Duduk di Depan, Tengah, Belakang…
TERGANTUNG PADA KEPENTINGAN!

Boleh tahu, Anda sering duduk di deratan kursi depan, tengah, atau belakang? Jawaban Anda mungkin, “Tergantung acaranya, siapa yang punya gawe, apa status kita…”
Jika merasa berada di lingkungan asing, sebagian dari kita akan menghindari kursi depan — kecuali datang belakangan dan digiring ke depan oleh panitia karena kursi tengah dan belakang sudah terisi pantat.
Memilih duduk di depan, padahal di belakang masih longgar, adalah risiko. Diihat banyak orang, diamati dengan bisik-bisik, tertangkap oleh kamera, ditatap oleh pembicara, ditanyai oleh MC untuk menghidupkan suasana, dan entah apa lagi.
Tentu tak selamanya begitu. Jika menyangkut tontonan menarik, maka orang akan berebut maju. Berebut di depan juga berlaku untuk workshop yang mengasyikkan, apa lagi kalau gratis.
Bagaimana dengan konferensi pers? Tergantung. Kalau topiknya garing, dan asing, mana acaranya dingin pula, sudah begitu kelayakan beritanya rendah, sebagian reporter akan memilih di tengah dan belakang, sambil berharap acara segera usai. Tapi untuk jumpa pers tentang pengumuman cerai sepasang pesohor, tak ada alasan untuk duduk di belakang bagi reporter desk hiburan maupun (apa lagi) “infotainment“. Mereka akan berebut untuk bertanya.
Lain lagi pertemuan orangtua murid di sekolah. Yang lebih dulu terisi adalah kursi tengah dan belakang. Bagi sebagian orang, duduk di depan seperti menjadikan diri sebagai orang penting, bakal bersanding dengan ketua yayasan dan pengurus wadah perwakilan ortu.
Begitu pula di gereja. Kalau tak terbiasa ikut kebaktian atau misa di situ, pendatang baru akan memilih tengah atau belakang. Ada sih alasannya, “Siapa tahu bangkunya nggak dikasih tulisan, padahal yang di depan itu buat paduan suara atau orang yang akan dibaptis…”
Untuk pertemuan besar internal di kantor, kursi terdepan juga cenderung dihindari karena deretan itu biasanya untuk para petinggi. Tapi kalau duduk di barisan kedua dari depan, kita akan terpisah dari sejawat yang setingkat, bahkan akan diledek, “Mau dekat bos ya?”
Untuk acara besar dengan usher atau among tamu, soal di mana duduk sudah jelas. Jika deret kursi depan, bahkan sampai dua baris, bentuknya lebih mewah, maka orang lain akan tahu diri.
Aha, beberapa waktu lalu saya membaca berita lucu. Seorang (bakal) calon gubernur DKI menempel terus seorang ketua partai dalam sebuah acara tingkat cabang. Pak Maunyajadikandidat merengut, bahkan sempat enggan, saat diminta berpindah karena kursi di kanan-kiri Bu Ketua itu untuk pengurus partai.
Bagaimana dengan sekolah dan kuliah? Saya dulu sering memilih bangku terdepan, pada bagian yang mepet tembok supaya tak menutupi anak di belakang, bila perlu dekat meja guru.
Yah, itu untuk menutupi kekurangan saya. Kalau di belakang, saya tergoda untuk ngobrol, bercanda, menggambar, atau… tidur. Oh ya, sekalian menghindari godaan untuk nyontek maupun… dimintai contekan.
Dalam beberapa kasus, ternyata beberapa guru mengabaikan anak yang di pojok depan dekat mejanya. Pak Guru dan Bu Guru cenderung menanyai anak yang di tengah dan belakang, terutama yang bodoh dan atau nakal. Artinya yang di depan bisa mengisi TTS, menggambar, bikin selebaran lucu, atau… tidur!
Tapi saya pernah punya dosen sontoloyo. Yang boleh duduk di depan hanya cewek. Dia mewajibkan setiap mahasiswi untuk berlipstik. Kabarnya, ketika mengajar di kampus lain, seorang biarawati yang jadi mahasiswinya pun terpaksa pakai lipstik.
Persoalan di mana duduk menyangkut perasaan aman dan tak aman, juga sesuai kepentingan. Itu tak hanya berlaku untuk anak-anak. Orang dewasa pun begitu.
24 Responses to Duduk di Depan, Tengah, Belakang…
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... Continue reading → […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Tali Kutang Lepas di Pasaran
January 9, 2007 by AntyoPEMBIARAN PEMBAJAKAN OLEH ARTIS LOKAL.
Dalam panas mentari pukul satu siang, lelaki itu berkaraoke campursari. Cukup di trotoar, di depan lapak VCD bajakan. Teliti sebelum membeli. Bernyanyi sebelum bayar VCD. Itulah yang saya lihat di trotoar pertokoan Salatiga, Jawa Tengah.
Saya tak ikut menyanyi karena tak kenal lagunya. Lebih penting lagi: tak kenal si pembeli [...]
