Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Bahasa Kita: Menyenangkan, Memusingkan, Mengasyikkan, Menjengkelkan, Menggairahkan, Menjemukan…

Selasa, 28 November 2006 @ 20:24 | Lihat Baca Dengar

BERBAHASA SATU: BAHASA GADO-GADO!

buku bahasa kompas oleh salomo simanungkalitDi sini, ya di blog ini, pelanggaran terhadap kaidah berbahasa adalah sebuah rutinitas. Karena sembrono? Ya.

Kok nggak malu? Ah, malu juga sih — apalagi jika menyangkut “slaah pkous” dan “slaha kteik”. Benny Chandra termasuk seorang pembaca naskah yang cermat. Maka dia pun langsung mendapati kejanggalan ketika saya belakangan ini mencoba menyamakan “apa lagi” dan “apalagi”.

Baiklah, hasil kesembronoan dapat diperbaiki, jadi lupakan saja (uh, curang!). :)

Selain kesembronoan, keanehan kata dalam blog ini juga karena pilihan. Misalnya “Prancis” (bukan Perancis), “cina” dan “Cina” (bukan “china” maupun “China”), “internet” (bukan “Internet” dengan “I” kapital), dan “becermin” (bukan “bercermin”).

Selebihnya silakan (ya, saya memakai akhiran “kan”) Anda cari sendiri. Dalam hal apa “Matahari” (nama planet, dengan “M” kapital), dan dalam hal apa enak saja pakai “mentari” (dengan “m” kecil atau lowercase). Dalam ungkapan gombal: konsisten dalam inkonsistensi. :P

Lantas di mana persoalannya? Marilah kita cari dan tetapkan kambing hitam. Apa, eh siapa? Bahasa Indonesia. Hore!

Maka janganlah mengambinghitamkan kemiskinan pemeriksa ejaan Indonesia dalam komputer, termasuk dalam desktop publishing.

Bahasa Indonesia ternyata membingungkan (kalau kita merasa bingung). Bahasa Indonesia juga bisa tanpa persoalan jika kita berprinsip pada hubungan batin: yang penting sama-sama memahami. :D

Wah, kacau dong? Memang. Untunglah, dalam karut-marut itu selalu ada yang peduli. Kompas, misalnya, punya rubrik bahasa. Tempo (koran maupun majalah) akhirnya juga punya. Namanya “Bahasa!”. Betul, pakai tanda seru — mungkin berteman dengan Yahoo!.

Apakah bahasa media massa selalu beres? Silakan Anda nilai sendiri. Terhadap sepuluh media yang bulan lalu dinyatakan “berbahasa terbaik” toh muncul juga pertanyaan dari kalangan editor bahasa media massa. Misalnya, kenapa Pikiran Rakyat tidak terangkut, padahal bahasanya bagus?

Pemilihan penutur bahasa terbaik hanyalah bagian dari proses tarik-menarik dalam pembakuan bahasa. Bahasa Indonesia bukan sebuah paket komplet yang telah selesai sehingga masih harus dibentuk bersama.

Maka lihatlah, sampai hari ini kita masih kikuk dalam menyerap istilah asing. Mau pakai warisan Belanda atau merujuk ke bahasa Inggris (tanpa harus menjadi bahasa Malaysia)?

Sebagian dari kita masih membedakan bentuk tunggal dan jamak untuk kata tertentu: politikus dan politisi, serta musikus dan musisi. Kompas pernah memakai “fora” untuk menjamakkan “forum”. Tapi kebingungan perihal tunggal dan jamak masih berlaku di banyak media, terbukti masih ada kata “data-data” — padahal “data” adalah bentuk jamak dari “datum”.

Entahlah bagaimana dengan alumnus, alumna (perempuan, tunggal), alumni dan alumnae (perempuan, jamak) — suatu pembedaan yang juga ada dalam bahasa Inggris. Belum lagi upaya memadankan kata kerja “criticise” menjadi “meng(k)ritisi”, karena “critic” adalah kata benda (orang).

Walah, repot juga ya? Kadang niat hati ingin konsisten (te)tapi hasilnya akan berbenturan dengan kelumrahan — padahal yang lazim belum tentu benar.

Dulu ada seorang guru besar (ilmu) ekonomi, namanya Ace Partadiredja, yang selalu memakai “ekonomika” untuk memadankan “economics“, sehingga bikin buku dan mata kuliah “Pengantar Ekonomika”. Alasannya, sesuai kaidah penyerapan kata asing. Bukankah “statistics” menjadi “statistika”, dan “physics” menjadi “fisika”?

