Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Motor Ngawur, Mobil Semaunya

Jumat, 09 Februari 2007 @ 19:04 | Umum

SAMA BRENGSEKNYA. KACAU TATA KOTANYA.

“Gimana sih itu motor? Ngobrol jejer berdua gitu, nutupin jalan. Barang kecil tapi boros ruang, disalip nggak bisa. Kalo mau ngobrol tuh brenti, neduh. Huh! #@34%&*!”

Lalu tinnnnnnnnnnnnnn! Bemper mobil sengaja dipepetkan sejengkal dari pantat dua motor yang masing-masing membawa pembonceng.

“Lho, kok marah, Ndoro? Situ nuduh kami kecil tapi boros ruang. Lha situ pake mobil gede cap Fortuner, karena sudah mujur, mobilnya bongsor, boros BBM, papasan di jalan kompleks aja susah, eh cuma dinaikin satu orang. Lha mbok jangan gitu to…” [Bayangkan gaya Basuki, dan bayangkan jika lawannya adalah pengendara Humvee]

mobil versus moor di jakarta

Itu tadi dialog imajiner. Intinya ada beda kepentingan di antara pemakai kendaraan. Dan jujur saja makin banyak pengendara mobil yang jengkel terhadap pengendara motor — begitu pula sebaliknya.

Egoisme pengendara

Kalau dijembreng di sini daftar kekesalan akan panjang. Dari soal penampilan siluman — motor tak tampak dari spion kanan-kiri-tengah mobil, tahu-tahu memotong dari samping — sampai motor yang berteduh ramai-ramai saat hujan di kolong jalan layang sampai dua pertiga badan jalan.

Di sisi lain, pengendara motor menganggap pengendara (juga pemilik) mobil kurang bertenggang rasa, tak mau tahu panas gerahnya naik motor, tak hirau pantat dan brutu (tunggir) yang lebam melepuh.

Saya tergerak menulis ini karena mendapati komentar galak soal motor (di blognya “Puji itu” juga ada). Kayaknya kok mau menangnya sendiri.

Kenapa sampai ada ketegangan, yang berbuntut peraturan aneh dan penolakan oleh bikers? Anak kecil juga tahu, pangkal masalah adalah sistem transportasi publik yang tidak memadai, tak manusiawi.

Tuan tak naik angkot

Inilah prasangka saya. Para penentu kebijakan dan pengambil keputusan selalu membayangkan mobilitas warga kota dilakukan dengan mobil pribadi. Sejauh saya tahu (dulu) tak banyak film Indonesia yang menampilkan pacarannya pengguna angkutan umum seperti “pilem bule”, karena pilihan angkutan kelas upper-middle kedua dunia itu berbeda.

Dalam tuduhan saya, sebagian dari perencana dan eksekutif itu melupakan masa susah naik angkutan umum saat kuliah dan awal kerja. Sistem transportasi publik di Jabodetabek dirancang oleh orang yang sehari-hari tak naik ojek, bajaj, bus kota, dan angkutan umum lainnya.

Hasilnya? Lihatlah bagaimana Jasa Marga terpaksa berkompromi, menyediakan titik tertentu jalan tol sebagai terminal bayangan. Taruh kata semua bus bagus, yang namanya jaringan transportasi tak hanya jalan mulus, tapi juga kemudahan bagi warga untuk berpindah dari titik ke titik.

Hasil lain? Orang naik angkutan umum dan motor bukan sebagai pilihan melainkan keterpaksaan.

Jarang ada wajah sumringah di halte, apalagi saat silau. Orang naik motor bukan dengan enjoyment, tapi kekesalan dan kesiapan berkelahi.

Disiplin, diselipin

Lebih dari semua itu semua ya soal disiplin berlalu lintas (termasuk saya). Nggak motor, nggak mobil, sama ngawurnya. Bedanya, motor lebih banyak sehingga lebih kentara. Ukurannya kecil, lebih leluasa untuk sembarangan, dari main terabas sampai parkir malang melintang semaunya.

