<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Milik Pribumi</title>
	<atom:link href="http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/</link>
	<description>catatan ringan angin-anginan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 12:20:31 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
	<item>
		<title>By: Budi</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/comment-page-2/#comment-354311</link>
		<dc:creator>Budi</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Jan 2009 02:31:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/#comment-354311</guid>
		<description>Masa iya sih motor baru Shogun RR bisa dihematkan 47,5% hanya dengan oxyhydrogen?
Produk kami telah dimuat di tabloid otomotif dan majalah motor, berikut beritanya, tks.
Rekan, dengan semakin lama mendalami pembuatan hidrogen boster untuk irit bbm (bahan bakar minyak), efisien (penghemat energi), alat ini berupa Hidrogen HHO fuel saver hydrogen energy generator cell kit accelerator sistem plate buatan Indonesia bisa digunakan di mesin bensin &amp; diesel.

Info Produk hydrogen booster/ boster hidrogen/ hho generator aDHydro di majalah MOTOR Hydrogen Booster terbukti meningkatkan performa mesin, dengan cara menambah pasokan zat hydrogen ke dalam ruang bakar. Maka salah satu diantaranya yang diklaim berhasil adalah produk lansiran ADHYDRO ini. Ini adalah produk kedua yang telah mengalami penyempurnaan dan mengusung kelebihan non boiling point, dan mampu menghasilkan lebih banyak hidrogen buat mesin.Alat ini hanya menggunakan media air murni (air “AQUA”), yang dimasukkan ke dalam tabung yang tersedia. Lalu air tersebut akan mengalami pengaliran aliran listrik pada elemen yang tersedia di dalamnya, yang otomatis akan menghasilkan gas hidrogen. Pemasangannya pun cukup mudah, karena seudah berbentuk paket. Hanya tinggal sambungkan ke intake manifold.Oh ya, selain keuntungan peningkatan performa yang signifikan, ternyata pemakaian hidrogen booster ADHYDRO ini, diklaim mampu mengefisienkan pemakaian bahan bakar yang berimbas pada lungsuran gas buang yang lebih bersahabat. Bahkan asap knalpot pun tercium seperti uap rebusan air. Untuk keterangan lebih lanjut silahkan kontak penjualnya!
pengiritbbm.blogspot. c o m/2008/12/adhydro-static-mobil-di-majalah-motor. h t m l
pengiritbbm.blogspot. c o m/2008/12/adhydro-hho-variable-motor-di-tabloid. h t m l
pengiritbbm.blogspot. c o m</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Masa iya sih motor baru Shogun RR bisa dihematkan 47,5% hanya dengan oxyhydrogen?<br />
Produk kami telah dimuat di tabloid otomotif dan majalah motor, berikut beritanya, tks.<br />
Rekan, dengan semakin lama mendalami pembuatan hidrogen boster untuk irit bbm (bahan bakar minyak), efisien (penghemat energi), alat ini berupa Hidrogen HHO fuel saver hydrogen energy generator cell kit accelerator sistem plate buatan Indonesia bisa digunakan di mesin bensin &amp; diesel.</p>
<p>Info Produk hydrogen booster/ boster hidrogen/ hho generator aDHydro di majalah MOTOR Hydrogen Booster terbukti meningkatkan performa mesin, dengan cara menambah pasokan zat hydrogen ke dalam ruang bakar. Maka salah satu diantaranya yang diklaim berhasil adalah produk lansiran ADHYDRO ini. Ini adalah produk kedua yang telah mengalami penyempurnaan dan mengusung kelebihan non boiling point, dan mampu menghasilkan lebih banyak hidrogen buat mesin.Alat ini hanya menggunakan media air murni (air “AQUA”), yang dimasukkan ke dalam tabung yang tersedia. Lalu air tersebut akan mengalami pengaliran aliran listrik pada elemen yang tersedia di dalamnya, yang otomatis akan menghasilkan gas hidrogen. Pemasangannya pun cukup mudah, karena seudah berbentuk paket. Hanya tinggal sambungkan ke intake manifold.Oh ya, selain keuntungan peningkatan performa yang signifikan, ternyata pemakaian hidrogen booster ADHYDRO ini, diklaim mampu mengefisienkan pemakaian bahan bakar yang berimbas pada lungsuran gas buang yang lebih bersahabat. Bahkan asap knalpot pun tercium seperti uap rebusan air. Untuk keterangan lebih lanjut silahkan kontak penjualnya!<br />
pengiritbbm.blogspot. c o m/2008/12/adhydro-static-mobil-di-majalah-motor. h t m l<br />
pengiritbbm.blogspot. c o m/2008/12/adhydro-hho-variable-motor-di-tabloid. h t m l<br />
pengiritbbm.blogspot. c o m</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dewi</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/comment-page-2/#comment-253801</link>
		<dc:creator>Dewi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 01:03:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/#comment-253801</guid>
		<description>Politik Tiga Jari Konglomerat Cina.

