Motor Ngawur, Mobil Semaunya
SAMA BRENGSEKNYA. KACAU TATA KOTANYA.
“Gimana sih itu motor? Ngobrol jejer berdua gitu, nutupin jalan. Barang kecil tapi boros ruang, disalip nggak bisa. Kalo mau ngobrol tuh brenti, neduh. Huh! #@34%&*!”
Lalu tinnnnnnnnnnnnnn! Bemper mobil sengaja dipepetkan sejengkal dari pantat dua motor yang masing-masing membawa pembonceng.
“Lho, kok marah, Ndoro? Situ nuduh kami kecil tapi boros ruang. Lha situ pake mobil gede cap Fortuner, karena sudah mujur, mobilnya bongsor, boros BBM, papasan di jalan kompleks aja susah, eh cuma dinaikin satu orang. Lha mbok jangan gitu to…” [Bayangkan gaya Basuki, dan bayangkan jika lawannya adalah pengendara Humvee]

Itu tadi dialog imajiner. Intinya ada beda kepentingan di antara pemakai kendaraan. Dan jujur saja makin banyak pengendara mobil yang jengkel terhadap pengendara motor — begitu pula sebaliknya.
Egoisme pengendara
Kalau dijembreng di sini daftar kekesalan akan panjang. Dari soal penampilan siluman — motor tak tampak dari spion kanan-kiri-tengah mobil, tahu-tahu memotong dari samping — sampai motor yang berteduh ramai-ramai saat hujan di kolong jalan layang sampai dua pertiga badan jalan.
Di sisi lain, pengendara motor menganggap pengendara (juga pemilik) mobil kurang bertenggang rasa, tak mau tahu panas gerahnya naik motor, tak hirau pantat dan brutu (tunggir) yang lebam melepuh.
Saya tergerak menulis ini karena mendapati komentar galak soal motor (di blognya “Puji itu” juga ada). Kayaknya kok mau menangnya sendiri.
Kenapa sampai ada ketegangan, yang berbuntut peraturan aneh dan penolakan oleh bikers? Anak kecil juga tahu, pangkal masalah adalah sistem transportasi publik yang tidak memadai, tak manusiawi.
Tuan tak naik angkot
Inilah prasangka saya. Para penentu kebijakan dan pengambil keputusan selalu membayangkan mobilitas warga kota dilakukan dengan mobil pribadi. Sejauh saya tahu (dulu) tak banyak film Indonesia yang menampilkan pacarannya pengguna angkutan umum seperti “pilem bule”, karena pilihan angkutan kelas upper-middle kedua dunia itu berbeda.
Dalam tuduhan saya, sebagian dari perencana dan eksekutif itu melupakan masa susah naik angkutan umum saat kuliah dan awal kerja. Sistem transportasi publik di Jabodetabek dirancang oleh orang yang sehari-hari tak naik ojek, bajaj, bus kota, dan angkutan umum lainnya.
Hasilnya? Lihatlah bagaimana Jasa Marga terpaksa berkompromi, menyediakan titik tertentu jalan tol sebagai terminal bayangan. Taruh kata semua bus bagus, yang namanya jaringan transportasi tak hanya jalan mulus, tapi juga kemudahan bagi warga untuk berpindah dari titik ke titik.
Hasil lain? Orang naik angkutan umum dan motor bukan sebagai pilihan melainkan keterpaksaan.
Jarang ada wajah sumringah di halte, apalagi saat silau. Orang naik motor bukan dengan enjoyment, tapi kekesalan dan kesiapan berkelahi.
Disiplin, diselipin
Lebih dari semua itu semua ya soal disiplin berlalu lintas (termasuk saya). Nggak motor, nggak mobil, sama ngawurnya. Bedanya, motor lebih banyak sehingga lebih kentara. Ukurannya kecil, lebih leluasa untuk sembarangan, dari main terabas sampai parkir malang melintang semaunya.
Anehnya, beberapa pengendara adalah pemilik mobil. Ketika naik motor tak hirau kerepotan penyetir mobil (“Yang penting lihat depan, mobil belakang yang kudu ati-ati“), ketika naik mobil tak mau peduli keterbatasan motor (“Kalo mobil bisa mengangkangi lubang jalan, motor juga harus bisa“). Untunglah, ada yang mengampanyekan cara bermotor dengan baik.
NB: Itu tadi generalisasi supaya ceritanya menjadi sederhana. Tak semua pemotor maupun pemobil itu brengsek.
Baca:
+ Negeri penghasil motor enggan pakai motor
+ Mari menjemput maut setelah turun dari bus
+ Merdeka untuk berhenti di mana pun
+ Wahai pejalan kaki, enyahlah dari jembatan penyeberangan!
