Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Milik Pribumi

Senin, 30 Oktober 2006 @ 23:16 | Umum

SEKEPING POTRET INDONESIA.

milik pribumi

Tulisan “milik pribumi” pada pintu halaman toko itu, dalam senja yang menggelap, mengingatkan saya pada peristiwa kelam delapan tahun silam. Jejak Kerusuhan Mei 1998 masih ada di mana-mana, dari bangunan rusak sampai jiwa yang terkoyak.

Si pemilik mungkin malas mengganti plastik penutup pintu. Atau mungkin dia lupa bahwa tulisan itu masih ada. Demikian pula orang yang lewat. Atau, jangan-jangan malah bisa ancar-ancar alamat, “Itu lho yang ada tulisannya…”

“Milik pribumi” adalah label pembeda untuk penyelamat. Fungsional tapi aneh, karena mengoyak sebuah keindonesiaan. Kalau sebuah bangunan itu milik nonpribumi, maka boleh dijarah, dirusak, dibakar. Begitulah peta benak masyarakat delapan tahun lalu. Mereka yang bukan rasis terpaksa ikut arus demi keselamatan harta dan nyawa.

Hmmm… “pribumi”. Istilah ini pun aneh. Siapa yang dimaksud dengan “pribumi”? Mungkin mereka yang merasa sebagai penduduk asli, karena nenek moyangnya terlahir dari batu setempat, bukan datang dari tempat lain, dari negeri lain.

Bisa juga “pribumi” berarti keturunan orang yang datang lebih awal, dan secara kolektif punya ciri-ciri fisik yang sama.

Lantas siapa pula “nonpri(bumi)”? Bukan sekadar yang bukan pribumi. Juga bukan keturunan Eropa, keturunan Arab, maupun keturunan India, melainkan keturunan Cina.

“Nonpri(bumi)”, mungkin untuk penghalusan karena menyebut “cina” (bukan “chinese“) dalam rasa bahasa dan situasi tertentu bisa dianggap kasar — lain dengan “tionghoa” atau “huaren”.

Dalam situasi tertentu, sebutan “orang Cina” dianggap tak senetral “porselen/keramik cina”, “masakan cina”, “silat cina”, “obat cina”, dan “motor (bikinan Republik Rakyat) Cina” — bahkan “petai cina”.

Bisa juga “nonpri(bumi)” bukan merupakan penghalusan, melainkan sebuah cara untuk mempertegas perbedaan, bahkan segregasi. Itulah resinofikasi: pencinaan kembali. “Kalian” bukan bagian dari “kami”. “Mereka”, dan bukan “kita”.

Dari sebuah coretan di pintu pagar sebuah toko di Pondokgede, Bekasi, saya menemukan sekeping potret Indonesia.

Ada 49 komentar | trackback | Depan

#49

Dewi | 30 11 2008 @ 8:03:45

Politik Tiga Jari Konglomerat Cina.

Ketidak-adilan dan kecemburuan sosial –apalagi yang melampaui batas, cepat atau lambat pasti akan melahirkan radikalisme dan anarkisme. Kasus peledakan BCA adalah radikalisme yang lahir dari kecemburuan sosial dan ketidak-adilan yang dirasakan rakyat pribumi. Boleh jadi hal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kebencian terhadap etnis Cina, yang oleh Orde Baru diperlakukan sangat, dan sangat istimewa.

Kasus Kotagede yang terjadi tahun 1945 (hal. 139), menunjukkan radikalisme akibat kecemburuan sosial yang menggunung di antara sesama etnis, mampu menghancurkan apa saja. Akibat gejolak itu, satu perkampungan yang luasnya setengah kelurahan, dihancurkan oleh massa hingga rata dengan tanah. Perkampungan itu dihuni satu keluarga besar pribumi asli Kotagede, yang ditunjuk mendirikan pegadaian swasta oleh Gubernemen Hindia Belanda.

