Butuh Diktator? Wadoohhh!
GAGASAN BERBAHAYA KETIKA KITA TAK BERDAYA.

Orang kecil tak hapal nama UU, PP, perda, apalagi pasalnya (ah, sama dengan kita). Permintaan mereka sederhana, “Kalo kagak boleh ya seterusnya kagak boleh. Jangan ini hari dilarang, besoknya boleh, pake ditarikin duit lagi, lantas entar dilarang lagi.”
Kalau disederhanakan, ungkapan sopir mikrolet M11 (Tanahabang – Kebonjeruk) itu adalah: butuh kepastian hukum. Uh, klise kan? Guyonan “low enforcement“, dan bukan “law enforcement“, sudah jadi superbasi.
Dengan cara sederhana pula saya menjelaskan kepada seorang bocah. Untuk penataan pedagang kaki lima, misalnya, saya merujuk trotoar di depan Istana Merdeka.
Memang ngarang sih, karena setahu saya belum pernah ada yang jual teh botol di sana, kecuali saat dulu ada demo mepet pagar istana.
“Di sana itu,” demikian saya menggombal, “kalo pagi kita nggelar dagangan, atau buka tambal ban, belon nyampe siang udah diusir.”
Juga saya katakan, kalau esoknya saya coba lagi, maka begitu menggelar plastik di atas trotoar saya sudah digebah.
Bangunan di bantaran sungai? Jawabannya tetap default: sekali ndak boleh tetap ndak boleh. Siapa pun yang bikin rumah tanpa IMB akan digusur tanpa ampun. Siapa pun. Di mana pun, tak hanya di bantaran sungai.
Bocah itu manggut-manggut, “Iya juga ya. Harus tegas kan? Kayak Singgapur?” Matanya berbinar. Tapi cuma sebentar. Lantas dahinya mengerut. Apa yang saya duga namun tak saya harapkan pun terlontar dari mulutnya: “Kalo nggak boleh jualan, kalo nggak bikin rumah, terus gimana dong?”
Tegas menerapkan peraturan, tetapi menyediakan solusi yang manusiawi supaya orang tak terkondisi untuk melanggar. Itulah masalahnya.
Jangankan saya. Anggota DPR, menteri, dan bahkan presiden sekalipun tak tahu jalan keluarnya. Padahal kurang apa hebatnya mereka?
Kalau sekadar menjawab sih bisa, apalagi kalau sama sederhananya dengan pertanyaan si bocah. Tapi merencanakan dan melaksanakan?
Hampir terloncat dari mulut saya, tapi untunglah batal karena tak mendidik, bahkan misalnya terwujud pun saya akan menentangnya. Sebuah gagasan utopis yang berbahaya, semata letupan frustratif, tapi bisa berakibat panjang.
Apa sih? Hampir saja saya bilang, “Pakai saja cara diktator. Seperti Lee Kuan Yew tapi versi yang dikawal malaikat*). Rakyat nggak dapet demokrasi tapi dapet kemakmuran, birokrasi yang bersih, andal, efisien, dan lingkungan yang tertata. Jangan kayak dulu: demokrasi nggak dapet, kemakmuran nggak tergapai, birokrasi dan penegak hukum nggak bisa diandelin — dapetnya cuma diktator korup.”
Berpikir lebih cepat daripada menata kalimat. Dalam rentang waktu yang sama saya teringat ucapan seorang eksekutif Singapura yang memilih berbisnis di Bali, memimpin cabang perusahaan software Spanyol untuk Indonesia.
“Saya tidak akan kembali ke Singapore sebelum Lee Kuan Yew mati. Saya tidak suka cara dia mengatur negeri. Kami butuh kebebasan,” katanya.
*) Maaf, saya khilaf. Sesungguhnya setiap diktator merasa dikawal malaikat dan mengemban misi mulia
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Harus (Lebih) Keren
February 12, 2007 by AntyoADA SAJA PELUANG BISNIS.
Sudah dari sononya manusia tuh pengin tampak lebih ganteng dan lebih cantik. Apalagi kalau mereka menjajakan diri di biro kencan online. Bagi Mat Kodak (duh, jadul banget) maupun pengolah foto, ini jelas peluang.
Saya, misalkan masih lajang, tak punya nyali untuk ikut. Memang sih, saya bisa pake wig (teman [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Nama bocah itu siapa, Paman?
adipati kelihatannya diktator nggak yach? selama ini nggak ada demo tuch, anteng2 aja, makmur2 aja
Diktator?