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
InFocus Namanya. Entah Apa Mereknya…
September 24, 2008 by AntyoLCD YANG SEBANGSA HAND-BODY.
Beberapa tahun lalu ketika saya masih ngantor, ada orang mau pinjam InFocus. Dengan senang hati saya tolak.”Ndak punya, je,” kata saya. Kemudian dia datang lagi, “Lho, katanya Mas punya. Kami mau pinjem LCD kok, Mas.” Saya tunjukkan monitor LCD saya, “Waduh nuwun sewu, sedang saya pakai buat kerja, je…”
Ingatan [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





jadi, siapa yang dosanya paling gede, mas? pengendara motor atau yg bermobil?
tata kota dan sistem transportasi umum kita yang brengsek, kayaknya :D
wah, bini saya kemarin sore disambar pengendara sepeda motor sampai keplintir mata kakinya pas turus dari bentor (kendaraan di gorontalo berupa becar namun bertenaga motor), opo ora ngenes…. jan!!!
dua dua nya salah…
Dua-duanya sama egoisnya. Lalu kenapa menyalahkan salah satu?
Sebenarnya cuma terjadi di Jakarta. Di kota kecil ini aman, damai, tentram, lagi sejahtera…
Sepertinya orang Jakarta emang ketinggian ego ya? Gw pikir monas doank yang tinggi.
Ini generalisir juga lho pakde ha..ha..
saya jadi tergelitik dengan posting Paman Tyo ini. saya gampang terbawa emosi, menjadi temperamental kalau di jalan, entah saat mengendarai motor atau mobil.
yang menyebalkan (karena itu bikin marah) adalah ketika menjumpai ada mobil dijalankan pelahan tapi mengambil lajur tengah pada jalan raya (seperti jurusan Solo-Yogyakarta). begitu pula kalau ada pengendara motor mengambil lajur tanggung, tidak di tengah atau di pinggir.
saya pernah kebingungan untuk mendahului karena sebuah mobil bak terbuka berjalan persis di garis marka tengah di Bawen. Ambil kanan berisiko dihajar bus/truk dari arah berlawanan, tapi kalau ambil kiri membahayakan pengendara motor.
ketika ada kesempatan menyalip, aku ambil kiri lalu kusengaja segera banting kanan untuk memberi peringatan. sial! saya menyenggol lampu mobil itu.
saya menghentikan kendaraan, lalu kumaki-maki si sopir. dia merasa bersalah, tapi tetap saja kudamprat! habis, jengkel banget sih…..
pake motor, pake mobil, jalan kaki pun akan sama aja judulnya kalo pas lagi lupa bahwa jalannya dipake buat bareng2 ;-)
motor versus mobil memang rame untuk dibicarakan…
cuman gimana ya pakde… andaikan kedua2nya diapus saja dari jakarta… dilarang pakek mobil ato motor.. bolehnya pakek ontel… apa yang terjadi ya?? :D
Yang mengherankan….kenapa orang Jepang yang “tukang buat motor” palah lebih suka jalan kaki?
Wah, jangan-jangan kita ini sudah menjadi korban globalisasi ya…?hik?!
Alah Paman… wajar aja kalo sekarang banyak pemakai jalan yang gak taat, ngawur dsb.
Coba pikir, sekarang motorkan bisa dicicil? udah gitu para dealer berlomba-lomba dapet pembeli, dengan iming-iming DP kecil?
Trus, sekarang juga dapet SIM mudah banget, hanya dengan uang 150-200rb, udah dapet SIM, tanpa syarat yang jelas? “Pak Polisi yang teliti donk”
Dan yang lebih parah Paman, sekarang banyak orang kaya mendadak, ntah dapat uang dari mana buat beli motor, yang penting punya motor dan bergaya….
Dan sekarang banyak manusia-manusia sekuler yang tentunya Ego besar..
Gimana Paman? Oke?
numpak ambulan wae, Om. Bebas hambatan dan bebas umpatan he..he..
jalan di jakrata kan di rancang buat orang kaya om. bukan di rancang untuk kepentingan umum.
halah podo wae loro loro ne yen mungsuh sepeda… nanging lumrahe kawula alit yo mung isone gedhek gedhek sinambi njaluk slamet marang Gusti…. :)
di bali sudah mulai ikutan begitu, huff baliku..
