Jenazah Terbungkus Koran
APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?
Seperti saya dengar sebelumnya, korban kecelakaan lalu lintas itu langsung ditutupi koran. Penutupan dilakukan oleh orang sekitar. Kemarin dan hari ini radio mengudarakan lagi laporan pendengarnya tentang hal yang sama tapi berbeda tempat. Saya menyimpulkan pengendara motor dan pejalan kaki yang ditutupi koran itu sudah meninggal.
Kapan itu malah ada laporan yang deskriptif, yang bisa saya ringkas sebagai “darah menggenangi aspal, dan koran pun memerah basah”. Teater benak langsung mengaduk kepala saya. Pusing dan ngeri membayangkannya.
Saya pernah melihatnya kala melintasi Jalan Gatot Subroto. Tapi saya juga pernah mendengar, si pelapor via telepon (kasus lain) yang dicecar oleh penyiar itu enggan mendiskripsikan apa yang dilihatnya. Dia tak tega.
Tidak, tidak, tidak. Saya tak hendak bicara tentang jurnalisme radio. JaF Rane lebih tahu soal ini.
Saya cuma bingung karena tak memiliki panduan yang jelas dan terinci bagaimana menangani korban kecelakaan yang tak cukup diatasi dengan prosedur awal P3K.
Tak ada prosedur yang diajarkan selain menelepon polisi. Kalau pun ada, ajaran itu berasal dari tuturan sehari-hari, serta koran dan film.
Menelepon ambulans dari ponsel? Baru saya petik dari seseorang saya yang dua tahun lalu menabrak pemabuk pada dini hari di Jalan Panjang, Jakarta. Ambulans 118 datang, mengurus korban (tidak meninggal), mengantarkannya ke RS Fatmawati. Anak-anak muda awak ambulans itu tak meminta uang dari si penabrak.
Dulu sekali, sudah lama, oh ya 20 tahun lampau, ketika membaca berita koran tentang tabrakan kereta api, saya dibingungkan oleh satu hal. Boleh atau tidak boleh korban yang tergencet gerbong itu diberi minum padahal mereka sangat kehausan dalam panggangan mentari?
Warga sekitar rel yang tak tega langsung memberikan minuman untuk korban. Orang lainnya — saya lupa dia paramedis atau bukan — melarangnya. Itulah yang dilaporkan oleh koran.
Ketika Tragedi Bintaro terjadi, cara koran mengemas berita belum sekaya sekarang. Jika itu terjadi sekarang, ada kemungkinan tampilnya artikel ringkas yang memandu cara menolong korban kecelakaan berat selagi menunggu paramedis tiba.
Kalau saja polisi mengajarkan hal itu di sekolah-sekolah. Kalau saja ada lembaga-lembaga yang mau mengajari masyarakat. Kalau saja dan kalau saja… mungkin cara penanganan kita bisa lebih maju daripada menutupi jenazah dengan koran lalu menelepon polisi.
Saya tak tahu adakah cara praktis selain menutupi jasad dengan koran. Apapun itu, bagi saya merupakan sebuah bentuk kepedulian, termasuk peduli terhadap ketidaktahanan mata banyak orang ketika mendapati sesuatu yang mengerikan.
Tiba-tiba pikiran saya bercabang. Teringat bahu jalan tol yang mestinya untuk kepentingan darurat tapi sering dilintasi sopir yang tak sabar (halo Anthronic!). Teringat nomor darurat (112) sibuk melulu saat saya coba untuk mengontaknya via ponsel.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Rok Mini, Voyeurisme, dan Pelecehan
January 24, 2008 by AntyoHARUSKAH PAKAIAN TAK RAPAT DILARANG?
Saya membatin butuh berapa lama untuk mengisengi papan peringatan di dalam bus Transjakarta menjadi “Dilarang Rok Mini”. Kalau kurang cermat, dari foto di Jalan Sutera itu orang bisa menyimpulkan kalimat lengkap “Dilarang Pakai Rok Mini”.
Saya pun ingin tahu berapa orang yang terlibat dalam persekongkolan karena tak mungkin [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





:( saya juga pernah liat korban tabrakan, cuma ditutup koran..
tapi gak diangkat angkat dari jalan :(
pulisinya lebih sibuk ngatur jalan..
Ambulans gak tau kapan dateng..
aduh..
sayah mo ikut ikut, tapi kok ya takut ya…
whether koran..
ataupun dibungkus daun pisang.. atau mungkin di tutup tudung saji..
yang penting K-E-P-E-D-U-L-I-A-N !
but, baiknya cari alternatif, jangan koran lah..
selain kesan gak manusiawi, koran juga umumnya mudah berkerut dan mudah tembus..
*apa seh?
makanya waktu sekolah dulu ndak ikut PMR…???
talaso semua ko
Lagi filing blu ya, Om?