Dengan menguasai bisnis pegadaian, keluarga yang memang sudah kaya itu menjadi lebih kaya, sehingga bisa membeli tanah-tanah di sekitar kampungnya. Untuk menjaga agar kekayaan mereka tidak jatuh ke pihak luar, maka perkawinan pun diatur antar kerabat dekat. Kampung mereka dibatasi tembok tinggi dengan sistem pengamanan khusus melalui penjaga-penjaga yang diupah. Mereka tidak mengintegrasikan diri dengan masyarakat setempat, bagai hidup makmur di pulau kemewahan di tengah-tengah kemiskinan masyarakat sekitarnya.

Setelah kekuasaan Hindia Belanda runtuh, kemudian Jepang kalah perang, dan Republik Indonesia yang masih muda belum siap mengatur aparat kepolisian untuk menegakkan tata terib, maka kecemburuan sosial yang bertahun-tahun tersimpan di relung dada warga segera meledak. Masyarakat yang marah segera menghancurkan kampung keluarga kaya raya itu rata dengan tanah.

Lebih Dahsyat

Apalagi bila ketidak-adilan dan kecemburuan sosial itu terjadi di antara dua etnis yang berbeda: Cina dan Pribumi, serta didukung kebijakan resmi penguasa, maka potensi radikal akan menimbulkan dampak jauh lebih dahsyat dari kasus Kotagede. Bahkan, peledakan BCA Oktober 1984, rasanya masih belum seberapa. Artinya, berbagai ledakan itu sama sekali tidak mampu mengusik hubungan mesra (kolusi-korupsi) pejabat amoral dengan pengusaha Cina amoral. Malah, setelah kasus peledakan terjadi, konglomerasi yang semula belum tumbuh, justru menjadi subur bagai cendawan ‘dipupuki cendana’.

Bisa dimengerti bila ada yang mengatakan bahwa kecemburuan sosial terhadap etnis Cina di Indonesia berkembang menjadi kebencian etnis. Penyebabnya, sebelum Orde Baru memposisikan etnis Cina sebagai “partner bisnis”, etnis ini juga sudah merasakan nikmatnya dimanjakan kolonial Belanda. Misalnya, di bidang ekonomi, Belanda tidak menggunakan kaum feodal pribumi untuk melaksanakan penghisapan dan pemerasan terhadap rakyat pribumi. Karena bila menempatkan pribumi, akan menumbuhkan kekuatan ekonomi yang akan dipakai untuk perlawanan terhadap Belanda. Karena itu, Belanda memilih etnis Cina sebagai perantara ekonomi antara Belanda dengan pribumi. Cina-cina itu diberi hak memegang pacht.

Kebijakan itu rupanya diadopsi rezim Orde Baru. Soeharto tidak memberikan kepada pribumi Muslim untuk berjaya di sektor ekonomi. Sebab bila kekuatan ekonomi pribumi Muslim tumbuh, dikhawatirkan akan mengganggu kelangsungan pemerintah Soeharto yang sekularis-kejawen. Dan Soeharto berhasil mempertahankan kedudukannya hingga 32 tahun dengan menginjak-injak hak dan martabat rakyat pribumi Muslim.

Secara genetis, boleh jadi etnis Cina lebih unggul dari pribumi. Sehingga mampu mengalahkan ras pribumi dengan mudah, melalui berbagai cara termasuk uang, wanita, dan sebagainya. Sebuah anekdot menunjukkan rendahnya martabat (birokrat) pribumi (halaman 32). Untuk mengalahkan ras pribumi cukup dengan tiga jari.

imagePertama, angkat jempol tinggi-tinggi, orang pribumi akan sangat senang.

Kedua, gesek-gesekkan ibu jari dengan telunjuk, mereka akan menuruti perintah kita.

Ketiga, kalau orang pribumi itu tidak sedang bersama istrinya, kita letakkan ibu jari di antara telunjuk dan jari tengah, pendeknya mereka akan sangat menurut seperti kerbau dicocok hidung.

