Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Pinochet dan Tempik Sorak Rakyat

Selasa, 12 Desember 2006 @ 12:50 | Umum

BAGAIMANA DENGAN INDONESIA?

pinochetDiktator dan pembunuh itu meninggal dunia dalam usia 91 tahun. Sebagian rakyat Cile yang dendam kepadanya merayakan kepergian itu, dengan bonus penyesalan, “Sayang dia belum sempat dipenjara.” Begitu dia meninggal, semua kasus dan sangkaan terhadapnya ditutup oleh pemerintah.

Selain yang anti, tentu ada yang pro kepada Augusto Pinochet. Yang pro pastilah bersedih. Itu biasa, Dik.

Jika kita bicara tentang kepantasan, layakkah kita menari saat seseorang yang kita benci meninggal? Beda hati beda takaran.

Yang satu bilang, apa tidak boleh sakit hati yang memejal sekian lama dicairkan dengan keriangan sesaat?

Yang lain bilang, girang sih boleh saja tapi tak usah dinyatakan terbuka dan mencolok.

Yang lainnya lagi menyatakan, meski tak bersedih atas kepergiannya tak berarti kita pantas mendukung mereka yang merayakannya penuh suka cita.

Tentu masih ada suara lain, mungkin termasuk dari sebagian kalangan yang mengharapkan dia lekas meninggal agar urusan tak melebar ke mana-mana, “Ah sudahlah. Jangan membicarakan keburukan orang yang meninggal.”

Kasus Pinochet terjadi di Cile. Tapi dalam hal kejahatan terhadap kemanusiaan, batas negara bukanlah sekat terhadap nurani. Orang di luar Cile bisa dan boleh membenci Pinochet.

Sekarang tengoklah cara media di Indonesia memberitakan Pinochet. Berapa banyak yang menggunakan kata “meninggal”, dan berapa banyak yang menggunakan “wafat”. Bagaimana dengan “mangkat”? Ki Gugel bisa membantu.

Ada saja luka dalam sejarah, apalagi jika menyangkut tokoh. Ketika buku sejarah masih kita pegang untuk kita tulisi bersama, persoalan yang tampaknya sederhana tetap saja rumit karena menyangkut rasa. “Melupakan” dan “memaafkan” adalah dua hal yang berbeda tapi bertolak dari niat yang sepintas sama: membuka ranah kehidupan bersama yang lebih baik.

Mereka yang pro-pemaafan bertolak dari keyakinan bahwa kehidupan yang lebih baik hanya bisa dicapai dengan belajar dari kesalahan. Pintu maaf hanya bisa dibuka jika orang tersebut sudah dinyatakan bersalah (dan diganjar) melalui pengadilan yang berperikeadilan (bukan semata karena dendam maupun nafsu serigala mengerubuti mangsa), kemudian dia mengakui kesalahannya, dan meminta maaf kepada rakyat — bila perlu melakukan sesuatu untuk menebus kesalahan. Ketika dia meninggal, bolehlah diantar — bahkan dikenang — dengan segala kemuliaan.

Tanpa itu yang ada hanyalah dendam tak berkesudahan, dengan tambahan bukti maupun timbunan sangkaan baru, yang terus teracungkan kepada cucu demi cucu yang tak bersalah.

Tanpa itu — ya, pemaafan — kita akan meniti jalan berpagar kesumat, sambil berharap semoga sang pagar segera lapuk dimakan waktu, tapi harapan tak kunjung terwujud. Sungguh tak sehat.

© Ilustrasi: www.histoire.fr

Ada 28 komentar | trackback | Depan

#28

Minthi | 28 02 2007 @ 14.36.20

test ….


#27

pekok 2 | 13 01 2007 @ 3.51.08

tentu aja kowe dendam wong kowe ra entuk duwite olehe maling, coba kowe putune atau kronine lain soal ! pasti mingkem gak kebanyakan cocot! totoan! hahah munafik keparat! wes ah!


#26

Wong Indonesia GOBLOG GOBLOG | 13 01 2007 @ 3.48.27

yang dipikirin hartooooooooo aja mbok mikir nyari duit kayak org spanyol? gimana dape duit ygh banyak jadi pengusaha sukses. ini gek ngurusin orggggggggggggggg aja kayak gak punya kerjaan oooo lha wong pikirane cedak karo tempik alias ora adoh karo tempik yo ndez! pekok!


#25

kolep | 29 12 2006 @ 17.56.32

diktaktor ada karena ada yang butuh! :P


#24

a . b . k . » Blog Archive » Pinochet, Meninggal Versus | 21 12 2006 @ 14.57.23

[...] Tergelitik dengan posting Paman Tyo tentang meninggalnya Augusto Pinochet, pro dan kontranya. Sebelumnya tidak ada niat untuk blogwalking kesana tetapi Google Reader saya menuntun saya kesana. [...]


#23

iman brotoseno | 15 12 2006 @ 11.10.04

hm..anak cucu pinochet ada jadi pembunuh hakim, kawin sama selebritis, konglomerat, anggota parpol, selingkuh sana sini, nyuruh orang membunuh peragawati…


#22

dhany | 15 12 2006 @ 10.50.38

kalo pengen panjang umur, jadilah dik tator..


