Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Soal Niat (dan Toleransi)

Kamis, 26 Oktober 2006 @ 13:48 | Lihat Baca Dengar

50 JUTA PEROKOK INSYAF KARENA BUKU INI.

buku panduan berhenti merokok

Nenek saya perokok berat. Kaca pintu dan jendela kamarnya sampai kecokelatan. Dia meninggal karena uzur, tanpa komplikasi penyakit aneh-aneh, dalam usia hampir 100 tahun.

Tentu ada dua pendapat. Pertama: kalau dia tidak merokok, usianya akan lebih panjang. Kedua: terbukti, rokok tak memperpendek usia.

Oh ya, ada pendapat ketiga: mau umur panjang atau pendek, merokoknya dia mengganggu orang lain yang bukan perokok.

Debat untuk pendapat ketiga tentu lebih hidup. Itu pula salah satu penguat alasan untuk membatasi rokok-merokok.

Jika menyangkut rokok, sebagian dari kita akan mendua. Kantor media (termasuk stasiun radio dan TV) yang produknya menerima iklan rokok toh membatasi rokok-merokok pada banyak ruang. Mau lebih ekstrem? Pabrik rokok juga membatasi rokok-merokok — di pabrik bir juga tak ada orang ngebir di sembarang tempat.

Adat rokok-merokok adalah anak zaman. Bukan hanya soal ekonomisnya yang menguntungkan petani dan (terutama) saudagar tembakau, dan seluruh mata rantai industri rokok, melainkan juga jejak peradaban berupa desain bungkus rokok, korek api, asbak, dan entah apa lagi.

Kelak ketika rokok-merokok sudah punah dari permukaan bumi, maka segala peninggalan yang bernama koleksi bungkus rokok dan sejenisnya itu menjadi artefak berharga. Para guru sejarah akan bercerita tentang kebodohan berabad-abad (ya, kebiasaan merokok itu) pada masa lalu.

Sebagian dari kebodohan itu adalah dokter dan paramedis yang merokok. Begitu pula guru yang merokok — beberapa guru saya dulu klepas-klepus selagi mengajar.

Mereka yang telah tercerahkan bisa bercerita tentang kekonyolan merokok. Misalnya Pakde Uncle Totot dan Andry S. Husain yang telah berhenti. Begitu pula Bondan Winarno, yang berhenti semudah memulainya. Adapun Jasso Winarto, dulu, ruang kerjanya (untuk memantau pasar saham) berbau apek asap cerutu kecil. Priyadi? Jelas, dia antirokok — dan saya mengaguminya.

Tentu, semua cerita itu tak ada dalam buku mungil ini. Sebuah buku yang ingin menyugesti perokok untuk berhenti, dengan klaim diri telah berhasil membuat 50 juta perokok quit (sejak terbit pada 2001).

Tentang isi buku, tak perlu saya bahas. Karena persoalan berhenti merokok adalah si pengisap ingin berhenti atau tidak.

Persoalan berikutnya: taruh kata ada yang berniat, setahu saya tak banyak lembaga (di Indonesia) yang membantu para perokok untuk menemukan jalan terang. Untuk narkoba ada jalurnya. Untuk kecanduan alkohol, ada terapinya, termasuk alcoholics anonymous yang sering beriklan di The Jakarta Post.

Lantas? Ini yang Anda tunggu: bagaimana dengan saya? Masih merokok, on-off, kadang banyak, kadang sedikit, kadang tidak sama sekali, pokoknya tergantung mood — malah saya pernah berhenti lama. Satu hal yang saya bisa jamin: saat tidur saya tidak merokok.

Mau tahu egoisme saya? Ini: saya paling benci bau rokok dan asap rokok yang dihasilkan oleh orang lain. Jangan-jangan perokok adalah orang berpenyakit jiwa, mau menangnya sendiri.

Bagaimana dengan buku ini? Kalau Anda perokok, layak Anda beli, untuk pengingat. Kalau Anda bukan perokok, belilah sebagai hadiah untuk perokok. Selebihnya adalah jangan bergaul dengan (maupun menggauli) perokok. Zero tolerance mungkin akan efektif. Perokok akan tersiksa kalau hanya bertemu perokok melulu.

JUDUL: Stop: Baca Buku ini dan Berhenti Merokok • PENULIS: Charles F. Wetherall (Penerjemah: Siti Masitoh, S.S.) • PENERBIT: How-Press (Pustaka Hidayah), Jakarta, Mei 2006 • TEBAL: 224 halaman • HARGA: Rp 9.000

Ada 60 komentar | trackback | Depan

#60

Sol | 30 05 2008 @ 20:23:15

a matter of luck,


#59

robert | 15 06 2007 @ 0:42:06

hi all.


#58

Charles F. Wetherall | 17 05 2007 @ 3:11:59

I don’t think i’ve ever seen this book before (even though I wrote the English language version. Tell me more. For example, who is the publisher? Have you found it helpful?