Hmm…mending kabur, sebelum ditraktor…
paklik Li kuan yu, diktator tapi bawa kemakmuran rakyatnya
hm… gambarnya nakutin om *lariiii
saya juga orang kecil yang ga hafal ma UU,PP,Perda apalagi pasal-pasalnya yang rentet-rentet. itu yang pasti, ga boleh berbuah jahat titik. Kalo ditanya berapa harga sembako di pasar mungkin rada apal. hehehehe
yah mendingan ga punya demokrasi tapi rakyat ga kekurangan gizi&nasi bensin&minyak ga susah dicari, ga macet sana-sini, ga ada banjir 5thn skali dan ga ada itu korupsi… (gmn om tyo kbr rumah dah ditempatin lagi lom?)
yah mendingan ga punya demokrasi tapi rakyat ga kekurangan gizi&nasi bensin&minyak ga susah dicari, ga macet sana-sini, ga ada banjir 5thn skali dan ga ada itu korupsi…
Polemik di Negeri yang sedang SEKARAT????
Aku daftar ah jadi diktator….
tapi klo namanya diktator apa demokratis ? klo diktator ya diktator semaunya entah itu baik ato gak, klo demokratis ya menampung asprasi semua …. hehehe ngrokok lagi ahhhhhhh
cuman butuh perut kenyang aja kok…
Ooops… kabuuuurrrr…..
Kalo pasang iklan, mungkin isinya begini:DIBUTUHKAN DIKTATORSebuah negara amburadul, yang selalu akrab dengan bencana membutuhkan seorang Diktator yang Demokratis.Persyaratan:TegasTidak SerakahPro Rakyat KecilBaik Hatili>Pinterli>Punya Visi ke depanli>…..li>…..
Ayo tambahain kriterianya. Jangan lupa cantumin juga gaji yang diinginkan.
saya kalo pulang ke ngawi juga sering ngomel2 sendiri. dulu ketika saya masih SMP, PK5 yang ada di sekitar alun2 cuman buka malem hari, itupun juga hanya di trotoar luar(ndak dipinggir alun2 pas), hanya didepan DPRD sampai TELKOM. sekarang? semua trotoar dipake PK5, dari pagi sampai pagi lagi. jadi jelek dan ndak nyaman bukan nongkrong. padahal alun2 itu tempat ngumpul satu2nya bagi warga ngawi(jangan byangkan mall atau bioskop atau apapun kalo sedang di ngawi).
seandainya dulu ketika baru 1 pedagang yang muncul dah diusir, pasti sekarang ndak bakal tuh alun2 jadi pasar.
setuju diktator bersih dan gak serakah.
Aku heran, benar – benar heran!! Orang kecil malah dilupakan, nasibnya dicampakkan. Orang berjuang bertahan hidup mengelar lapak ditrotoar notabene PKL eh masih, diusir& digebugi lagi, sungguh tak manusiawi. Sederhana saja alasanya : ketertibah kotalah macem macem deh alasanya. Tinggal dibantaran kali kumuh lagi tapi justru merekalah orang yang jujur!!
Lihat, baru saja seribu wakil rakyat rame-rame berjuang untuk duit koceknya yang harusnya untuk orang kecil disaat mengalami korban banjir seperti. Heran aku, nggak malu paa …? Yah ngomong memang gampang mungkin kalau aku jadi wakil rakyat bisa terlena speti mereka yo ..! Itulah realitas sosial kita, hitungan jari jumlah orang yang bisa dengar hati nurani dan tepa salira/ tenggang rasa …!! Ibu Pertiwi menangis, inikah anak – anakku jaman ini???
Mikrolet M11? Jadi ingat masa lalu. :)
terkadang kita membutuhkan diktator…tapi diktator yang baik…hehehe ada nggak ya…
sama, saya juga sering mikir gitu
kalau susah diatur baek2 dikerasin aja,
diktator? ga ah, tangan besi mungkin, yang penting tegas, ga usah terlalu peduli kata orang
melanggar ham? sudah terlalu sering ham dijadikan payung berlindung dari ‘dosa2′ :p
orang singapur itu bisa ngomong gitu krn negaranya udah teratur, coba kl masih ky indonesia, mau ‘ngabur’ ke negara mana lagi ^-^?
Dari Lord Of War : “…calls themselves by these noble names – Liberation this, Patriotic that, Democratic Republic of something-or-other… I guess they can’t own up to what they usually are: a federation of worse oppressors than the last bunch of oppressors. Often, the most barbaric atrocities occur when both combatants proclaim themselves freedom-fighters…”
huhuhuhu.
banyak solusi om, tapi ga ada pelaksanaan.
Negeri ini sudah pernah mengalami revolusi dan reformasi. Mencoba mengadopsi sistem demokrasi para londo-londo ya sudah. Tapi ternyata juga belum tercapai kondisi yang afdhol. e tanya kenapa?
Mungkin butuh revolusi dan reformasi berfikir. Sebelum bangsa ini terkena evolusi alam.
kadang-kadang saya jg mikir gito. perlu pemerintah bertangan besi ?
Ah, akhirinya ada yang mengulas soal ini :)
Saya lebih senang memilih diktator “putih”. Yang bersih dari korupsi :D
Apa ada ya?