CENGENGESAN. MAUNYA MENCERAHKAN. BERMULA DARI PECI SAMPAI PACARAN BEDA AGAMA.

Rosid, pemuda Arab Betawi itu, mungkin seperti Ahmad Albar muda: kerempeng dengan kribo yang mekar merimbun.
Begitu kribonya sehingga peci hanya akan bertengger di puncak belukar, bukan mewadahi sepertiga kepala. Dan justru dari situlah persoalan bermula. Kribo pengalang peci itu merembet ke mana-mana.
Kesan main-main sudah dimulai dari sampul. Ada gambar olahan Eja Assagaf yang meniru pose Mona Lisa, dan tentu saja buku The Da Vinci Code. Lalu teks “tidak memukau nalar tidak mengguncang iman!” dan “misteri tak berbahaya di balik tradisi berpeci”. Juga ada splash “kemungkinan best seller”.
Padahal masalahnya cuma peci. Eh, apa tadi? Cuma? Peci pula?
Ketika peci diceraikan dari urusan simbol dan tradisi, lantas ditempatkan sebagai penutup kepala semata, maka persoalannya memang “cuma”.
Tapi bagi Rosid dan Mansur, abahnya, ini soal prinsip. Bagi Abah ini soal tradisi islami Bani Gibran. Bagi Rosid, yang aktivis wadah inklusif Sanggar Banjir Kiriman di Condet, Jakarta Timur, tradisi puak adalah satu hal, dan nilai-nilai islami tidak bisa begitu saja disimpulkan dari sejulur akar budaya. Apa lagi peci juga dikenal di kalangan Nasrani dan Yahudi.
Sabtu siang saya buka plastik buku itu, lantas saya kunyah, dan saya pun teringat posting sebelumnya tentang baju koko.
Ben Sohib (37) seperti mengingatkan kita tentang peta di banyak agama, yang sering memampangkan kontur persinggungan tradisi “dan” ajaran asli. Kata “dan”, dalam beberapa kasus, bisa dibaca sebagai “versus” atau “kontra”.
Sohib juga mengajak kita mengenali kecanggungan pembaca, apapun agamanya, dalam memilah aliran. Apa yang “modernis” atau “revisionis” kadang justru “puritan” bahkan “fundamentalis” karena semangat kembali ke akar memang bisa mencuatkan koreksi yang mencolok.
Dalam peta itu kontroversi peci hanya contoh dalam lingkup kecil. Adapun RADIKAL (Remaja Didikan Allah), FORMALIN (Forum Masyarakat Anti-Aliran Lain), dan MODERAT (Majelis Doa Demi Perdamaian Umat), hanyalah kembang cerita, yang terkesan merujuk contoh aktual.
Semuanya dikemas nakal dan kocak, bahkan sejak halaman pertama. Bahasanya lincah, tuturannya renyah. Bahkan konflik pun selalu disela guyon — akibatnya ketegangan pembaca mengendor, dan ini bikin saya agak kuciwa.
Sebagai pengantar ke arah perenungan, buku ini menarik karena tak menggurui. Tapi sayang pergulatan dua hati kurang menegangkan. Itulah temali kasih Rosid yang tak pernah mencium kekasihnya (plus jarang memanggil “sayang”) dan Delia si perokok yang berkalung salib.
Taruh kata ujung perjalanan asmara dibikin menggantung, ketegangannya dan sekaligus kepelikannya mestinya bisa lebih padat — dan membingungkan — agar dapat dibagikan kepada pembaca.
Lantas bagaimana dengan kribonya Rosid dan peci, akankah bersua mesra dalam sebuah tatakan kompromi? Baca sendiri dong!
JUDUL: The Da Peci Code • PENULIS: Ben Sohib • PENERBIT: Rahat Books, Jakarta, September 2006 • TEBAL: 326 halaman • HARGA: Rp 25.000




rani | 18 09 2007 @ 15:58:29
lucu, seger, kreatif…hihihi bang ben, maap yak, i janji deeeehh..pasti beli bukunyee…tapi sewaan juga mahal lho bang..seharinya 5rb…:P kalo telat, denda 1500 lhooo…:D
Lani | 07 07 2007 @ 20:39:17
kocaaakkkkkkkkkkkkk abis….
kabayan | 04 05 2007 @ 8:00:18
abis baca buku ini asli masih ketawa tiwi….lucu …menyegarkan
dina | 01 03 2007 @ 16:22:58
kocak kocakk..
saia suuka
Random Thoughts from Namora » Da Peci Code | 24 11 2006 @ 16:08:27
[...] Sebenarnya saya sudah baca buku ini sebulan yang lalu, tapi baru bisa saya tulis di sini sekarang. Ini juga setelah terprovokasi oleh beberapa tulisan di blog lain yang ‘ngomongin’ buku tersebut. Misalnya milik Pak BR, dan gombalannya Paman Tyo. Mungkin banyak juga yang sudah baca, tentu masing-masing memiliki penilaian tersendiri setelah baca buku itu. [...]
windede | 10 10 2006 @ 14:35:57
paman kapan bikin buku The Da Gombal Code?
dhany | 09 10 2006 @ 15:55:26
ati-ati, kadang bagus di bungkus doang..wang.. wang..
danu | 09 10 2006 @ 15:52:12
buku plesetan gini keknya lucu yak, padahal maksudnya boleh jadi bukun buat melucu ya om. nyari ah…
Anangku | 09 10 2006 @ 11:59:25
wah judulnya lucu isinya pasti lucu.. nyari ah..
mpokb | 09 10 2006 @ 9:42:28
menarik nih..kok baru denger sekarang yak? ah, keseringan minjem buku di perpus, jarang ke toko buku jadinya :P
>> “Sabtu siang saya buka plastik buku itu, lantas saya kunyah..”
– plastik kok dikunyah sih, bang paman? :P
josephine | 09 10 2006 @ 9:20:38
lucu tenannnnnnnnnnn!! ga berhenti saya ngakaknya, pokoknya buku trlucu setelah jomblo deh. Pesen yg dibawa jg dalem banget. Moga aja org2 spt Lukman, Said, Mansyur jg baca buku ini biar bisa ngliat cara menyikapi perbedaan. Btw pk RW-nya bijak jg ya, ga mudah trprovokasi, baggusss!!!
TOP-TOP!! rugi banget kalo ga baca
golda | 09 10 2006 @ 6:11:36
pengen pinjeemmm….
babu negara | 09 10 2006 @ 1:11:43
lali ngasih link, pakde… iki lho yang the va dinci cod..
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Va_Dinci_Cod
babu negara | 09 10 2006 @ 1:10:07
kikikiki…. yang plesetan versi inggris dah baca pakde?? itu lho yang ttg ikan cod? the va dinci cod…
nananias | 08 10 2006 @ 21:58:10
paman, yang ini masuk deretan buku apa? fiksikah? daripada ntar dianggap mengguncang imankan? huehuehuehue….
lenje | 08 10 2006 @ 21:15:31
huahahhaa… keren nih buku! ada yg mo kirimin ke sini gak? :p
saya juga suka heran kalo orang mulai ngeributin soal “peci itu simbol agama mana”. lah, nehru kan dang-kadang pake peci juga — emangnya sekarang mo diprotes? justru mustinya itu diliat sebagai identitas “asia”. eh, timur tengah masuk asia gak sih?
Kunderemp | 08 10 2006 @ 20:31:30
Masukkan ke daftar belanjaan lebaran neh..
Thx for the info
aldi | 08 10 2006 @ 19:49:48
wah, kayaknya buku lucu nih :D
thanks buat infonya