Berair-air Kita tapi tak Pernah Paham
PAPARAN SEORANG ILMUWAN YANG BLOGGER.
Siapa juga yang mau jadi The Mariner (Kevin Costner) dalam Waterworld.
Kakinya berselaput, kupingnya kayak punyanya ikan, minumnya dari sulingan pipisnya sendiri. Tapi itulah hasil adaptasi untuk bertahan hidup sampai menemukan daratan. Kurang air kita susah. Kebanyakan air kita bingung.
Air. Tepatnya air tawar. Dulu, sebelum manusia bisa menggali sumur, air tinggal diambil dari sungai dan telaga. Maka wajar bila situs purbakala banyak berada di pinggir sungai. Peradaban dibangun dari girli (pinggir kali). :D Kantor saya memasang majalah dinding di dekat dispenser — memindahkan forum tepian sungai warga desa.:D
Kemudian saluran irigasi adalah potret kemajuan. Suku bangsa yang telah bersawah basah dianggap maju karena telah mengenal cara berorganisasi, termasuk mengorganisasikan kekuasaan agar orang tak saling bunuh gara-gara berebut air untuk sawah.
Embrio kerajaan dibangun oleh pendiri dinasti yang mempersatukan sejumlah desa. Entah benggol kecu atau titisan dewa — bisa jadi gabungan keduanya — pastilah dia orang kuat. Masih bermain basah, pentolan lanun dan perompak yang tangguh juga bisa jadi penguasa.
Kerajaan yang kuat pasti tahu cara bermain air, baik di darat maupun laut. Majapahit adalah sebuah contoh.
Kita butuh air. Kita hidup bersama 1,4 miliar meter kubik air (termasuk air tanah dan air laut). Tapi air tawar yang terbarukan baru sekitar 2,5 persen dari total air dunia.
Sekarang musim hujan. Dan kita berlomba-lomba mendangkalkan selokan. Di pinggiran Jakarta banyak jalan yang jangankan punya got dangkal, malah gotnya pun kadang terputus, teruruk oleh tanah dan beton.
Kalaupun got lancar, itu adalah kesempatan untuk membuang semua air hujan ke laut. Air dari atap dan talang rumah kita salurkan ke got depan rumah. Begitu pula air limbah cucian dan kamar mandi. Jangan sampai ada yang kembali ke tanah.
Ternyata kita tak mengenal air dengan baik. Sejak dulu saya punya impian, andaikan halaman rumah kita terlalu sempit untuk diisi sumur resapan, mestinya setiap empat rumah di kampung dan kompleks hunian punya satu resapan di tengah jalan. Setelah berlimpah biarlah airnya masuk ke got. Sayang banyak lurah tak mau memikirkannya.
Saya membayangkan alangkah bagusnya bila pengembang membangun telaga penampung air di kompleks perumahan. Bikinlah lapangan tenis yang melembah, agar setiap kali banjir sebagian air tertampung di kolam dadakan itu.
Kita, tepatnya saya, tak mengenal air dengan baik. Untunglah ada cendekiawan yang mengingatkan. Dialah Pak A. Hafied A. Gany (62), hidrolog yang pakar sumber daya air, konsultan senior di Departemen Pekerjaan Umum. Ayahanda dari La Rane Hafied Gany (JaF) itu menulis buku tentang air. Ilustrasi sampul dia rancang sendiri.
Kenapa ada bendungan jebol? Menurut Pak Gany, itu karena desain debit maksimum ditetapkan dengan periode ulang yang rendah. Ketika terjadi banjir besar 50 tahunan, maka bendungan yang telah mendangkal itu tak tahan. (Renungan untuk Pembelajaran Masa Depan, hal. III-67).
Air untuk semua orang. Sebagai sumber daya, menurut penyederhanaan saya terhadap pokok pikiran Pak Gany, penanganannya harus menyeluruh, tidak bisa setiap pihak mau menangnya sendiri. Demokra(tisa)si juga berperan. Kearifan lokal dalam menyangga lingkungan juga harus dihormati.
Karena air menyangkut hajat hidup orang banyak, maka Pak Gany menyodorkan keseimbangan iptek dan “kesalehan sosial”. Apa itu? Pemanfaatan air yang dituntun oleh hati nurani (hal. VII-2). Bukan mumpung ada air dan ada kesempatan berikut alatnya lantas menguras air habis-habisan.
Terima kasih banyak Pak, atas hadiah buku ini. Saya percaya Anda (dan tim Anda) akan terus berkarya untuk berbagi ilmu, terutama untuk masyarakat awam, dengan bahasa yang lebih merakyat.
JUDUL: Sumber Daya Air: Misteri, Sejarah, dan Teknologi di Baliknya • PENULIS: A. Hafied A. Gany • PENERBIT: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air, Bandung, November 2006 • TEBAL: xii + 304 halaman • HARGA: ?
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Kuping Kuno, Kuping Modern
September 3, 2008 by AntyoPAKET MUSIK LAWAS VERSUS KEMASAN MP3.
“Hari gini beli CD player, tuner, amplifier, sama segala macemnya? Jadul banget itu orang. Nggak beda ama petani yang beli kompo segede badak,” kata seseorang tentang orang lainnya. Menurutnya, tuntutan hari ini adalah format MP3 dan sejenisnya, yang disetel di komputer dan pemutar musik digital yang dilengkapi radio. [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





air sebenarnya akan mencari bentuk keseimbangannya sendiri, banjir, kekeringan dan sejenisnya yang terjadi saat ini merupakan reaksi yang ditunjukkan, begitulah bentuk keseimbangan air saat ini. Dahulu sebelum alam semesta ini dieksploitasi bentuk keseimbangannya mengalir, meresap, menguap sesuai forsi dan takarannya masing-masing. Dan saat ini manusia tidak tahu dan memang tidak mau tahu tentang keseimbangan alam itu sendiri, tetapi setelah alam mencari bentuk keseimbangannya sendiri baru tersentak, secepat kilat membentuk tim nas pengendali,dan yang menggelikan saling menyalahkan……. Klo masih ada sisa bukunya dong……… thanks
Listrik boleh mati, tapi kalau air ikut mati, dalam hitungan detik saya langsung memutuskan utk ngungsi.
waterworld, filem berbiaya mahal yang nggak mahal isinya …
isi buku dengan judul apa nggak terlalu berat tuh ? kebanyakan maksutnya … membahas misteri air, sejarah air dan teknologi air …
ada yang bilang itu air butuh waktu puluhan tahun untuk jalan dari akar pohon hutan di lereng merapi sampai bisa keluar dari sumur galian di kota jogja.
Eh, ada papah hehehe…
Baru kemaren ketemu beliau. Titip salam katanya. Wah minggu ini saya nemu dua orang yang memuji2 si mbah kiy..
Satu Om Benny Chandra yang sampai memajang blog si mbah dalam seminar blog di Surabaya minggu kemaren. Kedua ya si papah kui.. kekekekk..
Wah seleblog yang satu ini.. (eh masih boleh di komenin kan hehe)