Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Tali Kutang Lepas di Pasaran

Selasa, 09 Januari 2007 @ 16:13 | Lihat Baca Dengar

PEMBIARAN PEMBAJAKAN OLEH ARTIS LOKAL.

orkes sanjaya badongDalam panas mentari pukul satu siang, lelaki itu berkaraoke campursari. Cukup di trotoar, di depan lapak VCD bajakan. Teliti sebelum membeli. Bernyanyi sebelum bayar VCD. Itulah yang saya lihat di trotoar pertokoan Salatiga, Jawa Tengah.

Saya tak ikut menyanyi karena tak kenal lagunya. Lebih penting lagi: tak kenal si pembeli maupun penjual VCD, lagi pula saya ogah jadi tontonan siang hari. Saya hanya melongok sampul-sampul VCD campursari.

Malamnya, di rumah kakak, barulah saya ngeh, ternyata VCD campursari tak hanya berupa karaoke. Ada rekaman show, dari pentas di desa-desa, sebagai bagian dari hajat pengantin sampai syukuran warga.

Campursari — yang mengaduk dangdut, pop, dan tembang Jawa — dipentaskan dalam pelbagai gaya. Dari yang tenang membosankan sampai atraktif banyak gerak. Apalagi jika ditambahi ramuan house music. Grup yang lagi ngetop misalnya Sanjaya, Exposs, O.M. Pantura, Putra Dewa, Bram, O.M. Prima, dan Sakatto.

Saya teringat pengalaman pertama “mengenal” Inul. Dulu, ketika Inul mulai dikenal, tapi belum menjadi seteru Rhoma Irama, saya belum tahu. Baru ngeh setelah kawan saya memutarkan klip di komputernya. Klip dari sebuah pentas kampung. Melihat goyangnya saya tertawa. Lucu dan hebat, kata saya. Hot, kata teman saya.

Saya dulu juga tak paham ketika lapak Glodok menjajakan VCD “organ tunggal Perbaungan”. Setelah membaca Kompas barulah saya ngeh.

Dari sejumlah keping kemarin saya tahu sosok Trio Macan. Selama ini saya hanya kenal nama, dan lihat tampang mereka di koran, tapi belum pernah melihatnya di TV. Dari footage itu saya melihat sebuah atraksi yang suitsuit-ehm-cegluk-glek hwarakadah dari tiga wanita energetik. Ingatan saya melayang ke Mangga Besar.

“Apa di TV mereka juga berani kayak gitu?” tanya saya.

“O, ndak. Yang di TV itu belum ada apa-apanya,” kata sang pemilik VCD.

Rekaman video itu diambil pada 2005, ketika si trio belum masuk TV nasional, masih ngider dari desa ke desa.

Tontonan meriah itu, siapa pun artisnya, ada yang dipentaskan siang bolong, ada pula yang tengah malam. Bahkan dalam pentas dini hari, tampak bocah-bocah berseliweran di atas panggung, sementara pengantin pria terkantuk-kantuk. Sesekali tampak polisi di sekitar panggung.

Dari sejumlah VCD itu saya paham satu hal. O, bukan. Bukan paham. Tepatnya, saya berprasangka tentang satu hal. Baik si artis maupun label membiarkan pembajakan dokumentasi untuk kepentingan promosional. Tak kenal maka tak ditanggap.

Dokumentasi? Ya. Inilah teks yang tertayang: “Pernikahan Sumadi & Siti Sofiatun, di Rumah Pak Damin, Pengkolrejo, Japah, 31 Mei 2006″. Ada pula “disklaimer”: untuk kalangan terbatas, bukan untuk diperjualbelikan.

Membiarkan pembajakan? Ini bukan hanya prasangka saya, tetapi tuduhan tanpa semena-mena. Yah, saya tak menanya mereka maupun “pengamat”, sehingga ambil kesimpulan mentah semaunya.

Ada saja MC, bagian dari band, yang menyebut klip terdahulu “telah lepas ke pasaran” dengan nada suara — yang menurut kesan saya — mencerminkan kebanggaan.

Bootlegging? Tak sepenuhnya begitu, karena artisnya sadar sedang direkam saat berpentas. Bahkan nama jasa video shooting dan sewa sound system pun tertera, lengkap dengan nomor telepon. Berbeda dari dagangan sok bootleg (katakanlah seperti ELP), artis campursari tak memetik royalti.

VCD campursari yang mementaskan lagu Tragedi Tali Kutang, dalam duet yang penyanyi prianya memainkan bra strap untuk mencandai penyanyi wanita, mengingatkan saya pada cerita tentang pentas rakyat di pedesaan pinggir hutan jati.