Politik tiga jari yang dimainkan etnis Cina untuk menguasai pejabat sekular-kejawen sekaligus menguasai perekonomian nasional, nampaknya cukup efektif. Begitulah watak pemimpin yang tidak amanah yang sama sekali tidak mendasarkan diri pada syariat Allah, mereka mudah dibeli oleh siapa saja, dan menjual dengan murah rakyatnya, bahkan martabat bangsanya sendiri. Sialnya, politik tiga jari itu masih berlaku hingga kini, di kala pemimpin nasional kita sudah berada di tangan “kiai” dari ormas Islam terbesar.

Barangkali, sebagaimana firman Allah melalui Surat Al-Isra’ (17) ayat 16, bangsa Indonesia hendak dibinasakan-Nya, karena sejak awal kemerdekaan sebagian besar pemimpinnya adalah orang-orang yang cenderung berbuat kerusakan: “Bilamana Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami angkat orang-orang yang suka berbuat kerusakan menjadi pemimpin, lalu mereka berbuat durhaka di dalam negerinya sehingga negeri tersebut berhak mendapat adzab, lalu Kami hancurkan negeri tersebut sehancur-hancurnya.”

Tanda-tanda kehancuran itu sudah tampak, hutang pemerintah (belum termasuk hutang swasta) menurut laporan Bank Dunia mencapai US$ 134 miliar atau mencapai seribu triliun lebih. Dan masih akan terus bertambah. Siapa yang sanggup membayar hutang sebesar itu, sementara konglomerat yang dijadikan ujung tombak perekonomian nasional, justru ikut ngemplang, bukan memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi nasional dan pemasukan devisa.

Resensi buku : Kasus Peledakan BCA 1984 Menggugat Dominasi Ekonomi Etnik Cina di Indonesia.
Penulis: Rachmat Basoeki Soeropranoto
Penerbit: Fame Press, Jakarta
Edisi: Oktober 2000
Tebal: 192 halaman + xiii


#48

MasRoby | 30 11 2008 @ 5:23:55

Mau nanya nih, Apa yg disebut dgn orang pribumi atau penduduk asli itu adalah orang yg tumbuh dari tanah di daerah tsb atau orang yg jatuh dari langit ke daerah tsb ?
Kalau pendapat saya semua manusia adalah pendatang dan asal usul manusia adalah keturunan Adam yg turun dari surga.
Jadi Adam sendiri ke bumi ini sebagai pendatang bukan sebagai pribumi.
Lain dgn pendapat orang2 yg merasa dirinya keturunan hanoman alias monyet.


#47

MasRoby | 30 11 2008 @ 5:21:58

Adam dan Hawa saja adalah manusia pendatang.
Seseorang yg menganggap dirinya penduduk asli atau pribumi adalah orang yg bodoh, tidak tahu asal usul nenek-moyangnya. Dan juga seseorang yg pengecut atau pendengki yg malas, tidak pernah meng-koreksi dirinya dan nenek-moyangnya dari mana !


#46

Totok | 10 09 2008 @ 23:24:28

Sebaiknya istilah tersebut dihilangkan saja, karena warisan penjajah dan sekarang masih diteruskan oleh rejim koruptor yang ingin melanggengkan kekuasaan. Kalo kekuasaannya terancam tinggal alihkan rakyat (pribumi) untuk merusuh saudaranya (yg diistilahkan non pribumi) jadinya rejim itu lolos karena dialihkan dengan isu rasial. Mereka yang mengaku pribumi tidak usah iri ataupun resah. Saat ini saya sangat banyak melihat pribumi karena mereka terdidik menjadi sukses dan kaya. Bahkan dijalan raya banyak yang menggunakan mobil mewah sedangkan nonpri lebih banyak minibus (buat usaha juga kali). Intinya tidak sulit untuk menyaingi non pribumi, yang penting tekun dan belajar. Pemerintah sudah banyak menyediakan fasilitas khusus pribumi(tentunya dgn kamuflase). Tidak ada alasan untuk iri lalu SARA.


