Makan Pascabayar dan Makan Prabayar
NGUTANG, TUNAI, KERUPUK CUMA SATU.

Setelah menyerahkan sebungkus rokok, Mamang Warung dekat kantor saya itu membuka buku catatan utang. Setiap pelanggan, yakni para buruh proyek berupah mingguan, membayar pada akhir pekan.
Ini soal biasa. Makan, minum, merokok sekarang tapi bayarnya besok. Sama dengan yang dilakukan oleh pemegang kartu kredit.
Ngutang? Seorang perwira tinggi tak mau pakai kartu kredit. Lebih dari itu dia akan menolak bila ditraktir kolega dengan kartu kredit. “Ndak barokah, kenyangnya sekarang kok bayarnya pakai ngutang. Sini saya bayari saja,” katanya.
Selain ngutang, yang pakai catat-mencatat adalah prabayar. Dulu, di Yogya, warung-warung di tengah indekosan mahasiswa biasanya menerima deposit. Sehabis makan, para penitip deposit itu mengambil buku masing-masing untuk mendebet saldo.
Semoga isiannya jujur, tapi saya tak tahu apakah setiap malam pemilik warung akan membaca buku-buku notes itu. Siapa tahu ada saldo minus dengan tulisan, “Maaf Bulik, belum dapet kiriman.”
Dari prabayar itu, ada pula yang diterjemahkan sebagai kupon. Misalnya untuk sarapan di hotel. Tanpa kupon silakan bayar, boleh langsung dan boleh pula melalui tagihan kamar. Oh ya, di kasir front desk juga boleh ngutang pakai kartu.
Dari cara kupon itu, ada juga yang kaku. Misalnya di sebuah percetakan besar di Cikarang, Bekasi. Tetamu dari divisi lain harus menahan lapar karena dua hal. Pertama: kantin hanya melayani pada jam makan. Kedua: kantin tak menerima pembayaran tunai, hanya menerima kupon.
Apa boleh bikin, ini memang khas pabrik. Akan kacau roda produksi jika setiap karyawan boleh nangkring di kantin sesukanya, kapan pun, seperti di kantin kantornya tetamu itu.
Tentang kupon kantin pabrik itu, ada catatannya. Pengudap tak leluasa mengambil lauk. Kerupuk hanya boleh sekeping per orang.
Tak baik mengeluh. Berbahagialah orang yang punya pilihan. Bandingkan dengan korban banjir yang terkepung air. Kemarin saya bertemu seseorang yang tak punya KTP dan segala jenis kartu karena dompetnya tersapu banjir.
Orang lainnya lagi mengingatkan, memasok bantuan makan butuh strategi. Kalau asal angkut dan bagi, bantuan untuk lokasi yang terpencil berkemungkinan dibajak oleh korban banjir di lokasi sebelumnya.
17 Responses to Makan Pascabayar dan Makan Prabayar
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
- @mbakdos pakde pake jaket kulit? @mbilung @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 memethmeong (medina wulandari)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Erotisisme dalam Jaka Tarub
February 23, 2007 by AntyoNGINTIP, NGEMBAT, KOK JADI CERITA.
Tadi, ketika saya makan di warung padang, dua pelayannya sedang menonton TV. Ada adegan seorang pria mengintip sekelompok wanita mandi. “Sinetron apaan sih, Mas?” tanya saya.
Hampir serempak mereka bilang, “Jaka Tarub dan tujuh bidadari, Pak.” Salah satunya menambahkan, “Legenda Indonesia, Pak.”
Hmmm… Jaka Tarub. Dulu saya [...]
Recent Comments
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





eling jaman susah dek mbiyen.
(apa sekarang dah ndak susah…??)
Tak amat-amati, last few days ini Paman suka posting foto yang pake montase montase gitu. Hobi baru nih Om?
Lha di tempat saya malah repot pakde, makan musti prabayar dulu masukin deposit ke kartu, pake mesin bayarnya dengan kartu bank atau uang tunai. Abis itu bayar di kantin cuma bisa pake kartu kantor yang sudah terisi. Jam makan juga terbatas, yang bikin panik kalo jam mepet, pas mo bayar di kasir eehh saldonya kurang, sedang di kantong ga ada uang buat isi, alamat ga jadi makan (karena ga boleh utang).
Tapi terkadang yang ngutang pakai kartu dianggap lebih elit dan elegan dibanting yang kere ngutang gak pake kartu…
Padahal sama-sama ngutang…
klo perwira makannya beda ruangan.
deposit euy, jadi nget jaman dulu
mantap!
anak kos, korban banjir dan perwira, punya romantika sendiri-sendiri di kemudian hari.
omong-omong, Paman dulu milih ngebon apa ndeposit, to? :p
takut utang, soalnya takut gak bisa bayar…tambah kepikiran lagi.
pegangannya klo gak bisa byar yo gak usah beli, jgn tidur klo gak mau mimpi :D
tapi lelaki sekarang ga hanya seneng ngutang kok, ada justru banyak yang NDEPE (Down Payment maksude) duluan, akad jual belinya 2 bulan kemudian, nah trus dapet barangnya baru 9 bulan kemudian…
seharusnya kartu kredit adalah pengganti uang tunai sehingga tak perlu susah-susah bawa sak bendhoyot kalau mau beli sesuatu. tapi di sini kok kayak seperti lambang prestise ya? ada aturan kalo pakai kartu kredit limit belanjanya harus sekian ratus ribu….
paling enak mangan nggak mbayar boss! :D
Ini nyindir pa ya, soalnya tagihan utang makan saya di kantin hari ini baru keluar.
kalau Makan Pasbayar gak sopan ya pakde ? :p
sampe sekarang saya nggak percaya dan nggak punya kartu kridit, bang paman.. rasanya hidup lebih bebas tanpa memusingkan cicilan dan bunga dan pajak dan denda dan promo2 nggak penting dari sales yg mengira hidup akan lebih mudah dengan kartu kredit..
:P
Judulnya bagus. :)
Tapi mungkin kalo ngutang itu gak barokah kali yah? apalagi ngutang makan, yang langsung kita manfaatkan sekarang :)
makan lima bayar satu= darmaji (dahar lima mbayar hiji)
orang masih banyak yang bingung nanti mau makan apa (belum ada makanan)
tapi banyak juga orang yang bingung nanti mau makan apa (bingung milih menu makanan)
jadi?…
setuju dgn budhe venus, beruntung kita masih bisa milih bahkan kadang bingung mau makan apa hari ini atau mau makan dimana siang ini. tp diluar sana masih banyak yg bingung hari ini bisa makan nggak ya….?
betul, mas. bersyukurlah kita masih boleh milih, hari ini pengen makan apa, wiken nanti mau jalan ke mana (halah kementhus ya? kikikik…)