Kalimat panjang tadi saya maksudkan untuk menunjuk ronggeng, tayub, dan sejenisnya. Goyang campursari, yang tampaknya tanpa ciu — hanya ada Coke dan Fanta — tinggal meneruskannya. Ada erotisisme, dan masyarakat lokal menenggangnya. Tampak dalam tayangan, beberapa ibu dan nenek ikut menonton.

Setiap masyarakat punya ukuran sendiri apa yang pantas dan sopan secara situasional. Dalam pengandaian saya, goyang ala artis di halaman rumah tanpa ada pesta akan mereka anggap aneh, tak sopan, dan tak menghibur.

Ketika saya mengedit cuplikan video, istri saya hanya tertawa. “Wuihhh… bodinya boleh tuh,” katanya. Kedua anak saya cuma melihat sepintas. “Ah, Bapak…” kata si sulung. Mereka menganggap ini video aneh.

Artis: Suci & Sanjaya • Lagu: Karmila (Farid Hardja) • Acara: Tasyakuran Bapak Sudardji, Randublatung, 12 September 2005

Diambil tanpa izin dari Sanjaya 68
© Ketut Sanjaya & J-Kom Wirosari

Ada 59 komentar | trackback | Depan

#59

kidee | 12 06 2008 @ 19:59:08

kirim dong video goyangan yang pake buka dada tuh…..
kayanya asik & hot tuh..
thanx nich sblmnya.


#58

kidee | 12 06 2008 @ 19:55:46

kirim dong video goyang yang pake buka dada tuh, kayanya hot tuh…
please ya…
thanx sblmnya nich


#57

blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » PTO: Pretelan tapi Oke | 19 12 2007 @ 4:11:21

[…] Kabarnya untuk menanggap campur sari dan dangdut alas jati, banyak hal bisa dinegosiasikan. Kalau anggaran terbatas ya cuma beberapa musisi yang mentas, dengan syarat ada penyanyi bergoyang. Yah kayak duit cupet nggak bisa mendatangkan orkestra komplet maka cukup musik kamar saja. […]


#56

sujarno | 06 12 2007 @ 9:36:10

saya minta dikirimi lagu campursari lagunya ”keremunggah bale”


#55

Ngadino | 22 11 2007 @ 21:31:02

Aku sangat kecewa situs ini mau downloads foto,lagu maupun film selalu NGGAK BISA,cuma habìskan pulsaku.buat temen2 JANGAN BUKA SITUS INI CUMA BO’ONGI KAMU juga menghabiskan pulsamu tapi tak hasilkan apa2.081548332504


#54

mahmud | 03 11 2007 @ 22:10:11

apik tenan


#53

jundi | 20 10 2007 @ 23:19:44

minta vedeo pentas panggungnya dong


#52

bayu | 20 09 2007 @ 10:02:19

setuju eko, sing penting asyik
menghibur dan gak membuat rakyat resah

yang gak suka dangdut, melayu, koplo atau musik yang bisa menggoyang ….. go away


#51

eko priyanto | 12 09 2007 @ 14:48:32

biarkan aja yang penting asyik dan menghibur.
soal harga pasti murah, 10.000 per keping dan kita pasti puuuuuuuuuuuuuuas. piss rek!!!!


#50

juragan | 03 08 2007 @ 10:26:46

saingannya INUL..


#49

ibink | 06 07 2007 @ 0:08:15

sbgai org jwa yg moderen w salut..
mereka punya kelebihan tuk ber nyanyi and goyang yg bsa menggeboh kan ,,,terbukti cd2 mrka laku keras..
“jgan takut tuk berkreasi”


#48

Yusuf | 07 06 2007 @ 17:26:17

seng luwih suwi ono ga?


#47

farid | 11 05 2007 @ 23:09:32

aneh jg ngapain joget sambil tiduran…. apa semalam barusaan begadang…jd kurang tidur…apa malah nglembbur…hehehehehe…tapi assoy geboy…tuh goyangannya…


#46

Tanju | 03 05 2007 @ 17:00:45

Numpang tanya ada gak sih blog yang membolehkan kita ngobrol sejorok2nya. Vulgar and ngeres habis. Tolong kasih link nya ya… Trims.


#45

duren69a | 14 04 2007 @ 17:52:40

minta lagu dangdut campur sari donk


#44

aprilian | 05 04 2007 @ 10:12:06

kalau mau download mp3nya ada nggk


#43

aprilian | 05 04 2007 @ 10:10:44

emang berapa duitnya kalu pengen dapet vcd atau dvdnya
di palembang blm ada tuh
piro mas harga ne
mahal ora kalau mahal mendingan nggk usah


#42

tongue brown zithromax | 25 03 2007 @ 10:36:38

tongue brown zithromax…

news…


#41

KORAN2AN.info » Koran Ndesit Wong Gumunan | 24 03 2007 @ 13:15:34

[…] Tapi nanti dulu, haruskah koran ndesit yang gumunan selalu tampil rural dan tertinggal? Tentu tidak. Lihat saja pentas dangdut di pedesaan yang semakin mengota dalam sebagian gaya. […]


#40

ARIS | 29 01 2007 @ 9:42:06

ADA YANG LEBIH PARNO GA??????