#45

blogombal | Blog Archive » Indonesia: Republik Pribumi Dahsyat | 17 08 2008 @ 23:59:23

[...] pribumi. Ingat? Dua kata itu pernah menjadi mantera penyelamat saat kerusuhan rasial. Tembang pribumi? Entahlah. Mungkin sekadar gagah-gagahan, atau nyeleneh, tanpa landasan [...]


#44

Mbillung | 02 04 2008 @ 9:22:58

Ya gimana ya, soalnya kan banyak dari mereka yang “non” itu tertutup dan susah berbaur. Sudah terkondisi nyaman dalam ketertutupan mereka. Sejarah perjalanan hidup mereka yang panjang diperantauan membuat mereka harus selalu “waspada dan curiga” untuk bisa survive. Nyatanya yang “pri” juga turut andil dalam mempertebal paradigma itu dengan “nginjak kaki” atau menengadahkan tangan bila ada kesempatan. Memang jumlahnya kecil ,tapi kan rusak susu sebelanga.


#43

maruko | 22 01 2008 @ 15:11:22

Peristiwa mei 1998??masih imut banget saat itu.

apa sih bedanya manusia???apa yg membedakan derajat orang itu??

Heran…sungguh mengherankan!!!


#42

blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Pribumi dan Pendatang (di Bekasi) | 18 10 2007 @ 18:46:35

[...] Saya kurang sreg dengan istilah pribumi dan nonpribumi beserta pengutubannya secara kontrer. Istilah ini — mungkin sebangsa bumiput(e)ra — bisa jadi komoditas politik yang kemriuk. Mudah dikunyah, tapi tak mengenyangkan, kalaupun terus disantap hanya akan mendatangkan seret dan dahaga. [...]


#41

Yani | 18 02 2007 @ 21:26:39

Orang pribumi hanya bisa ngiri, pasrah nasib, jiwanya rapuh, kalau sukses lupa teman, tak suka lihattemanya berhasil


#40

dhika | 24 11 2006 @ 8:24:31

jangan ada kata kebanggaan atas julukan pribumi. julukan yang sangat merendahkan derajat masyarakat indonesia.”pribumi” suatu julukan dari kaum penjajah yang berarti “pri”=dalam,dalam perut bumi itulah artinya, bisa disejajarkan dengan hewan kotor dalam tanah.apakah kita “rela” dengan julukan itu???????


#39

Ahmad | 19 11 2006 @ 10:12:51

Kita semua adalah korban dari sesuatu yang kadang susah menjelaskannya. Bahkan sekarang menjadi Muslim adalah korban dari perang terhadap teror? Kenapa ketika Bush datang hanya kelompok Muslim yang teriak-teriak, sebab mereka adalah korban. Yang lain tidak!!!


#38

yestato | 16 11 2006 @ 14:43:25

Linda itu milik ku!! helow yang…


#37

yestato | 16 11 2006 @ 14:42:10

….lapang,paham..positif,..kita masih susah menerima,kita frustasi, kita sempit,selama kita sempit jangan bergabung dalam diskusi seperti ini.
SK yuk,..sapa mw?


#36

saprudin | 15 11 2006 @ 17:49:59

dasar fankui suka iri-irian sama orang chinesse, elo itu jangan iri dong, lo kalau mau sukses,kerja, jangan tidur melulu,yang irit hidup, jangan mau enak aja, kerja yang rajin, irit dll


#35

windede | 02 11 2006 @ 15:29:54

mestinya yg layak disebut nonpribumi adalah generasi alien dari luar angkasa. kalo sama-sama lahir dari bumi, yo mestinya pribumi tho>?