Aha, saya teringat pelajaran bahasa Inggris saat SMA: ada economics, economic, economy, economist dan economists (bikin murid mendesis seperti ular lalu ngeces).

Bagaimana jika “economics” menjadi “ilmu ekonomi”? Banyak orang setuju. (Akan te-)Tapi di media masih sering kita temui “ilmu biologi” (logi, dari logos, berarti ilmu). Adapun “biolog” kita serap dari bahasa Belanda (“bioloog”), untuk memadankan “biologist” yang Inggris. Bagaimana memadankan “biological science(s)“? Apakah menjadi “ilmu(-ilmu) hayati”? Untuk “geoscience(s)“, sebagian orang memilih “ilmu(-ilmu) kebumian”.

Selamat berpusingria! Jika Anda memang ingin menikmati kepusingan atas nama pencarian kebenaran dan kejelasan dalam berbahasa, boleh juga menambahinya dengan buku suntingan Salomo Simanungkalit ini — buku kedua setelah Inul itu Diva? Kumpulan Kolom Bahasa Kompas.

Persoalan di sana bukan semata ejaan melainkan juga pilihan kata, dan lebih penting lagi bahasa sebagai peta pemikiran. Misalnya “lonte”, “pelacur”, “wanita tunasusila” (bagaimana dengan pria konsumennya?), dan “pekerja seks komersial” (Ayatrohaédi, hal.16).

Semasa (Su)Karni Ilyas menjabat direktur pemberitaan SCTV, dalam sebuah pertemuan kebahasaan di kantornya dia pernah menyatakan bahwa pihaknya memilih kata “pelacur”.

Saya dulu, ketika menangani laporan wawancara dengan Mama Dolly (pelopor pelacuran Dolly, Surabaya) direpoti oleh hamburan kata “lonte” — lebih mudah daripada naskah wawancara dengan germo legendaris Hartono Prapanca yang selalu memakai kata “wedokan”. Bertahun-tahun kemudian, Sutardji Calzoum Bachri dalam sebuah cerpen enak saja menyebut warna “hijau yang kelonte-lontean”.

“Lonte”, “sundal”, “pelacur”, “wanita tunasusila”, dan “pekerja seks komersial” juga berkait dengan rasa — jangan macam-macam, maksud saya adalah “rasa (ke)bahasa(an)”. Selain itu juga berkait dengan konteks penuturan.

Lantas apa dong ringkasan buku kumpulan artikel Juli 2003 – Juli 2006 itu? Lho, ini bukan resensi maupun bedah buku. Ini hanya sebuah persinggungan ketika saya menulis soal bahasa. Jika meminjam istilah Firman, maka tulisan ini adalah panggung gombalan saya, bukan podium untuk buku :D

(Akan te-)Tapi kalau saya diharuskan menghakimi, maka saya akan menyebut buku ini layak beli dan layak baca. Para guru bahasa Indonesia harus membacanya agar dapat menjelaskan sengketa bahasa kepada murid-muridnya. Jika Anda enggan membeli, telusurilah arsipnya di Kompas Online.

Selamat untuk Salomo. Teruslah berlelah dalam menyoroti bahasa. Sayang sekali, sebagai penyetuju kata “anda” (dengan “a” kecil”), Anda tak menyisipkan bonus artikel khusus tentang hal itu. Ibarat CD kompilasi yang bagus, mestinya ada bonus tracks. :D

Selebihnya kita tunggu buku sejenis dari Grup Tempo. Juga, kita tunggu buku dari perguruan tinggi yang beberapa dosennya dulu sangat gatal dalam membenahi bahasa: ITB, UGM, dan Satya Wacana. Makin banyak versi makin membingungkan (te)tapi itu mengasyikkan. Lebih baik kita bingung karena banyak rujukan daripada bingung karena tiada pegangan. Gombal kan? :D

Oh dalam buku itu, obituari dari Salomo untuk Sudjoko juga dimuat. Munsyi Sudjoko, menurut Daniel Dhakidae (eks-editor jurnal Prisma), mengawali suratnya dengan, “Redaksi Prisma yang goblok!” Prisma-nya LP3ES gitu loh! :D

JUDUL: 111 Kolom Bahasa Kompas • PENYUNTING: Salomo Simanungkalit • PENERBIT: Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Oktober 2006 • TEBAL: xv + 347 halaman • HARGA: Rp 58.000

Ada 34 komentar | trackback | Depan

#34

hydrocodone vs tramadol | 22 01 2008 @ 17.12.10

how much tramadol for daily use for dogs. tramadol fda. tramadol cod


#33

STR | 14 10 2007 @ 6.35.05

siapa dosen itu? liek wilardjo?