#57

alex | 14 04 2007 @ 2:34:25

hi nice site.


#56

imz | 13 04 2007 @ 17:42:17

humm..
i think i wouldn’t stop smoking till i’ve got “somethin” that can stop me to smoke. cos there are a million reason to tell me to stop smoking,.


#55

blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Wanita dan Rokok | 12 04 2007 @ 15:50:42

[…] Seputar rokok: + Cara untuk berhenti + Syarat untuk calon suami: bukan perokok + Rokok dan kejahatan molimo + Tanpa perokok, korek api akan berkurang (?) […]


#54

Ovi3 | 30 03 2007 @ 17:44:34

Aq cuman mau ngash komen aja bwt perokok. Rokok tuh menurut aq,”SETAN”.
Pokoknya aq benci banget ma rokok!!!!!!!!!!!!!1


#53

billy | 11 03 2007 @ 2:56:29

hi.nice site


#52

darmanto | 21 02 2007 @ 12:16:34

bentoel biru mengeluarkan produk baru dengan kemasan elegan,saya penggemar bentoel sejak umur 15 th,yang mana sudah 30 thn tidak pernah berpaling ke merk lain tapi ada beda rasa dan terlalu ringan untuk dihisap dibanding bentoel sebelumnya(sensasi klasik)


#51

BODHI | 11 02 2007 @ 5:09:35

[…] Gara2 post paman tukang gombal ini sih. Tapi sebelom gw baca tu post emang udah ada niat sih. […]


#50

bodhi | 11 02 2007 @ 1:25:50

haduuuuhhhhhh… CROTT, DALEM BANGETTT!!!! saya perokok, saya memang berniat berhenti ngerokok, seperti resolusi 2007 saya. kayaknya saya mulay programnya hari ini.


#49

Eyang | 06 02 2007 @ 8:16:03

aku kan merokok biar tampak gagah !! bener Paman Tyo merokok berhenti dari niatnya dulu, klo blom ada niat seperti saya, baca buku ini gak berhenti sama sekali … bahkan menyepelekan buku ini


#48

1b09d09deb8ba4c1786b970d401b0092 | 04 02 2007 @ 4:11:07

1b09d09deb8ba4c1786b…

1b09d09deb8ba4c1786b970d401b00921b09d09deb8b…


#47

beta | 12 01 2007 @ 9:34:45

Kata perokok, “Merokok adalah hak azasi manusia.”

Kata saya, “Silahkan mendapatkan hak Anda asal tidak mengganggu orang lain.”

Singkatnya, “Tidak dilarang merokok di tempat umum. Asal asepnya loe telen sendiri!”


#46

bee | 12 12 2006 @ 13:58:05

Setuju, paman Tyo! Saya juga sangat benci rokok! Saking bencinya saya, setiap kali saya ketemu rokok, pasti saya bakar dan saya hisap sampe habis. Begitu habis, saya bunuh dia dgn kejam, saya penyet dia sampe mampus! Rasain lo! Bahkan saya rela buang duit untuk membunuhi rokok2 yg dijual, biar rokok cepat habis dari muka bumi! :D


#45

MaIDeN | 11 12 2006 @ 23:45:11

waduh … koq nggak ada yang tereak model gini disini yah ….

“stop stop … stop menghibah … bubar bubar ….”


#44

Sei | 11 12 2006 @ 20:59:12

Kalo gw bilang sih orang bego.

Beli asap buat numpuk nikotin di paru-paru? Nggak banget dech.


#43

otot | 11 12 2006 @ 1:08:01

bacanya sambil ngududd boleh gak yaahhh…(klepuss..klepuss)


#42

ngelu | 05 12 2006 @ 10:32:51

sedikit tips berhenti merokok
1.jgn beli rokok.
2.jgn minta rokok.
3.jgn buka bungkus rokok.
4.jgn menyulut rokot.
5.jgn terima uang rokok,uang pelicin bole
6.yang paling utama jgn hisap rokok
halaah…mau ngomong ga usah hisap rokok aja koq repot.


#41

om7ack | 04 12 2006 @ 11:12:24

busettt… yang komentar pada panjang-panjang bangats..

dah ah, yg penting gw gak ngorok eh ngrokok ;)

-=|[bersilaturahmi denGan komentar]|=-
-=|[gretong bilang:budayakan berkomentar]|=-


#40

BARRY | 03 12 2006 @ 23:28:11

Semakin lama seseorang merokok maka semakin banyak alasan bagi dia untuk dapat terus merokok. Oleh sebab itu, berhenti merokok lebih cepat lebih bagus. Atau tidak usah merokok sama sekali lebih bagus lagi :) *eks perokok.