#34

fahmi jelek | 02 11 2006 @ 7:44:48

hehe… istrinya dikasih kaos dg tulisan “milik pribumi” pisan ;)


#33

bebex | 01 11 2006 @ 23:55:00

bener banget,,orang sering bilang kalo istilah kata orang “China” itu pengucapannya bisa brati kasar,,,
padahal kata si papa…dimana2 ga ada tuh penyebutan mereka dengan kata “chinese” … yang ada yah itu…
“orang China”….

dasar orang2 di indonesia agak2 aneh smua.. ;)


#32

topan | 01 11 2006 @ 14:44:56

kalo kejadian spt itu gw paling prehatin. Lah satu2 yang jawa cuma keluarga gw,tau sendirikan perumahan daerah pecinan,
dempet2an.
Kalo dibakar piye jal….?


#31

stella | 01 11 2006 @ 13:21:05

kemarin ada seorang teman Taiwanese yang melontarkan pertanyaan yang cukup aneh ke saya, kalian di Indonesia kemana-mana pakai bodyguard ya? Bukannya berbahaya huaren hidup di Indonesia?”entah denger darimana :s lalu kemudian ia melanjutkan pertanyaannya mengenai tragedi Mei 98 itu. My least favorite question :(


#30

lia | 01 11 2006 @ 12:06:02

Saya setuju dengan JaF,
kadang tanpa sadar kita jatuh kedalam ’stereotyping’. Sewaktu kecilpun, sebagai “non-pribumi”, saya sering mendengar hal2 jelek oleh orang2 “non-pri” dibelakang orang2 “pribumi”.
Tapi, untunglah saya menjadi semakin kritis dan berwawasan luas dengan bertambahnya umur dan tau mana yang baik dan yang salah.
Suatu saat, bila saya mempunyai anak, saya akan tanamkan kalau perbedaan itu indah dan perlu dihormati.
Peace out.


#29

lia | 01 11 2006 @ 11:55:31

padahal “pribumi” datangnya juga dari Cina (cina selatan seperti yang ditulis di buku sejarah). Merasa diri sendiri berhak atas tanah Indonesia hanya karena kedatangannya yang lebih dulu dibanding pendatang lain. Gak beda sama orang Australia yang pada awalnya menganggap Australia miliknya dan bukan milik orang aborigin dan kemudian menerapkan “white policy”.

Alangkah indahnya kalau Bhinneka Tunggal Ika suatu hari benar2 bisa terwujudkan.

Peristiwa Mei 1998 tidak akan bisa terlupakan oleh saya. Ibu teman yang patah tulang akibat melompat dari tingkat 3, rumah teman yang dijarah, teman keluarga yang membalur diri dengan kotoran selokan dan berpura pura menjadi orang gila biar tidak diperkosa, dan banyak lagi, termasuk keluarga saya sendiri yang mesti lari dari rumah.
Sampai sekarangpun, maaf, saya belum bisa memaafkan.


#28

JaF | 01 11 2006 @ 11:10:23

satu sisi lain: Sebagai orang tua kita juga harus berhenti mewariskan stereotype tentang Cina kepada anak-anak kita. Bisa jadi tanpa sadar kita memaki2 di depan anak dengan kata2 konyol itu..

*mbah, kayaknya saya tau nih motretnya dimana.. Soalnya pernah ngincer juga tapi nggak pernah kesampaian motret hehehehe*

Di Jatiwaringin, beberapa meter lepas Asyafiiyah (dari arah pintu tol). do sebelah kanan juga ada tulisan serupa yang lebih guede lagi. Terakhir lihat sih masih ada hehehe


#27

maya | 01 11 2006 @ 10:39:44

jadi keinget crita bunda pas aku masih bayi tahun 80-an..rumah mo diserang orang2 gara gara dikira rumah orang cina..akhirna ma tetangga disuruh keluar rumah.. bunda, aku dalam gendongan ma pembantu. orang2 dah pada bawa batu siap nimpukin rumah. tau kita keluar mereka langsung ga jadi nyerang soalnya tau kita pribumi..


