PERIHAL PECINAN BARU.

artis mandarin dan canto-pop

Lihatlah iklan Kelapa Gading Square dan Bukit Golf Mediterania (Pantai Indah Kapuk). Keduanya adalah bagian dari pecinan baru, yang berada di mulut naga yang menghadap ke Teluk Jakarta. Garisnya membentang dari Teluk Naga, Kapuk, Pluit, Muara Karang, Ancol, sampai Kelapa Gading. Itulah wilayah yang menurut fengshui bagus.

Maka bagi saya wajar saja jika acara Minggu 17 Desember di kedua tempat itu bertemakan hiburan mandarin. Akan aneh dan nggak nyambung jika pengembang dan event organizer menghadirkan campursari Didi Kempot dengan MC Thukul Arwana. Beda pasar, beda kultur. Sebaliknya, menghadirkan hiburan mandarin di pedesaan Gunungkidul, DIY, untuk promosi sebuah produk, juga akan aneh.

Baiklah, untuk soal hiburan — sebagai bagian dari paket pemasaran — sudah jelas persoalannya. Tak ada yang aneh.

artis mandarin dan canto-pop

Tapi mengapa sampai ada pecinan baru? Bagi saya ini tak terhindarkan. Sudah jadi naluri manusia untuk berkelompok atas persamaan tertentu, termasuk etnisitas.

Tanpa harus merujuk sejarah kolonial mengapa sampai ada Kampung Bali, Kampung Melayu, dan Koja di Jakarta (juga Pondok Cina di Depok), kita melihat pengelompokan etnis tertentu kadang bertolak dari ekonomi. Ada beberapa titik di Jakarta yang berisi sejumlah orang Madura karena merekalah yang “membuka” wilayah itu dengan berdagang kayu bekas peti dan besi tua.

Ada pasar yang diisi oleh banyak pedagang Minang, begitu pula kantung permukiman tertentu di sekitarnya. Ada pula kompleks pasar dan terminal yang bercitrakan Batak, padahal tak semua pedagang maupun sopir angkot di situ orang dari Tapanuli.

Jika titik tolaknya adalah sektor informal, maka pembiakannya berlangsung alami. Merekrut saudara sekampung, melalui pemagangan, adalah hal yang lumrah. Setelah lulus, pemagang pun mandiri, lalu mengulang pola rekrutmen yang sama.

Maka wajar saja jika banyak kios angin dan tap oli yang dimiliki oleh orang Batak. Begitu pula keagenan media cetak. Contoh lain adalah warteg (tentu wong Tegal), martabak orang Brebes, dan tenda sari laut orang Lamongan.

Sejauh ini tak ada masalah. Mungkin karena pertalian bisnis orang Minang, Batak, Madura, dan lainnya tadi tak membuahkan permukiman (yang akan dianggap) eksklusif. Nah, bagaimana dengan permukiman tertentu, termasuk apartemen, yang diisi oleh banyak orang C(h)ina?

iklan pik dan kelapa gading square

Jejak sejarahnya lebih panjang. Yang namanya chinatown biasanya bukan hanya hunian melainkan juga toko. Ketika tempat lama tak lagi memadai, maka permukiman terdekat akan diisi. Tidak aneh. Ini manusiawi.

Jika permukiman baru tadi juga kian sesak, maka pengembang akan membuatkan perumahan. Pertimbangannya sangat bisnis: kalau ada orang butuh hunian dekat tempat usaha, ya tinggal dibikinin lalu dijual.

Karena perumahan baru untuk kelas menengah ke atas itu mahal, maka yang sanggup membeli hanya yang berduit. Kebetulan yang punya duit, dan cocok dengan lokasi (dekat pusat bisnis), adalah orang C(h)ina tertentu. Masih lebih banyak lagi orang C(h)ina yang tak sanggup membeli rumah bagus dan apartemen dekat tokonya. Oh ya, juga tak sedikit orang C(h)ina yang tidak mengharuskan diri bermukiman di lingkungan pecinan.