#39

Budayakan Mengomentari Komentar « JaF | 02 12 2006 @ 20:01:36

[…] Lantas apa isi balasan atau tanggapannya? A. Tentu saja terkait dengan isi komentarnya lah. Sering ini bahkan berkembang menjadi sebuah ajang diskusi menarik antar para blogger. Contohnya adalah posting Mbah Gombal yang ini. […]


#38

yestato | 30 11 2006 @ 8:59:57

“asap melekat bersetubuh sepanjang hayat, wajah pucat menjadi asap, hidup menjadi mati”
ini puisiku…


#37

tabah | 29 11 2006 @ 15:49:01

merokok dan merokok urusan masing masing, jadi urusan orang lain ketika asepnya menganggu. Ibarat mau kebut-kebutan mbok yao di sirkuit sajo, jangan di jalan umum.


#36

jalansutera | 29 11 2006 @ 11:45:57

please no offense: belum tentu yang pake huruf arab itu isinya benar lhooo. semua kalimat bisa dialihbahaskan ke huruf arab. sebaiknya kita tidak usah merokok, lah….


#35

Fernando | 29 11 2006 @ 11:25:21

saya setuju komentar dari james bond.


#34

kawula alit | 29 11 2006 @ 10:39:17

merokok demi tampang dengan merokok demi kenikmatan itu beda..
yang bisa mengerti hanya perokok itu sendiri..
sedih juga ada yang merokok demi nambahi bagus ato ben ketok koyo lonthe.. bukan sedih ada yang nyaingi, namun lebih sedih tembakau yang mahal itu, dengan racikan bumbu yang dibuat dengan teliti dan citarasa yang dipertahankan dengan seksama itu terbuang percuma,
saya (dari dasar ini) tidak suka dikatakan perokok.. (karena perokok itu bermacam macam tujuan seperti tadi..)
penikmat tembakau lebih saya senagi untuk disandang.. kebanggaan..?? nggak lah.. karena cuma saya sendiri yang bisa mengerti cara dan menikmati tembakau itu sendiri.. lebih nikmat dari asap mobil mersi sekalipun yang banyak sekali saya lihat di kota besar ini.. matur nuwun..


#33

agung | 29 11 2006 @ 9:03:23

keinginan berhenti harus berasal dari diri orangny jg. saya juga perokok, tapi herannya saya tidak kecanduan. bisa dibilang saya merokok kl lagi mood aj. 1 tahun berhenti merokok jg bisa


#32

budhe | 29 11 2006 @ 6:18:30

Smoke doesn’t kill kata mertuaku. Keras kepalaaaa!!!. Untung bojoku gak ngerokok… Jadi gak perlu beli buku ini. uangnya buat beli rokok ae, tak kek no morotuoku.


#31

blonty | 28 11 2006 @ 14:41:42

saya perokok berat. delapan belas tahun lalu, pernah menkonsumsi 36-48 batang rokok Bentoel biru dalam 24 jam. tapi saya bisa berhenti menghisap rokok bikinan malang itu pada sekitar awal 1990-an setelah lima tahun mengkonsumsi rokok itu. gara-garanya lumayan serius: sebab ada kabar seluruh saham Bentoel diakuisisi oleh Tommy Soeharto!

berhenti sejenak, tapi gatal pula ini bibir. lalu, melacurlah bibir saya: semua merek saya coba. sayang, hingga kini saya tetap perokok. tiga bungkus sehari, Dji Sam Soe kretek lagi…..

tapi, saya masih orang baik. tak merokok di dekat bayi, anak-anak, perempuan (apalagi sedang hamil), juga di ruang be-AC (kecuali memang itu area boleh klepas-klepus).

yang sudah pasti dan masih saya pegang hingga kini, saya masihs ering menasihati orang lain untuk berhenti merokok, bila ternyata saya tahu dia masih dalam taraf ‘belajar dan coba-coba’. walau merokok itu tidak baik, saya akan selalu berbuat baik kepada bukan perokok.

hehehe…. Paman Tyo, rokok kita masih sepabrik, kan? :p


#30

Mantan Perokok Ringan | 28 11 2006 @ 12:07:06

Sebatang Teman Lama

LAMA juga dia tidak ngobrol dengan teman lamanya itu.
Sering bertemu tapi mereka sok banyak kesibukan, tak
pernah sempat bertukar teguran atau berbagi sapaan.

“DIMANA ya dulu kita berkenalan?” Waktu SMA, bukan?
“Ya, aku tertarik dengan bodimu yang ceking”. Ah, kamu
pun dulu tak segembrot sekarang, alias kerempeng kering.

WAKTU kuliah, mereka masih suka ngumpul di kos-kosan,
bersama kopi dan mi instan, mengetik laporan atau ngebut
menyiapkan pelajaran buat besok menghadapi ujian.

SETELAH tua, katanya dia makin sadar kesehatan. Temannya
yang ceking itu mulai dia lupakan. Sampai akhirnya bertemu
di suatu pagi. “Kabarnya kamu sekarang suka bikin puisi ya?
Buatkanlah puisi untuk mantan sahabatmu ini…” si ceking
berbasa-basi. Baiklah, katanya, tapi saya tidak bisa berjanji.

