Lamunan Mati Lampu
MANUSIA TANGGUNG TAK RASAKAN KEHADIRAN REMBULAN.

Pet! Tiba-tiba gelap. Tadi malam itu, pukul sebelas, selagi menjelajahi blog, tiba-tiba lampu padam. Gelap. Di luar juga. Rumah lain juga padam. Saya menengok ke luar. Listrik sekompleks padam semua.
Kedipan indikator ponsel menjadi penyelamat. Saya raih benda itu. Saya pijit sembarang tombol agar LCD-nya menyala. Sejauh saya tahu, produsen ponsel tak pernah mengiklankan fungsi ekstra barangnya sebagai lentera. Eh ada sih, tapi untuk suar selagi dugem. Goyangan handset akan menghasilkan efek warna. Selebihnya, apapun merek dan tipenya, ponsel menjadi pengganti korek api untuk memanggil waitress.
Lumayan, ponsel lawas itu bisa membimbing saya untuk mengambil Maglite Mini dalam ransel. Seterusnya adalah menemukan senter besar yang meredup, menyalakan lilin, memeriksa kamar anak-anak (dan kamar ibunya). Semua masih tertidur pulas.
Berikutnya saya menenangkan kedua anjing saya. Lantas saya keluar. Menyalakan sentolop mungil itu. Tumben tak ada sahutan dari senter lain. Senin malam tadi rupanya saat yang melelahkan, tetangga sudah pada tidur. Beberapa rumah tetap gulita.

Ketika gerobak bakmi melintas, petromaksnya menerangi sekitar. Ada rasa senang sekilas. Setelah itu kembali gelap dan senyap. Oh tidak, saya ralat. Tak terlalu gelap pekat. Ada rembulan.
Yah inilah manusia tanggung, tak pernah peka terhadap kehadiran rembulan. Hanya dalam gelap Candra terasa.
Saat itu saya membatin, kapan terakhir kali berkemah? Kapan terakhir membelah malam dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun bersepeda motor, hanya diterangi rembulan?
Alangkah jauhnya usia berjalan, semua kenangan serasa di ujung belakang. Petak-umpet saat purnama seakan belum pernah saya alami. Tapi ditonjok sampai KO, selagi kelas dua SD, di bawah purnama, masih saya ingat.
Tentu tadi malam saya juga ingat bahwa siangnya saya ke kantor PLN dan di mana-mana melihat slogan “listrik untuk kehidupan yang lebih baik”.
Listrik padam menjelang tengah malam sampai dini hari bisa mengantarkan saya pada lamunan melankolis. Sangat personal, sekaligus dangkal. Jangan dibandingkan dengan malam-malam gelap korban tsunami dan gempa bumi. Jangan dibandingkan dengan mereka yang terapung di laut lalu terdampar di hutan bakau setelah kapalnya karam. Jangan dibandingkan dengan New York saat blackout, yang diisi penjarahan, pembunuhan, dan pemerkosaan. Tadi malam itu tak ada rasa was-was. Apa lagi setelah listrik kembali menyala.
18 Responses to Lamunan Mati Lampu
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... Continue reading → […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Kitiran Kertas
October 6, 2006 by AntyoSERIBU PERAK: ABSURDITAS EKONOMI RAKYAT.
Bukan baling-baling bambu Doraemon. Tidak sakti. Harganya seribu perak. Si penjaja membuatnya sambil menunggui dagangan di trotoar.
Kitiran berbahan karton dan bambu. Saya membeli satu. Anak saya yang memilihnya. Di rumah, kitiran dia pasang di jendela kamar. Angin datang, bilah berputar. Dia girang.
Seratus untuk Anda jika Anda menebak [...]
Recent Comments
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





