Tertarik kepada Ketertarikan Orang Lain
KADANG KITA JADI KORBAN. KADANG KITA MEMANFAATKAN KERUMUNAN.
Bocah yang duduk di bangku depen itu berdiri. Orang dewasa di sebelahnya, mungkin ayahnya, menyusul berdiri. Penumpang di belakang mereka juga berdiri. Penumpang di baris sebelah, dalam bus yang sama, segera berdiri.
Secara estafet penumpang lainnya berdiri, sementara bus terus melaju. Mereka yang berdiri mencoba menjadi jerapah dengan memanjangkan leher agar dapat melihat apa yang terjadi di depan bus.
Saya yang duduk di baris belakang tak ikut berdiri karena tak mendengar suara aneh, lagi pula laju bus Semarang – Sala itu normal saja. Di luar sana tak tampak jejeran warga desa berdiri seperti umumnya terjadi setelah ada kecelakaan lalu-lintas.
Kondektur kesal, menyumpah, karena tidak ada apa-apa. Kernet terbahak, memaki berulang kali.
Secara estafet, dalam koreografi tanpa pengarah, para penumpang kembali duduk, dengan tertawa, gerutu dan pisuhan. Bus terus melaju. Sopir menyumpah sambil terkekeh.
Pengalaman saat saya masih kuliah itu tak terlupakan. Bukan yang pertama dalam perjalanan, tapi kali itu peristiwanya lebih kuat. Apa yang dkatakan oleh orang pintar dan buku fotokopian, tentang kerumunan dan motif tindakan, telah terbukti. Tanpa contoh kasus yang destruktif. Hanya ada tawa dan pisuhan.
Karena kita punya kepedulian maka kita cenderung ingin tahu apa yang menarik perhatian orang lain. Ahad lalu, di depan sebuah toko game, hal sama terulang. Ketertarikan bisa menular, bahkan mengundang penasaran.
Berbeda dari peristiwa konyol dalam bus, mereka yang menggabungkan diri ke dalam kerumunan di Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara, itu bisa terlibat lima menit lebih. Ngapain aja?
Mereka berdesakan menonton TV di balik kaca. Ada tayangan gulat Amrik. Setelah itu kerumuman mencair. Tak lama kemudian kembali ramai.
Misalkan tak disela bedug magrib penanda berbuka puasa, polanya sama. Sudah agak lama saya mengamatinya sambil selonjor di kedai kopi Bengawan Solo. Orang datang, bertambah, berkerumun, berkurang jumlahnya, lalu sepi, kemudian datanglah pembentuk kerumunan berikutnya. Mereka tak saling kenal.
Sudahlah, tak usah berbelok ke politik dan euforia khalayak. Tengoklah bisnis. Berapa kali Anda kadang merasa GR karena menjadi pelaris kedai?
Seorang pemilik kedai bebek bengil, ketika mengawali usahanya, selalu menjadwalkan kehadiran koleganya untuk makan gratis saban hari. Kedainya selalu tampak ada pengudap. Karena (kabarnya) sajiannya memang lezat, bisnisnya sukses.
Penjual obat, yang menyajikan akrobat itu, membayar orang untuk menjadi pengerumun. Begitu pula penggelar judi kaki lima. Ada saja korbannya. Ada saja gerutu. Entahlah bagaimana yang terjadi dari sajian Technorati. :D
12 Responses to Tertarik kepada Ketertarikan Orang Lain
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Jajan di Sala
July 28, 2008 by AntyoPANDUAN MENGUDAP KARYA BLOGGER.
Kenapa di Sala ada penjaja penganan yang disebut Hik? Soal etimologi bertanyalah kepada dua bloggers Sala, yakni Paman Patih Blontank dan Imron Rosyid. Orang yang pertama adalah pemandu soal Sala dalam segala urusan. Orang [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)






Waktu kuliah dulu, ditengah taman, saya biasa suruh teman untuk menghitung orang yang menoleh karena teriakan saya :)
gak usah berdiri, cukup dengan menolehkan kepala saja ke arah lain dari yang kita ajak bicara, semua orang di hadapan kita akan ikutan menoleh *kiat sukses buat nyopet hehehe*
masalah tertarik dengan ketertarikan orang sering juga menjadi awal petaka. karena saya pernah liat sendiri. sesorang di depanku terlihat jengah karena dilihatin orang terus, yang persis di sebelah saya. lantas terjadilah aksi saling melihat, berlanjut saling pelotot, dan… baku pukul dah…
pedagang buah, pusing buahnya gak laku-laku. akhirnya dia teriak, tolooooong… tolooooong….
setelah orang2 berkumpul dan bertanya ada apa, si pedagang baru bilang, “tolong beli buah saya…”
sebenarnya itu bkn rasa peduli , tapi rasa ingin tahu alias USIL !!!
cerminan kepedulian terhadap orang lain mungkin ;-)
jarang liat cafe bengawan rame. kali aja sampeyan dibayar buat jadi penggenbira?
seperti topik di buku tipping point ituh yak. bang paman nih, diam-diam sambil ngupi.. cekreek! jadi deh foto.. btw, di bengawan solo cobain yg pake oreo gak? *glek*
Di stadion juga gitu, berdiri satu, yang di belakang ikut berdiri. Masalahnya karena pandangan tertutup yang berdiri hehehe
kumpul2 biasanya bikin orng jadi penasaran…makanya trs ikut nimbrung..ikut ngumpul..ngikut rame2…meng-ekor..dll…
kekekek..kerennnnn..!!!
bener pakdhe…. antusiasme itu (juga rasa malas barangkali) itu seperti penyekit mata…dia MENULAR
kayak cerita orang mimisan di pasar yang tengadah menahan agar darah gak tumpah… orang sepasar akhirnya ndangak semua, ngliat ke atas, nyari2 ada apa ya…? gara-gara ada satu orang mimisan yang berlaku bak bethoro narodo…