Ketidak-adilan dan kecemburuan sosial –apalagi yang melampaui batas, cepat atau lambat pasti akan melahirkan radikalisme dan anarkisme. Kasus peledakan BCA adalah radikalisme yang lahir dari kecemburuan sosial dan ketidak-adilan yang dirasakan rakyat pribumi. Boleh jadi hal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kebencian terhadap etnis Cina, yang oleh Orde Baru diperlakukan sangat, dan sangat istimewa.

Kasus Kotagede yang terjadi tahun 1945 (hal. 139), menunjukkan radikalisme akibat kecemburuan sosial yang menggunung di antara sesama etnis, mampu menghancurkan apa saja. Akibat gejolak itu, satu perkampungan yang luasnya setengah kelurahan, dihancurkan oleh massa hingga rata dengan tanah. Perkampungan itu dihuni satu keluarga besar pribumi asli Kotagede, yang ditunjuk mendirikan pegadaian swasta oleh Gubernemen Hindia Belanda.

Dengan menguasai bisnis pegadaian, keluarga yang memang sudah kaya itu menjadi lebih kaya, sehingga bisa membeli tanah-tanah di sekitar kampungnya. Untuk menjaga agar kekayaan mereka tidak jatuh ke pihak luar, maka perkawinan pun diatur antar kerabat dekat. Kampung mereka dibatasi tembok tinggi dengan sistem pengamanan khusus melalui penjaga-penjaga yang diupah. Mereka tidak mengintegrasikan diri dengan masyarakat setempat, bagai hidup makmur di pulau kemewahan di tengah-tengah kemiskinan masyarakat sekitarnya.

Setelah kekuasaan Hindia Belanda runtuh, kemudian Jepang kalah perang, dan Republik Indonesia yang masih muda belum siap mengatur aparat kepolisian untuk menegakkan tata terib, maka kecemburuan sosial yang bertahun-tahun tersimpan di relung dada warga segera meledak. Masyarakat yang marah segera menghancurkan kampung keluarga kaya raya itu rata dengan tanah.

Lebih Dahsyat

Apalagi bila ketidak-adilan dan kecemburuan sosial itu terjadi di antara dua etnis yang berbeda: Cina dan Pribumi, serta didukung kebijakan resmi penguasa, maka potensi radikal akan menimbulkan dampak jauh lebih dahsyat dari kasus Kotagede. Bahkan, peledakan BCA Oktober 1984, rasanya masih belum seberapa. Artinya, berbagai ledakan itu sama sekali tidak mampu mengusik hubungan mesra (kolusi-korupsi) pejabat amoral dengan pengusaha Cina amoral. Malah, setelah kasus peledakan terjadi, konglomerasi yang semula belum tumbuh, justru menjadi subur bagai cendawan ‘dipupuki cendana’.