Anehnya, beberapa pengendara adalah pemilik mobil. Ketika naik motor tak hirau kerepotan penyetir mobil (”Yang penting lihat depan, mobil belakang yang kudu ati-ati“), ketika naik mobil tak mau peduli keterbatasan motor (”Kalo mobil bisa mengangkangi lubang jalan, motor juga harus bisa“). Untunglah, ada yang mengampanyekan cara bermotor dengan baik.

NB: Itu tadi generalisasi supaya ceritanya menjadi sederhana. Tak semua pemotor maupun pemobil itu brengsek.

Baca:
+ Negeri penghasil motor enggan pakai motor
+ Mari menjemput maut setelah turun dari bus
+ Merdeka untuk berhenti di mana pun
+ Wahai pejalan kaki, enyahlah dari jembatan penyeberangan!

Ada 40 komentar | trackback | Depan

#40

blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Kecerdikan Pemerintah: Biarin Macet di Jalan, Sesak di Parkiran | 12 04 2008 @ 13:07:20

[...] Hasilnya? Dalam pekerti yang mau menangnya sendiri, pengguna jalan hanya akan saling menyalahkan. Pengendara mobil yang tak punya hati akan menyumpahi sepeda motor yang berteduh saat kehujanan di kolong jalan layang (flyover) atau justru di jalan kolong (underpass), serta di kolong jembatan penyeberangan. Dianggap bikin macet. [...]


#39

norman | 07 04 2008 @ 7:48:16

Mana ayam dan telur duluan, selalu jadi kambinghitam. Katanya motor yang ngawur, sebaliknya yang naik motor bilang, mobil yang ngawur. Bingung ya, atau sengaja dibuat bingung, supaya persoalan gak selesai, dan karena gak ada yang mau menyadari kesalahan atau koreksi diri? Yang penting angkara murka harus jadi pilihan hidup terfavorit. Doktrin jangan saling menyalahkan sering diangkat, karena yang penting boleh berbuat semaunya, terutama di ruang publik, dan gak boleh ada yang salah. Jadi 1000 tahun lagi yang akan tetap gini, sampe kiamat.


#38

bogang | 24 03 2007 @ 6:34:18

oeeiiii….sesama pengendara janga gontok-gontok an kalian semua itu pengguna jala raya,,yang lebih penting gimana cara kita mendisiplinkan diri…jgan nyalahin orang dunk kalo ga mau disalahin, innstropeksi men…..mau naek angkot yang banyak copetnya,,mau naek mobil yang tiap hari slalu ngeluarin duit lebih and resiko macet di tengah jalan,mau naek spd motor yang kepanasan and kehujanan..semau tuh ada resikonya, kalo ga mau ya.. tidur aja di rumah!!!!!


#37

krisna | 06 03 2007 @ 16:51:24

yang namanya martinchandra itu jueeleek semua…. setuju…?
ya pastinya engga lah ya…?
ga semuanya martinchandra itu jueeleek…

motor sama seperti mas…


#36

martinchandra | 12 02 2007 @ 9:19:32

motor emang gitu mas. semenang-menangnya sendiri. kalo ada apa2, meski si motor yg salah, pasti nge-blame ke yg lain. dodolz


#35

Qky | 12 02 2007 @ 9:08:25

Bener Boss… kadang, gw sendiri suka sebel sama sesama pengendara roda 2, tapi, sih, intinya… bukan roda dua atau empatnya, tapi penggunanya (baca:mentalnya) hayyah…


#34

miss adadeh | 12 02 2007 @ 9:06:50

suit suit! nipple si enci keliatan, belon disensor paman! suka yah? :)


#33

Jephman | 12 02 2007 @ 8:57:14

Om, jangan lupa ada usaha pemerintah untuk bikin angkutan umum lebih baik lho!

Tapi motor & mobil pribadi mentereng isinya cuma 1 orang (atau 2 sama supir) nerobos pake jalur Busway

Udah enak punya mobil bagus, pake AC nggak desak2an kepanasan-keujanan, masih rakus dan serakah pula, jatah orang kecil disikat
ck ck ck ck

Kalo nggak korupsi jalur jalan, minimal penumpang Busway yg sumringah om! :)

Salam!
TTD
Penumpang Setia TransJakarta :P


#32

thuns | 12 02 2007 @ 6:43:03

hidup jalan kakiiiii ;))


#31

dhany | 12 02 2007 @ 0:19:58

kalo naek “pit” opo sih di gethingi wong liyan pak puh..??


