TAK MUDAH MENJADI ORANGTUA.

tetesan air untuk becermin

“Mana putra Ibu? Dia yang ngempeskan ban truk saya!” kata serdadu itu.

Pagi ini dia seperti datang lagi. Tapi saya tak bersembunyi di balik pintu seperti dulu. Juga tak ada Ibu yang melindungi saya pagi ini.

Saat itu saya belum dikirim ke TK. Sendirian jongkok di samping truk militer bikinan Rusia yang parkir dekat rumah. Saya tekankan telunjuk pada pentil ban. Cezzzz…. Angin keluar. Saya ulang. Ulang. Dan ulangi. Cezzz, cezzz, cezzzzzzzz…

Saya raih tangkai kelengkeng. Saya tancapkan ke dop ban. Cezzzzzzzzzz….. Angin keluar tiada henti. Mengasyikkan. Tapi akhirnya saya bosan juga. Lalu saya tinggal. Pulang ke rumah. Makan siang. Selesai makan menggambar. Kemudian datanglah serdadu itu.

Pagi ini Pak Pendeta seperti hadir lagi. Berpamitan di teras, “Nyuwun pareng, Mbakyu.” Gegas langkahnya terhenti. Pitmontor udhug, kalau tak salah merek Jawa, sudah terguling.

Bukan niat saya untuk menggulingkannya. Saya tadi hanya ingin menaiki, bersama kakak saya. Tubuh-tubuh kecil kami belum dapat menjaga kesimbangan sepeda motor yang hanya didirikan dengan penyangga samping.

Hanya sekelebat Pak Pendeta hadir. Lalu datang Oom D pagi ini. Dengan amarah. Ada grafiti di tembok kantor yang sekaligus pondokan gratisnya. Saya, masih kelas satu SD, menorehkan tulisan karena didikte anak-anak yang jauh lebih besar, ada yang sudah SMP.

Mereka sedang jengkel terhadap Oom D, lantas mendapatkan bocah untuk dibombong dan dijerumuskan dalam permainan lempar bola sembunyi raket.

Sayalah yang memetik hasil. Dari publikasi tulisan pertama saya. Dilabrak ke rumah. Orangtua malu dan marah. Ketika tubuh saya sangat kesakitan, Oom D yang dari tadi menonton itu tertawa puas seperti penjahat dalam film tersulih suara. Tawanya tak wajar tapi menyakitkan.

Publikasi kedua berupa poster: “Di sini jual Nalo“. Hanya meniru tetangga. Saya sedang merasakan asyiknya menulis karena baru mengenal huruf. Bapak merasa dipermalukan, tapi hanya tertawa geli.

Pagi ini sakit di paha saya akibat cambukan muncul lagi. Ada bilur memanjang, tinggalan ujung pecut kusir dokar yang menyabet ke belakang tanpa menoleh.

Dia tahu, jika dokar berat di belakang berarti ada bocah nggandul. Sekali peringatan tak diindahkan, cambuk pun bicara. Dalam sekejap dokar pun berkurang beban. Bocah kecil terduduk di pinggir jalan. Meringis menahan perih.

Sekarang saya sudah jadi orang tua dan orangtua. Ternyata tak mudah.

Burung, atau pesawat, dari kertas itu melayang. Hasil buatan sendiri. Terbang tinggi. Berputar dalam manuver cantik. Lalu turun, menyambar kening sopir oplet Salatiga-Banyubiru yang sedang melaju di depan rumah.

“Putra Ibu barusan melempar mata saya dengan batu,” katanya, sore itu, setelah turun dari mobil. Orang dewasa ternyata pintar memelintir fakta.

Pagi ini, ya masih gelap, terbayang kesilauan (Si)Wo Ilah suatu siang. Dia pemilik warung dekat rumah, di seberang jalan.

Beberapa kali Wo Ilah gagal membuka setoples saat melayani pembeli. Matanya terbutakan oleh pantulan matahari yang disorotkan oleh sebuah cermin dari sebuah teras rumah. Cermin di tangan saya.

Masa kecil yang terisi aib. Sebagian dilakukan sendirian tanpa teman, tanpa larut dalam arus hura-hura sesaat. Bagaimana jika anak-anak saya mengulanginya? Tak mudah menjadi orangtua. Harus siap menanggung ulah.

© Foto: Dayinta Sekar Pinasthika

 

64 Responses to Masa Bocah

  1. STR INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    harusnya smash bola sembunyi raket

  2. mei INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    hihi..paklek…ngkel aku baca ini!!!jadi ingat jaman kecil dulu..setubuh aku sama sampean paklek…gak mudah jadi orang tua..hihi

  3. [...] Ingatan masa kecil memang menarik, banyak hal-hal yang dapat menjadi kenangan, bahkan Paman Tyo pun menulis tentang kenangannya masa bocah untuk penanda hari lahirnya. Mengenang bagaimana kita dahulu dan bagaimana kita sekarang dan mengira-ira bagaimana kita nanti. Ataukah jangan-jangan ingatan kita hanya akan terus tertumpuk dan -meminjam istilah dari paman tyo- melarut dalam perut sang waktu. [...]

  4. JaF SINGAPORE Internet Explorer Windows says:

    Wah telat mbah.. Selamat ulang tahun. Semoga panjang umur dan terus konsisten ngegombal (baca: ngeblog) ya… :)

  5. bahtiar INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    rasane mak nyus … moco tulisane Paman : ultah menelusur ingatan masa lalu …

  6. mariskova INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    Saya baru aja curhat ttg ulah si kunyil di rumah. Pdhl sumpah, spertinya saya dulu gak pernah berulah…

    Om, met ultah ya. Barengan nraktir dng Sir Ndobos gak? (hehehe… bawa2 nama orang)

  7. ancilla INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    paman, tidak ada sertifikasi “orang tua yang baik” walaupun ini profesi yang amat sangat krusial dan memiliki pengaruh yang hebat thadap dunia…

    *happy belated birthday ^^

  8. thya INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    paman ultah toh ?
    waaaa…. selamat yah !

  9. kwak kwik kwek INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    Hlo paman ultah to Paman, rencana mangan-mangan gratis nang kutha-ne kapan :-)) Yo wis, usul ditampung dulu yo, pokoke semoga panjang umur yo Paman!

  10. eka INDONESIA Opera Windows says:

    Entri penanda ultah yg keren. Selamat ulang tahun, Paman Tyo. Semoga sehat selalu :).

  11. escoret INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    jadi,kapan akan di bikin rame-ramenya?

  12. devie INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    walah! pakde ulang tahun to kolo wingi puniko? sugeng pengetan warso nggeh pakde? [boso jowone ulang tahun paan seh?]

    mugi katurutan sedoyo kapinginan.

  13. snydez INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    selamet ya oom :)

  14. [...] NB: Terima kasih untuk para pengucap selamat ulang tahun. Terima kasih untuk sobat yang belum ingin melihat warung gombal ini tutup. [...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.