Jangan Terlalu Dekat, Nak…
TIADA LAGI MISTAR PENGGANJAL JIDAT.

“Hayoooo… Jangan terlalu dekat dong. Coba angkat lagi kepalamu. Iyak, pinter, sayang,” itulah yang saya katakan kalau anak-anak saya menulis atau menggambar dengan jarak mata terlalu dekat ke kertas.
Di tempat kerja kadang saya mencandai teman (dewasa) yang berlaku seperti anak saya dengan kalimat sejenis. Mereka biasanya tertawa. Malah ada yang bilang, “Iya ya, kedeketan nih… Asyik sih.”
Beberapa kali saya menanyai anak saya apakah gurunya sering mengingatkan para murid untuk menjaga jarak mata. Kesimpulan (tanpa statistik) selama beberapa tahun: para guru jarang melakukan hal itu.
Saya tanyakan hal serupa beberapa teman yang lebih muda daripada saya. Kesimpulannya pun sama.
Saya, dan teman segenerasi, masih mengalami guru bawel yang mengontrol jarak mata murid terhadap kertas. Kadang Pak Guru atau Bu Guru mengambil mistar kita lantas mencontohkan jarak aman. Anda ingat?
Ada lho guru SD (juga SMP) yang mencoba duduk di samping seorang murid yang duduk di belakang, untuk memastikan keterbacaan papan tulis dari posisi itu. Hasil segera: murid dipindah ke depan. Hasil tak segera: dua minggu kemudian si murid sudah berkacamata.
Adik kelas saya di SMP dulu ketahuan bermata minus karena sering salah baca tulisan (termasuk notasi lagu) pada papan tulis. Orangtuanya dipanggil ke sekolah. Minggu depannya anak itu sudah berkacamata.
Tapi ada juga pengamatan yang tak segera membuahkan hasil. Sekian lama seorang anak (di luar Jakarta) mengalami gangguan mata. Pelajarannya tertinggal.
Akhirnya pada awal tahun 2000 gadis kecil itu menjalani operasi laser di Jakarta Eye Center. Saya ikut mengantarnya. Saat itu usianya baru delapan tahun, tapi dia sudah mengidap katarak — suatu hal yang menurut pengetahuan umum hanya menimpa orang tua.
Bagaimana dengan ruang kecil ber-TV jumbo, padahal anak-anak sering mendekat, apalagi jika main game? Pertanyaan serupa berlaku untuk penyetelan monitor komputer yang terlalu kontras dan menyilaukan. Monitor CRT menyita tempat, padahal mejanya sempit, sehingga memperdekat jarak dengan mata anak. Jika kursi tak ditinggikan, beberapa anak kecil menatap monitor dengan mendongak.
Di luar urusan peluang bisnis kacamata, mestinya Depkes dan Depdiknas punya data berapa jumlah anak Indonesia yang (mestinya) pakai kacamata. Uncle Pakde Totot mungkin bisa menggerakkan korpsnya di “bakal IndonesiAd(diction)Council” untuk bikin kampanye kesehatan mata anak. Atau barangkali Maverick Kidz punya ide?
Info:
+ Kesehatan mata
+ Ergonomi visual
6 Responses to Jangan Terlalu Dekat, Nak…
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Girang Hati 2009
January 1, 2009 by AntyoBOLEH DIGANTI “BEGADANG BOLEH SAJA, ASAL ADA ARTINYA”.
Struk salah satu gerai Apotek K24 di Mrican, Yogyakarta, ini menarik. Bukan “semoga lekas sembuh” (karena tak semua orang yang ke sana sedang sakit) melainkan “HATI YANG GEMBIRA ADALAH OBAT”. Betul, dalam huruf kapital, seperti ditampakkan oleh gambar.
Mungkin tak istimewa. Hampir semua cash [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





baca postingan ini jadi inget sama masa kelas 2 smp dulu, waktu akhirnya seluruh dunia menyadari bahwa mata saya minus banyak :D saya takut bilang, karena jaman itu anak kecil berkacamata adalah hal yang memalukan.
saya juga mengalami para guru saya tidak hanya mengukur jarak baca anal didik, tapi juga mengajarkan jarak menonton tv yang aman. kalo tak salah ingat, minimal 6 kali ukuran tv. *duh, kok saya dah tua sekali ya?*
mata saya minus gara2 liat tivi terlalu dekat semasa sekolah dulu paman… wah seharusnya pake saran paman ini ya.. diganjal pake mistar jidatnya hehehe… huhuhu sayang sekali…
paman mata saya minus gara2 liat tivi terlalu dekat setiap hari dulu pas masih skolah.. hiks… seharusnya pake saran paman ini ya.. dikasih mistar pengganjal jidat biar ga dekat-dekat huhuhu
emak yang paling rajin ngingetin soal mata. sampe sekarang kalo liat anaknya baca sambil tiduran atau tanpa nyalain lampu, pasti ditegur. hmmm.. kalo guru di kelas rasanya nggak pernah.
emang anak sekarang hobi baca/tulis? mereka sekarang hobinya melototin monitor: ngegame dan nonton tv. jadi, larangan seperti itu diganti dengan jarak-tonton saja deh…