#21

tito | 13 12 2006 @ 19.06.52

pertanyaan yang sama dengan oon…


#20

blonty | 13 12 2006 @ 16.37.22

u/ bangsari: wah, kok ndonga elek to, kang ipul? yen si mbah iku pralaya, kita gak bisa weruh susahe wong iku, dong…..


#19

oon | 13 12 2006 @ 16.13.59

tempik? wot is the mining? :P


#18

Fernando | 13 12 2006 @ 15.13.37

semoga amal ibadahnya diterima dan dosa-dosanya diampuni. amin.


#17

kawula alit | 13 12 2006 @ 13.10.09

mesakake ya pinochet..

pirang wong yo sing bersorak? pirang dosa yo sing pindah nggon?

wong ngrasani menika lak nggih dosanipun ingkang dirasani dipun pek kaliyan sing ngrasani.. mekaten to paman…

halah yo uwis porah paman.. wong wong kuwi rak yo jane urip, madang, udud, ambegan ning jamane pinochet

tempik sorak keputus asaan orang chile..

nuwum nuwun..


#16

adi | 13 12 2006 @ 11.45.01

wah, pakdhe saru. ngomong temp*k barang :P. eh tapi kl alda risma yg OD itu sebaiknya mati, meninggal, wafat atau mangkat pak ?


#15

-f | 13 12 2006 @ 8.45.57

banyak yang dilupakan, lalu?
-
-
ada yang menghibur diri, tuhan tidak tidur.
-
-
-
bah!


#14

andrias ekoyuono | 13 12 2006 @ 8.32.50

Yang penting sih diadili pakdhe, toh setelah diputuskan tetap bisa diberi pengampunan berupa amnesti. Contohnya sih kayak di Korea Selatan. Akhirnya keadilan terwujud, tapi tetap tidak melupakan jasa mereka.


#13

bangsari | 13 12 2006 @ 8.11.31

semoga habis ini giliran mbah harto. kasihan. sudah terlalu lama dia hidup…


#12

budhe | 13 12 2006 @ 5.50.42

Tuhan tidak tidur. Tenang aja..semua pasti diitung.


#11

MaIDeN | 13 12 2006 @ 2.04.59

huss … ghibah ghibah .. bubar bubar … :P

… ternyata syusyah ya mbedain berita sama gossip :)


#10

Gabrielle | 13 12 2006 @ 1.36.52

penghukuman itu hak mutlak Tuhan. ya kita liat aja nanti kalo kita udah sama2 diadili suatu hari kelak di “sana”. percaya aja Tuhan itu adil & baik :)

neways, sebetulnya aku mo say thank you sama paman tyo. doain supaya ayah aku cepet sembuh ya :) thanks lagi deh! hehe…


#9

lantip | 12 12 2006 @ 23.43.04

saya sudah gak berani mikir ini pakdhe. sedangkan yang jadi korban keadilan saja (yang diculik dan lum tahu kabarnya, maupun munir, udin, marsinah, dll) tidak dipikirkan oleh bangsa ini.
Siapa coba yang masih mau bersuara untuk mereka? sementara komnas merekomendasikan pengadilan adhoc saja ditolak kejaksaan agung, dan masyarakat masih sibuk dengan isu esek-esek. hwaaaa *nangisdarahbombay*


#8

sawung | 12 12 2006 @ 16.16.45

eyang ga bakaln di adili sebab banya orang yang akan tersangkut masalalunya. Termasuk SBY masak saat 27 juli kasdam V tak tau gerakan pasukan, tak mungkin itu. JK juga bakal kena. Sebgian besar anggota DPR dan mentri bakaln kena juga. Maknnya tak mungkin eyang diadili :P


#7

Deny | 12 12 2006 @ 15.32.55

kayanya sih cerita seperti pinochet ini akan terjadi juga di negeri tetangga, entah kapan.


#6

Anang | 12 12 2006 @ 15.32.43

diktator satu telah pergi tanpa diadili… bagaimana kapan giliran soeharto diadili??


#5

dendi | 12 12 2006 @ 15.12.59

ya setuju. adili soeharto!
jangan sampai keburu mati.. eh meninggal.. eh mangkat..
kalo persidangan udah beres baru bicara soal maaf-memaafkan


#4

uklam2 | 12 12 2006 @ 14.55.59

lek si mbah kung asal kemusuk “sedho”, sampeyan naggap opo sam?


#3

evi | 12 12 2006 @ 14.29.22

walaupun presiden Cile yg sekarang menolak upacara kenegaraan bagi Pinochet, tp masih boleh mengibarkan bendera setengah tiang. Yg menandakan Pak Pinochet ini seorang tokoh, terlepas dari jahat atau tidaknya orang ini.


#2

mpokb | 12 12 2006 @ 13.58.34

terlalu banyak yg berutang budi sih, jadi banyak yg melindungi. lagian sungkan, takut kualat. raja gitu loh…


#1

Memet | 12 12 2006 @ 13.18.28

Sebuah pembacaan yang menyentuh. Semoga, Pak Harto mau membaca tulisan ini.