Pembatas Halaman dan Label Harga
CARA PERSONAL DALAM MENGURUSI BUKU.
Karcis tol. Setruk kedai kopi. Tiket bioskop. Karton label baju. Gerènjèng (kertas perak) bungkus rokok. Sachet gula atau creamer. Potongan iklan buku. Sobekan notes anak. Dan entah apa lagi (selain setruk toko buku), semuanya bisa menjadi pembatas halaman buku saya. Saya ingin tahu apa pembatas halaman Anda selain melipat ujung halaman menjadi dog’s ear.
Memang, ini soal sepele — sama seperti isi blog ini. Pembatas halaman tak ada hubungannya dengan isi buku maupun penilaian kita terhadap isi. Ini semata soal fungsional, sebagai penanda kita sampai di mana, tanpa repot mengingat nomor halaman.

Semata fungsional? Eh nggak juga sih. Ada sisi sentimentalnya juga kok.
Ada lagi kebiasaan saya, dan yang ini saya tularkan ke anak saya. Yaitu melepaskan label harga dari plastik pembungkus, lantas dipindahkan ke sampul belakang buku.
Kadang berhasil, kadang tidak. Umumnya label harga (terutama yang tanpa barcode) memang tersayat agar konsumen tak menukar harga semaunya. Kalau dilepas, label akan robek.
Buat apa memasang label harga? Supaya tahu harga buku. Sepuluh tahun mendatang, apa lagi jika lebih lama lagi, kita akan tahu perjalanan nilai rupiah dan pergerakan harga buku. Supaya ingat bahwa buku tertentu kadang dibeli dengan darah, keringat, dan air mata. Pokoknya bersakit-sakit ke hulu sampai kemudian ketemu rakit.
Soal kenangan terhadap harga ini saya pelajari dari buku-buku bapak saya. Dulu belum zaman label apa lagi barcode. Harga buku cuma berupa coretan pensil di halaman depan — alangkah malangnya petugas yang menulisi, serasa mendapat hukuman menulis hal yang sama ratusan kali.
Ada buku versi cetakan pertama, tahun 80-an, yang cuma berharga Rp 1.750, tapi cetakan mutakhirnya, tahun 2000-an, sudah menjadi delapan kali lipat.
Menariknya lagi, dalam buku-buku Bapak kadang ada bon toko dengan tulisan tangan hasil tindasan karbon. Ada nama dan alamat toko bukunya (yang mungkin sudah ganti logo, pindah alamat, atau bangkrut), dan ada pula keterangan buku apa saja yang dibeli bersamaan dengan buku itu.
Di Bogor ada toko buku lawas. Namanya Politeia (masih ada nggak?). Buku-bukunya “lama tapi baru”. Maksud saya, yang dijual bukan buku bekas, melainkan buku lama yang tak kunjung laku. Harganya juga harga lama. Buku tahun 70-an ya dihargai sesuai zamannya. Misalnya Rp 415. Waktu krismon saya memborongnya.
Teman saya yang cerpenis aneh itu, setelah saya kasih tahu, ngelurug ke Bogor untuk memuaskan nafsu kemaruknya. Di toko itu ada buku karya ayahnya, profesor tamatan MIT yang eksentrik itu, dengan harga lama.
Pentingkah itu? Nggak. Tapi bagi saya menyenangkan. Rasanya setiap buku punya riwayat — begitu pula pembatas halamannya. Apa lagi kadang dalam tanda tangan buku saya cantumkan “Karisma MTA” atau “Gunung Agung Klp Gdng”, “Aksara Citos”, “Stasiun Gambir”, “TB Kukuh Subardi Salatiga”, atau… “obralan di Palmerah” :D.
Apakah semua buku saya berpembatas dan berlabel? Belakangan ini tidak. Saya mulai pikun. Mulai bertambah jumlah buku yang tanpa catatan kapan belinya.
Akan halnya buku hadiah, apa lagi bila ada coretan dari pemberi, ah… itu sangat berharga. Silakan kalau Anda mau mau menghadiahi saya. :D

BUKU WARISAN. Milik almarhum Bapak. Judulnya berbahasa Jerman, isinya Inggris. Tapi saya nggak sanggup mencerna.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... Continue reading → […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Pada Akhirnya adalah Seleksi
November 16, 2010 by AntyoBLOG BUKAN UNTUK SEMUA ORANG.
Sebagian bloggers atau narablog boleh saja girang setiap mendengar “blog belum mati”. Toh selalu ada blog baru, kan? Blogging is alive and well… Lantas bloggers yang sudah bosan ngeblog juga boleh bilang, “Blogging is so yesterday, Pak!”
Memperkaya kehadiran
Baiklah, media sosial memang kian kaya. Presensi di mayapada, eh… mayantara [...]
Recent Comments
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





weitz, keren nih, bisa ditiru, Paman.
mungkin kalo “barang2″ pembatas buku itu dilaminasi plastik, akan lebih awet & tidak mudah sobek ya…
Untuk label harga, memang beberapa label mudah sobek ketika dikelupas, apalagi kalo nempelnya di plastik pembungkus bukunya, bisa katut tuh plastiknya :)
Pety:
• Kalau dilaminasi malah sayang…
• Ngelepasnya ati-ati, sebelum plastic wrap disobek :)
wah….
cara batesin buku yang paling enak itu pake batesan buku,biasa gw pake foto ku sendiri yg lagi narsis
jadi nanti pas mau baca lagi jadi mood bacanya heheh….
toko buku politeia itu tempat tepatnya ada dimana ya? siapa tahu masih buka. saya ingin coba kesana. terimakasih informasinya ya……
Saya sangat sedih kalau buku perpustakaan banyak bekas lipatan. Acapkali, saya menemukan buku yang kertasnya dilipat, tak dikembalikan semula. Tapi, jarang, saya juga menemukan pembatas buku. Susahnya, mau dikembalikan ama siapa ya?
Om, pinjem bukunya donk, yg itu tuh, “Detik2 yang Menggairahkan” karya Pak Habibie…
saya jg gitu pakde.. malah saya kasih label lagi.. waktu pembelian, harga, hingga berbagai cerita di balik riwayat pembelian buku..
misal: belinya pas hari jumat, siang-siang abis jumatan. pas berangkata ketilang polisi..
heheh..
sering pake label baju atau celana buat pembatas buku
Paman Tyo mau dihadiahin buku apa nih :P