Bisa dimengerti bila ada yang mengatakan bahwa kecemburuan sosial terhadap etnis Cina di Indonesia berkembang menjadi kebencian etnis. Penyebabnya, sebelum Orde Baru memposisikan etnis Cina sebagai “partner bisnis”, etnis ini juga sudah merasakan nikmatnya dimanjakan kolonial Belanda. Misalnya, di bidang ekonomi, Belanda tidak menggunakan kaum feodal pribumi untuk melaksanakan penghisapan dan pemerasan terhadap rakyat pribumi. Karena bila menempatkan pribumi, akan menumbuhkan kekuatan ekonomi yang akan dipakai untuk perlawanan terhadap Belanda. Karena itu, Belanda memilih etnis Cina sebagai perantara ekonomi antara Belanda dengan pribumi. Cina-cina itu diberi hak memegang pacht.

Kebijakan itu rupanya diadopsi rezim Orde Baru. Soeharto tidak memberikan kepada pribumi Muslim untuk berjaya di sektor ekonomi. Sebab bila kekuatan ekonomi pribumi Muslim tumbuh, dikhawatirkan akan mengganggu kelangsungan pemerintah Soeharto yang sekularis-kejawen. Dan Soeharto berhasil mempertahankan kedudukannya hingga 32 tahun dengan menginjak-injak hak dan martabat rakyat pribumi Muslim.

Secara genetis, boleh jadi etnis Cina lebih unggul dari pribumi. Sehingga mampu mengalahkan ras pribumi dengan mudah, melalui berbagai cara termasuk uang, wanita, dan sebagainya. Sebuah anekdot menunjukkan rendahnya martabat (birokrat) pribumi (halaman 32). Untuk mengalahkan ras pribumi cukup dengan tiga jari.

imagePertama, angkat jempol tinggi-tinggi, orang pribumi akan sangat senang.

Kedua, gesek-gesekkan ibu jari dengan telunjuk, mereka akan menuruti perintah kita.

Ketiga, kalau orang pribumi itu tidak sedang bersama istrinya, kita letakkan ibu jari di antara telunjuk dan jari tengah, pendeknya mereka akan sangat menurut seperti kerbau dicocok hidung.

Politik tiga jari yang dimainkan etnis Cina untuk menguasai pejabat sekular-kejawen sekaligus menguasai perekonomian nasional, nampaknya cukup efektif. Begitulah watak pemimpin yang tidak amanah yang sama sekali tidak mendasarkan diri pada syariat Allah, mereka mudah dibeli oleh siapa saja, dan menjual dengan murah rakyatnya, bahkan martabat bangsanya sendiri. Sialnya, politik tiga jari itu masih berlaku hingga kini, di kala pemimpin nasional kita sudah berada di tangan “kiai” dari ormas Islam terbesar.

Barangkali, sebagaimana firman Allah melalui Surat Al-Isra’ (17) ayat 16, bangsa Indonesia hendak dibinasakan-Nya, karena sejak awal kemerdekaan sebagian besar pemimpinnya adalah orang-orang yang cenderung berbuat kerusakan: “Bilamana Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami angkat orang-orang yang suka berbuat kerusakan menjadi pemimpin, lalu mereka berbuat durhaka di dalam negerinya sehingga negeri tersebut berhak mendapat adzab, lalu Kami hancurkan negeri tersebut sehancur-hancurnya.”

Tanda-tanda kehancuran itu sudah tampak, hutang pemerintah (belum termasuk hutang swasta) menurut laporan Bank Dunia mencapai US$ 134 miliar atau mencapai seribu triliun lebih. Dan masih akan terus bertambah. Siapa yang sanggup membayar hutang sebesar itu, sementara konglomerat yang dijadikan ujung tombak perekonomian nasional, justru ikut ngemplang, bukan memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi nasional dan pemasukan devisa.