#26

Rian | 01 11 2006 @ 9:12:42

Pribumi - Nonpribumi

istilah itu mengingatkan saya pada cerita guru di jaman penjajahan!

Dan kenapa harus beda? TANYA KENapa?


#25

djony herfan | 01 11 2006 @ 8:02:55

Teks “milik pribumi” itu merupakan paket perusuh. Bukan spontan warga korban, melainkan rekayasa mengamankan dan membedakan khas milik atau ciptaan perusuh. Lalu disebarluaskan via SMS atau telepon bahkan permintaan langsung dari perusuh.


#24

doeL | 01 11 2006 @ 1:17:35

saat kerusuhan sara di makassar beberapa tahun lalu, cara aman lainnya adalah dengan menggantung sejadah dan alat shalat di jendela rumah, tentu saja dengan tetap mencantumkan “milik pribumi” di depan pintu.


#23

hendra | 01 11 2006 @ 1:16:23

hiks… mei 98 adalah satu peristiwa yang tidak akan saya lupakan… smoga dalang peristiwa tersebut dapat terungkap


#22

Bayu R | 31 10 2006 @ 22:13:45

Yang pribumi Indonesia itu orang-orang Indonesia Timur… Papua, Timor, Flores, Ambon.

Bukankah Melayu justru juga pendatang? Yang _kebetulan_ datang duluan.

Dan kemudian (segelintir, tidak semuanya tentunya) menganggap yang datang belakangan bukanlah bangsa asli. Sama-sama pendatang gitu loh!


#21

Brahmasta | 31 10 2006 @ 18:08:42

Sekeping potret Indonesia yang mencoreng nilai Bhinneka Tunggal Ika. Biar Berbeda-beda tapi tetap satu.


#20

murni | 31 10 2006 @ 18:05:52

Milik pribumi = boleh dijarah? bukannya justru supaya tidak, Oom?

Ada juga, pribumi yang dimaksud di Jakarta: “Betawi”. (sering nemu juga, kan? :-D )

Ada alternatif lain (ide mantan boss saya): “Milik Pribumi. Dukung Reformasi.” (kenangan dulu, waktu kerja dengan rasa takut diacak-acak orang yg memanfaatkan keadaan.)

Maaf, Murni. Mestinya memang “nonpribumi”. Terima kasih [tyo]


#19

ary-blue | 31 10 2006 @ 17:33:18

yah masih banyak waroeng, ruko yang pake merek itu, walaupun kerusuhan terjadi 8 tahun silam..
Atau hanya alih2 untuk menciptakan rasa aman dengan title “pribumi asli”


#18

wadehel | 31 10 2006 @ 15:58:38

SARA ALERT… SARA ALERT…

hehe

Sebenarnya pada Mei kemarin bukan hanya tulisan “PRIBUMI” atau “MILIK PRIBUMI” yang bisa melindungi harta dan nyawa dari perusuh. Tapi juga tulisan “MUSLIM”.

Jadi lain kali ada rusuh-rusuh berdarah, jangan lupa untuk menulis “MILIK PRIBUMI MUSLIM”. Pasti anda aman sentosa.


#17

devi | 31 10 2006 @ 15:48:16

wah2 hebat (dan jeli!) juga bisa ambil foto dari jalanan gtu hahaha. emang sih, biarpun yg namanya nenek moyang indonesia aja ga jelas, tetap aja yg kena getah diskriminasi nonpri jatuh kepada cina. sirik aja kali ya, soalnya org cina kan kebanyakan sukses krn ulet dlm bekerja. *ini cuma opini aja,bukan berarti saya menuduh yg laen tidak demikian, no offense loh!*


#16

nila | 31 10 2006 @ 15:14:29

serius itu dpt di pondok gede?
jeli juga ya paman…..
serasa idup di jaman kapan tau itu ya?
:-)

rgrd’s
NILA


#15

carlos patriawan | 31 10 2006 @ 14:55:01

saya malah menantikan kaum “non-pribumi” (ketawa kalo baca istilah ini) atau kaum minoritas lainnya suatu saat kelak akan menjadi pemimpin Indonesia. He he he :))


#14

sahrudin | 31 10 2006 @ 12:13:04

“milik pribumi”, salah satu tulisan “serius” pak antyo. sekali ini, berat rasanya mau tersenyum.


