Berangkat Gelap Pulang Gelap
SERBAKLISE. TAHU-TAHU AYAH JADI BREWOK.
Seorang anak heran mengapa kulit ayahnya tetap hitam padahal tak pernah dibakar Matahari. Ayah dan bundanya (yang berkulit terang) berangkat menjelang fajar, saat si bocah masih memeluk guling, dan dalam sisa mimpi dia hanya ditinggali ciuman.
Malam, paling awal pukul setengah delapan, barulah ayahnya tiba di rumah. Bundanya lebih awal, sore menjelang pukul lima sudah tiba. Si bocah berkesimpulan ayahnya takut pada Matahari. Untung dia belum mendengar dongeng salah kaprah tentang Drakula yang takut pada mentari.
Seorang ibu di Jawa Tengah tak habis pikir kenapa anak-anaknya yang bekerja di Jakarta jarang bersua. Anak-anak modern itu mengulang kisah kakeknya waktu kecil, yang berangkat ke sekolah dari desa ke kota saat gelap. Bedanya, si kakek dulu sudah tiba di rumah menjelang magrib.
Ah, cerita klise! Tentang mereka yang bermukim di pinggiran bahkan luar Jakarta. Sama klisenya dengan kakak-beradik di salah satu titik Bodetabek yang hanya bersua saat sarapan.
Saat sarapan pula si mbakyu baru tahu bahwa potongan rambut adiknya sudah berubah — padahal ke salonnya tiga hari lalu. Saat yang sama si adik perempuan juga baru tahu bahwa baju mbakyunya itu anyar — padahal sudah dipakai pekan lalu. Pembantu lebih merasakan perubahan harian penghuni rumah.
Itu semua klise. Sudah lama berlangsung. Sebagian dari pekerja, yang lahir dan tumbuh di Jabodetabek, dibesarkan oleh orangtua yang jarang menyapa Matahari.
Dari tahun ke tahun, sebagian orang berangkat lebih awal — setidaknya lima menit lebih dini — atas nama alasan yang juga klise: menghindari kemacetan.
Pulangnya, dari tahun ke tahun, lebih lambat dengan alasan yang sama klisenya: karena kemacetan. Ada juga calon klise baru: selagi menunggu kemacetan terurai, ya chatting dan blogwalking.
Tak semua orang sanggup membeli rumah maupun apartemen di tengah kota. Terpelanting ke pinggiran adalah sebuah keterpaksaan dan akhirnya ketelanjuran. Pengeluaran (ter)besar adalah untuk transportasi, itu juga cerita klise. Waktu terbesar terbuang di jalan, sehingga makin berkurang waktu untuk membaca, itu sungguh klise.
Yang penting kualitas pertemuan dengan anak, bukan kuantitasnya (durasi dan frekuensi), itu pun dalih superklise. Kenapa suami-istri jarang ketemu dalam keadaan bugar tapi bisa punya anak lebih dari satu, itu juga pertanyaan klise (dari kaum lajang) yang penuh rasa ingin tahu.
Dari yang serbaklise itulah anak-anak tumbuh, dengan pengasuhan yang memohonkan pemakluman. Kalau saja makin banyak anak kecil yang ngeblog, dengan maupun tanpa sepengetahuan orangtuanya, keluh-kesah mereka mungkin akan lebih terdengar. Kalaupun bukan keluhan barangkali ketakjuban: setiap akhir pekan ayahnya sudah agak brewok.
Tapi jika sejak Senin sudah brewok, lantas saat pulang pada akhir pekan sudah klimis (apalagi dengan bau aftershave lotion yang berbeda), ibundalah yang akan takjub. Naluri detektifnya terbangunkan. ;) :D :P
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Gus Dur
January 2, 2010 by AntyoMEMANG PAHLAWAN KOK…
Saya baca di Koran Tempo, bahwa Ketua Fraksi Golkar di DPR-RI Setya Novanto menyatakan pihaknya setuju Gus Dur diberi gelar pahlawan nasional, dengan syarat Soeharto juga diberi gelar serupa. Setya mengingatkan, Gus Dur dulu menzalimi partainya karena mengusulkan pembubaran Golkar.
Ada dua hal yang harus dicermati. Pertama: saya tak menggunakan kutipan langsung, [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Wah, sama nih… *mikir* … ya begitu kali ya perjuangan untuk menafkahi keluarga, takutnya kurang perhatian sama anak.. ya jadi kayak pilem sinetron dong
mereka berjuang keras..
menguras keringat tapi ada hasilnya?
dya cuma bilang terima kasih atas dirimu untuk ku..
percuma untuk bangga dgn hasil hanya seonggok sampah yang slalu di lupakan oleh semua org..
Mencari segenggam intan berlian di ibukota emang penuh perjuangan. Bayangin, Pulang Pergi ngantor ngabisin 4 jam, karena muaceeet!! Pantesan orang Jakarta pada tua di jalan :0 Salam kenal ya Mas, dari seorang kuli tinta amatir :p
Mencari segenggam intan berlian di ibukota emang penuh perjuangan. Bayagin, Pulang Pergi ngantor ngabisin 4 jam, karena muaceeet!! Pantesan orang Jakarta pada tua di jalan :0 Salam kenal ya Mas, dari seorang kuli tinta amatir :p
Mencari segenggam intan berlian emang penuh perjuangan. Bayagin, PP aja udah ngabisin 4 jam, karena muaceeet!! Pantesan orang Jakarta pada tua di jalan :0 Salam kenal ya Mas, dari seorang kuli tinta amatir :p
[...] Tulisan lain tentang kerja: Berangkat Gelap, Pulang Gelap [...]
[...] Aggregated from paman tyo by Asian Blogger Community [...]
[...] Tulisan lain tentang kerja: Berangkat Gelap, Pulang Gelap [...]
Ini termasuk saya ya pakde,maklum tinggal di cibubur dan kerja di Thamrin, berangkat pagi2 jam 6 n pulang jamnya gak tentu, tapi gak pernah kurang dari jam 8, apalagi kalo mikirin jadwal yang padat :-( ..Tapi ini kan namanya lelakon to pakde ?