Cukup Satu Souad
KISAH NYATA YANG MENYENTUH, MENGGUGAH, MENGGUGAT.

“Untung, aku nggak terlahir di negeri seperti itu,” kata Day, anak saya, si pemilik buku. Itu dia katakan ketika saya belum membaca buku yang dia pilih bulan lalu.
Souad, sang penutur, hidup dalam keluarga yang menganggap sapi dan domba lebih berharga ketimbang anak perempuan. Bukan hanya keluarganya. Puaknya pun begitu. Jirannya juga. Seisi desa sama. Demikian pula desa tetangga di balik bukit.
Anak perempuan di sana boleh dicambuk, dipukul, dijambak, dibenturkan kepalanya ke tembok, diikat di kandang semalam, disuruh makan selayaknya anjing dengan menjilati piring. Setiap hari. Oleh ayahnya. Setahu ibunya. Pada abad ke-20 — dan mungkin sampai abad ini.
Di sana, anak perempuan bukanlah berkah, kecuali kelak ketika laku dinikahkan dan besan memberinya perhiasan mahal sebagai emas kawin.
Untuk menghasilkan uang, tak butuh waktu lama bagi ternak. Bandingkan dengan jangka waktu bayi perempuan tumbuh menjadi gadis remaja yang memetik haid untuk pertama kalinya.
Perempuan bukannya seratus persen diemohi. Mereka tetap diperlukan untuk dihamili, agar melahirkan anak lelaki, karena lelaki tak mungkin membuntingi sesamanya.
Souad tahu bahwa ibunya lebih sekali mencekik bayi perempuan sampai mati begitu orok tak berzakar itu terlahir.
Souad juga tahu bahwa adik lelakinya membunuh adik perempuannya atas perintah orangtuanya, demi martabat keluarga.
Di desa Souad, nun di Tepi Barat Palestina yang diduduki Israel, lelaki dan martabat keluarga adalah segalanya. Jangankan bukti sahih, cukup dengan sangkaan yang diyakini sebagai kebenaran bersama pun seorang anak perempuan boleh disiksa dan dibunuh.
Suatu malam Souad menguping rapat keluarga. Vonis sudah dijatuhkan untuknya. Esok pagi eksekusi dilaksanakan. Abang iparnya mengguyurkan bensin lantas membakarnya hidup-hidup.
Souad sedang hamil lima bulan ketika dia dibakar. Dia hamil oleh cinta pertama yang menggebu sekaligus naif dan aneh, di tengah lingkungan yang mengungkungnya, karena menatap lawan jenis adalah terlarang.
Souad dibakar, tapi jiwanya selamat, dengan membawa luka tubuh dan luka jiwa, bahkan setelah dia hidup di negeri baru bernama Swiss, tempat dia mencoba menjadi manusia baru, punya suami dan anak. Souad punya dua putri hasil perkawinannya dengan lelaki yang berpengertian, dan satu putra yang terlahir prematur setelah ibunya dibakar.
Derita Souad seperti dipindahkan kepada pembaca. Geram, sakit dengan permukaan tubuh membusuk, nelangsa, bingung, putus asa, dan akhirnya optimisme, dituturkan lancar dalam bahasa (hasil terjemahan hebat!) yang menyentuh. Sekali memulai baca Anda enggan untuk menutup buku.
Jika Anda lelaki, mungkin akan merenung: harus dibegitukankah setiap perempuan yang menjelma sebagai ibu Anda, kakak perempuan Anda, adik perempuan Anda, kekasih Anda, istri Anda, dan putri Anda?
Apa yang menimpa Souad bukanlah berlatar agama, melainkan kultur. Tapi di mana batas toleransi kita terhadap perbedaan adat jika perbedaan itu tak sesuai dengan adab hidup manusia modern? Buku ini seperti menanyakan soal itu.
Ada hukum, ada polisi, tapi apa artinya jika menoleransi pembunuhan dan penyiksaan terhadap anak perempuan sebagai urusan internal keluarga, apapun alasannya.
Hari-hari Souad, sejak kecil di tanah pertanian sampai dia mencoba menjadi manusia baru, terpapar jelas di sini. Dia bertutur karena kebiadadan harus dihentikan, tak perlu lagi ada Souad baru.
Membukukan kisah. Sebuah keputusan yang tak gampang. Bukan hanya karena dia tak lancar membaca maupun menulis (buta huruf sejak kecil, baru bisa membaca Quran setelah di Eropa) seperti wanita dewasa lainnya, melainkan juga harus berdamai dengan hati.
