Dengan Puisi Aku Ngamen
PENGANGGURAN DI SATU SISI. PRODUKTIVITAS KANTORAN DI SISI LAIN.
Judul di punggung baju ala serdadu itu: “aura cahaya hti”. Jangan protes kenapa “hti”, bukan “hati”. Anggap saja lisensia puitika. Di atas judul ada pernyataan: “seniman tanpa mahkota/gelar (seniman alam)”.
darahku yg mengalir / jantungku yg bdtk / nafasku yg berhembus / ragaku yg terus bergerak / bersatu menjadi satu… / di jiwa…, cahaya hatiku…
Itulah barus-baris dalam coretan pada punggung baju. Si pemakai baju sering berpuisi di dalam bus kota. Sesekali ia menyelingi dengan tiupan suling bambu tak sampai sepuluh not. Dasar gombal, saya masih mengharapkan alunan Picollo Boogie.
Dia suarakan pesan rakyat. Tentang ketidakadilan. Tentang ketimpangan. Tentang kesenjangan. Tentang penindasan. Juga, entah apa maksudnya, tentang “talenta” dan “fenomena”.
Tak seperti beberapa pembawa puisi lain dalam bus kota, dia tak mendeklamasikan kaleng Paman Doblang, atau kesadaran adalah matahri, atau jerit makhkluk terluka, atau apapun yang pokoknya nge-Rendra gitulah.
Tapi mau nge-Rendra atau tidak, persoalan dasarnya sama: pengangguran. Baik pengangguran kentara maupun tersembunyi adalah masalah. Di negeri beres, kenaikan lima persen penganggur adalah masalah besar.
Jadi? Baiklah, mari menyumpah, hamburkan serapah untuk pemerintah. Tapi seorang sinis berkata, pengangguran adalah satu hal, lantas bagaimana dengan produktivitas mereka yang bekerja tetap?
Log di server perkantoran punya data siapa saja yang selama jam kerja lebih sering chatting dan blogwalking. Tentu masih ada kilah yang bisa menyelinap: chatting, downloading, dan blogging, adalah bagian dari pekerjaan. Hayah!*) :D

*) Tanggapan penguasa jaringan: “Sejak kapan kantor ini jadi warnet gratis, hah?” Jawaban tidak kreatif: “Sejak kantor ini punya internet!”
19 Responses to Dengan Puisi Aku Ngamen
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Kerja buat Ngongkosin Selingkuhan
January 17, 2007 by AntyoBEKERJA = KESENANGAN = BAYAR.
“Gue kerja supaya bisa membiayai selingkuhan. Malu dong kalo pake duit suami.”
Itu tadi bukan kutipan persis. Tapi begitulah kira-kira SMS yang dibacakan kemarin pagi di Kis FM Jakarta. Nakal, orisinal, menyentak. Sebuah gurauan wanita muda urban untuk topik alasan bekerja.
Jawaban lain, semisal bekerja supaya dapat [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Rendra…
Good to know ……
Sambil nyelam minum susu ndak papa toh…
kalo memakai istilah den guntar..
maka jawabannya adalah, saya baru nyaman bekerja setelah blogwalking..
–budiw
denguntar, bisa dibaca disini:http://bintangtauladan.wordpress.com/2006/09/14/pertanyaan-penggali-produktivitas-karyawan/
supaya jadi warnet gratis kita harus berangkat ke kantor dulu. Itu nggak gratis namanya, berangkat ke kantor kan butuh duit.
pakde… saya itu dikantor kerja ya sebatas kerjaan saya, banyak nganggurnya lho di kantor pajak… kalo terlalu rajin itu artinya lagi sibuk menuhin kantong sendiri dengan uang entah darimana…
(sok ngambek merasa disindir)
bener bgt yah.. ak di kantor lbh sering blogwalking daripada kerja. tp itulah yg bikin makin produktif
entertainment is necessary! :D
Pernah juga saya nemui pengamen puisi, membaca beberapa karya Remi Silado. Aliran romantik, di bus Ciputat Senen Patas 76.
Di 213, biasanya ikut didaerah Thamrin-Imam Bonjol-Soedirman, pengamen yang mencampuradukkan unsur puisi, lagu, dan monolog. Dari lagak gaya dan bahasa signalnya, saya yakin mereka ini memang orang-orang theater.
Kalau yang disebelah ini, bus mana Pakdhe?
“Sejak kantor ini punya internet!”
Hihihi jawaban yang tidak kreatif tapi menyenangkan.. *halah*
Salam kenal, Paman..
lowongan untuk jadi salesman sebenarnya buanyaaaak buanget, bang paman. tapi itu pekerjaan susah.. belum tentu dapet klien, lebih sering dipelototin dan diplengosin. kata tetangga aye sih begono..
log di server perkantoran punya data siapa saja yang selama jam kerja lebih sering chatting dan blogwalking.
itu aku oom..=P
ember boss, termasuk gw.
Kantor=warnet gratis. Piye jal..?
kutulis saja begini,
kusebut ini komentar
toh sisi lainnya,
terisi tulisan
Sejak kapan kantor ini jadi warnet gratis, hah? >>> sejak staff it ketauan lagi chatting! :D
namanya juga cari makan..!!!
…akulah sastrawan tanpa perasaan…
he..he…
ketauan ya, tulang..
kalo sabtu minggu, bekurang nyang kasi komen…
unang songoni, tulang..
xixixi..dah diblok juga masih ngeblog
pakde aja blogging dan blogwalking, anak buah juga ikutan dong.. he..he..
sepertinya pengamennya setengah pake bahasa sms paman, makanya hati disingkat jadi hti trus berdetaknya jadi bdtk. tapi kenapa kalimat yang lain enggak ya?