Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Tesaurus, bukan Dinosaurus

Rabu, 21 Februari 2007 @ 19:37 | Lihat Baca Dengar

LAGI, BUKU KATA-KATA…

tesaurus bahasa indonesia eko endarmokoRancap. Hah? Lengkapnya: Rancap Ismail. Lho? Di sebuah kota di Jawa Tengah pernah ada penjual sate yang penuh percaya diri memasang merek dagangnya dengan nama depan dirinya. Saya, mbakyu saya, dan suaminya, terbahak-bahak.

Entahlah bagaimana riwayat ayah Cak Rancap menamai anaknya. Yang kita tahu, rancap adalah kegiatan seks swalayan.

Hayo, mulai nulis jorok ya? Nggak. Baik KBBI, KUBI, maupun Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI) menyatakan bahwa rancap memang berarti masturbasi atau onani.

KUBI mengartikan rancap sebagai “hal memuaskan hawa nafsu syahwat dgn jalan yang tidak sewajarnya”. Ada pendekatan normatif di situ. KBBI pun demikian, dengan tambahan diapit kurung “dng tangan dsb”.

Tapi bisa jadi ayahanda dari tukang sate itu memakai rancap dalam pengertian kedua, serapan dari bahasa Jawa, yang menurut KUBI dan KBBI adalah “rancung, runcing, tajam sekali”. Tukang rancap, dalam KUBI, berarti “tukang mengasah senjata”.

Apakah swalayan memang seperti mengasah senjata? Menurut KBBI, “merancap” juga bisa berarti “menajamkan senjata”.

Sedangkan TBI mengartikan “merancap” sebagai “v: bermasturbasi, beronani, main sabun, menyabun (cak)“. Di luar urusan sabun-menyabun, TBI juga menjelaskan bahwa rancap, sebagai kata sifat, berarti tajam dan runcing.

Baiklah Ki dan Nyi Sanak, sekarang kita merancap kemampuan berbahasa. Apa bedanya kamus dan tesaurus?

Baik KUBI maupun KBBI mengartikan kamus seperti yang kita kenal. Dalam pemahaman sederhana saya: buku yang berisi penjelasan arti setiap kata. Sedangkan Tesaurus memadankan “kamus” dengan “bausastra (Jw), leksikon, tesaurus, vokabuler”.

Memang, tesaurus bukanlah kamus. Secara gampangan tesaurus bisa kita artikan sebagai daftar padanan kata. Lha apa bedanya dengan kamus sinonim? Memang mirip. Hanya saja tesaurus berusaha menjelaskan lebih lengkap. Dalam penjelasan Eko Endarmoko, penyusun TBI, tesaurus mencakup “uraian tentang ihwal atau konsep dalam berbagai bidang kehidupan atau pengetahuan.” (Mukadimah, hal.vii).

Lantas apa bagusnya TBI? Bagi saya bagus, dalam arti bakal berguna karena akan membantu saya berbahasa Indonesia, misalnya untuk memperkaya pilihan kata dalam menulis.

Sudahkah saya membedahnya lema demi lema? Belum — dan tak usah. Sebagai ganjal pintu (pinjam istilah Mbilung), kamus dan sejenisnya memang tidak untuk langsung dibaca sampai habis. Hal yang sama berlaku untuk buku telepon dan daftar logaritma. Selebihnya ya untuk bantalan kepala Sir Mbilung M(a)cNdobos.

Dalam perjalanannya, karena pemanfaatan dan pembedahan oleh banyak orang, kekurangan sebuah buku daftar kata akan ketahuan untuk kemudian diperbaiki. Kamus yang andal adalah kamus yang terus direvisi.

Karena itulah saya menyampaikan tabik penuh takzim kepada Eko atas ketekunannya menyusun TBI. Dia mencicilnya sejak medio 1980-an, kemudian pada 1993 dia takjub karena kartoteknya “kian menggunung”, sehingga dia terpacu untuk menuntaskannya. Ini jelas pekerjaan melelahkan, harus selalu siap menuai kritik bahkan kecaman, dan tak boleh menolak bila tercebur dalam sengketa kebahasaan.

Menyusun sebuah daftar kata berarti melakukan pembakuan menurut keyakinan diri. Maka saya pun bersetuju dengan Eko perihal “erotisisme”, suatu istilah yang dalam KBBI punya kembaran “erotisme” yang berarti “erotisisme”. Jangan salahkan orang media jika mereka sering memakai “erotisme” karena KBBI menenggangnya — lagi pula yang lumrah cenderung dianggap benar.