#30

Atniga Tayadih | 11 02 2007 @ 23:05:02

Yang salah bukan pengendara motor. Juga bukan pemilik mobil. Mereka semua sekedar korban. Korban ketidakbecusan perencanaan sarana transportasi publik dari sebuah institusi yang bernama negara.


#29

joni | 11 02 2007 @ 21:22:00

hmmm.. katanya sih yang kecil menghormati, yang besar mengalah :)


#28

Devi Girsang | 11 02 2007 @ 17:25:06

hahaha. ya semua jg menyebalkan. tanya knp begitu banyak mobil dan motor bertebaran di jalanan karena begitu gampangnya dibeli? tanpa DP loh.. ck ck ck. bunga cicilan ringan. whatever. kendaraan tambah byk, jalanan ga tambah lebar. semua ya mao menang sendiri. bener kata artikel di kompas itu, krn alat transpot di jkt itu sgt terbatas, sulit mencari alternatif laen selain naek motor/mbl.


#27

Reza Yazdi | 11 02 2007 @ 17:21:14

[Bayangkan gaya Basuki, dan bayangkan jika lawannya adalah pengendara Humvee]

Jadi inget Si Doel anak sekolahan, ributnya Basuki dan Mandra (karena Mandra memang punya Humvee)


#26

kenji | 11 02 2007 @ 12:37:17

wah, ada juga yang kesel ama motor dan mobil ya…

terus terang saya sebel sama motor karena 1 hal aja. Seumur hidup saya naik mobil, tidak pernah ada 1 pun pengendara motor yang mau berhenti minta maaf karena nabrak mobil saya. Yang ada itu klo ga lari sambil tertawa2, atau marah2 manggil masa dan minta ganti rugi karena terluka MENABRAK mobil saya. masa yang ditabrak yang ganti rugi…


#25

venus | 11 02 2007 @ 10:35:05

jadi, siapa yang dosanya paling gede, mas? pengendara motor atau yg bermobil?
tata kota dan sistem transportasi umum kita yang brengsek, kayaknya :D


#24

ki ageng congor | 11 02 2007 @ 3:07:16

wah, bini saya kemarin sore disambar pengendara sepeda motor sampai keplintir mata kakinya pas turus dari bentor (kendaraan di gorontalo berupa becar namun bertenaga motor), opo ora ngenes…. jan!!!


#23

Anang | 11 02 2007 @ 2:34:41

dua dua nya salah…


#22

Sei | 10 02 2007 @ 14:27:35

Dua-duanya sama egoisnya. Lalu kenapa menyalahkan salah satu?

Sebenarnya cuma terjadi di Jakarta. Di kota kecil ini aman, damai, tentram, lagi sejahtera…

Sepertinya orang Jakarta emang ketinggian ego ya? Gw pikir monas doank yang tinggi.

Ini generalisir juga lho pakde ha..ha..


#21

blonty | 10 02 2007 @ 13:56:22

saya jadi tergelitik dengan posting Paman Tyo ini. saya gampang terbawa emosi, menjadi temperamental kalau di jalan, entah saat mengendarai motor atau mobil.

yang menyebalkan (karena itu bikin marah) adalah ketika menjumpai ada mobil dijalankan pelahan tapi mengambil lajur tengah pada jalan raya (seperti jurusan Solo-Yogyakarta). begitu pula kalau ada pengendara motor mengambil lajur tanggung, tidak di tengah atau di pinggir.

saya pernah kebingungan untuk mendahului karena sebuah mobil bak terbuka berjalan persis di garis marka tengah di Bawen. Ambil kanan berisiko dihajar bus/truk dari arah berlawanan, tapi kalau ambil kiri membahayakan pengendara motor.

ketika ada kesempatan menyalip, aku ambil kiri lalu kusengaja segera banting kanan untuk memberi peringatan. sial! saya menyenggol lampu mobil itu.

saya menghentikan kendaraan, lalu kumaki-maki si sopir. dia merasa bersalah, tapi tetap saja kudamprat! habis, jengkel banget sih…..