SI Ceking pun pamitan. “Sampai jumpa di lain iklan.” Lalu
melangkah ringan sekali. Ia sebul-sebulkan asapnya sendiri,
dia jentik-jentikkan abunya sendiri, menyanyikan lagu abadi,
“Peringatan pemerintah, merokok bisa menyebabkan……”

SI Tukang Puisi tiba-tiba merasa kangen sekali dengan teman
lamanya itu. “Mati bisa kapan saja, sebabnya pun bisa apa
saja,” katanya. Ah, Si Ceking yang tak akan pernah kesepian.
si Ceking yang punya banyak teman itu semakin mahsyur saja.


#29

luthfie | 28 11 2006 @ 11:28:04

Wah, buat Dimas. Saya yakin, kalau para syaikh itu tahu bahaya rokok seperti sekarang sudah diteliti, niscaya, bila tidak menuruti syahwatnya, akan mengharamkan. Soal Rasul yang memberikan keputusan hukum dalam mimpi? Patut untuk dipertanyakan, karena para ulama sdh sepakat, tidak akan pernah keputusan hukum baru dari Beliau SAW, setelah wafatnya. Berarti, bisa jadi yang menceritakan mimpi itu berbohong, atau, yang ditemui dalam mimpi bukan Rasulullah SAW. Allaahu a’lam.


#28

beta | 28 11 2006 @ 11:25:21

Wah kalo hukum agama bisa diputuskan lewat mimpi ketemu Nabi, berapa banyak hadits shahih yang bakalan tertolak?


#27

JaF | 28 11 2006 @ 11:22:15

Perokok juga sama dengan manusia lain. Kalau dia bertanggung jawab ya dia akan tahu apa yang harus dilakukan dan tidak merugikan orang lain.. Yang bukan perokok juga kalau ganggu orang lain kudu dihujat atau dijauhi, bukan? Gitu aja kok repot sampai ngutip sana sini. :-)

Buat posting Mas Dimas, jangan disalah artikan sebagai kutipan dari Quran mentang2 ada tulisan Arabnya. Itu bukan kutipan Quran. Biar namanya pake Syekh ini itu, mereka yang nulis itu juga manusia kok dan bisa lupa.. Atau jangan-jangan nulisnya sambil ngerokok kayak saya waktu ngetik posting ini.. hehehe.. :-)

Piss ah…!


#26

kawula alit | 28 11 2006 @ 11:01:42

buat mas mas dan mbak mbak yang nggak suka rokok, saya pengen ngomong sebenarnya,,, ada pepatah dari negeri seberang.. kita hidup laksana berjudi.. mohon pahami dulu.. ketika anda bernafas.. pernahkah anda tau apabila udara yang anda hisap itu bersih? di kota, di desa, dimanapun? memang kelezatan merokok tidak bisa dirasakan orang bukan perokok? apakah anda juga bisa merasakan kelezatan asap pembakaran mobil? tidak ya?
bicara menzalimi, ketika anda kentut (maaf) apakah anda bisa dikata menzalimi? *itu manusiawi bung..* oke, ketika anda bermobilria, apakah anda tidak berpikir anda menzalimi yang tidak menggunakannya? asap mobil (bensin) justru lebih berbahaya dari asap rokok,udah gitu tidak kelihatan lagi.. sudahlah.. kembali saja ke kita sendiri.. urus diri kita sendiri saja, anda gak suka perokok, jangan dekat dengan perokok.. nuwun sewu.. matur nuwun..


#25

kawula alit | 28 11 2006 @ 10:49:20

saya sudah berkurang dhe.. sebatang dua batang kurangnya, karena tuntutan kerja di ruangan AC dan baru bisa udud pas rest time. makan juga berkurang, mending udud daripada makan..


#24

Haris | 28 11 2006 @ 8:30:23

Buat Oom Dimas yang sepertinya wawasan agamanya amat luas, sekedar pertimbangan dari logika semata tanpa dasar riwayat apalagi hadits:

Jika merokok tidak merokok itu urusan pribadi masing2 orang, bagaimana dengan orang yang merasa terganggu dengan asapnya? Bagaimana dengan orang yang merasa terdzalimi haknya untuk menghirup udara segar karena ‘urusan’ si orang yang merokok? Bagaimana Islam menanggapi orang yang mendzalimi orang lain dengan ‘hak’nya?

Jika memang merokok ada manfaatnya, coba bandingkan dengan mudharatnya. Apakah sebanding? Jika ya, apa manfaatnya itu?

