Nebeng Makan
HUENUAK, LHA WONG GRATIS JÉ!

Ketika jam makan siang tiba, sebagian peserta seminar masih asyik berdiskusi sekitar seperempat jam. Setelah itu mereka pindah ke ruang sebelah untuk santap siang secara prasmanan.
Astaga hwarakadah! Lauk sudah habis. Cuma kerupuk dan sambal yang tersisa.
Menurut para pengamat — ya sesama peserta seminar dan petugas jasa boga — penguras santapan datang dari lantai atas dan bawah, seperti ditumpahkan dari lift.
Peristiwa menyedihkan itu terjadi di tengah krismon sembilan tahun silam, saat ekonomi banyak orang sedang tercekik. Seminarnya berlangsung di sebuah gedung intansi pemerintah di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Penyelenggaranya adalah instansi itu. Penyerbu makanannya ya karyawan instansi itu.
Pekan lalu sebuah kantor mengundang saya untuk merayakan ultahnya. Ada pesan: setiap kantor cukup diwakili dua orang karena konsumsi terbatas.
Bagi saya, permintaan itu rasional. Sopan tidaknya bergantung pada cara menyampaikan kan? Juga, jangan lupa, kedekatan pribadi pengundang dengan si terundang.
Saya punya contoh terakhir, dari dua resepsi pernikahan di lokasi yang berlainan belum lama ini. Keduanya punya persamaan: tetamu membludak, sampai AC gedung tak sanggup menurunkan kegerahan hadirin, dan… makanan cepat habis. Padahal tetamu terus mengalir.
Di resepsi pertama, penjaga gubuk es puter geleng-geleng bukan karena mengikuti putaran wadah es. Dia menggeleng karena ditanya kenapa semua makanan habis.
Di resepsi kedua, orang jasa boga yang bertugas mengisi meja mengeluhkan tetamu yang terlalu banyak, melebihi pesanan makanan. Di sana, seorang nona dari wedding organizer mengeluh kepada temannya melalui handy talky, “Gile! Kenapa jadi banyak banget gini orangnya?”
Tamu tak kebagian makanan, bagi saya, ya apa boleh buatlah. Toh sepulang resepsi saya bisa mencari kedai. Tapi bagaimana dengan si empunya hajat, terutama kedua pengantin? Pasti mereka tak enak hati, tapi apa boleh bikin harus terus tersenyum seolah hidangan memadai.
Kali lain saya pernah menghadiri resepsi pernikahan putri seorang juragan stasiun TV di sebuah hotel berbintang lima. Makanan, dan buah segar, amat sangat terlalu berlimpah, dengan keragaman sajian yang kaya, dari masakan Indonesia, Cina, Jepang, sampai Eropa. Makanan di meja belum sampai habis sudah diganti dengan yang baru.
Aneh, tak tampak tetamu yang rakus. Apakah makanan yang berlebihan membuat manusia mblenger?
Tapi di sisi lain, saya pernah mendengar gosip — sekali lagi gosip — bahwa katering tertentu di gedung anu kadang menyediakan makanan dalam jumlah di bawah order.
Saya juga pernah membaca iklan permintaan maaf di Kompas, dari seorang pengusaha katering kepada sebuah keluarga yang barusan bikin pesta pernikahan karena jumlah makanan tak sesuai pesanan.
Seberapa jauh tanggung jawab penyelanggara katering haji kemarin? Saya tak punya catatan.
Pernah saya baca di tabloid Nova, pengusaha katering ditahan polisi karena dia sama sekali tak mengantarkan hidangan ke pesta pernikahan. Si pemesan merasa telah dipermalukan. Tetamu datang tapi tanpa disambut suguhan.
Makanan cepat habis atau malah tersisa banyak, itu bergantung pada sejumlah faktor. Yang langsung terlihat adalah perbandingan hidangan dan penyantap.
Apakah saya pernah numpang makan di acara orang? Ya, padahal tak diundang.
Duluuu… sekali, di masa belia, saya ada janji dengan seorang pejabat. Sudah disepakati untuk ketemu setelah dia berceramah di sebuah konferensi.
Akibat jadwal mulur, ceramahnya ditempatkan setelah jam makan siang. Karena lapar saya ikut prasmanan. Saya paling nglemprot di antara orang-orang bersafari dan berjas di hotel itu. Tak ada satu pun orang yang saya kenal. Kentara sekali kalau nebeng makan.
Eh, nanti dulu. Selain saya ternyata ada juga beberapa penebeng makan. Mereka necis tapi tak ada urusan dengan konferensi: tanpa name tag, dan tak kenal peserta maupun panitia. Ketika saya tanya dari mana, mereka saling melempar senyum.
Salah seorang malah menanya saya, “Lho emang Anda dari mana? Nggak ada urusan sama acara ini juga kan? Kita samalah, Mas! Lunch time gini kan perlu hunting. Ya nggak?”
Hmmm… Mestinya saya dan mereka waktu itu membentuk klub. Coba kalau sudah ada ponsel dan milis, kayaknya bakal jalan deh. Apalagi ada busway: ongkos transpor lebih murah daripada taksi, tapi tetap nyaman.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
- @mbakdos pakde pake jaket kulit? @mbilung @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 memethmeong (medina wulandari)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Cerita Dangkal dari Gambir
April 25, 2010 by AntyoWARUNG TERSEMBUNYI ITU MASIH HIDUP.
Stasiun Gambir Jakarta sudah berubah. Sedikit. Beberapa kios baru sudah terisi. Kafe ber-hotspot sudah ada. TV Gambir terus menayangkan gambar hidup. Dan di bawah peron, tempat menunggu serta masuk-keluar penumpang ke gerbong, tetap ada warung. Itu warung kecil yang dinaungi bibir peron.
Sabtu pagi kemarin [...]
Recent Comments
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





bicara ttg makan sy punya cerita ttg tmn yang agak dikit curang/ nggak tau serakah.
pas di acara buka bersama karena keterbatasan dana ayam goreng di buat pas dengan peserta jadi 1 orang 1 potong giliran orang terakhir nggak kebagian jatah nya bengong & bingung liat tmn smua nyantap dgn uenaknya& mikir siapa yah yang ambil jatah gue?
tmn yang curang juga kliatannya nikmatin banget nyicipin itu ayam .nggak tau knp pas dia agak sedikit nunduk tuk ambil air eeh nggak taunya nasi ama lauknya tumpah ternyata ayam goreng yang tadi itu hilang ternyata diembat dia dgn ditutupi ama nasi weleh2 malunya dia bukan main jangan ampe kita niru deh
Kakak saya pernah punya hajat di kebuh belakang sebuah rumah makan.
Undangan 500 orang, acara baru mulai 30 menit buah-2an sepenuh kereta andong habis
Ternyata ada ibu-2 bawa kresek, keluar masuk tempat resepsi…
balik-bolak ngambil buah tentunya.
Panitianya cuma geleng-2, walaupun tahu itu tamu ndak diundang
wakakaka…
kalau di universitas saya, setiap ada pengukuhan guru besar, paha mahasiswa kere, -seperti saya-, maju bertempur ke meja makan, prasmanan lho pakde…
hwuenak…
salam kenal dari gadjahmada