Dari Mana Datangnya Kekerasan?
ANAK DISEKOLAHKAN UNTUK DIBUNUH TEMANNYA.
Ada yang masih percaya bahwa ketegaran bisa dibentuk melalui penyiksaan.
Ada yang masih yakin bahwa membuat orang lain menderita adalah jalan luhur menuju sebuah korps tangguh.
Cacat raga dan jiwa, bahkan hilang nyawa, hanyalah ekses belaka, itu lebih tersebab oleh kelemahan orang tertentu.
Tak ada yang namanya korban. Yang ada hanyalah orang-orang lemah yang layak kalah. Orang-orang yang tak siap menjalani laku disiplin sesuai kemauan kelompok. Orang-orang malang. Orang-orang sial. Layak disingkirkan.
Di rumah bui itu berkemungkinan terjadi. Dalam gerombolan begal bengis itu bisa terlaksana tanpa tangis. Di hutan rimba apalagi.
Tak mungkin itu terjadi di lembaga pendidikan mana pun, termasuk sekolah dinas milik instansi pemerintah — sekolah untuk mencetak pelayan masyarakat yang biaya pendidikannya ditanggung oleh rakyat. Tak mungkin itu terjadi. Tak mungkin.
Orang terdidik, calon pelayan masyarakat, tak menjadikan kekerasan sebagai untaian rantai tanpa sudah. Membalas luka kepada pendatang baru, atas nama inisiasi, karena tak berani membalas seniornya, adalah cerminan kekerdilan jiwa.
Kemarin terjadi. Seorang siswa sekolah dinas mati teraniaya oleh seniornya. Dulu juga terjadi di sekolah pencetak pamong praja. Tentu ada pula, dan mungkin lebih banyak, yang tak sampai mati. Sepasang orangtua tiga tahun lalu bercerita kepada saya, putranya masuk rumah sakit karena dianiaya seniornya di sebuah sekolah dinas pencetak pelayan perpindahan orang antarnegeri.
Dulu sekali, bukan di sekolah dinas, tapi di sebuah perguruan tinggi swasta Jakarta, seorang mahasiswa, The Manto namanya, meninggal setelah dianiaya seniornya di korps kegiatan bela negara saat inisiasi.
Orang-orang gagah bertindak keras untuk melawan. Hanya saja, bagi orang-orang gemagah — seolah gagah, merasa dirinya paling perkasa — apa pun sikap dan perilaku orang lain yang tak sesuai kemauan hati dan selera pribadi berarti pembangkangan, berarti perlawanan, sehingga harus ditundukkan dengan kekerasan.
Mungkin ada yang salah dalam seleksi, baik di pihak penyaring maupun calon peserta didik. Maka jadilah sekolah sebagai sasana besar dengan aturan yang lebih longgar — dan lebih ngawur — daripada sasana tinju maupun padepokan kanuragan.
Di tempat orang-orang berguru kemahiran berkelahi, setahu saya, jarang ada orang mati karena dibunuh oleh teman seperguruan — kecuali dalam cerita silat. Di lembaga pencetak prajurit, yang memang dibiasakan dengan kekerasan dan kekasaran, sejauh saya dengar jarang (atau tak ada) yunior dianiaya sampai cacat bahkan meninggal. Kalau pun ada, kita tak layak menenggang dengan alasan “namanya juga lingkungan keras”.
Maafkan saya, catatan ini tak menjawab judul klise di atas karena saya memang tak dapat. Bukankah ada ahli yang lebih waskita dalam soal ini? Bacalah ini.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Tahu Bacem February 8, 2012Temannya tempe bacem. Tapi paling enak itu ya bacem dengan tahu segitiga berkulit dan tempe mlenuk. Permalink | Leave a comment » […]postyorous menerous »»»
- Tahu Bacem February 8, 2012
Cicitcuit!- RT @didinu: @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 InkaSativa (Twinika Sativa F)
- @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 didinu (didinugrahadi)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Nasib Titik dalam Jazz
September 25, 2006 by AntyoINDONESIA KITA: EMBLEM PUN DICONGKEL.
Sudah jadi pengetahuan umum bahwa titik di atas huruf “j” dalam emblem Jazz-nya Honda itu pada raib. Begitu pula si titik di atas “i” dalam emblem “Fit”. Kabarnya sih para pencongkel menjadikannya sebagai mata cincin.
Maka jarang sekali kita, terutama di Jabodetabek, melihat emblem yang utuh, bahkan pada Honda [...]