Resensi buku : Kasus Peledakan BCA 1984 Menggugat Dominasi Ekonomi Etnik Cina di Indonesia.
Penulis: Rachmat Basoeki Soeropranoto
Penerbit: Fame Press, Jakarta
Edisi: Oktober 2000
Tebal: 192 halaman + xiii</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Politik Tiga Jari Konglomerat Cina.</p>
<p>Ketidak-adilan dan kecemburuan sosial –apalagi yang melampaui batas, cepat atau lambat pasti akan melahirkan radikalisme dan anarkisme. Kasus peledakan BCA adalah radikalisme yang lahir dari kecemburuan sosial dan ketidak-adilan yang dirasakan rakyat pribumi. Boleh jadi hal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kebencian terhadap etnis Cina, yang oleh Orde Baru diperlakukan sangat, dan sangat istimewa.</p>
<p>Kasus Kotagede yang terjadi tahun 1945 (hal. 139), menunjukkan radikalisme akibat kecemburuan sosial yang menggunung di antara sesama etnis, mampu menghancurkan apa saja. Akibat gejolak itu, satu perkampungan yang luasnya setengah kelurahan, dihancurkan oleh massa hingga rata dengan tanah. Perkampungan itu dihuni satu keluarga besar pribumi asli Kotagede, yang ditunjuk mendirikan pegadaian swasta oleh Gubernemen Hindia Belanda.</p>
<p>Dengan menguasai bisnis pegadaian, keluarga yang memang sudah kaya itu menjadi lebih kaya, sehingga bisa membeli tanah-tanah di sekitar kampungnya. Untuk menjaga agar kekayaan mereka tidak jatuh ke pihak luar, maka perkawinan pun diatur antar kerabat dekat. Kampung mereka dibatasi tembok tinggi dengan sistem pengamanan khusus melalui penjaga-penjaga yang diupah. Mereka tidak mengintegrasikan diri dengan masyarakat setempat, bagai hidup makmur di pulau kemewahan di tengah-tengah kemiskinan masyarakat sekitarnya.</p>
<p>Setelah kekuasaan Hindia Belanda runtuh, kemudian Jepang kalah perang, dan Republik Indonesia yang masih muda belum siap mengatur aparat kepolisian untuk menegakkan tata terib, maka kecemburuan sosial yang bertahun-tahun tersimpan di relung dada warga segera meledak. Masyarakat yang marah segera menghancurkan kampung keluarga kaya raya itu rata dengan tanah.</p>
<p>Lebih Dahsyat</p>
<p>Apalagi bila ketidak-adilan dan kecemburuan sosial itu terjadi di antara dua etnis yang berbeda: Cina dan Pribumi, serta didukung kebijakan resmi penguasa, maka potensi radikal akan menimbulkan dampak jauh lebih dahsyat dari kasus Kotagede. Bahkan, peledakan BCA Oktober 1984, rasanya masih belum seberapa. Artinya, berbagai ledakan itu sama sekali tidak mampu mengusik hubungan mesra (kolusi-korupsi) pejabat amoral dengan pengusaha Cina amoral. Malah, setelah kasus peledakan terjadi, konglomerasi yang semula belum tumbuh, justru menjadi subur bagai cendawan ‘dipupuki cendana’.</p>
<p>Bisa dimengerti bila ada yang mengatakan bahwa kecemburuan sosial terhadap etnis Cina di Indonesia berkembang menjadi kebencian etnis. Penyebabnya, sebelum Orde Baru memposisikan etnis Cina sebagai “partner bisnis”, etnis ini juga sudah merasakan nikmatnya dimanjakan kolonial Belanda. Misalnya, di bidang ekonomi, Belanda tidak menggunakan kaum feodal pribumi untuk melaksanakan penghisapan dan pemerasan terhadap rakyat pribumi. Karena bila menempatkan pribumi, akan menumbuhkan kekuatan ekonomi yang akan dipakai untuk perlawanan terhadap Belanda. Karena itu, Belanda memilih etnis Cina sebagai perantara ekonomi antara Belanda dengan pribumi. Cina-cina itu diberi hak memegang pacht.</p>
<p>Kebijakan itu rupanya diadopsi rezim Orde Baru. Soeharto tidak memberikan kepada pribumi Muslim untuk berjaya di sektor ekonomi. Sebab bila kekuatan ekonomi pribumi Muslim tumbuh, dikhawatirkan akan mengganggu kelangsungan pemerintah Soeharto yang sekularis-kejawen. Dan Soeharto berhasil mempertahankan kedudukannya hingga 32 tahun dengan menginjak-injak hak dan martabat rakyat pribumi Muslim.</p>
<p>Secara genetis, boleh jadi etnis Cina lebih unggul dari pribumi. Sehingga mampu mengalahkan ras pribumi dengan mudah, melalui berbagai cara termasuk uang, wanita, dan sebagainya. Sebuah anekdot menunjukkan rendahnya martabat (birokrat) pribumi (halaman 32). Untuk mengalahkan ras pribumi cukup dengan tiga jari.</p>
<p>imagePertama, angkat jempol tinggi-tinggi, orang pribumi akan sangat senang.</p>
<p>Kedua, gesek-gesekkan ibu jari dengan telunjuk, mereka akan menuruti perintah kita.</p>