Kalau soal lezat dan tidak, maaf, buat saya tidak ada lezatnya sama sekali. Sepertinya yang bisa merasakan lezatnya hanya orang yang merokok saja, sementara orang yang disekitarnya mesti merasakan ketidaklezatannya…


#23

dimas | 27 11 2006 @ 2:22:44

disini saya mau memberikan sedikit pengetahuan agama tentang hukum merokok, mungkin ini agak kebanyakan (dan sebenernya lebih dari ini). merokok tidak merokok itu urusan pribadi masing2 orang. selamat membaca :

1. Dalam kitab Muntakhabat al-Tawarikh Lidimasyq, Syekh Muhammad Adib al-Hishni mengutip ungkapan seorang wali besar dan ulama’ ternama serta tokoh sufi terkemuka asal Syiria, yaitu Sidi Abdul-Ghani Annabulsi Ra. (wafat tahun 1143 H.) yang berbunyi sebagai berikut :

دُخَانُ التَّبْغِ هَامّ بِهِ الْبَرَايَا # فَطِيبُ الْعُودِ سُفْلٌ وَهُوَ عُلْوُ
مَرَارَتُهُ حَلاَوَةُ ذَائِقِيهِ # أَلاَ فَاعْجَبْ لِمُرٍّ وَهُوَ حُلْوُ

Artinya :

Asap rokok menggoda selera;
Pun semerbak kasturi tertandingi.

Pahitnya, manis terasa,
Aneh, pahit kok manis rasanya.

———— ——— ——— ——— ——— ——

2. Dalam buku yang sama menceritakan: Syekh Sunan Efendi yang lebih dikenal dengan sebutan Allati Barmaq, seorang mufti dan pakar fiqh bermazhab hanafi yang sempat meraih julukan Syaikhul-Islam pada zamannya, pernah membaca karya tulis Sidi Abdul-Ghani Annabulsi Ra. tentang kebolehan merokok, yang berjudul: al-Ishlah bainal-Ikhwan fi Ibahat Syurb al-Dukhan, Syekh Allati Barmaq sangat kontra dengan isi buku tersebut yang kemudian terjadilah adu argumen antara Syekh Allati Barmaq dengan Syekh Annabulsi yang akhirnya Syekh Allati Barmaq mengakui kebenaran Syekh Annabulsi lantas minta maaf, lalu dengan tegas mengatakan :

جَهُولٌ مُنْكِرُ الدُّخانِ أَحْمَقْ # عَدِيمُ الذَّوْقِ بِالْحَيَوَانِ مُلْحَقْ
مَلِيحٌ مَا بِهِ شَيْءٌ حَرَامٌ # وَمَنْ أَبْدَى الْخِلاَفَ فَقَدْ تَزَنْدَقْ
أَلاَ يَا أَيُّهَا الصُّوفِيُّ مَيْلاً # إِلَى الدُّخانِ عَلك أَنْ توَفّقْ
وَلَوْلاَ أَنَّ فِي الدُّخانِ سِرًّا # لَمَا فَاحَتْ رَوَائِحُهُ وَعَبَّقْ
فَفِي الدُّخانِ سِرُّ اللهِ يَبْدُو # وَشَاهِدُهُ الْمُحَقِّقُ الَّتِي بَرْمَقْ

Artinya :

Sungguh tolol, yang tak peka asap rokok,
Bak hewan yang tak punya cita rasa.

Tak patut diharamkan,
Hanya kaum zindiq lah yang merekayasa.

Wahai para pecandu sufi,
Kenapa tak kau rengkuh rokok saja.

Andai tak ada rahasia,
Baunya pun tak kan lezat terasa.

Padanya; rahasia Sang Kuasa,
Ahli hakekat, Allati Barmaq sebagai saksinya.

———— ——— ——— ——— ——— ——

3. Dalam kitab Jawahir al-Bihar fi Fadha’il al-Nabi al-Mukhtar oleh Syekh Yusuf al-Nabhani, menyatakan sebagai berikut :

مِنْ جَوَاهِرِ الْعَارِفِ النَّابلْسِي قَوْلُهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي رِحْلَتِهِ الْحِجَازِيَّةِ الْمَذْكُورَةِ : جَاءَ إِلَى مَجْلِسِنَا السَّيِّد عَبْدُ الْقَادِر أفَنْدِي عَلَى عَادَتِهِ، وَكَانَ يَقْرَأُ عَلَيْنَا فِي مُخْتَصَرِ صَحَيحِ الْبُخَارِي فِي أَوَاخِرِهِ فَقَرَأَ الْحَدِيثَ الَّذِي أَخْرَجَهُ الْبُخَارِي : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ وَلاَ يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي ” فَتَكَلَّمْنَا عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ بِمَا تَيَسَّرَ وَذَكَرْنَا رِسَالَةَ الشّيخِ السّيُوطِي الَّتِي سَمَاهَا إِنَارَةُ الْحَلَك فِي إِمْكَانِ رُؤْيَةِ النَّبِي وَالْمَلَك، وَذَكَرْنَا بَعْضَ قِصَص وَآثَار فَأَخْبَرَنَا السَّيْد عَبْدُ الْقَادِر الْمَذْكُورُ بِأَنَّ هَذِهِ الرِّسَالَةَ عِنْدَهُ وَجَاءَ بِهَا إِلَيْنَا بَعْدَ ذَلِكَ فِي ضِمْنٍ مَجْمُوعٍ . ثُمَّ جَرَتْ مَعَهُ مُذَاكَرَةٌ فِي شُرْبِ الدُّخانِ فَأَخْبَرَنَا عَنِ الشّيخ أَحْمَد بْنِ مَنْصُور الْعَقْرَبِي عَنْ شَيْخِنَا الشَّرِيف أَحْمَد بْنِ عَبْدِ الْعَزِيز الْمَغْرِبِي أَنَّهُ كَانَ يَجْتَمِعُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِرَاراً عِدَّةً وَأَنَّهُ مَرِضَ مَرَضاً شَدِيداً فَسَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شُرْبِ الدُّخانِ فَسَكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَرد لَهُ الْجَوَاب، ثُمَّ أَمَرَهُ بِاسْتِعْمَالِهِ .