Eko (48), redaktur jurnal kebudayaan Kalam, telah memulai langkah besar. Kita berharap akan banyak yang mengikuti jejaknya, dengan mengembangkan isi kamus dan sejenisnya.

Saya bayangkan kita tak akan kerepotan saat menggunakan pengolah kata berbahasa Indonesia karena ada pemeriksa ejaan yang bisa meringankan beban mata dan ganjalan benak Benny Chandra akibat tebaran “slaha fkous”; dan lebih penting lagi pengolah kata itu punya tesaurus. Tukangkoran dan Imponk akan berbahagia jika semua aplikasi penata letak sanggup memenggal kata-kata berbahasa Indonesia dengan benar secara otomatis.

Sebagai rintisan yang dapat terus diperkaya sekarang ada Kamus.net, Wikitionary Indonesia, dan Wikiquote Peribahasa. Kita harus menyalip tesaurus di web seperti yang dipunyai Malaysia.

Kita nantikan isi KBBI, KUBI dan kamus lainnya dipindahkan ke jejaring maya seperti ayat-ayat Alkitab di-online-kan. Jika terwujud, kita kelak dapat memilih arti kata versi siapa yang akan kita rujuk.

Tanpa pendokumentasian daftar kata, kekayaan bahasa kita bisa menyusut. Akan banyak kata, dan ungkapan, yang menjadi fosil, seperti dinosaurus, karena tak digunakan lagi oleh penuturnya. Menjadi fosil, artinya, kalau ditemukan. Kalau tak ditemukan? Kata-kata itu telah lenyap, melarut dalam perut waktu.

JUDUL: Tesaurus Bahasa Indonesia • PENYUSUN: Eko Endarmoko • PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006 • TEBAL: xxi + 736 halaman • HARGA: Rp 170.000

Baca juga:
+ Jay mengaku sulit berbahasa Indonesia
+ Saya selalu gombal dalam berbahasa
+ Sebuah opus, sejumlah catatan
+ Peluncuran Tesaurus
+ A dictionary we’ve long been waiting for
+ Pengulangan dalam Tesaurus

Ada 17 komentar | trackback | Depan

#17

a life’s journey… | 12 07 2007 @ 17.40.03

[...] masih tentang sahaba Thursday July 12th 2007, Filed under: posting nggak penting di saat-saat genting, crispy snacks(kriuk!) Gara-gara comment Paman di postingku yang ini, lalu memberi link ini aku jadi tertarik kemudian tidak bisa berhenti untuk tidak membaca arsip gombal yang lainnya, termasuk ulasan dari bapak Jay adalah Yulian. Whua…. betapa parahnya blog ini dalam hal berbahasa Indonesia yang baik dan benar, baik dalam ejaan, penulisan huruf besar dan huruf kecil maupun tanda baca. Ah, dulu waktu sekolah, pas pelajaran bahasa Indonesia, aku ada dimana yah? Entah. [...]


#16

Jephman | 23 02 2007 @ 9.04.53

Kasihan Pak Rancap diketawain

Padahal mgkn namanya dalam bhs Madura gak punya arti mesum spt bahasa Indonesia dalam otak Om Tyo

Biar deh yg penting Pak Rancap nggak ngetawain Om yg punya nama bagus dr orangtuanya yg terdidik dgn Bahasa Indonesaia yg baik dan benaaaaar

cuih!

Maafkanlah kenaifan saya waktu itu. Setelah tercerahkan oleh “rancap” yang juga berarti tajam (bahasa Jawa: landhep) dan runcing seperti senjata, maka jelaslah nama itu sangat gagah, amat mempria. Terima kasih atas kritik Anda.
Paman Tyo


#15

bee | 22 02 2007 @ 23.37.18

Kita -tentu termasuk saya- adalah bangsa yg kurang percaya diri dalam urusan berbahasa. Menggunakan kata asli bhs Indonesia buat kita terkesan ndeso, gak gaul, kurang modern, uneducated, dlsb, padahal sebenarnya gak juga. MPS (menurut pendapat saya), hanya masalah kebiasaan dan pembiasaan. Sayangnya media kita yg seharusnya bisa membantu pembiasaan tsb, juga ikut2-an gak pede. :( Coba bandingkan dgn negara jiran, walaupun awalnya terasa janggal, tapi lama-kelamaan akan bisa diterima juga. Walaupun demikian, ada juga padanan kata yg sukses, misalnya “suku cadang” sbg terjemah dari “spare part”. Tapi ada juga yg gagal, misalnya “mangkus dan sangkil” sbg terjemah dari “effective and efficient”. Ya… itulah Indonesia. :P


