Buta Uang, tapi Mata Duitan
KETIKA Rp 100.000 DAN Rp 10.000 MASIH SAJA TAMPAK SERUPA.

Basi banget! Ya, memang. Tapi saya khawatir si basi jadi klasik. Artinya lawas tapi masih aktual. Sampai hari ini saya masih sering keliru dalam membedakan lembaran uang kertas Rp 10.000 dan Rp 100.000.
Anda boleh bilang ini soal mata yang mulai rabun. Baiklah itu saya terima dengan berbidang, eh berlapang dada, tapi dengan berkesal hati.
Karena faktor usia? Boleh saja Anda bilang begitu. Apa boleh buat, umur tak dapat dibantah, dan jumlah konsumsi beras sejak lahir memang bukan prestasi yang layak dicatat.
Bukankah ukuran Rp 10.000 dan Rp 100.000 itu beda? Bahkan yang Rp 100.000 dirancang untuk dapat dibaca oleh tunanetra?
Memang. Tapi di saku atau dompet, apalagi dalam cahaya kurang dan terburu-buru pula, keduanya — menurut mata saya — mirip.
Beberapa kali saya keliru menyerahkan Rp 10.000-an, padahal saya sangka Rp 100.000-an, begitu pula sebaliknya.
Saya ingin tahu apakah si desainer grafis penerus Sadjirun di Peruri (atau BI?) menyadari kemiripan kedua pecahan itu.
Menurut saya, uang yang baik itu langsung dikenali oleh orang buta huruf maupun buta warna. Ya, seperti rambu lalu lintas itulah.
Mungkin saja mereka yang sering keliru dalam membedakan itu sedikit — termasuk di antaranya adalah turis asing. Tapi kemiripan angka 10.000 dan 100.000, apalagi tanpa disela oleh titik, mestinya diperhitungkan.
Begitu pula perbedaan ukuran yang tak terlalu kentara. Lebar kedua lembaran itu hampir sama, hanya panjangnya yang berbeda, tapi ketika dalam dompet dan saku, perbedaan panjang tak terasa.
Terima kasih, jika Anda ikutan basi dengan menganjurkan saya bawa mistar. Juga terima kasih kalau Anda mau kasih saya uang, berapa pun jumlah nol di belakang.
Ssttt… semalam saya dikasih uang. Bandar cap Kodok Rocker membagikan uang, padahal Lebaran belum tiba. Dia memang kebapakan. Tepatnya: bapak asrama. Salam untuk Kiranti.

Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Melepas Alas Kaki
October 30, 2006 by AntyoKEREPOTAN SAAT BERTAMU (DAN DITAMUI).
“Kapan dan di mana saat bertamu kita harus melepas sepatu atau sandal?”
Anda bisa menganggap ini pertanyaan naif. Tapi maklumilah jika itu ditanyakan oleh orang asing yang belum pernah ke Indonesia.
Tentu banyak jawaban. Antara lain: tergantung pada tuan rumah, apakah dia beralas kaki atau tidak. Bisa juga: apakah tuan [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





hentikan penciptaan uang yang serupa tapi tak sama, buat warna yang berbeda – beda di setiap mata uang.
Ntar juga paling uangnya ganti model lagi beberapa tahun ke depan. Untuk sementara nikmati aja, sambil belajar untuk teliti. Hehehehe :D