Artinya :

Syekh Abdul-Ghani al-Nabulsi Ra. menceritakan sebuah perjalanannya menimba ilmu di tanah Hijaz : “Syekh Abdul-Qadir Efandi seperti biasa, hadir bersama kami untuk membacakan ringkasan Sahih Bukhari. Lantas, ia membaca hadits yang berbunyi; Dari Sayyidina Abi Hurairah dari Nabi Saw. beliau bersabda; “Siapa yang bertemu aku pada saat mimpi; pasti akan bertemu denganku dalam keadaan terjaga, dan tak mungkin setan menyerupaiku” . Kami berdiskusi tentang hadits ini seraya mengutip karya Imam Suyuthi yang berjudul Inaratul-Halak fi Imkan Ru’yat al-Nabi wal-Malak. Syekh Abdul-Qadir Efandi menyebutkan bahwa ia memiliki karya tersebut sah secara silsilah dan akan disampaikan kepada kita (para santrinya). Selanjutnya kami berdiskusi tentang hukum merokok, lalu ia meriwayatkan: ” Ada sebuah kisah dari Syekh Ahmad bin Manshur al-Aqrabi, dari Syekh Ahmad bin Abdul-Aziz al-Maghribi, ia menyatakan bahwa ia sering bertemu dengan Nabi Saw. (dalam tidur maupun jaga). Suatu ketika ia jatuh sakit dan menemui beliau, kemudian ia menanya tentang hukum merokok, Nabi pun diam tak menjawab. Kemudian beliau malah menyuruhnya untuk merokok”.

Kesimpulan :
1. Sidi Abdul-Ghani Annabulsi Ra., seorang wali masyhur mengungkapkan bahwa rokok ternyata berguna. Beliau juga telah menyusun buku khusus tentang kebolehan merokok secara syar’i dan ilmiah (judulnya telah disebut di atas).
2. Syekh Allati Barmaq, seorang Syaikhul-Islam dan mufti pada zamannya, serta pakar fiqh bermazhab hanafi, awalnya mengharamkan rokok, tapi setelah kalah debat dengan Sidi Abdul-Ghani Annabulsi Ra. beliau justru menegaskan bahwa yang mengharamkan rokok adalah jahil, tolol, zindiq dan tak ubahnya dengan binatang hina. Sebab ternyata pada rokok terdapat rahasia Allah yang menyirati banyak khasiat dan manfaat. Aroma dan rasanya pun amat lezat.
3. Terdapat sebuah riwayat menyatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah menyuruh untuk merokok !!!
4. Email ini bukan merupakan anjuran ataupun himbauan, namun hanya sebatas kutipan untuk menambah wawasan, lebih-lebih untuk melawan para pengharam.
5. Salah satu qashidah yang disusun oleh Sidi Abdul-Ghani Annabulsi Ra. adalah berikut ini (yang sering dilantunkan oleh Syekh Shafwat ketika hadrah maupun dars) :