#13

pepeng | 31 10 2006 @ 12:09:53

salah satu “cara” mencari rasa aman yg begitu mahal..!!


#12

Fernando | 31 10 2006 @ 11:19:51

pribumi atau alien? :D


#11

dianika | 31 10 2006 @ 9:05:20

Hmm.. susah juga ya klo sudah seperti itu. Kadang lidah kita, org Indonesia, juga udah kelewat latah dalam menyebut hal2 yg ada kaitannya dg ras.


#10

aprian | 31 10 2006 @ 8:55:53

“Rasisme” kayak gini gak cuma di Indonesia, bahkan di negara seperti Amerika juga ada. Mungkin ini bukan sekedar potret Indonesia saja, tapi ini lebih ke potret manusia di bumi.

Mungkin kita perlu belajar banyak dari pelangi ya?, 7 warna berbeda yang secara harmoni membentuk keindahan. :D


#9

arjuna | 31 10 2006 @ 7:36:50

baru mo komen, eh udah keduluan sama ben
mungkin mustinya

Kalau sebuah bangunan itu milik nonpribumi, maka boleh dijarah

Maaf Arjuna, mestinya memang “nonpribumi”. Terima kasih. [tyo]


#8

timpakul | 31 10 2006 @ 6:51:02

ada ketakutan kolektif yang disebabkan juga oleh perilaku pendahulu komunitas tersebut di negeri ini. dan ini menjadi sebuah dongeng pengantar tidur bagi generasi anak negeri hari ini. ditambah dengan sebuah kondisi perbedaan perlakuan oleh pemerintah saat itu, yang menjadikan sebagai sebuah pertarungan saat sekarang.

hindari menjajah bila tak ingin dijajah… :-)


#7

dirac | 31 10 2006 @ 5:51:22

Inilah bentuk rasisme!


#6

Ben | 31 10 2006 @ 3:20:36

Kalau sebuah bangunan itu milik pribumi, maka boleh dijarah, …

Bener begitu?

Soal istilah pribumi dan nonpri, sepertinya pihak media tradisional di Indonesia juga ikut bertanggungjawab dalam mempertajam perbedaan dan diskriminasi itu.

—-

Maaf, Ben. Ada kata “non” yang hilang. Terima kasih. [tyo]


#5

black_hack | 31 10 2006 @ 2:58:30

mudahan aja tulisan itu mengingatkan kita semua agar yang pernah terjadi dulu tidak akan terjadi lagi. karena perbedaan lah yang membuat kita semakin dewasa!


#4

Hedi | 31 10 2006 @ 2:43:17

Temen non-pri saya pernah masang label itu di tokonya, aman sentosa waktu kerusuhan 98…untuk yg ini, label sangat berguna :D


#3

mpokb | 31 10 2006 @ 0:08:48

mungkin dia takut peristiwa itu bakal terulang lagi, makanya tulisan dibiarkan. jangan sampai deh yak..


#2

Gabrielle | 30 10 2006 @ 23:50:02

Mungkin semacam “pribiru” yang ada di cerita Pinnocchio, tapi ini versi lokalnya. Hehe.


#1

preaxz | 30 10 2006 @ 23:49:21

potret pribumi. bukan melulu seperti “potret-potret” hasil jepretan kamera paman tyo. tapi memang indonesia masih seperti “potret” yang paman sampaikan .. entah sampai kapan