Merindukan Burung Bertandang*
KETIKA BURUNG TAK BERSANGKAR MENJADI KEMEWAHAN.
Saya bukan manusia yang ramah bagi burung. Buktinya burung gereja itu tak mau hinggap di jendela. Tak pernah mau. Hanya di kejauhan, di luar jendela, dia hinggap. Sama seperti ketika saya dulu bicara tentang burung dalam Taiko.
Tadi, juga sekarang, selagi saya mengetik, burung itu menclok di lubang angin. Sesaat, tak sampai lima menit, lalu terbang lagi. Dan kembali lagi. Sesekali dia — tepatnya mereka — hinggap dan meninggalkan tahi di gantungan nomor rumah.
Siang panas ini saya merindukan masa kecil, ketika burung-burung tak sungkan masuk ke kamar dari jendela yang terbuka lebar.
Siang ini dua daun jendela saya buka penuh, supaya rumah tanpa AC ini tak terlalu panas. Tapi burung-burung hanya di luar. Jauh dari tangkapan lensa.
Dulu, di rumah masa kecil saya, burung-burung berdatangan, menganggap kami sebagai kawan, karena nenek saya menyediakan wadah bulir nasi kering di tiang jemuran yang terletak di halaman berumput dalam rumah.
Burung-burung itu, seperti saya katakan, kadang masuk ke kamar melalui jendela. Tapi dasar anak tak tahu diuntung, kadang burung di kamar saya lempar selimut. Pasti ada yang tertangkap, untuk kemudian saya lepaskan lagi.
Kini saya bermukim di luar DKI. Di kompleks yang rumahnya kecil-kecil, sebagian tak menyisakan halaman, dan sebagian besar lagi tak berpohon, karena lahan tak cukup.
Hmmm… pepohonan. Manusia membutuhkan, satwa juga. Jika bicara penghijauan yang bagus untuk manusia dan burung, Sir Mbilung pasti lebih tahu.
Saya teringat sahabat saya yang bermukim di sebuah kompleks perumahan di Sleman, Yogyakarta. Kepada setiap pembeli rumah, developer menanamkan pohon mangga di halamannya. Maka saat musim mangga, perumahan itu ikut memanen. Ulat dan codot juga ikut.
Di Jakarta, beraneka burung bebas beterbangan dekat rumah adalah kemewahan. Saya ingat ketika awal bekerja di Jakarta dan mencari seseorang di Bukit Golf Pondok Indah, blok eksklusifnya kawasan itu. Banyak pohon buah di taman-taman yang diapit jalan dan rumah mewah. Kata Pak Satpam, “Kalo rambutan atau nangkanya berbuah, ya kami yang ngambil.”
Yang mengesankan saya bukan hanya beragam buah, atau keteduhan yang nyaman buat jogging tengah hari seperti yang dilakukan oleh beberapa ekspatriat, melainkan kicau aneka burung tak bersangkar.
Sayang, kawasan yang setiap rumahnya berhalaman belakang lapangan golf itu harganya tak terjangkau oleh setiap orang.
*) Kalau burung dara yang datang, kenapa ya banyak orang tak suka? :)
9 Responses to Merindukan Burung Bertandang*
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Cepat Kaya
April 11, 2008 by AntyoNAMA DAGANG ADALAH CITA-CITA DAN DOA.
Nama toko ini tidak segenerik “Maju Jaya”, “Makmur Abadi”, “Sukses Mandiri”, dan sejenisnya. Namun dari segi maksud tidaklah jauh.
“Enggal Sugih”, kalau diartikan dari bahasa Jawa (padahal lokasinya di Parahiyangan), berarti cepat kaya. Dengan cara apa? Jadi poli-tikus atas nama kepentingan rakyat? Tampaknya tidak.
Pak Juragan ingin [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





….palingla ena si mangga oedang…
…poeoenja tinggi boewahnjah djarang….
…palingla ena si orang boedjang saiang…
…orangnja tinggi beoroengnja pandjang…..
kalau aku ndak usah merindukan burung lagi , wong “burungku” tiap hari berkicau.
Maksudku burung beoku!
alhamdulillah, hampir setiap pagi masih banyak burung yang bertandang di deket rumah saya. Lha wong masih pelosok je, dekat hutan lindung pula.
Damai….
andai saja lebih banyak tempat untuk burung bertengger… juga untuk sekedar bermain, menelisik dan mencari kehidupan… tentunya tak banyak lagi yang memerlukan mp4player… :-D
satwa juga perlu ruang kehidupan..
juga di gki salatiga, kalo pas kebaktian banyak burung gereja yang terbangterbang didalamnya. hmm jadi kangen salatiga lagi. paman sih! :D
Hm, semakin maju teknologi dan semakin pesat pertumbuhan manusia, semakin hilang keasrian alam kita..
Jelas lah ya..
alhamdulillah, burung-burung masih suka mandi-mandi pasir di halaman rumah saya :) ternyata hidup di pedalaman enak juga ya… (padahal tadinya merasa biasa aja melihat burung2 itu, sampai membaca postingan paman tyo hari ini)
Cak, Sampeyan kangen karo mano’ e sopo?? Manok cuca rowo yo :)
Burung? Hiyyy.. takut kena flu burung ah.. :-)