وَاللهِ مَا أَبْهَى الْعُقُول وَأَفْتَنَا # إِلاَّ جَمَالَ مُحَمَّدٍ لَمَّا دَنَا
قَمَرٌ إِذَا كَشَفَ اللِّثَام رَأَيْتهُ # أَبْهَى مِنَ الْقَمَرِ الْمُنِيرِ وَأَحْسَنَا
شبَّهْتَهُ بِالْبَدْرِ فَإِن ظَلَمْتَنِي # يَا وَاصِفِي بِاللهِ ظُلْماً بَيْنَنَا
وَاخْضَرَّ فِي كَفَّيْهِ غُصْنٌ يَابِسٌ # وَالنُّورُ يَشعُ بِالطّيبةِ مِنْ مُنَى
هَذَا الَّذِي نَالَ الْجَلِيلَ بِنَفْسِهِ # مَا ثمَّ أَبْهَى مِنْ جَمَالِ نَبِيِّنَا
هَذَا الَّذِي فِي لَيْلَةِ الإِسْرَا بِهِ # جَاءَ الأَمِينُ لَهُ وَقَالَ فَسِرْ بِنَا
لَمَّا سَرَى فَوْقَ الْبُرَاقِ لِرَبِّهِ # قَالَتْ لَهُ الأَمْلاَكُ سِرْ قُدَّامَنَا
مَا زَالَ يَرْقَى وَالْمُلُوكُ تَزُفُّهُ # حَتَّى رَقَى السَّبْعَ الطِّبَاقَ نَبِيُّنَا
وَإِذَا بِهِ فِي حَضْرَةٍ صَمَدِيَّةٍ # سَمِعَ النِّدَا يَا مَرْحَباً بِحَبِيبِنَا
دُسْ يَا مُحَمَّدٌ الْبِسَاطَ وَلاَ تَخَفَ # أَنْتَ الْحَبِيبُ وَأَنْتَ أَكْرَمُ مَنْ دَنَا
دَسَّ الْبِسَاطَ فَكَلَّلَتْ وجناتُهُ # عَرَقاً وَأَكْثَرهُ حُباًّ مِنْ رَبِّنَا
بَلَغَ الْمُنَى فِي حَضْرَةِ قُدْسِيَةٍ # مَا مِثْلهُ مِنَ الأَنْبِيَاءِ بَلَغَ الْمُنَى
سَمِعَ النِّدَا مِنْ رَبِّهِ بِتَلَذُّذٍ # وَتَبَسُّطٍ وَتَقَدُّمٍ نِلْتَ الْهَنَا
إِنْ كَانَ آدَمُ لِلْخَلائِقِ أَوَّلاَ # هَا أَنْتَ يَا مُخْتَارُ أَوَّلُ خَلْقِنَا
أَوْ كَانَ نُوحٌ مِنْ قَبْلُ قَادَ سَفِينَةً # هَا أَنْتَ هَادٍ فِي سَفِينَةِ عِلْمِنَا
أَوْ كَانَ إِبْرَاهِيمُ قَدْ أعْطى خَلِيلهُ # هَا أَنْتَ يَا مُخْتَارُ صِرْتَ حَبِيبَنَا
أَوْ كَانَ يُوسُفُ بِالْجَمَالِ مَنَحْتهُ # هَا أَنْتَ يَا مُخْتَارُ أَجْمَلُ خَلْقِنَا
أَوْ كَانَ صَالِِحُ مِنْ قَبْلُ أعْطى النَّاقَة # هَا أَنْتَ يَا مُخْتَارُ نِلْتَ بُرَاقَنَا
أَوْ كَانَ دَاوُدُ الْحَدِيد أَطَاعَهُ # هَا أَنْتَ يَا هَادِي أَطَاعَكَ خَلْقنَا
أَوْ كَانَ نَاجَاكَ الْكَلِيمُ مُخَاطِباً # هَا أَنْتَ يَا مُخْتَارُ صِرْتَ كَلِيمَنَا
أَوْ كَانَ عِيسَى قَدْ رقى فِي السَّمَاء # هَا أَنْتَ يَا مُخْتَارُ دُسْتَ بِسَاطَنَا
ثُمَّ الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ وَآلِهِ # مَا لاَحَ نَجْمٌ فِي سَمَاءِ الْهَنَا


#22

harunjo | 01 11 2006 @ 8:48:45

merokok memang berbahaya dan bikin polusi yah, tapi justru bahaya polusi kota yang di sebabkan asap kendaraan yang tiap hari kita nikmati itu lebih bahaya dari pada asap rokok, antisipasi polusi kendaraan ini simple, di mulai dari diri kita sendiri ajah, kita2 yang gak merokok justru penyumbang polusi terbesar lebih dari perokok yang sumbernya dari kendaraan yang kita gunakan. sudah saat nya kita bertanggung jawab

http://www.b2w-indonesia.or.id


#21

mina | 31 10 2006 @ 15:55:02

ya aku sudah liat tu buku. kecil amit2.


#20

Fernando | 30 10 2006 @ 14:46:07

buat perokok: baca buku itu sambil merokok tentu lebih nikmat :)


#19

Priyadi | 30 10 2006 @ 8:57:14

eh, beneran itu 224 halaman harganya cuma Rp 9000?
—-
benar bos. wong bukunya mungil gitu. :)
[tyo]


#18

Rian | 28 10 2006 @ 19:58:33

Selebihnya adalah jangan bergaul dengan (maupun menggauli) perokok.

Wah, kalo utk kalimat ini saya ndak setuju! Kenapa harus dikotak-kotakkan?


#17

mina | 27 10 2006 @ 19:33:11

murah amat ya harga bukunya.


#16

maya | 27 10 2006 @ 11:33:20

bapakku perlu baca buku ini oom..


#15

windede | 27 10 2006 @ 11:25:38

weih… paman, itu tangan sampeyan? kalo iya… segera cari pemotong kuku ya… :p * kaburrr *

nggak usah kabur, wong bukan tangan saya :D
[tyo]


#14

alamak! | 27 10 2006 @ 9:17:35

saya merokok karena…
ada rokok…!