Memang ada rasan-rasan, kantung permukiman yang menjadi pecinan baru itu terkesan eksklusif. Bukan eksklusif dalam arti formal, yaitu hanya membolehkan pemukim berdarah C(h)ina dengan ciri-ciri fisik stereotipikalnya, melainkan eksklusif dalam arti homogenitas. Sepenuhnya homogen? Nggak juga. Banyak juga pembantu, sopir, tukang kebun, dan satpam yang non-C(h)ina.

Apakah pemerintah harus mengatur persebaran hunian warga secara etnis? Husss, memangnya negeri ini peternakan? Hak setiap warga negara untuk memilih tempat tinggal masing-masing.

Hak setiap orang untuk hidup berkelompok. Maka ada pula kompleks perumahan yang berlabel “islami” (bukan berlabel “muslim”), yang ditawarkan kepada publik (bukan perumahan karyawan lembaga keagamaan), sebagai upaya pewujudan kehidupan bersama yang lebih baik sesuai spirit Islam.

Tak berarti orang nonmuslim dilarang bermukim di situ kan? Setidaknya dalam pengandaian saya, lho. Rumah sakit Islam dan kedai masakan muslim juga tak menolak pasien maupun pengudap nonmuslim kan?

 

35 Responses to Parade Artis Mandarin

  1. Fany INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    hmm kayak kampusku (binus) dulu.
    Pemiliknya cina, sebagian besar cina, tapi memang bukan berarti yg noncina gak bisa masuk situ :) gak ada aturan gt.
    setelah dijalani ya biasa aja, secara saya bukan cina..

  2. alamak! INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    wusyyeett…
    contoh org batak, kok kios angin + tap oli, paman…
    sekali2, ambil pengacara contohnya…
    biar keren sikit…
    he..he..

  3. sawung JAPAN Mozilla Firefox Windows says:

    coba main-main ke medan om liat gimana china disana.
    kalo saya di bks sih ok2 aja tinggal di kampung sebelah pecinan. Bahkan saya belajar ngajinya dimadarasah di pecinan

  4. Mira INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    Saya bukan keturunan Cina, tapi bertahun-tahun saya berdiam di perumahan yang 99% penduduknya Cina, dan rasanya nyaman-nyaman saja, tidak pernah ada masalah, selama kita bisa saling menghormati dan hidup bertetangga dengan baik, saya pikir kita bisa hidup dan tinggal dimanapun.

  5. Po INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Untung pake istilah “Mandarin” bukan Pecinan :D

    Di kantor, pengucapannya kudu Chai-na -ala inggris- ndak boleh Ci-na.
    *pecinan = pe-chai-nan huihihihi*
    Hasil rapat redaksi.
    Karena konotasi Ci-na dianggap ‘miring’ jadinya di bikin Chai-na.

    Betulkah pakDhe?

  6. budiw INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    paman, jgn marah ya..
    sayakan masih komen diblognya paman, berarti bukan seleb…

    –budiw

  7. nila INDONESIA Opera Windows says:

    naluri kali paman…..
    ga bisa dibo’ongin kan kalo kita merasa comfort sama org sedaerah…apa lagi diperantauan….

    tinggal….naluri bersosialisasinya….harus dipupuk jangan sampe menganut paham etnisitas juga…..

  8. venus INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    kalo orang jawa cenderung lbh sering ngumpul dengan sesama wong jowo, etnis cina dengan sesama keturunan cina, madura dengan madur, barangkali itu cuma masalah kenyamanan saja kok, mas. mungkin lho ini :D

  9. kardjo INDONESIA Opera Windows says:

    kalau itu bisa dipakai sebagai jurisprudensi utowo dogma utowo hipotesa utomo kesimpulan, berarti bisa diartikan kumpul berkelompok sesama jenis itu lebih aman. Kebo karo kebo. Wong lanang karo wong lanang, wadon karo wadon. Bener bigitu? (Soalnya kalau laki ama perempuan kumpul, pasti eng-ing-eng)

  10. didats KUWAIT Mozilla Firefox Windows says:

    iseng amat main ke kelapa gading yang jauhnya naujubile dari kebun jeruk…
    hihi…

    gag sekalian ke sumur batu pakde?
    :D

  11. oon INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    tumben pake huruf latin, biasanya pake huruf c(h)ina.