<p>Ketiga, kalau orang pribumi itu tidak sedang bersama istrinya, kita letakkan ibu jari di antara telunjuk dan jari tengah, pendeknya mereka akan sangat menurut seperti kerbau dicocok hidung.</p>
<p>Politik tiga jari yang dimainkan etnis Cina untuk menguasai pejabat sekular-kejawen sekaligus menguasai perekonomian nasional, nampaknya cukup efektif. Begitulah watak pemimpin yang tidak amanah yang sama sekali tidak mendasarkan diri pada syariat Allah, mereka mudah dibeli oleh siapa saja, dan menjual dengan murah rakyatnya, bahkan martabat bangsanya sendiri. Sialnya, politik tiga jari itu masih berlaku hingga kini, di kala pemimpin nasional kita sudah berada di tangan “kiai” dari ormas Islam terbesar.</p>
<p>Barangkali, sebagaimana firman Allah melalui Surat Al-Isra’ (17) ayat 16, bangsa Indonesia hendak dibinasakan-Nya, karena sejak awal kemerdekaan sebagian besar pemimpinnya adalah orang-orang yang cenderung berbuat kerusakan: “Bilamana Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami angkat orang-orang yang suka berbuat kerusakan menjadi pemimpin, lalu mereka berbuat durhaka di dalam negerinya sehingga negeri tersebut berhak mendapat adzab, lalu Kami hancurkan negeri tersebut sehancur-hancurnya.”</p>
<p>Tanda-tanda kehancuran itu sudah tampak, hutang pemerintah (belum termasuk hutang swasta) menurut laporan Bank Dunia mencapai US$ 134 miliar atau mencapai seribu triliun lebih. Dan masih akan terus bertambah. Siapa yang sanggup membayar hutang sebesar itu, sementara konglomerat yang dijadikan ujung tombak perekonomian nasional, justru ikut ngemplang, bukan memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi nasional dan pemasukan devisa.</p>
<p>Resensi buku : Kasus Peledakan BCA 1984 Menggugat Dominasi Ekonomi Etnik Cina di Indonesia.<br />
Penulis: Rachmat Basoeki Soeropranoto<br />
Penerbit: Fame Press, Jakarta<br />
Edisi: Oktober 2000<br />
Tebal: 192 halaman + xiii</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: MasRoby</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/comment-page-2/#comment-253712</link>
		<dc:creator>MasRoby</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Nov 2008 22:23:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/#comment-253712</guid>
		<description>Mau nanya nih, Apa yg disebut dgn orang pribumi atau penduduk asli itu adalah orang yg tumbuh dari tanah di daerah tsb atau orang yg jatuh dari langit ke daerah tsb ?
Kalau pendapat saya semua manusia adalah pendatang dan asal usul manusia adalah keturunan Adam yg turun dari surga.
Jadi Adam sendiri ke bumi ini sebagai pendatang bukan sebagai pribumi.
Lain dgn pendapat orang2 yg merasa dirinya keturunan hanoman alias monyet.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mau nanya nih, Apa yg disebut dgn orang pribumi atau penduduk asli itu adalah orang yg tumbuh dari tanah di daerah tsb atau orang yg jatuh dari langit ke daerah tsb ?<br />
Kalau pendapat saya semua manusia adalah pendatang dan asal usul manusia adalah keturunan Adam yg turun dari surga.<br />
Jadi Adam sendiri ke bumi ini sebagai pendatang bukan sebagai pribumi.<br />
Lain dgn pendapat orang2 yg merasa dirinya keturunan hanoman alias monyet.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: MasRoby</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/comment-page-2/#comment-253709</link>
		<dc:creator>MasRoby</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Nov 2008 22:21:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/#comment-253709</guid>
		<description>Adam dan Hawa saja adalah manusia pendatang.
Seseorang yg menganggap dirinya penduduk asli atau pribumi adalah orang yg bodoh, tidak tahu asal usul nenek-moyangnya. Dan juga seseorang yg pengecut atau pendengki yg malas, tidak pernah meng-koreksi dirinya dan nenek-moyangnya dari mana !</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Adam dan Hawa saja adalah manusia pendatang.<br />
Seseorang yg menganggap dirinya penduduk asli atau pribumi adalah orang yg bodoh, tidak tahu asal usul nenek-moyangnya. Dan juga seseorang yg pengecut atau pendengki yg malas, tidak pernah meng-koreksi dirinya dan nenek-moyangnya dari mana !</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Totok</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/comment-page-2/#comment-200884</link>
		<dc:creator>Totok</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 16:24:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/#comment-200884</guid>