Recent Comments
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





[...] Aggregated from paman tyo by Asian Blogger Community [...]
makanya.. (kalo sikon memungkinkan) saya lebih senang duduk melingkar saja.. biar semua bisa saling memandang.. hue.he.he
kalau aku sih,paling seneng dan asyik kalau model duduk menghadap kedepan,(tidak di depan )krn bisa meluk erat pacar,tapi……kalau lagi naik peda motor ama pacar, aku seneng duduk dibelakang, (bisa bebas).
satu kelas kuliah kapasitasnya cuman 20, emang dibuat gitu..biar lebih efektif. tapi kondisi itu nyiksa bgt..g bs santai, bawaannya tegang mulu, dosen disini kaya tentara…jangan masuk POLINES kalau gak tahan banting!! aku suka dibakang, tp sama saja, semua tempat duduk tetep jadi fokus.
Tergantung tingkat kantuk dan mau ngapain. Yang jelas duduk dan jongkok di telundakan masuk gedung perkantoran sih suka dimarahin satpam. Katanya “tidak profesional”..lho..
Hihihi, kalo saya ndak perduli acara apa, kalo duduk nyaman di belakang. Mungkin karena tingkat kePDan saya rendah
“Tapi saya pernah punya dosen sontoloyo. Yang boleh duduk di depan hanya cewek. Dia mewajibkan setiap mahasiswi untuk berlipstik.” — hahaha…tiada lain, tiada bukan, iki pasti dosen bhs nginggris itu kan? sudah almharhum lo, kang…
seminar/kuliah –> depan (di blkg mata udah burem)
Masjid –> Paling depan, bnyk amalnya
Bus/kereta api –> belakang,asik bisa liat2 penumpang..sukur2 ada yang cakep
pesawat –>maunya didepan, konon itu adalah tmpat yang elit (sayang blm pernah merasakan
sebagai kawula alit yang tau diri saya lebih milih dibelakang.. masalah dengar nyimak ato tidak nyimak tergantung pikiran kita.. soalnya jarang pake buanget disuruh pindah kedepan (kecuali waktu kuliah) soalnya mau ditempatkan di depan juga nggak patut karena kemproh bin njelehi..
Soeda temtoe ik palign soeka doedoek di tenga2 itoe poen, netraal zonder ganggoewan…..
ada hal yang menarik pakdhe…
misal ada meeting/simposium/apaun lah yang dilakukan melalui break tea, atau bahkan hingga beberapa hari…
ada kecenderungan seorang peserta (termasuk gw) selalu menempati tempat yang sama pada saat pertama kali gw duduk (seperti di sekolahan aja) padahal khan gak ada aturannya???
jaman penataran P4 dulu, biasanya pada rebutan kursi belakang. biar bisa baca komik, dengerin musik/radio lewat walkman, atau main kartu. he..he..
iya betul. si genit itu adalah dosenku paman. :D
wah, lha kok dosennya kayak dosenku juga tho paman? sering nyuruh lipstikan. apa si dosen tinggal di daerah gejayan juga? gemuk dan suka memamerkan rolex-nya? tiap hari tertentu berenang di umbang tirto?
kalo iya, ya berarti dosennya sama. hehehe.
Saya teringat zaman kuliahan dulu ada semacam wejangan turun temurun “Ingat saat final test, posisi menentukan IPK)..btw…Om..betulan mana….Tergantung apa bergantung….wakakakaaaaa
enak duduk dibelakang. bisa menikmati pemandangan yang ada di depan. apalagi kalo nonton di bioskop. tempat duduk pojok belakang adalah yang paling favorit… huahauaaa
saya milih di luar aja deh, cari tempat yg enak buat nyeruput kopi sama ngisep rokok…
paling enak ya duduk di belakang waktu saya kuliah dulu hehe.. sekarang pun juga.. soalnya bisa tidur tanpa ketahuan.. enak…
klo dl jaman kuliah si saya liat2 dulu anak2 yg enak diajak ngobrol duduk dimana..klo udah ketauan naaa disitulah saya duduk.. dan biasanya si di barisan tengah kebelakang..;)enaaak oom!!!
Aku biasa di kursi depan.. biar bisa tertidur nyaman..
Tapi kemarin2 selalu di kursi belakang.. biar bisa menangis dengan nyaman.
paling enak duduk yang tersembunyi dan dekat dengan meja konsumsi prasmanan..
Jaman kuliah saya lebih suka milih duduk bukan di depan, di belakang, atau di tengah. Tapi di luar kelas, alias di kantin.
Saya kebanyakan memilih di belakang, di gereja, angkot, kelas sekolah, selalu di belakang. Masalahnya, bisa memandang ke seluruh jurusan :D
posisi menentukan prestasi, gitu guyonan jaman kuliah dulu sebelum ujian. temennya temen saya, karna sudah bikin corat-coret di kursi, waktu disuruh pindah sama dosen kursinya ikut dibawa…
btw, pantes bang paman gak keliatan di tipi.. :P