Baby Sitter dan Batur
TERNYATA KITA MASIH HARUS BANYAK BELAJAR.
Maafkan saya jika tulisan ini tak nyaman dibaca. Saya hanya mau membagi sesuatu yang lumrah, kerap terlihat di pusat perbelanjaan. Tuan, Nyonya, Sinyo, dan Nonik mengudap santapan lezat, tapi pembantu hanya menonton sambil menunggui tas belanjaan, cuma dipesankan minuman. Atau pengasuh anak, yang berseragam, dengan panggilan “suster” itu, hanya dipesankan menu paling ringan (baca: termurah).
Bukan, persoalannya bukan karena soal ini sering menjadi pertanyaan berbau menggugat, bahkan meledek, dari orang-orang asing. Dengan atau tanpa kritik asing, bagi saya soal itu tetap saja tak menyamankan.
Saya tak tahu seberapa sanggup kita mendiskusikan hal ini secara terbuka, dari bayaran sampai perlakukan dalam keseharian terhadap pembantu dan pengasuh anak.
Jawaban, “Oh nggak semuanya kok, Mister. Buktinya keluarga saya ndak gitu kalo jajan ngajak pembantu,” tentulah bukan berarti persoalan selesai.
Bisa saja di satu sisi kita merasa egaliter, prokesetaraan derajat, menolak feodalisme, menyangkali kasta, tapi membiarkan pembantu selalu duduk di lantai, bahkan saat makan (menu berbeda), dengan alasan, “Itu bagian dari sopan santun.”
Juga bisa, kita mengajukan dalih bahwa eksperimen sosial berupa “demokratisasi perlakuan pembantu” malah berbuah “dikasih hati mengambil ampela” atau “kere munggah bale” (gembel naik ke balai-balai), yang ujung-ujungnya merugikan.
Apa yang kita lakukan adalah buku teks kehidupan bagi anak-anak kita. Jika kita selalu mengabaikan kata “tolong” dan “terima kasih” terhadap pembantu, maka anak-anak tinggal meniru dan meneruskannya — sampai dewasa.
Seorang anak kelas V SD pernah tersedu-sedu menangis di depan ayah dan ibunya karena menahan beban. Anak perempuan itu terjepit. Di satu sisi dia berkewajiban membela seorang kawan yang selalu dihina, di sisi lain kawan-kawannya tak hanya menghina melainkan juga merusak dan membuang alat tulis si terhina, bahkan anak-anak itu sempat melarang si tersedu untuk bergaul dengan si terhina. Penyebabnya: si terhina adalah anak seorang pembantu rumah tangga.
Jujur saja, saya juga pernah mengidap kejahatan busuk seperti itu waktu kecil, ikut-ikutan menghina teman yang anak pembantu atau anak panti asuhan. Apa yang membuat saya sadar dan jera? Keberanian dan keteguhan mereka, yang seolah memegang prinsip “hanya (ada) satu kata: lawan!” Jika mulut dan prestasi tak bisa membalas, jotosan bisa menjadi jawaban untuk anak-anak sombong.
Ketika libur semester pada tahun pertama kuliah, saya membaca majalah Gadis. Ada tulisan teman saya, tentang dirinya sendiri, yang sekian lama menjadi pembantu supaya bisa sekolah. Dia kenyang hinaan dan perlakuan tak pantas dari anak-anak majikan. Sejak itu saya semakin menghormatinya. Apalagi ketika dia berani memilih topik skripsi yang kurang lumrah: kalender pranata mangsa untuk petani.
Dua tahun lalu kami reuni. Saya bersua dengannya. Dia dosen sebuah universitas negeri. Pembawaan dirinya tetap bersahaja dan santun. Ketika ngobrol berdua dan saya ingatkan tentang tulisannya, Pak Dosen hanya tersenyum, “Ah, kamu masih ingat itu toh, Tyo?” Dia bisa mencandai masa lalu, tanpa banyak dendam — setidaknya menurut kesan saya. Sore ini barusan saya menelepon dia. Teman saya itu tetap rendah hati. Dan bertambah bijak.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Cuma Mau Ngasih Tau
February 22, 2008 by AntyoANEKA CARA BERPROMOSI. KALAU UNTUK PROMO BLOG?
Bel berbunyi. Saya masih tidur. Pagi sudah merambat siang. Saya bangun, menggeliat, lalu beranjak. Kunci tidak ada, entah di mana. Rumah kosong, pada pergi. Dari balik kaca saya cuma bilang kepada pemencet bel, “Maaf Mbak, saya ndak bisa keluar. Ada apa ya?”
Saya pikir dia orangnya tetangga yang [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Akhirnya, ada juga yang menulis soal begini. Saya pikir, cuma saya yang sering jadi bulan-bulanan rekan di kantor, dituding “western-minded” ketika bicara soal perlakuan terhadap pekerja rumah tangga.
Ga punya pembantu.
*orang modern dan kaya semua dikerjakan sendiri dibantu dengan mesin :P
ga punya pembantu.
“orang modern semuanya bisa dikerjakan sendiri dengan bantuan mesin.
ga punya pembantu.
* orang modern semuanya bisa dikerjakan sendiri dengan bantuan mesin.
saya punya tetangga yg mirip dgn postingane njenengan pakdhe.
kata orang2,nyonyah besar galake minta ampun. walhasil,tiap bulan ganti prt. n skr ndak punya pembantu akhirnya.
kapok ra kowe!!
hanya satu kata buat majikan yang kayak gitu: diancuk!