Recent Comments
danang» milih golput aja ah..selama masih tokohnya itu2 ajah,,
Kaget» Apa kita nantinya ngga pada bingung Paman? kamus IT, kamus tehnik, kamus bahsa,….. kedepan akan muncul kamus2 lain. masalahnya cuma satu,… zaman sekarang yang serba sibuk melihat gadget, kapan buka kamus-nya?
mpokb» Aha, bagus nih buat rujukan.. Lalu entri semacam “kerudung wajib lapor” atau “jilbab Islam KTP”, masuk di kamus mana ya, Bang Paman? :D
askep» Saya sebagai salah satu pembuat karya di situ kok merasa tidak terkesan dengan kehadiran Foke dan pembantu2nya di situ. Oh, ada sih, saya terkesan dengan sulitnya ijin yang berbelit2, untuk acara yang mereka selenggarakan sendiri.
ewesewes» Beli ah!
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





saya sangat tidak setuju dengan kekerasan yang terjadi di IPDN karna dengan pola pendidikan yang keras mereka terbiasa dan menganggap semua itu sudah biasa dan mereka nantinya akan melakukan hal yang sama dengan apa yang mereka rasakan.dan akhirnya kejadian itu akan terus berlanjut
Menurut saya bawa kekerasan dalam anak dilingkungan sekolah itu sebenarnya mencerminkan perilaku anak itu sudah menginjak kepada tindakan kekerasan dalam ini tindakan-tindakan tersebut sudah menjadikan kriminalitas karena dapat menyebabkan kematian pada umumnya. Dapat kita rasakan bahwa kita tengoh saja di smu smu dijakarta yang tiap hari mengalami kekerasan dalam bentuk tawuran droup droupan dan akhirnya bunuh bunuhan. Sifat yang seperti ini memang kalau kita rasakan remaja remaja sekarang ini belum bisa dewasa dan juga belum bisa mendewasakan lingkungannya.
sadis, sadis emank, dr pejabat smp anak sekolah sadis… ;)
Gmana nih Om ? Guwe barusan buka blognya tetangga (mas Yono) ada mantan praja IPDN yang bersilat lidah ngebelain kampusnya. Namanya Mhira…(praja cewek) katanya Pak INU lagi sandiwaralah.. itu hanya oknum lah..segelintir orang lah… itu bukan kekerasan bukan penyiksaan Bah..!! Muak aku om.Lha wong dah jelas-jelas penyiksaan tersistem begitu.. Mhira kayaknya dah picek, budeg, en ndableg deh!! Jangan – jangan otaknya en nuraninya dah lama ilang en tumpul karena dia sering digilir kali disemak-semak jatinangor…?? atau dia juga malah menikmati digilir praja-praja beringas itu. Hii amit-amit deh…Sekarang bandingin aja ama kondisi kekerasan yang mungkin terjadi dalam sekolahan atau kampus lainnya lainnya. ada kasus pelajar SMU ditempeleng guru, wah… ampe panjang buntut kasusnya. ketahuan orang kanwil bisa dimutasi en dipecat tuh guru. Tapi IPDN ( insetitut pesikopat dalem negri ) kayaknya ancur abiss deh !! Gue tinggal deket ama komplek Akpol aja gak pernah lihat ada penyiksaan macem IPDN begitu, paling-paling push up, lari, nguras kolam ikan, nguras bak mandi di asrama-asrama ( mendingan malah sekalian buangin jentik-jentik nyamuk DB) kalo ada paling berantem karena selisih paham en bentar aja dah selesai. tapi IPDN tuh ampun-ampun deh ! Itu kayak tentara NAZI aja. Nyiksa orang sambil cengengesan kayak Dr. Hannibal. Wah gak bener deh en guwe lama-lama jadi emosi kalo inget pengalaman dulu… Untung dulu gue gak jadi daftar, insting gue dulu bilang:kayaknya ini sekolahan gak beres, kok kayak begini seragamnya, banyak tampang-tampang praja seniornya kayak ZOMBIE. Eh ternyata bener adanya.SADIST……..Selamat jalan Cliff semoga engkau adalah korban terakhir dari Neraka IPDN
photo-photonya orang demo ipdn
http://demo.kukuhtw.com/ipdn
[...] Tautan: + Kekerasan dalam sekolah dinas pemerintah + Kaos trendi alumni IPDN [...]