		<description>Sebaiknya istilah tersebut dihilangkan saja, karena warisan penjajah dan sekarang masih  diteruskan oleh rejim koruptor yang ingin melanggengkan kekuasaan. Kalo kekuasaannya terancam tinggal alihkan rakyat (pribumi) untuk merusuh saudaranya (yg diistilahkan non pribumi) jadinya rejim itu lolos karena dialihkan dengan isu rasial. Mereka yang mengaku pribumi tidak usah iri ataupun resah. Saat ini saya sangat banyak melihat pribumi karena mereka terdidik menjadi sukses dan kaya. Bahkan dijalan raya banyak yang menggunakan mobil mewah sedangkan nonpri lebih banyak minibus (buat usaha juga kali). Intinya tidak sulit untuk menyaingi non pribumi, yang penting tekun dan belajar. Pemerintah sudah banyak menyediakan fasilitas khusus pribumi(tentunya dgn kamuflase). Tidak ada alasan untuk iri lalu SARA.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebaiknya istilah tersebut dihilangkan saja, karena warisan penjajah dan sekarang masih  diteruskan oleh rejim koruptor yang ingin melanggengkan kekuasaan. Kalo kekuasaannya terancam tinggal alihkan rakyat (pribumi) untuk merusuh saudaranya (yg diistilahkan non pribumi) jadinya rejim itu lolos karena dialihkan dengan isu rasial. Mereka yang mengaku pribumi tidak usah iri ataupun resah. Saat ini saya sangat banyak melihat pribumi karena mereka terdidik menjadi sukses dan kaya. Bahkan dijalan raya banyak yang menggunakan mobil mewah sedangkan nonpri lebih banyak minibus (buat usaha juga kali). Intinya tidak sulit untuk menyaingi non pribumi, yang penting tekun dan belajar. Pemerintah sudah banyak menyediakan fasilitas khusus pribumi(tentunya dgn kamuflase). Tidak ada alasan untuk iri lalu SARA.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: blogombal &#124; Blog Archive &#187; Indonesia: Republik Pribumi Dahsyat</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/comment-page-2/#comment-189194</link>
		<dc:creator>blogombal &#124; Blog Archive &#187; Indonesia: Republik Pribumi Dahsyat</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 16:59:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/#comment-189194</guid>
		<description>[...] pribumi. Ingat? Dua kata itu pernah menjadi mantera penyelamat saat kerusuhan rasial. Tembang pribumi? Entahlah. Mungkin sekadar gagah-gagahan, atau nyeleneh, tanpa landasan [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] pribumi. Ingat? Dua kata itu pernah menjadi mantera penyelamat saat kerusuhan rasial. Tembang pribumi? Entahlah. Mungkin sekadar gagah-gagahan, atau nyeleneh, tanpa landasan [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mbillung</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/comment-page-2/#comment-143470</link>
		<dc:creator>Mbillung</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 02:22:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/#comment-143470</guid>
		<description>Ya gimana ya, soalnya kan banyak dari  mereka yang &quot;non&quot; itu tertutup dan susah berbaur. Sudah terkondisi nyaman dalam ketertutupan mereka. Sejarah perjalanan hidup mereka yang panjang diperantauan membuat mereka harus selalu &quot;waspada dan curiga&quot; untuk bisa survive. Nyatanya yang &quot;pri&quot; juga turut andil dalam mempertebal paradigma itu dengan &quot;nginjak kaki&quot; atau menengadahkan tangan bila ada kesempatan. Memang jumlahnya kecil ,tapi kan rusak susu sebelanga.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ya gimana ya, soalnya kan banyak dari  mereka yang &#8220;non&#8221; itu tertutup dan susah berbaur. Sudah terkondisi nyaman dalam ketertutupan mereka. Sejarah perjalanan hidup mereka yang panjang diperantauan membuat mereka harus selalu &#8220;waspada dan curiga&#8221; untuk bisa survive. Nyatanya yang &#8220;pri&#8221; juga turut andil dalam mempertebal paradigma itu dengan &#8220;nginjak kaki&#8221; atau menengadahkan tangan bila ada kesempatan. Memang jumlahnya kecil ,tapi kan rusak susu sebelanga.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: maruko</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/comment-page-2/#comment-120680</link>
		<dc:creator>maruko</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jan 2008 08:11:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/#comment-120680</guid>
		<description>Peristiwa mei 1998??masih imut banget saat itu.

