Jakarta itu Luas, Sayang
Lowongan di iklan baris Kompas ini sederhana. Tak menuntut syarat berat. Asal punya SIM C, punya sepeda motor (lho mestinya disediakan oleh juragan), dan kenal jalan — termasuk jalan tikus — pasti bisa jadi kurir. Eits, nanti dulu. Bukan jaminan bahwa orang “asli” Jakarta mengenal kota ini dengan baik. Apa lagi jika mencakup the Greater Jakarta atawa Jabodetabek yang terlalu luas. Tak semua orang pernah mendengar — apa lagi merambah — Rawabebek dan Rorotan. Saya sekeluarga pernah makan di sebuah kedai masakan cina di Pancoran, Glodok, Jakarta Kota. Sang pemilik kedai menanyakan tempat tinggal kami. Tapi ketika mendengar jawaban saya dia bingung, “Hah? Apaan tadi? Di mana itu?” Bahwa kelurahan saya tidak terkenal, memang iya. Kecamatan saya pun belum pernah dia dengar. Namanya juga Jakarta pascacoret — ya, saya tinggal di Jawa Barat. Tapi ketika saya memakai tetenger atau landmark terdekat dari Jakarta — sekaligus terjauh dari rumah saya — dia tetap tak paham. Dia lebih tahu Bogor atau Bandung sekalian. Yah, bukan salah dia. Kalau tak ada alasan dan tanpa kepentingan — kecuali memang iseng ingin menghabiskan bensin dan menambah angka odometer — sebagian warga kurang mengenal wilayah tertentu di Jabodetabek. Maka saya sungguh takjub — meskipun mulanya jengkel — ketika memandu sopir taksi abal-abal dari Monas ke Palmerah. Dia tak tahu Jalan Thamrin, Jalan Sudirman, Jembatan Semanggi, Gedung MPR/DPR, TVRI, dan Gelora (waktu itu) Senayan. Selama itu dia hanya mendengar nama-nama yang saya sebut. Dia belum pernah melintasinya. “Baru tiga hari saya di Jakarta, Bang,” katanya, dengan logat Batak. Bah! Berani kali, kau! Kembali kepada lowongan kurir tadi ya. Taruh kata si pelamar hapal kota, bisa baca peta, bahkan dibekali GPS, ada satu kendala yang akan dihadapinya sebagai pemain baru: penomoran rumah di Jabodetabek ini kacau. Nomor rumah tak urut dan tak konsisten, bahkan bisa kembar. Sudah begitu tak semua kompleks ruko memasang papan nama, padahal kartu nama penghuni ruko menyebutkan nama kompleksnya. Itu belum ditambah labirin yang tercipta di banyak kompleks perumahan atas nama keamanan. Banyak jalan masuk di blok tertentu yang dipalang. Bisa masuk belum tentu bisa keluar. Hidup kurir!
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Dering Telepon Landline February 10, 2012Suatu hari fixed-line kantor berdering berkali-kali. Mirip kantor betulan! Binis adalah krang-kring. Seperti dalam film lama. Tetapi kini orang kantoran makin sering berponsel. Langsung ke tujuan. Tarif lebih murah. Di rumah pun telepon kabel tak seaktif dulu. Selain untuk memesan gas dan air galonan, telepon untuk interlokal. Mungkin semakin jarang keluarga […]antyo
- Dering Telepon Landline February 10, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Jadi social smoker itu karena gak ada obat mati gaya. masalahnya dari social smoker ke pecandu itu tinggal selangkah ~ @pamanTyo February 10, 2012 glennypy6 (Glenny Jonathan)
- RT @cho_ro: Jadi social smoker itu karena gak ada obat mati gaya. masalahnya dari social smoker ke pecandu itu tinggal selangkah ~ @pamanTyo February 10, 2012 hollowayzr4 (Holloway Wharton)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Resep Memperawet Sepatu
May 24, 2009 by AntyoKENAPA TAK PAKAI WALKING SHOES SABAN HARI?
Mestinya dia paham perputaran mode sepatu, termasuk sepatu wanita. Jika benar, itu wajar. Akan tetapi ada yang lebih menarik: saban dua-tiga bulan dia berganti sepatu. “Soalnya ada aja yang nawar selagi saya pake. Ya saya lepas aja,” kata lelaki 46 tahun itu.
Sudah hampir separuh usianya dia menjalani [...]
Recent Comments
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





punya motor sim di tahan polisi, bisa jadi kurir?
Paman naif, sopir taksinya aja yang suka pura-pura tuh. Supaya dimaafkan kalo “nyasar” :-P
sejak jadi tukang jualan, entah berapa kali saya kesasar di jakarta. tapi, untunglah saya tidak sampe hilang. tapi, saya nggak pernah takut kesasar kok. khan bisa nanya. lagipula, saya selalu bawa peta kok. sekarang, bisa dibilang sedikit hafal lah…
Asal kagak ngutik2 Jakarta Timur sih, aye masih berani, Bang
beli petanya gunther…lengkap banget
lha wong surabaya ja dah satu setengah tahun dan sering banget kelayapan ndak apal apal.
gimana kalo dalam penulisan alamat diwajibkan juga nampilin koordinat Longitude ma Latitudenya, kan lumayan tinggal masukin ke GPS. perkara nemu sungai ndak ada jembatannya kan urusan belakangan. :)
ga mungkin bagi pendatang,apalg yg notabene ga tahu luas jkt..!!!