MISALKAN EDITOR KORAN DAN ANGGOTA DPR MENGAJAR SMP DAN SMA.

gedung mahkamah konstitusi

Sebuah guyon. Lebih enak jadi guru fisika, kimia, dan matematika. Bisa kasih les privat. Jadi guru IPS, sejarah, dan kewarganegaraan itu sulit ngobyek. Sudah muridnya tambah pintar dan kritis, eh… persoalan Indonesia makin ruwet. Badan-badan pemerintah bertambah, konstitusi sudah direvisi, ada otonomi, parlemen susah dipahami, dan seterusnya.

Ah, saya teringat kerepotan guru saya yang suka ndobos itu. Saya pernah bertanya, apa bedanya Golongan Karya dan partai lainnya, toh Golkar (waktu itu belum menjadi partai) menjalan fungsi parpol.

Daripada menjawab pakai guyon tapi bakal dianggap bego, Pak Wagu bekas aktivis GMNI itu memilih menghindar, “Yah, itu buat renungan.”

Lain hari saya bertanya, pemilu itu bebas dan rahasia, kenapa pegawai negeri dan keluarga tentara harus nyoblos Beringin. Dia diam, lantas bel berbunyi. Saved by bell.

Setelah saya agak dewasa barulah saya paham: berbahaya bagi guru berbaju Korpri untuk mengritisi situasi aktual.

Ini seperti Pak Kolonel dosen kewiraan yang meminta pertanyaan tertulis. Saya bertanya, kenapa Indonesia bermuka dua. Menyebut “Samudra Indonesia” tapi ketika berurusan dengan negara lain bilang “Samudra Hindia”. Tak ada jawaban. Sama seperti terhadap pertanyaan apa bedanya dwifungsi dengan militerisme.

Cerita lain? Seorang dosen Salatiga yang punya ribuan buku dan rajin menulis terbahak-bahak sepulang dari Penataran P4 (aduh, singkatan apa sih?). Menurutnya, para penatar gelagapan menghadapi sanggahan yang bertubi dari para peserta. Untunglah, kedewasaan peserta dan belas kasihan dari mereka bisa menyelamatkan penatar berbaju safari. Orang pintar sebaiknya memang bijak.

Ah, itu masa lalu, ketika kebebasan berpendapat hanya dimiliki oleh seorang presiden yang merasa dirinya raja, dan para punggawa mengamininya.

Tapi sekarang, ketika kebebasan berpendapat sudah didapat, masih ada guru noneksakta yang kerepotan.

Hmmm… saya punya ide. Sesekali kepala desk politik maupun desk hukum (juga desk ekonomi) koran dan majalah berita sebaiknya mengajar di SMP dan SMA, sekadar untuk menghadirkan peta persoalan. Maksud saya, untuk menambah bingung guru dan murid.

Supaya murid dan guru tambah pusing, sebaiknya anggota DPR (terutama yang bermasalah) juga kasih studium generale. Begitu pula menteri, ketua lembaga tinggi negara, gubernur, walikota dan bupati.

Akankah celoteh mereka menjadi bahan untuk soal ulangan dan ujian? Wah, saya bukan ahli pendidikan. Teng! Eh, tettttt! Bel berbunyi. Maaf.

 

14 Responses to Saved by the Bell

  1. sOnniE AUSTRALIA Mozilla Firefox Windows says:

    iki do omong opo to?aku ra mudheng blas.. huhuhuhuhu

  2. -f INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    p4? paman pura pura pelupa!

  3. Seggaf INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    P4? Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, oom …

  4. sawug JAPAN Mozilla Firefox Windows says:

    hmm dulu ITB suka ngundang PM atau presiden dari negeri seberang untuk bicara di depan mahasiswa. Kenapa sekarang engga ya? Padahal dulu tuh jaman eyang harto.

  5. beast INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    itu hasil moto sendiri?
    saya dulu moto pager kantor kedutaan aja dikejar ame polisi yg jaga dan disuruh ngapus :-(

    ya, saya moto sendiri.
    kalo kedutaan mah repot. dua hari lalu baru ngeluarin kamera kuaci, sambil jalan di depan pagar kedubes amrik langsung ditempel petugas keamanan. saya jalan cepat, dia ikut cepat. emang sih di sana ada larangan motret.

    di sekitar monas, selain kedubes yang bikin repot adalah motret dephankam. provost-nya galak. :)

    [tyo]

  6. baduboy INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    ya’, selesai tidak selesai dikumpulkan! ayo cepat, anak-anak!

    *saved by the bell, eh? kalo dari sudut pandang murid yang sangat pemalas dan jarang belajar ini, tentunya: tidak. justru killed by the bell, dan kebakaran lah rapor2nya :)

    tapi saya setuju dengan usul panjenengan: apalagi kalo kepala desk yang didatangkan pinter dan ganteng. sexy brain lah. ada nggak ya, kepala desk KEBUDAYAAN yg seperti itu? *wink*

  7. kunderemp INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Ide yang bagus.
    So.. dimulai dari menteri mana nih? Atau dirjen mana nih? atau.. pejabat mana nih? atau anggota dewan yang mana nih?

  8. mpokb INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    jadi inget, waktu kecil aye termasup yg makan beras jatah dosen pegawai negeri. Singkatan P4.. duh.. Pedoman Pelaksanaan Penataran P4?

  9. husein MALAYSIA Mozilla Firefox Mac OS says:

    wah,wah.. menarik juga.. btw, guru PPKn saya lagi nyari wartawan untuk memberikan materi soal kebebasan pers… ada yang berminat???

  10. blonty INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    “…Seorang dosen Salatiga yang punya ribuan buku dan rajin menulis terbahak-bahak sepulang dari Penataran P4 (aduh, singkatan apa sih?)….”

    Apakah dosen dimaksud berinisal ND yang tulisan-tulisannya (dulu) pernah kusukai? :p

  11. Mbilung JAPAN Mozilla Firefox Mac OS says:

    P4? – Pura-Pura Punya Pacar

  12. pipit JAPAN Opera Windows says:

    Harusnya mereka bikin blog deh.
    Kayaknya bentar lagi Paman diundang presentasi oleh mereka…. :P

  13. emil JAPAN Mozilla Firefox Windows says:

    setuju Paman ! mestinya orang-orang itu disuruh ngajar di sekolah, biar berani dikritik sama yang masih muda-muda, jangan cuma bisa ngomong dan naik mobil mewah aja !

  14. udah om, jangan terlalu dipikirkan nasib bangsa ini. nanti sampeyan sendiri yang sakit loh, apa bangsa ini mau peduli sama sampeyan? hihihi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.