#39

ARIS | 29 01 2007 @ 9:40:39

YANG KAYAK GINI KOK MESTI BANYAK KOMENTAR YA….
KIAMAT UDE DEKAT EMANG


#38

Charly Silaban | 17 01 2007 @ 17:30:42

Hahaha.. “Organ Tunggal Parbaungan”
“Goyang Ular Karo” dah pernah liat blom Om ? Inul mah bornya lewat !!!


#37

maya | 15 01 2007 @ 14:59:03

inul kalah telak kalo gitu :D


#36

ndoet | 15 01 2007 @ 8:06:08

indy label tho qqqqq


#35

bedhez | 12 01 2007 @ 20:33:40

Hua…ha…ha…
Pakdhe…
Pakdhe…
(Eh … nyuwun sewu, kemekelannya kebablasen)


#34

joni jontor | 11 01 2007 @ 18:45:57

hahaha man paman, perjalanan religiusnya unik, hehehehe, kalo bisa dibilang perjalanan religius.
selain selain goyangnya, suara juga kadang2 asoy. ayo maaang

heheheh, hati2 paman, jaga pandangan. Kalo dipasar mungkin malu, pas ngeditnya menikmati tapi :((


#33

dhany | 11 01 2007 @ 16:07:57

tak selamanya bajakan merugikan oran khan..!!!
buktinya iiinnnuuulll…
saiki wonge nang endi yo…???


#32

ndah | 11 01 2007 @ 13:11:18

wah dah sering liat di pasar
ha ha ha
nungguin ibu blanja sambil nonton vcd bajakan di puter di pinggir2 jalan
*nyebut²*


#31

andrias ekoyuono | 11 01 2007 @ 9:37:22

Saya kadang malah berpikiran, apakah recording company ikut juga mbajak CD dan kaset dari artis mereka ? Logikanya daripada (pasti) dibajak orang, mendingan ikut juga mbajak, kan uangnya juga masuk kantong, hehehe ….Tapi itu cuma prasangka saya saja *berprasangka buruk*


#30

budhe | 11 01 2007 @ 6:17:20

Asooy Pak De….


#29

Faza | 10 01 2007 @ 23:00:58

Di rumah makan tempat berhenti bis malam ada ndangdut juga .. anak lelaki saya yg kelas 3 SD bilang.. kayak OGIL, orang gila maksudnya.. sebab dandanan dan gayanya itu…


#28

helgeduelbek | 10 01 2007 @ 22:22:31

Hancur Indonesia, tidak dikota tidak pula di desa/kampung, inilah penyebab petaka tak kunjung reda… terlalu vulgar. Kalau di internet gak papa-lah ada alasan hasil manipulasi program pengolah grafis. padahal…


#27

Anang | 10 01 2007 @ 19:17:28

pornoo


#26

Hafif | 10 01 2007 @ 17:43:17

Asyeeeeeeeeiiieeeeekkkk..!
Yang digoyang digoyang yanggg..

*heleh heleh heleh*


#25

Tresno | 10 01 2007 @ 17:13:41

hancurrrr!!


#24

Sei | 10 01 2007 @ 16:27:12

video porno tuh pakde he..he..he..


#23

anima | 10 01 2007 @ 15:02:01

porno jadi laku yah :)


#22

oon | 10 01 2007 @ 13:18:59

pas 17-an kemaren dulu aku liat ada biduannya nyekek botol dulu sebelum manggung. (menurutku) aneh, lha wong manggungnya di komplek perumahan dephub, disebelah bandara, yang nonton dari anak kecil sampe orang tua…kok biduannya pake atributnya macem mau maen fetish dipelem hardcore gitu xixixi…


#21

-f | 10 01 2007 @ 12:52:03

tasyakuran yang aneh,
eh, masih aneh ga ya?
apa udah ga aneh lagi neeh?


#20

nYam | 10 01 2007 @ 12:26:25

bisa ya dangdutan sambil tidur? ck ck ck


#19

fernandogempar | 10 01 2007 @ 10:58:40

tarik mang! awas kereta….. :p apa kabar paman? semua mp3-nya sdh saya upload ke url yg waktu itu.