Sungguh mengharukan dukungan dari Marwan, anak lelakinya yang terpaksa dia izinkan diadopsi oleh keluarga lain, yang mendapatkan kisah setelah dia menjadi sinyo tampan.
Buku yang saya baca ini adalah cetakan ketiga. Banyak orang yang sudah membacanya, termasuk Anda. Saya berharap ada cetak ulang berikutnya, karena berarti semakin banyak yang membaca buku yang memang wajib dibaca ini.
Lantas siapa sesungguhnya Souad? Identitasnya masih dirahasiakan. Dia tahu kesumat atas nama kehormatan keluarga bisa menempuh ribuan kilometer untuk dituntaskan.
JUDUL: Burned Alive: Kisah Nyata yang Mencengangkan tentang Seorang Perempuan yang Lolos dari Pembunuhan Atas Nama Kehormatan • PENULIS: Souad (Penerjemah: Khairil Azwar) • PENERBIT: Alvabet, Jakarta, September 2006 (cetakan ketiga) • TEBAL: vi + 296 halaman • HARGA: Rp 35.000
15 Responses to Cukup Satu Souad
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... Continue reading → […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Minuman Hangat dari Vending Man
February 3, 2009 by AntyoMESIN MINUMAN DI TEMPAT PUBLIK? ENTAR!
Mendekati pukul delapan, pagi tadi*, saya berpayung menyusuri sebuah trotoar di Jakarta Pusat sambil membawa gelas plastik berisi teh manis (celup) hangat. Nikmat benar setiap kali menyeruputnya. Bukan mau beraneh-aneh tapi saya memang butuh. Sejak pukul enam seperempat saya berteduh dari rintik hujan di sebuah tempat, menunggu dimulainya [...]
Recent Comments
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





aneh! padahal wanita itu adalah intisari kehidupan, dimana sisi feminitas wanita membuat dunia ini lebih indah.Bayangkan bila dunia ini dipenuhi oleh laki-laki ? dunia ini akan kelam , kotor , dan penuh bulu !
Banyak kritik terhadap buku ini, yang meragukan ‘kisah nyata’ Souad. Ada berbagai inkonsistensi. Therese Taylor menyampaikan dalam artikelnya, bahwa sangat mungkin kisah ini adalah ‘ingatan yang tersembuhkan’ (recovered memory) dari perlakuan psikologis. Bagaimanapun, buku yang menarik, hanya saja, jangan dijadikan referensi faktual.
iya. coba paman ini jadi ayahku, pasti aku sudah membaca lebih banyak buku
*lirik-lirik budi*
Saya baca Virgin Blue juga ngeri.. Eropa abad pertengahan digambarkan sangat tidak menghormati perempuan. Apalagi ketika ada konflik Protestan vs Katolik, kaum perempuan jadi lapisan terbawah korban konflik..
Paman Tyo, coba baca juga Kite Runner deh. Sebuah novel yang bisa menggambarkan budaya pertentangan di Afghanistan sekitar tahun 70-an antara muslim Suni dan Syiah.
Kenapa ya manusia bisa sekejam ini…
loh om..
emang bisa.. :P
tp linknya dimana? :D hihihi..
ada versi donlod annya? :D
glad to be a woman
wah kiriman rutin yang isinya buku dari betawi belum datang…. gak ada bacaan baru…
duh, saya belum baca buku ini.. rasanya butuh keberanian khusus. waktu baca Perempuan di Titik Nol saja perasaan jadi terbawa nggak karuan.. :(
sigh, mepet-mepetan posting komentar ama pak benny.. :)
–budiw
duh, coba paman ini jadi ayahku. pasti aku sudah baca banyak buku..
–budiw
kapan nulis yg versi dalam negri? gag usah nunggu ada yg mempraktikkan isi buku itu ya… ;)
Sayangnya keyakinan bahwa siksaan bagi perempuan itu wajar dan perlu tidak hanya terkukung dalam satu budaya. Cerita tragis Mukhtar Mai yang angkat bicara akan budaya gang-rape di Pakistan atau kenyataan female feoticide di India memberikan bukti yang lain akan tidak ramahnya dunia untuk sebuah makhluk, perempuan.
Wah, keseringan baca blog ini, bisa-bisa saya jadi kolektor buku bagus nih.
Soal merendahkan perempuan, di negeri kita ini juga banyak perempuan yang direndahkan atau diinjak-injak. Parahnya, sebagian menerimanya dengan sukarela karena iming-iming surga atau ancaman neraka.
Terlalu lama seperti ini, mungkin suatu saat nanti nasib perempuan di indonesya ini bakal setragis disana.