#14

JaF | 22 02 2007 @ 17.26.25

hmm.. pertama clitoris, sekarang rancap.. Jorok nih si om.. hehehe

Oya setahu saya lancap adalah kata yang tepat.. Mungkin saya harus cek KUBI lagi :)

Baru tau nih tesaurus yang satu ini. Nanti tak beli ah..


#13

johnherf | 22 02 2007 @ 13.23.11

“Saya perlu menjelaskan turunan tesaurus dengan rinci melalui bagan yang bisa ditampilkan pada layar. Penjelasan rinci ini perlu saya sampaikan untuk menjelaskan tesaurus yang membedakan (bukan) dengan dinosaurus,” demikian Anton Moedardo Moeliono pernah menjelaskan saat peluncuran Tesaurus Bahasa Indonesia di Bentara Budaya Jakarta. Isi pernyataan ini persis saya kutip judul “Tesaurus, bukan Dinosaurus” seperti yang dijelaskan oleh pakar bahasa Indonesia. Kok bisa klop ya, … hehehehehe, ….


#12

mpokb | 22 02 2007 @ 11.16.08

penting nih, supaya nggak salah konteks. jangan sampai keluar lagi tulisan “saat ini masyarakat sedang terhegemoni piala dunia” *gubraks*
btw, mangkus dan sangkil langsung jadi dinosaurus. kenapa yak?


#11

Adi Suryono | 22 02 2007 @ 10.13.12

Wah, kata-kata yang telah menjadi fosil itu kira2 punya nilai jual gak yah? Mungkin suatu saat ada yang tertarik menerbitkan buku “Kumpulan Lengkap Kata-kata Bahasa Indonesia yang Sudah Punah”.


#10

Kombor | 22 02 2007 @ 10.12.12

Saya ini termasuk yang sok bisa berbahasa Indonesia, Paman. Makanya sampai umur kepala tiga gini belum pernah punya KBBI. Mungkin karena bukan pegiat media atau tukang nulis untuk cari duit sehingga saya sampai saat ini belum berniat beli KBBI.


#9

dhany | 22 02 2007 @ 9.57.12

Rancap bana…?, kata orang Padang artinya apa ya..??


#8

kw | 22 02 2007 @ 9.41.07

paman, ada entri ga di tbi itu padanan kata-kata: mouse, monitor, microchip, hacking, cracking, phreaking, phising? :)


#7

beta | 22 02 2007 @ 7.58.28

Paman kalo buka kamus cari kata-kata yang gimana sih?


#6

Ahmad | 22 02 2007 @ 6.56.17

Merek, di Malaysia, disebut jenama. Kata ini sering digunakan dalam bahasa keseharian dan iklan.

Uniknya di negeri jiran, kata asing kadang diterjemahkan secara harfiah, seperti password menjadi kata laluan, download menjadi muat turun. Asyik, bukan? Berbeda dengan kita yang menyebutnya sandi dan unduh.

Awalnya, saya tidak merasa nyaman, tetapi surat kabar di sana telah membuat saya akrab dengan kata-kata di atas.


#5

Pudak Online | 22 02 2007 @ 0.30.00

terus gimana kita bisa belajar bahasa Indonesia dgn baik, lha wong paling enak itu bahasa yg dimengerti oleh kita sendiri, nggak nyambung!


#4

Moes Jum | 21 02 2007 @ 23.45.45

Kalo kamus bahasa ajur2an gaya nggombal, ndobos, sama pecasndahe ada gak yaa?


#3

Naif Al'as | 21 02 2007 @ 23.02.44

paman, knp yah harga buku di endonesiah mahal² ?, gmn orang mau pinter. wajar aje kalo banyak orang (termasuk jay) ngaku susah berbahasa endonesiah :D


#2

tito | 21 02 2007 @ 20.38.04

loh, Cak Mail itu nama depannya rancap, toh?


#1

kunderemp | 21 02 2007 @ 20.16.21

Sayangnya.. belum ada antonim. Eh.. wiktionary berbahasa Indonesia sudah ada yah?