#20

mbakDos | 10 02 2007 @ 13:37:03

pake motor, pake mobil, jalan kaki pun akan sama aja judulnya kalo pas lagi lupa bahwa jalannya dipake buat bareng2 ;-)


#19

bebek | 10 02 2007 @ 12:58:56

motor versus mobil memang rame untuk dibicarakan…
cuman gimana ya pakde… andaikan kedua2nya diapus saja dari jakarta… dilarang pakek mobil ato motor.. bolehnya pakek ontel… apa yang terjadi ya?? :D


#18

Najwa | 10 02 2007 @ 11:54:36

Yang mengherankan….kenapa orang Jepang yang “tukang buat motor” palah lebih suka jalan kaki?

Wah, jangan-jangan kita ini sudah menjadi korban globalisasi ya…?hik?!


#17

Tetty | 10 02 2007 @ 11:49:54

Alah Paman… wajar aja kalo sekarang banyak pemakai jalan yang gak taat, ngawur dsb.

Coba pikir, sekarang motorkan bisa dicicil? udah gitu para dealer berlomba-lomba dapet pembeli, dengan iming-iming DP kecil?

Trus, sekarang juga dapet SIM mudah banget, hanya dengan uang 150-200rb, udah dapet SIM, tanpa syarat yang jelas? “Pak Polisi yang teliti donk”

Dan yang lebih parah Paman, sekarang banyak orang kaya mendadak, ntah dapat uang dari mana buat beli motor, yang penting punya motor dan bergaya….

Dan sekarang banyak manusia-manusia sekuler yang tentunya Ego besar..

Gimana Paman? Oke?


#16

budhe | 10 02 2007 @ 11:43:21

numpak ambulan wae, Om. Bebas hambatan dan bebas umpatan he..he..


#15

sawung | 10 02 2007 @ 10:59:18

jalan di jakrata kan di rancang buat orang kaya om. bukan di rancang untuk kepentingan umum.


#14

kawula alit | 10 02 2007 @ 10:29:50

halah podo wae loro loro ne yen mungsuh sepeda… nanging lumrahe kawula alit yo mung isone gedhek gedhek sinambi njaluk slamet marang Gusti…. :)


#13

anima | 10 02 2007 @ 9:50:53

di bali sudah mulai ikutan begitu, huff baliku..


#12

Tukang Koran | 10 02 2007 @ 9:34:22

Semalam saya mengalami kejadian yang sangat mendongkolkan ketika pulang kerja. Sekitar tengah malam itu saya membawa sepeda motor imut milik istri saya dengan kecepatan konstan 70km/jam. Di daerah Kalimalang ada konvoi sepeda motor besar yang makan jalan, mereka tidak membiarkan kendaraan lain menyalip, tapi mereka jalan pelan sekali. Saya yang sudah tidak sabar dan muak dengan tingkah petentang-petenteng mereka berusaha mendahului. Sesampai di tengah konvoi mereka tidak terima, dari belakang saya di klakson ramai-ramai, salah seorang memepet saya sampai hampir jatuh sambil menunjuk-nunjuk ke arah saya. Saya tancap gas, berusaha sampai depan konvoi, beberapa anggota konvoi mengejar saya seperti tidak rela didahului sepeda motor imut. Untunglah saya keburu berbelok ke Jalan Radin Inten.

Apa sih maksud mereka? Kayak orang gak punya kerjaan, tengah malem buang-buang bensin.