Semalam saya mengalami kejadian yang sangat mendongkolkan ketika pulang kerja. Sekitar tengah malam itu saya membawa sepeda motor imut milik istri saya dengan kecepatan konstan 70km/jam. Di daerah Kalimalang ada konvoi sepeda motor besar yang makan jalan, mereka tidak membiarkan kendaraan lain menyalip, tapi mereka jalan pelan sekali. Saya yang sudah tidak sabar dan muak dengan tingkah petentang-petenteng mereka berusaha mendahului. Sesampai di tengah konvoi mereka tidak terima, dari belakang saya di klakson ramai-ramai, salah seorang memepet saya sampai hampir jatuh sambil menunjuk-nunjuk ke arah saya. Saya tancap gas, berusaha sampai depan konvoi, beberapa anggota konvoi mengejar saya seperti tidak rela didahului sepeda motor imut. Untunglah saya keburu berbelok ke Jalan Radin Inten.
Apa sih maksud mereka? Kayak orang gak punya kerjaan, tengah malem buang-buang bensin.
damai2 aja dijalan, yang sabar deh pokoknya
@kenny.. hehe,, betul sekali.. sulit memang menjadi pedestrian di jakarta.. :)
nggak yg bermotor, bermobil, angkot, kayaknya udah gak perduli aturan lagi.
yg mana buat pejalan kaki, yg mana buat kendaraan aja udah gak ada bedanya…
mungkin kalau diadakan peraturan pejabat selama seminggu harus naik kendaraan umum (Selain taxi) ke kantor baru mereka cepat² memperbaiki kendaraan umum.
seprti juga dengan banjir, kalau pejabatnya tinggal bareng korban banjir sehari aja tanpa fasilitas baru deh… kalau cuma ikut ngabisin makanan korban mah ngga terasa. biar katanya juga turut merasakan apa yg korban makan.
Paman, harusnya ditambahin juga pihak yang paling “dikorbankan” dari pengendara kedua jenis kendaraan yang suka berkelakuan seenak udelnya sendiri itu, yaitu para pejalan kaki.
Lebih dari itu, sebetulnya sudah lama juga saya “berandai-andai” tentang sesuatu yg sepertinya cukup susah untuk terjadi di Indonesia…
kadang saya merasa, di jakarta pengendara motor itu termasuk yg mau menang sendiri. mau cepet sendiri, mau ngirit sendiri. apalagi, polusi yg diakibatkan sepeda motor paling tinggi. sampai sekarang sengaja saya nggak ikut carpool karena mobil pribadi di jakarta sudah terlalu padat. saya optimistis, kalau kendaraan umum diperbaiki, orang akan malas naik motor atau bermacet ria dengan mobil (naik mobil lama2 kan pegel juga to?). yg bikin saya pesimistis
adalah ketua pusat studi transportasinya, si prof itu, soalnya dia kagak pernah naik kendaraan umum. halo, prof! setelah ngurusin busway, apa masih suka nongkrong di hard rock? :P
kalo lagi pake mobil saya termasuk yg suka ngedumel juga sama pengendara motor…tapi satu saat, ketika butuh kecepatan waktu, saya beralih ke OJEG dan sangat mengagumi kesigapan supir ojeg mengambil “jalan pintas” demi mencapai tengat waktu miting atau hal2 urgent lainnya…hehe
Saya pengguna angkutan umum,,, dan memang saya akui angkutan umum di jakarta memprihatinkan… Yah, cuma bisa miris ajah..
bagi pengguna kendaraan bermotor, disiplin dikit yak.. :)
lha kalo gitu kejadiannya, trus harus numpak opo dong yang enak? Apa mau jalan kaki atau ngonthel sepeda? Kan sama aja, jalan kaki panas, berdebu dan kecipratan, naik sepeda disenggol motor, bajaj, dan mobil.
tapi kayaknya masih mending tuh disini (jkt), saya pernah di ujung barat negeri ini para pengendara kendaraan susah mbedain warna lampu merah dan hijau. Kekeke sampai-sampai saya pernah komentar disana, bedain merah ama hijau aja kagak bisa gitu kok minta merdeka…
Tapi mungkin menurut saya itu semua karena imbas dari semakin murahnya harga kendaraan (khususnya sepeda motor, dan pembuatan license bagi pengemudinya sudah menjadi wacana umum dan pilihan publik untuk tidak perlu pakai test mengemudi.
Halah, saya mah masih suka metromini, ppd dan sekali-sekali bus way atau taxi.
Di Jakarta ini yang paling saya heran adalah ini: ketika lampu masih merah dan *akan* berganti hijau, suara klakson begitu ramainya seakan-akan pengendara di depan lagi mogok jalan. Seru juga hidup di jakarta. Welcome to the capital city, kata teman saya waktu saya datang di sini :)