Mereka berpikir semua bisa diatur dengan duwid. Masih mending cuma disuruh nungguin tuannnya makan. Belum dijadiin bahan latihan karate atau ngetes panasnya setrikaan.
Tragis memang..! :(
saya tersentak oleh tulisan ini paman..kejadian yang sering saya juga saksikan…sebenarnya mereka itu kan pekerja profesional juga, sudah seharusnya dihargai secara profesional. Tetapi sekarang ini keadaanya tidak beda dengan jaman perbudakan…ah makin bikin saya emosi saja…hrrrrgg!!
Waduh, kejadian yang sama sering saya lihat. mending masih dikasih makan, kadang cuma diminta duduk di ojok agak jauh da memandang tuan dan nyonya mereka makan dengan lahap. TIDAK MANSUIAWI! lebih tidak anusiawi ketika ANJING mereka dilempari sepotong tulang. ANJING saja dikasi makan.
Bolehlah dibedakan, tapi bukan makanan dan kedudukan. Silakan tuan dan nyonya ambil duluan, pembantu bisa belakangan. tapi bukan tuan dan nyonya makan ayam, dan pembantu dimakan ayam. GOBLOK itu namanya
bingung mau komentar apa?
tp,aku yakin “ini” hanya terjadi di endonesia..!!!!
argghh..!!!
kok jadi inget serial mangan ora mangan ngumpulnya umar kayam :D
yah.. sebagai kawula alit, perlakuan kados mekaten tak ubahnya napas yang terhisap dari sebuah keloyalitasan seorang abdi..
tak disesali dan terkadang disyukuri…
nuwun sewu lho paman kula lancang matur mekaten.. matur nuwun kersa nulis bab menika..
mantab paman…, mestinya kita semua belajar labih bijak
Lepas dari itu yaa… saya sering heran dengan keluarga (kecil) di kota2 besar Indonesia.
Pergi dengan 1 batita saja masih harus didampingi baby sitter. Lha apa orang tuanya ga bisa sih, menangani 1 batita doang (baca: emang bapaknya ga pernah bantu ibunya ya.. hehehehe..).
Kalau ada 2 batita, saya masih lebih bisa memahami.
Lebih parah lagi, saya sering melihat anak sudah usia SD (sekitar 6-7 tahun) masih juga didampingi baby sitter. Plis deh!
Kembali ke topik: saya juga melihat jam kerja para baby sitter itu sangat2 terlalu banyak. Pagi2 orang tuanya belum bangun, anak sudah sama baby sitter. Siang orang tuanya pergi kerja, anak sama baby sitter. Malam orang tuanya capek, , anak sama baby sitter. Akhir minggu orang tua pergi gaul, anak sama baby sitter.
Kasihan anaknya, kasihan baby sitter-nya, dan lama2.. kasihan orang tuanya juga lho ;)
*refleksi, buat introspeksi saya sendiri :)*
Tidak bisa dipungkiri bahwa dulu saya juga berbuat sama seperti itu. Tetapi semenjak keluar dari Indonesia 6 tahun lalu, saya baru sadar bahwa perbuatan itu salah besar. Justru di negeri orang, saya baru belajar memasak, mencuci baju, menyetrika, dll. Selain itu, saya juga belajar menghargai orang apa pun pekerjaan dia.
dari dulu orang tua saya nggak punya pembantu, semua dikerjakan sendiri. ibu saya masak, bapak saya yg bersih2 rumah. mereka berdua kerja. setelah anak2 besar, semua diajarin untuk membantu, dari nyapu, nyuci piring/baju.
nggak kebayang ya kalau punya pembantu, mungkin bakat sombong saya akan tumbuh subur :(
sudah direndahkan, seringkali para bedinde ini juga dihamili. duh!
Alamak baby sitter cuma melongo, menjagai anak, menonton majikan lagi menikmati hidup, dan menyaksikan orang makan enak, itu mah jauh banget dari rasa-perasaan kemanusiaan yang berbudi luhur. Setali tiga angpao jika makan pun dengan pembeda menu yang mencolok rasa selera, betapa menderitanya pengasuh anak (baby sitter) semacam itu.
Akibat sinetron tron tron heeee…eeehhh gemeeeesssss
wih, udah lama saya mo nulis persis hal yg sama, tapi keasikan sama isu2 ndak penting laen *ngaku2 hihihi..*
tapi bener banget mas tyo, terutama soal pembantu yg duduk di lantai, serta argumen “demokratisasi membuahkan ke-dikasih-hati-ngambil-ampla-an” yang hampir selalu dikemukakan ibu2 (termasuk ibu saya). sayangnya, karena saya tumbuh dalam lingkungan demikian, saya ya nganggep itu hal biasa.
masih musti nge-switch pola pikir nih supaya bisa total demokratis! hehehe…
go..go..go..
yang penting komen dulu..
maklum, pake yang instan-instan..
–budiw
…sangat menenteramkan hati
Saya juga acapkali melihat pembantu kita di negeri Jiran mengalami perlakuan yang ‘meniadakan’. Majikannya makan enak, pembantunya ngemong anaknya dengan segelas minuman.
Saya tidak tahu bagaimana perasaannya! Tapi, kemanusiaan saya lucut.
Mereka pembantu yang terlalu banyak menanggung beban.
wah… isinya beraroma PITUTUR juga ya paman.. :) Akuuuur..
Budaya.. Itu semua masalah budaya kita. Budaya yang sudah tertanam di setiap manusia di seluruh negeri in Mau diapain lagi..