#32

a life’s journey… | 12 07 2007 @ 17.41.27

[...] masih tentang sahaba Thursday July 12th 2007, Filed under: posting nggak penting di saat-saat genting, crispy snacks(kriuk!) Gara-gara comment Paman di postingku yang ini, lalu memberi link ini aku jadi tertarik kemudian tidak bisa berhenti untuk tidak membaca arsip gombal yang lainnya, termasuk ulasan dari bapak Jay adalah Yulian. Whua…. betapa parahnya blog ini dalam hal berbahasa Indonesia yang baik dan benar, baik dalam ejaan, penulisan huruf besar dan huruf kecil maupun tanda baca. Ah, dulu waktu sekolah, pas pelajaran bahasa Indonesia, aku ada dimana yah? Entah. [...]


#31

blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Tesaurus, bukan Dinosaurus | 21 02 2007 @ 19.37.42

[...] Baca juga: + Jay mengaku sulit berbahasa Indoensia + Saya selalu gombal dalam berbahasa [...]


#30

rani | 06 12 2006 @ 8.24.01

Mosok Pikiran Rakyat bagus, Paman? Saya tiap hari baca PR kadang-kadang sampe frustrasi gitu… ;P


#29

totot | 03 12 2006 @ 15.42.11

AdDiction juga punya, namanya “Bahasa, Please!” Eh, penjenangan ngisi ya buat bulan depan. Yang berkaitan dengan iklan dan orang iklan. 350 kata aja, ada honornya lho! Ya, ya, ya? :-)


#28

preaxz | 01 12 2006 @ 2.56.40

Sedang mencoba menjadi satpam bahasa, paman. Verbal maupun literal. Setidaknya bagi diri saya sendiri dan keluarga. Namun satpam, paman, bukan polisi, jadi pasti lebih banyak salah.


#27

firman firdaus | 30 11 2006 @ 10.48.03

resensi yang unik, kekeke…


#26

fahmi jelek | 30 11 2006 @ 2.17.18

mungkin lebih gampang bicara sama smurf, bahasa mereka sangat smurf sekali :p


#25

jack | 29 11 2006 @ 15.53.58

dooh… koq gw jadi puseng yah :-?

*puseng, mending makan ketroprak dolo ah*


#24

hendra | 29 11 2006 @ 15.27.10

wakakaka setuju dengan konsisten dalam inkonsistensi :P


#23

tabah | 29 11 2006 @ 14.17.17

Uncle Tyo. Mumpung lagi membahas bahasa. Ini saya punya pertanyaan yang bikin saya bingung dan mengganggu makan siang tadi: “Untuk apa bernegara?”. Mohon bantuan paman. terimakasih.


#22

jalansutera | 29 11 2006 @ 13.04.51

kaidah dalam menggunakan bahasa daripada indonesia yang baek dan bener itu terlalu banyak pengecualian, inkonsistensi, ketaktaatazasan yang mana membuat daripada orang pintar menjadi bingung dan orang bodoh menjadi tambah bego. untuk itulah perlu dibuat yang mana daripada sebuah undang-undang yang mana daripada kebahasaan yang mana daripada untuk mencegah. tuh khan.. bingung sendiri yang nulis. wekekekekkkkk…


#21

Fernando | 29 11 2006 @ 11.14.03

yo’i pace. :D


#20

yestato | 29 11 2006 @ 10.39.17

..aduh pyusying,..dahlah ga usah di problemkan,saya ambil tiga saja: jengkel, pusing, jemu


#19

pembaca | 29 11 2006 @ 10.29.54

bahasa indonesia iki trnyata angel yow…


#18

ndoet | 29 11 2006 @ 10.25.54

lebih enak boso semau guwe tho.. lebih ekspresif asal bisa dimengerti lawan aja tho… kalau yang harus dimengerti oleh ribuan (kaya om tyo) dan harus ilmiah waduuhhhh… emang orang ilmiah bahasa sehari hari ilmiah juga tho? baru tahu mantan dosen saya bilang ndak nggenaahh


#17

kawula alit | 29 11 2006 @ 10.21.04

kalo saya lebih suka boso Jowo paman, saya cuma bocah wingi sore yang lagi nyinaoni bab Jowo se Jowo jowonya, karena tidak banyak patokan baku, justru sikap menjadi patokan yang harus dipegang. jadi nuwun sewu kalo, bahasa Endonesa saya nggasruh..