#13

rendy | 27 10 2006 @ 6:45:50

kadang saya merokok untuk menekan rasa tekanan batin…

selebihnya tidak merokok.


#12

the.preaxz » Blog Archive » Pembenaran Perokok | 27 10 2006 @ 3:28:48

[…] Tadinya mau nulis komentar di blogombal paman Tyo. Tapi karena gerah yang dirasakan ternyata menjadikan kolom kecil untuk berkomentar di dalamnya saya rasa belum cukup, jadi saya menulis sendiri. Yah, “perang rokok” memang tidak pernah akan ada habisnya. Perokok selalu punya pembenaran, dan sebaliknya bukan perokok akan selalu mencari kejelekan. Merokok, sebagai mana umumnya hidup, adalah pilihan. Menganggap perokok itu bodoh, tidak menjadikan bukan perokok menjadi pintar. Sebaliknya, berdasarkan pengalaman, perokok tentu lebih berpengalaman, karena sebelumnya termasuk golongan bukan perokok. Perokok yang mantan perokok mungkin akan lebih dihargai argumentasinya […]


#11

preaxz | 27 10 2006 @ 2:33:53

[]Tentang isi buku, tak perlu saya bahas. Karena persoalan berhenti merokok adalah si pengisap ingin berhenti atau tidak.[]

Hehehehe … sorry, merokok lanjut … belum nyampe pada kesadaran berhenti minum alkohol, atau menyentuh alasan tidak pernah menggunakan narkoba.


#10

devi | 27 10 2006 @ 0:24:58

#7 bisa jadi! hahaha..hmm baru tau ada buku itu..


#9

mbakDos | 26 10 2006 @ 22:35:56

jadi kalau sayah dengan pakdhé, masih bisa berteman atau tidak ya?!


#8

mpokb | 26 10 2006 @ 22:06:50

bang paman hobi banget foto pake satu tangan.. berapa kali jepret untuk bisa mendapatkan posisi begini yak?


#7

yunan | 26 10 2006 @ 21:11:35

Buku Tamat ..merokok malah kumat…hahah


#6

emmy | 26 10 2006 @ 17:39:02

kalo dulu papaku punya cara untuk membuat anaknya jadi ga ngerokok, adik saya ( masih kecil waktu itu kelas dua ato tiga SD gitu ), tanya kepapa saya ( yg emang merokok ), gimana rasa nya ngerokok, nah sama papa saya langsung disuruh coba, langsung adik saya oek oek muntah.
Nah sampe sekarang adik saya ga ngerokok.


#5

wadehel | 26 10 2006 @ 15:46:29

Saya sudah lama berhasil berhenti. Dulu pakai cara ekstrim, caranya dengan selalu memaksa diri untuk merokok sampai overdosis, nonstop seperti kereta, selalu ada rokok yang menyala di tangan, sesering mungkin di hisap, kalau perlu setiap tarikan nafas sambil menghisap rokok.

Akhirnya belum seminggu saya sudah terkapar :P dan sampai sekarang tidak tertarik sedikitpun pada rokok. Muak.


#4

agusset | 26 10 2006 @ 14:41:59

harus diakui, para perokok adalah orang yang paling pemberani (atau malah mungkin bebal) di dunia ini. sudah diperingati bahwa merokok itu bisa mengakibatkan impotensi dan kematian, tetap saja mereka terus merokok dan berani menanggung resikonya… hahaha…


#3

JaF | 26 10 2006 @ 14:32:43

Ini ada pesan sponsor dari perusahaan rokok gombal:

http://anotherfool.wordpress.com/files/2006/10/rokokgombal.jpg

:-)


#2

JaF | 26 10 2006 @ 14:24:40

Hmm.. artikel tentang perokok yang paling ‘cerdas’ yang pernah saya baca.. Ndak menggurui, ndak nakuti, tapi mak nyessss.. diem-diem nusuk sampe dalem hehe

BTW, saya ada cara lain untuk berhenti atau paling tidak mengurangi rokok.. Tinggallah di Singapur! Udah ndak bisa merokok sembarangan kecuali di dalam garis2 kuning kayak tempat parkir, harganya juga ngujubileh bikin jebol kantong… Ditambah lagi sekarang dengan gambar-gambar memuakkan yang ditampal di kotak2 rokok.

Hasilnya? Buat saya sih sekarang sebungkus seminggu udah bagus.. Dibandingkan 5 bungkus di masa lalu.. heheheheehee…

Pembenaran.. pembenaran.. perokok emang paling jago bikin pembenaran.. (eh maaf ini nyindir saya sendiri lho heheheheheehehe)


#1

atta | 26 10 2006 @ 14:22:53

“yakin deh, begitu lu bergabung di perusahaan media, lu pasti jadi perokok,” begitu kata seorang teman, dahulu kala.

dan sekarang, masuk tahun keempat. malah makin tak tahan dengan asap rokok. hihihihi