#18

kenny | 10 01 2007 @ 9:18:09

waktu liat inul ngos2 an nggak paman (malah koyok aerobic je..).


#17

Irwin | 10 01 2007 @ 9:07:05

wah tumben Paman lama baru muncul, ngider di glodok toh :)


#16

pipit | 10 01 2007 @ 9:06:23

Ah, Paman …..


#15

iway | 10 01 2007 @ 8:07:08

wah jadi pengen tau video liputan paman di mangga besar :D


#14

observer | 10 01 2007 @ 7:44:49

blogombal banget. pamantyo banget. pembaca hrs cermat nangkep misinya.

Setiap masyarakat punya ukuran sendiri apa yang pantas dan sopan secara situasional. Dalam pengandaian saya, goyang ala artis di halaman rumah tanpa ada pesta akan mereka anggap aneh, tak sopan, dan tak menghibur.


#13

ambar | 10 01 2007 @ 5:07:31

lha kok ikut terenggah-enggah ?


#12

Pitra | 09 01 2007 @ 22:19:49

bahkan saya pernah dapet kiriman 3gp rekaman seorang pedangdut wanita yg sampe vulgar (maaf) buka2 pamer bra n sedikit membuka resleting celananya. kalo sudah di kampung2, rasanya beda banget suguhan dangdutnya dengan dangdut “sopan” di tv


#11

dendi | 09 01 2007 @ 21:16:51

wow…


#10

udin | 09 01 2007 @ 20:31:29

saya kadang tak habis pikir, show yang menampilkan goyang hot itu diadakan di kampung: di sana ada ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak (di bawah umur), nenek-kakek, dan para kawula muda yang bergoyang di bawah panggung. dalam hal ini batasan erotis dan mana vulgar sepertinya tak berlaku. yang dibutuhkan, rakyat kecil ingin hiburan.

jadi pas pulang ke sala3 kemarin borong vcd2 itu ya om. saya minta yang tali kutangnya masih ada kagak. jadi penasaran kayak apa lagu (dan tentu goyangan penyanyinya)…


#9

agusset | 09 01 2007 @ 19:44:09

gile, itu penyanyi lagi nari apa ngapain paman? lha koq sampe gerak-gerak yang kaya gitu segala. wah kalau saya nonton langsung acara tasyakurannya pasti deh langsung “greng”… :))


#8

JaF | 09 01 2007 @ 18:54:38

Hua ha ha ha.. disclaimernya itu lho:

“Acara Tasyakuran Bapak Sudardji, Randublatung, 12 September 2005″

Acara tasyakuran tapi ngundang yang beginian.. kekekekkkk… Cuma Indonesia yang bisa begini..

*welkam bek, mbah.. hmm video ini bukan hasil syuting semasa liburan anda, kan? hehe*


#7

Gabrielle | 09 01 2007 @ 18:39:28

kalo ada “trio belatung” pasti lebih suitsuit-ehm-huekhuek. hehe. ngomong-ngomong, wkt di salatiga sempet makan bakso gigi & nasi goreng babat nggak, paman? bakso gigi itu ada di depan pasar yang di depannya ada tukang gigi. aih, jadi lapar…


#6

roi | 09 01 2007 @ 18:22:42

ini dia strategi pemasaran lokal yang terbukti ampuh….


#5

blonty | 09 01 2007 @ 17:27:45

saya paling suka gaya tutur merendah Paman yang satu ini. sebagai jawara dunia jurnalistik, saya yakin beliau paham dunia beginian. semasa nJeJe, kala itu ada Karno KD van Sragen (meski dalam bentuk kaset audio).

yang bikin kuatir cuma satu: kenapa menyinggung Mangga Besar? semoga penyebutan sebuah nama kawasan populer di Jakarta itu hanya merupakan korban kelatahan mebaca Jakarta Undercover. bukan yang lain….. :p


#4

escoret | 09 01 2007 @ 17:25:09

jaman sekarang,ga mengundang sahwat…katanya ga laku di pasaran..hehehhehe


#3

kawula alit | 09 01 2007 @ 17:14:55

woo.. jebulnya paman rodo suwi preine ngeblog, menjalankan insting pers ya paman.. cek en ricek tekan ndeso ndeso (mumpung durung suronan, yen suro prei tontonan) sinambi berlibur..? :D
beli ‘moho’ nggak paman?


#2

kw | 09 01 2007 @ 16:31:17

abis kalau kurang mesum gak laku sih mas. dulu aku sering nonton juga, dibawah panggung persis. nontonya seperti menatap matahari jam 12 siang.


#1

Mbilung | 09 01 2007 @ 16:17:29

ibu dan nenek nonton untuk nostalgia? yang masih muda untuk menimba ilmu.