Melihat dan Terlihat
SEPEDA MOTOR NYALAKAN LAMPU, TAPI MOBIL?
Pagi tadi, di Jalan S. Parman, antara Slipi hingga Tomang, Jakarta Barat, lajur kirinya diisi motor. Hampir semuanya menyalakan lampu. Tapi beberapa motor yang ingin melaju cepat sudah mengambil lajur tengah, padahal mulai awal pekan ini motor diwajibkan melaju di kiri. Bremmm! Oh, ada mobil patroli polisi di lajur tengah.
Saya bermain tebakan dengan diri sendiri: dari sebelah mana motor-motor akan menyalip polisi, kiri atau kanan?
Satu motor menyalip dari kanan. Artinya dari lajur paling kanan. Lolos. Motor lainnya menyusul. Lolos. Polisi tak menegur.
Jika kewajiban menyalakan lampu motor pada siang hari itu untuk keselamatan semua pemakai jalan, karena motor menjadi lebih terlihat, saya setuju.
Surabaya sudah memulainya. Jauh hari sebelumnya Jawa Tengah pernah mencoba menerapkannya, terutama untuk perjalanan antarkota, tapi melempem.
Tentang penyalaan lampu motor pada siang hari, belasan tahun lalu saya sudah memulainya dengan skuter bobrok saya, tapi sesuai kondisi.
Dulu, saat mendung saya selalu menyalakan lampu. Tapi saya sering diingatkan oleh pemakai jalan, termasuk pejalan kaki bahkan polisi, untuk mematikan lampu. Saat hujan? Apalagi. Tentu saya nyalakan lampu halogen Osram saya.
Menjelang senja, dan setelah fajar, mendung maupun langit bersih, saya dulu selalu menyalakan lampu. Minimal lampu kecil. Saya ingin motor saya terlihat.
Saya bisa melihat, tapi saya ingin orang lain juga melihat saya agar saya tak tertabrak. Maka dulu sebelum berangkat saya selalu memeriksa lampu depan, lampu rem dan lampu sein, bahkan selalu membawa bolam cadangan untuk ketiga jenis lampu itu. :D
Saya takut ditabrak. Maka memilih jaket pun yang menyala. Biar norak yang penting mencolok mata. Helm saya tempeli 3M Scotchlite — waktu itu belum ada lampu LED untuk helm.
Untuk sepeda, ketika saya masih kuat nggenjot, dan sering bersepeda pagi maupun malam, saya tak hanya memasang reflektor pada jari-jari, setang depan, dan bagian belakang sepeda. Saya juga memasang lampu halogen CatEye untuk depan dan pengedip LED di belakang. Ada lagi: rompi jaring berwarna oranye fluorescence dengan strip reflektor. Meriah, tapi demi keselamatan. Untunglah tak perlu nenteng petromaks atau lampu karbit ala pemburu kodok.
Ketika masih kuat jogging, saya selalu memilih sepatu yang bereflektor. Saya selalu memakai kaos terang. Bahkan saya hampir punya pengedip LED untuk lengan (ketika kembali ke toko sukan, barangnya sudah terbeli). Aman? Salah satu alasan pensiun dari jogging adalah karena beberapa kali saya diserempet spion mobil, bahkan pernah sampai terdorong ke dalam got.
Nah, jika menyangkut mobil, dan lampunya, memang ada saja yang sontoloyo. Pagi hari dan senja (sehabis hujan pula) ada saja yang tidak menyalakan lampu. Mereka pikir mobilnya (padahal hitam), akan segera terlihat oleh spion mobil lain maupun motor.
Anehnya, entah mobil yang sama atau tidak, pada malam hari ada saja yang norak: menyalakan lampu terang-jauh yang menyilaukan (apalagi dulu ketika xenon mulai musim), malah ada yang meniru mobil reli yang berbanyak lampu. Impian tak sampai untuk menjadi Colin McRae.
Di jalan tol, pengemudi mobil di depan akan tersilaukan oleh lampu norak melalui ketiga spion. Lebih norak lagi, saya beberapa kali menjumpai ada mobil yang berlampu jauh dan menyilaukan tetapi jalannya pelan. Banyak mobil depan yang menyangka si norak itu minta jalan.
Suatu malam di atas Jembatan Molek, yang melintasi Kali Sunter, yang merupakan batas DKI dan Jabar, saya pernah menghentikan motor saya di tengah. Dari arah depan ada jip Toyota FJ yang memakai lampu bertumpuk-tumpuk, menyala semua, sehingga saya hanya melihat sinar putih.
Pengandaian saya benar. Si pengemudi melihat saya, karena lampunya luar biasa terang, lalu meredupkan dan mengurangi nyala lampunya. Juga, lebih utama lagi, menghentikan mobilnya. Sebuah pengandaian yang nekat. Tapi pilihan saya waktu itu cuma dua: nyemplung ke kali atau berhenti.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Tahu Bacem February 8, 2012Temannya tempe bacem. Tapi paling enak itu ya bacem dengan tahu segitiga berkulit dan tempe mlenuk. Permalink | Leave a comment » […]postyorous menerous »»»
- Tahu Bacem February 8, 2012
Cicitcuit!- RT @didinu: @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 InkaSativa (Twinika Sativa F)
- @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 didinu (didinugrahadi)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Gunting untuk si Kidal
February 2, 2009 by AntyoTAK PERLU MEMAKSA SEMUA ORANG BERKANAN.
Tanpa sengaja saya tadi mendapatkannya di sebuah toko murmer. Gunting untuk orang kidal. Harganya Rp 25.000. Oh saya ingat, baru dua hari lalu saya ngobrol dengan orang yang berbeda tentang tangan kidal. Saya katakan bahwa beberapa teman saya yang bertangan kidal mengalami pendidikan yang buruk: oleh guru diarahkan [...]
Recent Comments
danang» milih golput aja ah..selama masih tokohnya itu2 ajah,,
Kaget» Apa kita nantinya ngga pada bingung Paman? kamus IT, kamus tehnik, kamus bahsa,….. kedepan akan muncul kamus2 lain. masalahnya cuma satu,… zaman sekarang yang serba sibuk melihat gadget, kapan buka kamus-nya?
mpokb» Aha, bagus nih buat rujukan.. Lalu entri semacam “kerudung wajib lapor” atau “jilbab Islam KTP”, masuk di kamus mana ya, Bang Paman? :D
askep» Saya sebagai salah satu pembuat karya di situ kok merasa tidak terkesan dengan kehadiran Foke dan pembantu2nya di situ. Oh, ada sih, saya terkesan dengan sulitnya ijin yang berbelit2, untuk acara yang mereka selenggarakan sendiri.
ewesewes» Beli ah!
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





accessory computer notebook…
accessory computer notebook intro article…
card credit processing terminal…
ka-ka-sh-ka 3451246 Relevant card credit processing terminal…
lampu reli di jalan raya.. bukti perilaku berdasar gaya mengalahkan fungsi.. :)
mobil nyalakan hati…,
kasih jalan dong kendaran kecil