Ruang Tamu Penolak Tamu
TAMU TERTENTU CUKUP DI TERAS SAJALAH.
Ada yang bilang, pasangan muda Jakarta kurang suka menerima tamu dan kurang suka bertamu. Indikatornya, ruang tamu mereka kecil, kursi cuma seperlunya. Bertamu tanpa menelepon dulu dianggap kurang sopan.
Mereka, pasangan di bawah 40 tahun itu, juga kurang suka bertamu. Kalau mau ketemu ya di kafe atau resto. Apalagi Ramadan ini: banyak resto jadi tempat pertemuan dua keluarga atau lebih.
Benar tidaknya tentu butuh riset atau apalah namanya. Tapi bagaimana kalau ruang tamu kecil karena rumahnya memang kecil (kayak rumah saya yang 4L)? Belum lagi jika menghuni unit mungil apartemen.
Orang lainnya lagi, yang sepakat dengan orang di paragraf pertama, memberi catatan: amatan berlaku untuk rumah yang sudah direnovasi atau rumah baru yang dibangun dengan desain sendiri.
Saya mencoba mengingat sejumlah rumah. Sampel acak — tepatnya: acak-acakan — di otak saya ternyata membenarkan. Ada rumah besar, dua lantai, anak cuma satu, punya ruang hi-fi, tapi ruang tamunya kecil berisi dua kursi. Ada lagi yang rumahnya tetap tipe 36, dan sisa lahan diatur supaya muat dua mobil — artinya saat ada mobil, untuk masuk dan keluar orang pun susah.
Aha! Ruang keluarga! Itulah yang lebih penting. Bagi pasangan sibuk, yang berangkat pagi dan pulangnya malam, siapa pula yang akan bertamu selain pengurus RT — itu pun belum tentu sebulan sekali? Bahkan kalau tamunya itu tetangga lebih sering diterima di teras.
Tamu tertentu, semisal keluarga dekat atau sohib, diterima di ruang makan. Bila perlu ngobrol sampai pagi. Kalau tamunya ngantuk diminta menginap sekalian.
Beberapa keluarga yang punya kebiasaan menyelenggarakan pengajian, kebaktian, latihan paduan suara, akan menyediakan ruang keluarganya.
Seorang pendatang baru heran, kawannya harus membuat janji dulu sebelum bertamu ke rumah kakak atau adiknya, padahal sama-sama di Jabodetabek.
Lha iyalah. Anggap saja si kakak di Kampung Cerewet (Bekasi), si adik di Beji (Depok), dia sendiri di Pabencongan (Tangerang), dan bungsu di Katulampa (Bogor).
Cara paling praktis untuk bertemu adalah di sebuah rumah makan di Jakarta atau tenpat lain yang mudah dicapai. Atau bila perlu liburan bareng ke luar kota. Mau lebih gayeng, agar anak-anak tak berebut ikut mobil siapa, dan yang dewasa tak lelah menyetir, ya sekalian menyewa Big Bird atau Hiba. Konvoi bukan tujuan.
“Orang-orang yang aneh,” kata teman di “daerah”. Lho, “D”-nya DKI (dan sekitarnya) itu apa?
11 Responses to Ruang Tamu Penolak Tamu
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
InFocus Namanya. Entah Apa Mereknya…
September 24, 2008 by AntyoLCD YANG SEBANGSA HAND-BODY.
Beberapa tahun lalu ketika saya masih ngantor, ada orang mau pinjam InFocus. Dengan senang hati saya tolak.”Ndak punya, je,” kata saya. Kemudian dia datang lagi, “Lho, katanya Mas punya. Kami mau pinjem LCD kok, Mas.” Saya tunjukkan monitor LCD saya, “Waduh nuwun sewu, sedang saya pakai buat kerja, je…”
Ingatan [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Gila design-nya keren banget. suka banget cara ngemodifnya om tyo. gw dari dulu nyari-nyari design yang kaya gini nih. waktu ngeliat punya didats gak nyangka bakalan jadi keren banget gini.. ajarin donk om..
ato copy kalo boleh :D
**sory, mau lewat Titipan Suara di bawah ngga bisa :(
—
Ini desain hasil kolaborasi. Emang asli gini, bukan saya memodifikasi template orang. Didats memang hebatz!.
[tyo]
tersinggung aku…!!!
rumahku RSS-je.. alias rumah sangat strategis.
Kemana-mana (kamar, ruang tamu, kamar mandi, jemuran, septictank, dll) sangat deket
emang D-nya itu apaan? O_o
Lucu juga…
mungkin terdengar aneh jika sanga tamu disuruh menganggap rumah yg datangi adalah rumah sendiri. :)
Kondisi yang pelahan mengingsut.
baru denger yg namanya kampung cerewet dan pabencongan, bang paman. misalkan ada kerabat di situ, kayaknya keburu habis waktu untuk cari2 lokasi. halal bi halal dan arisan keluarga sudah makin lazim di rumah makan. kalo di bogor bisa di kebon raya :D
pk dhe, disini kan rumahnya imut2, dah gitu dempetan ma tetangga, jd slain ruangannya ga cukup jg ga enak ma tetangga, biasa lah kalo ngumpul kan ruamene poll. plusnya lg kalo ngumpul di resto…ga perlu mikir nyuci piring hehehe
e dayohe teko, e jerengno kloso, e klosone bedah, e tambalen jadah, e jadahe mambu, e pakakno dayoh.. :D
4L= Lu Lagi Lu lagi :D
Wah gubuk saya hanya ruang tidur merangkap ruang baca, ruang kerja, raung makan dan ruang tamu
Karena terlalu sibuknya, 10-20 mendatang, setiap keluarga akan saling bertemu online. Dengan memakai Gravatar yang canggih yang saling bisa mencubit, ngejitak anggota keluarga yang lain. Karena tinggalnya yang berjauhan. *Ayo Bangun* Itu hanya impian saja koq. Yang paling enak sih jalan-jalan keluar kota bareng ;P
di rumah saya, dulu pernah ada, tapi sekarang sudah berubah fungsi … jadi taman, hihihi…
karena masih kos dan tak punya ruang tamu, ya diterima di bundaran haji aja Oom. he..he..