  12. berlaku untuk genre musik gak ya? saya penggemar musik rock, tapi bukan berarti saya benci dangduters atau jazzers lho. saya keturunan jawa lahir di jakarta, tapi saya suka asia carrera. halah.. :D

  13. udin INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    mungkin akan terasa lebih nyaman jika orang kumpul dengan sesamanya. cobo sampeyan wong jowo, aseli salatiga, ketemu sesama orang dari kampung anda itu yang tengah kehabisan bekal di jakarta. atau sampeyan lagi keluar negeri, misal ketemu sesama orang indo, ketemu sesama orang islam? begitu pula yang dirasakan orang china itu, akan muncul sentimen ketika bertemu dengan sesama etnisnya. jadi bukan melulu masalah mayor-minoritas. lak nggeh mekaten to om?

  14. MaIDeN INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    model genre-genre kalo diblog itu ya om …
    Yang jadi masalah (klasik), minoritas tinggal di mayoritas. Orang arab tinggal di pecinan, dst … trus nggak bisa bawa diri, jadilah itu yang klasik-klasik :)

  15. budhe INDONESIA Opera Windows says:

    Artis Mandarine kok gak onok sing ngetop, Man? Coba kalo yg dateng Chen-Chen, Lin Ching Hsia, Chin Han atau Teng Kwang Yung, saya mau dateng deh.. he..he..

  16. Lita INDONESIA Mozilla Firefox Mac OS says:

    Waktu mau ke MKG, sempat terheran-heran juga lihat spanduk besar itu. Ditambah lagi di MKG memang pengunjungnya kebanyakan orang-orang keturunan Cina.

    Bukan rasis. Sekadar heran boleh dong :p Dan rupanya, kata ibu, Kelapa Gading memang mayoritas penghuninya adalah warga keturunan Cina, sejak dulunya (sejak kami masih tinggal di sana).
    Walah… saya malah baru nyadar sekarang :)

  17. om7ack INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    wah.. paman suka ke kelapa gading ya? mampir ke tempatku paman..

    paman: rumahmu di kpl gading jack?
    jack: bukan, di pinggir-pinggirny akan ada kampung tuh, nah di situ deh :D

  18. faza MALAYSIA Mozilla Firefox Windows says:

    Kalo di Malaysia komplek perumahan diharuskan menjual sekian persen rumahnya(lupa) untuk Bumi Putera dan harganya diharuskan discount pula..Agar pembauran terjadi tujuannya.

  19. kawula alit INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    segregasi ya paman..? kampung wong kenthir durung ono ya paman..

  20. budiw INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    paman,

    gak taun baruan di sby?

    –budiw

  21. Mbah Dipo INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    berkelompok gak masalah, asal gak jadi seperti zionis dan para pembantunya itu…

  22. Gabrielle INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    LOL itu “Santa Claus” termasuk artis Mandarin jugakah?” :D

    Btw, menurut saya, istilah “pecinan” itu memang lebih umum. Kota-kota besar dunia kebanyakan memiliki “pecinan” (China town), dan memang meskipun ada komunitas untuk warga keturunan yang lain-lain, tetap belum ada istilah “Arab Town”, “Java Town”.

  23. agusset GERMANY Mozilla Firefox Windows says:

    haiya… kenapa cuman pecinan yang ngetop di mana-mana? padahal ada juga kan komplek yg mayoritasnya orang keturunan arab, orang bule, dll. lha istilahnya juga cuman ada pecinan, gak ada pebulen, pearaban, pejawan, dll. :))

  24. Blogguebo JAPAN Internet Explorer Windows says:

    Saya senang dengan gaya menulis Paman. Ringan. Mengalir. Berkalimat pendek-pendek. Tapi tetap cerdas. Ngomong-ngomong soal kalimat pendek, saya juga menulis soal itu di blog saya. Silahkan berkunjung jika berkenan.

  25. baca ini jadi ingat kalau akhir tahun 2006 sudah dekat..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.