#16

mpokb | 29 11 2006 @ 9.32.58

bahasa indonesia kurang praktis untuk bikin tulisan singkat. hanya karena kata “dia” nggak ada pembeda laki/perempuan aja, kalimat sebaris bisa jadi dua baris..


#15

djony herfan | 29 11 2006 @ 9.23.52

Bahasa kita menyenangkan, mengassyikkan, menggairahkan jika saya membaca tulisan Paman Tyo, Anton M. Moeliono, Franz Magnis-Suseno, Jakob Oetama, Maruli Tobing, Gus Dur, Ignas Kleden, Ulil Abrar, Pamusuk Eneste, Andre Hardjana, Remy Silado, Mohammad Sobary, Wimar Witoelar, Jakob Sumardjo (dan M.A.W. Brouwer, PK Ojong, Slamet Djabarudi, Mochtar Lubis).

Bahasa kita memusingkan, menjengkelkan, menjemukan, ketika saya membaca nama penulis dan alinea pertama plus judul penuh dengan kepusingan, kejengkelan, kejemuan, … hehehehehe.

——-

Bung Djony,
Anda tahu kelemahan saya: haus pujian. Tapi kalau memuji janganlah berlebihan — sama kalau meledek juga jangan kelewatan. :D

[tyo]


#14

Qky | 29 11 2006 @ 8.56.49

bener boss… seperti gado-gado, yang penting jangan pedes eh… pedas
btw, bukankah bahasa adalah produk budaya, yang dengan kata lain terus berproses, boss?


#13

andriansah | 29 11 2006 @ 8.14.07

KArena bahasa indonesia nggak cool..

duh punya sapa yahg itu?


#12

pelipurlara | 29 11 2006 @ 8.05.55

bahasa! argghhhh! saya sering pusing soal itu akhirnya ya nulis saja sebisanya yang penting maksud saya nyampe, kan gitu…

tapi artikel panjang ini boleh juga untuk dipelajari terus


#11

bangsari | 29 11 2006 @ 7.59.46

saya kuatir, kalo kata-kata dibakukan malah saya makin tak paham. he..he..


#10

de | 29 11 2006 @ 6.07.49

ooo karut-marut toh Pam (paman maksute, bukan Pamela) bukan carut-marut ya. Baru tau he..he.. Ndeso..


#9

Brahmasta | 29 11 2006 @ 5.55.23

Hm.. berbahasa Indonesia yang baik dan benar sering malah membuat kita tidak mengerti. Padahal inti dari komunikasi kan saling mengerti. Jadi ya.. gitu deh.


#8

widhi | 29 11 2006 @ 3.06.58

gombalan dan resensi.. ini soal pilihan kata dan rasa bahasa juga toh.. :)


#7

Ben | 29 11 2006 @ 1.33.16

ternyata promo terselubung… :))

eh, bisa nyewa buku itu? :D

Btw, selain Inul itu Diva? Kumpulan Kolom Bahasa Kompas dan 111 Kolom Bahasa Kompas kayaknya masih ada satu lagi buku kumpulan kolom bahasa di Kompas. CMIIW. Kalo gak salah ingat, kavernya orange, judulnya lupa. Males bongkar-bongkar gudang…


#6

sahrudin | 28 11 2006 @ 23.38.57

sayang sekali, mampu daripada berbahasa indonesia dengen baik dan benar, belum temtu menjamin daripada hidup semangkin mendekati daripada kemakmuran.


#5

Anang | 28 11 2006 @ 22.04.26

waaaa keren banget


#4

Aulia | 28 11 2006 @ 21.34.39

terpukau deh ngebacanya…(;


#3

budak linggau | 28 11 2006 @ 21.14.51

waw paman!!! satu hari 6 posting.. ueduuunn…


#2

tito | 28 11 2006 @ 20.54.17

Pengen beli buku itu. Nganggur? Kok sregep posting?


#1

ndoro kakung | 28 11 2006 @ 20.28.16

posting kok ngebut? deadline masih jauh rupanya … :p