apa sih bedanya manusia???apa yg membedakan derajat orang itu??

Heran...sungguh mengherankan!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Peristiwa mei 1998??masih imut banget saat itu.</p>
<p>apa sih bedanya manusia???apa yg membedakan derajat orang itu??</p>
<p>Heran&#8230;sungguh mengherankan!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: blogombal : catatan ringan angin-anginan &#187; Blog Archive &#187; Pribumi dan Pendatang (di Bekasi)</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/comment-page-2/#comment-77980</link>
		<dc:creator>blogombal : catatan ringan angin-anginan &#187; Blog Archive &#187; Pribumi dan Pendatang (di Bekasi)</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 11:46:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/#comment-77980</guid>
		<description>[...] Saya kurang sreg dengan istilah pribumi dan nonpribumi beserta pengutubannya secara kontrer. Istilah ini &#8212; mungkin sebangsa bumiput(e)ra &#8212; bisa jadi komoditas politik yang kemriuk. Mudah dikunyah, tapi tak mengenyangkan, kalaupun terus disantap hanya akan mendatangkan seret dan dahaga. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Saya kurang sreg dengan istilah pribumi dan nonpribumi beserta pengutubannya secara kontrer. Istilah ini &#8212; mungkin sebangsa bumiput(e)ra &#8212; bisa jadi komoditas politik yang kemriuk. Mudah dikunyah, tapi tak mengenyangkan, kalaupun terus disantap hanya akan mendatangkan seret dan dahaga. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yani</title>
		<link>http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/comment-page-2/#comment-14695</link>
		<dc:creator>Yani</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Feb 2007 14:26:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/2006/10/30/milik-pribumi/#comment-14695</guid>
		<description>Orang pribumi hanya bisa ngiri, pasrah nasib, jiwanya rapuh, kalau sukses lupa teman, tak suka lihattemanya berhasil</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Orang pribumi hanya bisa ngiri, pasrah nasib, jiwanya rapuh, kalau sukses lupa teman, tak suka lihattemanya berhasil</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