karena TDL kemarin naik, makanya mati lampu Paman. pengen tahu kenapa?, karena semua masyarakat tidak ikhlas menerima keputusan tersebut.. :D
—
Siapa sih yang ikhlas harga2 naik? :)
/tyo/
klo mati lampu, meteran listriknya kan gak berputar/jalan tuh? yaa.. otomatis gak bayar dong, saat mati lampu itu? Jangan pusing dengan lampu mati di dunia fana ini.. Lebih baik, mikirin gimana lampu penerangan kita di akherat sana aja… Peruasahaan Listrik dan masyarakat kan saling membutuhkan ya? jadi saling memaklumi aja… Klo lampu mati, yaaa.. sabar… Pernahkah kita bersyukur dan mendoakan perusahaan listrik saat listrik menyala dan kita banyak terbantu?
kalau lg keadaan sadar gw sukanya terang.tapi kalau mo bobo harus gelap.gw pernah baca disalah satu situs kesehatan katanya kalau istirahat itu baiknya ada dlm keadaan non cahaya.karena sel2x tubuh itu beregenarasi disaat wkt tidur atau istirahat.tp kalau lo tidur dlm keadaan terang sel ga mau melanjutkan proses regenarasi.selnya malu bo kalau terang.
indah lho mati lampu itu. kesannya gimana getuh.
tul pak de.. i miss mati lampu too
untung abis ngelihat bulan si mbah nggak berubah jadi manusia srigala… hahaha….
Listrik mati harusnya ada potongan harga dari PLN, atau minimal dapet voucher disetrum gratis.
ketika mati lampu baru kita menyadari indahnya sorot bulan purnama menberikan kedamaian…
kenapa disebut mati lampu ya? bener berarti nenek saya, yang orang bugis, kalau minta padamkan lampu, dia akan bilang… “bunuh saja listrikna…”
—
Suatu hari di Makassar saya terperanjat saat ada yang menanya, “Pak, komputernya DIBUNUH saja ya!”
[tyo]
jangan sampe deh gelap gulita, seremmm bgt!! ya ya ya saya emang penakutz beratzzz, tidurpun harus ada suara music/radio/tv. makanya disamping tempat tidur slalu ada sentolop, lilin&koreknya, n hp hrs slalu full batre. jadi kalo mati lampu masih bisa ndengerin mp3/radio dari hp. ga brani nglongok keluar rumah slain takut diculik, byk kuburan keluarga di bogor yg bikin spot jantung:(
mati lampu…
mati lampu dimalem hari kaya\’nya sih gak terasa, soalnya khan udah gelap dengan malam :)…
di madura pernah mati lampu sampai 3 bulan paman.. asik-asik saja tuh.. tapi yang namanya minyak tanah harganya naik gak karu-karuan..
pas waktu itu saya lagi kelas 3 sma. pas juga waktu ebtanas..
–budiw
mati lampu jadi serasa di kampung. ayik euy…
ogut pernah pakai nokia 3610. itu hape emang kagak ada fungsi senter …, tapi terangnya itu loh .. senter banged. sampai-sampai ogut ganti casing aseli yang transparan itu dengan casing versi kakilima yang keras, dan gelap … toh tetep aja pancaran lampu dari layar tiap kali terima sms/panggilan masih bikin silaw …
baru kali ini rasanya ogut ngebaca postingan paman gombal terasa melankolik …
tapi emang bener, bulan senin kemarin bagus banget. bulat. “ditutupi awan seperti filem horor,” begitu ogut bilang sama kawan seperjalanan dari pasar rebo – melayu – jatinegara – klender – cempaka putih. sepanjang perjalanan ogut cuma nengadah ke atas. kawan perjalanan sedikit terlupakan. sampai rumah, leher kaku. salah urat, mungkin.
hehehe …
loh hp yg ada senter nya ada kok, kalau gak salah nokia cdma tipe 2100 an
padhang mbulan emang menyenangkan…menentramkan ya meski kadang ada rasa “takut” melihat bulan bulat bundar dilangit gelap *sok puitis*
guguknya lagi menggonggongi bulan yak? :P cahaya layar hp pernah nolong aye pas mati lampu, bang paman. eh, iya. guyonan lawas bin jayus.. tukang bakminya ada kakinya nggak? :P