#11

Tresno | 10 02 2007 @ 3:37:42

damai2 aja dijalan, yang sabar deh pokoknya


#10

rifie | 10 02 2007 @ 1:16:00

@kenny.. hehe,, betul sekali.. sulit memang menjadi pedestrian di jakarta.. :)


#9

kenny | 09 02 2007 @ 23:20:13

nggak yg bermotor, bermobil, angkot, kayaknya udah gak perduli aturan lagi.
yg mana buat pejalan kaki, yg mana buat kendaraan aja udah gak ada bedanya…


#8

triesti | 09 02 2007 @ 22:47:54

mungkin kalau diadakan peraturan pejabat selama seminggu harus naik kendaraan umum (Selain taxi) ke kantor baru mereka cepat² memperbaiki kendaraan umum.

seprti juga dengan banjir, kalau pejabatnya tinggal bareng korban banjir sehari aja tanpa fasilitas baru deh… kalau cuma ikut ngabisin makanan korban mah ngga terasa. biar katanya juga turut merasakan apa yg korban makan.


#7

agusset | 09 02 2007 @ 22:38:07

Paman, harusnya ditambahin juga pihak yang paling “dikorbankan” dari pengendara kedua jenis kendaraan yang suka berkelakuan seenak udelnya sendiri itu, yaitu para pejalan kaki.

Lebih dari itu, sebetulnya sudah lama juga saya “berandai-andai” tentang sesuatu yg sepertinya cukup susah untuk terjadi di Indonesia…


#6

mpokb | 09 02 2007 @ 22:34:30

kadang saya merasa, di jakarta pengendara motor itu termasuk yg mau menang sendiri. mau cepet sendiri, mau ngirit sendiri. apalagi, polusi yg diakibatkan sepeda motor paling tinggi. sampai sekarang sengaja saya nggak ikut carpool karena mobil pribadi di jakarta sudah terlalu padat. saya optimistis, kalau kendaraan umum diperbaiki, orang akan malas naik motor atau bermacet ria dengan mobil (naik mobil lama2 kan pegel juga to?). yg bikin saya pesimistis
adalah ketua pusat studi transportasinya, si prof itu, soalnya dia kagak pernah naik kendaraan umum. halo, prof! setelah ngurusin busway, apa masih suka nongkrong di hard rock? :P


#5

nila | 09 02 2007 @ 22:28:16

kalo lagi pake mobil saya termasuk yg suka ngedumel juga sama pengendara motor…tapi satu saat, ketika butuh kecepatan waktu, saya beralih ke OJEG dan sangat mengagumi kesigapan supir ojeg mengambil “jalan pintas” demi mencapai tengat waktu miting atau hal2 urgent lainnya…hehe


#4

rifie | 09 02 2007 @ 21:56:21

Saya pengguna angkutan umum,,, dan memang saya akui angkutan umum di jakarta memprihatinkan… Yah, cuma bisa miris ajah..
bagi pengguna kendaraan bermotor, disiplin dikit yak.. :)


#3

Moes Jum | 09 02 2007 @ 21:55:08

lha kalo gitu kejadiannya, trus harus numpak opo dong yang enak? Apa mau jalan kaki atau ngonthel sepeda? Kan sama aja, jalan kaki panas, berdebu dan kecipratan, naik sepeda disenggol motor, bajaj, dan mobil.


#2

Epat | 09 02 2007 @ 21:35:51

tapi kayaknya masih mending tuh disini (jkt), saya pernah di ujung barat negeri ini para pengendara kendaraan susah mbedain warna lampu merah dan hijau. Kekeke sampai-sampai saya pernah komentar disana, bedain merah ama hijau aja kagak bisa gitu kok minta merdeka…
Tapi mungkin menurut saya itu semua karena imbas dari semakin murahnya harga kendaraan (khususnya sepeda motor, dan pembuatan license bagi pengemudinya sudah menjadi wacana umum dan pilihan publik untuk tidak perlu pakai test mengemudi.
Halah, saya mah masih suka metromini, ppd dan sekali-sekali bus way atau taxi.


#1

galih | 09 02 2007 @ 20:27:10

Di Jakarta ini yang paling saya heran adalah ini: ketika lampu masih merah dan *akan* berganti hijau, suara klakson begitu ramainya seakan-akan pengendara di depan lagi mogok jalan. Seru juga hidup di jakarta. Welcome to the capital city, kata teman saya waktu saya datang di sini :)