Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Koran Bocah

Jumat, 23 Februari 2007 @ 22:50 | Lihat Baca Dengar

DARI ANAK, LEWAT ORANG DEWASA, UNTUK ANAK.

koran dan majalah untuk anak-anakSaya ambil satu dari meja kasir. Lantas saya minta tolong Mbak Kasir untuk menyatukannya dengan buku-buku dalam tas kresek.

“Maaf,” kata Mbak Kasir, “yang ini nggak gratis, Pak.”

Dua ribu rupiah harganya. Pernah selintas saya mendengar tentang koran anak, tapi lupa namanya. Ternyata majalah 16 halaman yang saya kira gratis inilah barangnya.

Berani, namanya. Sigkatan “Berita Anak Indonesia”. Menyebut diri sebagai “koran anak pertama di Indonesia”. Dicetak di atas kertas koran, baik sampul maupun isi. Ini mengingatkan saya pada bacaan bocah saat saya belajar membaca: Si Kuntjung. Dulu ada koran mininya, yang diisi oleh Warcil (wartawan kecil) dan Juwarlik (juru warta cilik).

Bentuk media lama — yaitu cetak — masih bertahan, dan tetap ada saja yang mencoba melayani anak-anak, bersama acara TV untuk bocah, bahkan saluran khusus anak-anak, dan sajian multimedia lainnya. Sempat ada Krucil (kru kecil) di TV, tapi memunculkan ekses: seorang cewek reporter mungil sebuah majalah berita diledek sebagai krucil.

Dalam media cetak, sajian untuk anak ada yang muncul sebagai majalah khusus. Misalnya Bobo, Mombi, dan Orbit. Ada pula yang menjadi rubrik atau lembar khusus koran. Misalnya halaman Anak di Kompas dan lembar Iptek untuk bocah di Koran Tempo.

Untuk halaman Anak di Kompas, meskipun isinya sudah berbeda, itu seperti mengembalikan sesuatu yang selama tiga dasawarsa hilang. Dulu pernah ada, kemudian memisahkan diri menjadi Bobo. Sama seperti halaman remaja akhirnya dilepas menjadi majalah Midi, yang SIT dan kemudian SIUPP-nya (maklum era lama) menjadi Hai.

Dulu, selain Si Kuntjung, ada pula Kawanku. Uniknya, majalah anak-anak Kawanku itu diterbitkan oleh aktivis, antara lain Asmara Nababan. Saat itu dia masih jadi demonstran (eh, tetap ding), aktivis Golput (antara lain bersama Arief Budiman), dan aktivis rembuk budaya yang bermarkas di Balai Budaya.

Kawanku versi lama, selain punya bonus koran bocah bernama Kawanku Gazette, menyajikan sesuatu yang beda dari Si Kuntjung. Yang langsung tampak adalah ilustrasinya: terlalu nyeni untuk ukuran anak-anak masa itu, karena “tidak realistis”, tidak mirip dengan ilustrasi buku pelajaran. Gaya Sanggar Bambu ada di sana. Yah, itulah Kawanku: mengasah apresiasi anak-anak terhadap sastra dan seni rupa.

Menulis untuk anak-anak itu susah. Tak semua penulis mampu. Renny Yaniar bisa bercerita, baik membuat cerita anak maupun menceritakan proses kreatifnya kepada kita.

Dunia anak-anak. Dari sisi ideal, dunia mereka mengundangkan panggilan bagi orang dewasa untuk memberikan banyak hal yang diyakini baik untuk masa depan mereka. Maka beberapa lembaga keagamaan pun membuat majalah anak. Dari sisi bisnis ini juga peluang. Dari segi politik, atau apa pun atas nama kepentingan negara, ini juga tugas — setidaknya tugas berbingkai kehumasan.

Maka ada National Geographic Kids. Bahkan Time pun bikin Time for Kids. Sedangkan CIA secara terang-terangan membuat situs untuk anak: CIA’s Homepage for Kids. Portal federal juga ada: Kids.gov. Yang menantang bagi anak-anak mungkin ini: CryptoKids milik National Security Agency.

Di Indonesia ada Deplu Junior. Kita tunggu Tempo Bocah versi cetak maupun online. Situs BIN Anak? Atau web BAIS Anak? Huss. Tatuttt. Situs KPK untuk anak kayaknya lebih perlu. Begitu pula situs DPR-RI untuk Anak atau Parlemen versi bocah.

Tapi semua itu akan lebih hidup jika memberi kesempatan anak untuk bicara. Bukan zamannya lagi menyuapkan info searah secara father knows best. Interaktivitas, berbasis komunitas, itulah mantranya.

NB:
Saya sempat keliru karena kurang teliti. Mulanya saya menyangka Maverick bikin situs anak Maverickid(s).

