Alibi dalam Nuansa Jalan Tol
BERAWAL DARI SEKOLAH, DIPERSUBUR OLEH MEDIA.

Apa yang saya khawatirkan terjadi. Jawaban PR anak saya dianggap salah oleh Bu Guru. Jalan tol, menurut buku kunci soal, adalah “jalan bebas hambatan”. Kekacauan bahasa dimulai dari sekolah.
Sebelumnya, saat memeriksa PR, sudah berpesan soal arti jalan tol. Maka kemarin, ketika saya jemput, anak saya mengadu, “Tadi aku bilang ke Bu X, menurut Bapak artinya jalan yang hanya boleh dilalui dengan membayar.”
Terus? “Bu X bilang, yang itu juga benar,” kata anak saya. Sebuah jalan tengah untuk menentramkan anak — dan orangtuanya. Langkah bijak yang sangat sekolah.
Kurang adil jika Bu Guru, dan anggota staf* pengajar di semua sekolah, selalu di(per)salahkan. Mereka hanya larut dalam kesalahkaprahan, yang antara lain ditebarkan oleh media. Misalkan mereka menganggap “nuansa” (nuance) adalah padanan “suasana”, itu juga karena media.
Beberapa kali saya dengar di radio dan TV, dan saya baca di koran, “alibi” dipakai untuk memadankan “alasan” atau “bantahan” atau “kilah” atau “sanggahan”. Sebagian pembuat TTS sih masih setia kepada kamus: alibi adalah bukti seseorang berada di tempat lain pada saat ada sebuah kejadian di suatu tempat.
Saya orang media. Saya juga masih kacau dalam berbahasa. Kenapa bisa? Pertama, karena bekal kebahasaan saya payah — bahkan sejak SD. Kedua, karena saya juga larut dalam kesalahkaprahan dan ngawurisme yang dikembangkan oleh orang-orang media (tak semuanya sih).
Media terus menghujankan kata. Kadang kreatif kadang menyesatkan. Pembaca, pendengar, penonton, ikut terbawa. Sebagian dari mereka akan menjadi guru dan… pekerja media (dan presenter, dan MC). Bola salju menggelinding.

PETUGAS LOKET TOL. Bebas hambatan itu janji dan harapan, yang penting adalah pelintas harus bayar. :)
*) Berapa banyakkah orang yang mengindonesiakan “staff member(s)” sebagai “anggota staf”?
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Pasukan Bodrex… Siap!
October 17, 2007 by AntyoISTILAH YANG SEMPAT BERMAKNA JELEK.
Saya salut kepada PT Tempo Scan Pacific Tbk. Selalu setia memakai “Pasukan Bodrex”. Meskipun istilah ini, oleh kalangan tertentu, kadang dikonotasikan buram, nyatanya itu tak mengganggu ibadah. Bisa saja nanti ada (atau sudah?) Pasukan Bodrex ke Lourdes. Memang punyanya Bodrex, yang terkenal dengan Pasukan Bodrex-nya, mau apa?
[...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





[...] Jalan tol adalah jalan yang hanya boleh dilalui dengan membayar. Itulah arti resminya. Bahwa guru-guru SD dalam PR-nya mengartikannya sebagai jalan bebas hambatan, itu karena mereka merujuk janji yang salah kaprah. [...]