegna (jas), Joseph Abboud (dasi) & The InternetX (sandal)
28 Responses to Notebook Rp 116 Juta & Penampilan ala Perwira
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Termehek-mehek, Terngehek-(ng)ehek
December 16, 2008 by AntyoBLOG (MESTINYA) MEMPERKAYA BAHASA KITA.
Seorang guru nonbahasa tak paham istilah “termehek-mehek”. Dia menanya guru bahasa Indonesia dan mendapatkan jawaban bahwa itu adalah istilah baru yang didengarnya dari televisi.
Memang, televisi lebih merasuk daripada koran dan majalah. Maka istilah “termehek-meheh” yang muncul akhir 80-an (atau awal 90-an?) pun baru meluas setelah TV menyebarkannya. Salah [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Aku mbiyen juga pernah ditolak secara halus utk nginep di hotel besar di Pontianak goro2 aku datangnya pake sendal jepit dan baju celana kotor penuh debu dan tanah
saya pun tahu ini pasti kere kemplu yang paman tyo itu kan? ;)
waktu ketemu panjenengan dulu itu… dari cara ngomong dan bahasa tubuhnya udah ketahuan kalo si paman ini bukanlah si kere yg kemplu… :p
oh ya, mungkin cuman jakarta-in-very-specific yang masih mementingkan hal hal penampilan kayak gini :-) di negara lain yang kayak ginian (showing off penampilan) sudah hampir punah.
kalo di amrik, orang kerja pake celanda pendek, jeans atau kaos saja.
kalo pake jas bukan dibilang bos atau management, tapi (-) marketing real estate ,atau, (-) job hunter lagi interview.
err.. emang ada ya notbuk seharga 116 juta? apa saja kelebihannya?
selamat datang di dunia kosmetika hehehe
wah, paman tyo barusan diundang gathering, ya? mana foto notebook-nya yang mahal itu? penasaranku menguap bersama kantukku………
jadi inget cerita papa. baru turun dari pesawat tiba-tiba dia diberi hormat oleh beberapa pria berbaju militer (entah apa, lupa :P)
wkt itu papa yg pakai baju kaus + jas cuma bisa nyengir-nyengir…
kalo boleh tahu Pak Boss, yang orang gebog itu namanya siapa ? Siapa tahu dia temen sekolah saya dulu :)
salam kenal
Ada cerita nyata.
sewaktu ngedaftarin anaknya di Tarki dia cuma pakai pakaian lusuh kayak daster,akhirnya dapat keringan tuk bayar uang sekolah anaknya.Tapi waktu mau bayar ketemu suster yang tau siapa dia.Lansung tanpa negolagi, naik 5 kali lipat uang sekolahnya, la dia suaminya orang keuangan caltex, piye jal….?
7 x 7 = 49. setuju nggak setuju, yang penting penampilan.
lha mending bergaya kere, sudah murah, nikmat dan aman. mana mau penjahat njawil?
tapi kalo kere-nya pakde mah lain…
it’s all about presentation atau it’s all about guts, yak? kekekek, mending bubarin aja semua sekolah bisnis.. penampilan bisa menipu, bang paman. makanya banyak gadis yg ketipu sama tentara dan polisi gadungan..
Nona Jeli said, “…Bahasa tubuh bos itu beda karena dia terbiasa kasih perintah. Biarpun lusuh dan pendiam, kelihatan dominant dan demanding banget.”
waahhh… saya harus ketemu sama si Nona ini nih. Kan enak, kalok mau beli parfum tinggal nanya2 dan banyak maunya, pasti langsung ditawarin olehnya.
kok kaya bajuku yaaaa
oooohhini toh pak tyo yang blognya terkenal ituuuhh!
*bowing* :D
pernah ada cerita dikampung saya, orang dateng ke showroom masih pake sarong dan kaos swan, si pelayan tidak bersikap ramah, begitu si orang tadi ngliatin duit sekantong plastik, pelayan langsung minta maaf. duh…
ada yang abis makan di hotel mewah, dikejer kejer yang penjahat kabur, padahal duitnya segudang dan pelanggan tetap di hotel itu. sialnya tetep aja dia pernah kecolongan dengan orang gaya perlente tapi penipu buat dapet makan siang gratisan. kesiaannn deh
ada sebuah tempat makan di deket2 sini,
etalase yang biasanya dipenuhi makanan (layaknya sebuah tempat makan) ini kosong melompong.
kalo aja saya nggak ngeliat, bahwa didalam ada beberapa orang yang sedang makan, pasti saya sangka ini tempat makan, entah bangkrut, entah tutup.
padahal makanannya enak lho..
tapi kalo tetap memajang etalase kosong, banyak yang ga tau kalo ternyata mereka jualan makanan, dan enak :)
*penampilan bisa bikin rugi :)
“Masih saja kita direpoti soal ini.”
.. ‘kita’ yang mana? ‘kami’ kalii.. :)
waktu pake rapih cuma bawa hp, satpam wanita senyam senyum sambil bilang “selamat pagi pak”, pas saya lagi make jaket, bawa kardus (persis gaya tukang bawa barang) eh di suruh ninggalin ktp, padahal saya kerjanya digedung itu :p mereka rupanya bener2 cuma liat pakaian ga hapalin muka :p
dituker sama krupuk dapet segimana ya
memang, orang masih mandang buku dari sampulnya xixixi….
eh, aku bagian mana yak? hihihi