Ada 18 komentar | trackback | Depan

#18

blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Si Bayi Butuh Nama | 25 09 2007 @ 15:16:58

[...] Langkah koran untuk bocah, yaitu Berani, juga layak dilanggengkan. [...]


#17

Pake Untung | 01 05 2007 @ 16:57:52

Saya selalu emngamati penerbitan Berani! Saya pikir ini media terlalu mencekoki anak pada berita-berita orang dewasa. La bahannya saja ketahuan dari Antara dan situs. Itu berita kan versinya orang dewasa! Maksudnya sih mau dibikin versi anak-anak. Eh tapi bahasanya itu lo… menggurui banget. Saya lihat marketing Berani memang gencar ke sekolah untuk memaksa anak membaca . Mempengaruhi para guru dengan kata-kata ini koran kan dalam rangka gerakan membaca 1 jam sehari yang didukung Diknas. Wah, wah… padahal saya amati anak-anak tidak mudeng dengan isi koran. Anak terpaksa langganan karena disuruh gurunya. Kasihan banget anak-anak kita yang dijejali begitu demi keuntungan pribadi koran Berani. Tolong pendiri koran Berani untuk introspeksi.


#16

redi | 19 04 2007 @ 11:01:54

Salam kenal, Paman.
Good writings, nice blog, cool owner ^-^.
Baidewei, aku kerja di majalah anak juga. Mentari namanya. Beredar di Jawa Timur sejak 1980. Berusaha survive sampai sekarang, sambil terus belajar.
Havanaizdei.


#15

dz. | 15 03 2007 @ 15:59:46

saya lagi nyari bahan bikin majalah anak. eeh, “nyasar” ke sini.

inspiratif betul tulisannya, paman tyo:)

nanti ta’ kabari kalau majalahnya jadi. atau mau bantuin? *serius: ayo doong, bantuin*

salam.


#14

Tukang Koran | 26 02 2007 @ 8:58:51

Blogombal for kids :-)


#13

kabar burung | 25 02 2007 @ 13:33:51

long time no see, paman.


#12

kardjo | 25 02 2007 @ 1:08:47

ada yg kelewat kayaknya…. BIMBA (sisian majalah Femina) … KUNCUP terbitan Dep. P&K (kalau gak salah).


#11

nila | 24 02 2007 @ 20:27:24

tapi..kadang orang tua bikin sesuatu buat bocah….tapi tidak menempatkan diri sebagai bocah…padahal orangtua sendiri kan pernah jadi bocah


#10

de | 24 02 2007 @ 17:08:09

Ada lagi Om, namanya majalah Kuncup.

Ada juga Cemerlang, yang kemudian menjadi Anita Cemerlang. Sedangkan Kawanku sempat menjadi majalah cowok ABG Stil (saya tidak ingusan lagi?), kemudian berubah menjadi majalah remaja cewek sampai sekarang. Perhutani dulu juga bikin buletin, ada halaman anaknya.


#9

triadi | 24 02 2007 @ 13:22:36

wah saya buka linknya keren keren paman, nanti saya copy ide paman gimana?…:)),perang-perangan for kids (dephan punya). Matur nuwun ki,inspiratif paman ni..


#8

nananias | 24 02 2007 @ 11:48:22

saya inget jaman SD paling seneng hari kamis, papa datang dari kantor nyangking kawanku :D


#7

lakzon | 24 02 2007 @ 8:22:28

:D tambah lagi info nih… malah baru tahu ada byk koran anak ya…


#6

Helgeduelbek | 24 02 2007 @ 8:21:14

Koran bocah, dari anak, lewat orang dewasa, untuk anak orang kaya. Anak orang miskin mana sanggup beli Om.


#5

Ahmad | 24 02 2007 @ 7:11:41

Keponakan saya tampak asyik dengan Bobonya. Sebagai paman, saya turut senang karena kebanyakan anak-anak desa seusianya jarang menyentuh bacaan. Maklum, harga majalah anak terlalu mahal untuk kantong mereka.


#4

sawung | 24 02 2007 @ 6:09:43

sudah baca bobo sekarang? kok isinya buat kalangan ke atas ya. saya kira anak-anak ga mengalami rasisme ternyata mengalamai rasisme juga.


#3

Wahyu | 24 02 2007 @ 5:22:54

Majalah yang paling disukai Paman Tyo itu katanya Bobo ama Gadis


#2

kw | 24 02 2007 @ 5:13:41

paman, yang belum ada hentai for kid. bikin yuk :)


#1

abi_ha_ha | 24 02 2007 @ 0:12:13

omong-omong KPK, mereka pernah lho menghadiahi pelajar Endonesa dengan iklan di TV dalam rangka HarDikNas, intinya : “Nyontek=Korupsi”.
Pendekatan yang semprul!