Capung bin(ti) Kotrik
ANAK KOTA KURANG MENGAKRABINYA.

“Lho suara apa itu?” tanya si kecil. Saya bilang itu capung. Sayapnya bergetar karena dia ingin membebaskan diri dari keterjepitan di antara tembok dan kaki meja di kamar saya barusan.
Kemudian saya menanya si kecil apakah belum pernah pegang capung. Dia lupa-lupa ingat, kayaknya sih pernah. “Kotor nggak, Pak?” tanyanya. Saya tertawa, “Nggak.”
Setelah saya jerat ke dalam kartu memori, capung itu saya lepaskan. Biarlah dia terbang bebas. Bertemu teman dan mungkin jodohnya. Kopdar di Bundaran HI.
Capung, papatong, kinjeng, kotrik. Masihkah anak-anak kota besar mengakrabinya? Pernahkah mereka mencoba menangkapnya?
Saya membayangkan anak kecil Jakarta yang tinggal di kondominium lantai 33, yang begitu keluar dari menara langsung sampai ke mal yang sekompleks, lantas berangkat-pulang sekolah dalam mobil, padahal selama bersekolah jarang berkejaran di taman, dan jarang diajak blusukan ke alam terbuka…
Mungkin dia hanya tahu capung dari tayangan demo layar gede TV plasma di toko elektronik.
Waktu kecil saya paling senang jika berada di tengah hamparan rerumputan dengan capung beterbangan. Yang paling saya suka, tapi jarang muncul, adalah capung merah.
Menyenangkan sekali waktu SD mengerjakan proyek kolektif insektarium. Kini setelah kamera digital dan ponsel berkamera menjadi benda konsumsi biasa, sudahkah peranti itu dilibatkan dalam belajar dan mengajar?
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012Etalase ini memuat ketidaksopanan. Pokoknya bertentangan dengan ketimuran. Berseberangan dengan moral dan kebudayaan bangsa Indonesia. Tidak layak dipertontonkan kepada khalayak ramai maupun sepi. Misalnya seorang perempuan mencengkeram d... […]postyorous menerous »»»
- Etalase yang tak Sopan May 16, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 AmmaRahmawati (Rahmawati)
- RT @cho_ro: Bagi pencemburu berat, kecemburuan itu soal eksistensial: "aku cemburu maka aku ada". ~ @PamanTyo May 16, 2012 alienized (Simply A to the L)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Mendidik Masyarakat: Siapa Mendidik Siapa?
February 13, 2010 by AntyoBUKAN BERARTI ORANG BOLEH SEMAUNYA DI INTERNET, TAPI…
Jika di blog ini saya mencomot hasil jepretan Anda tanpa permisi, apalagi karena itu saya mendapatkan uang, bagaimana? UU HAKI sudah mengaturnya. Begitu juga ketika saya menista Anda di sini. KUHP pun bisa menjerat saya.
Blog ini hanya media. Di dalamnya ada cara. Untuk dua hal dalam [...]
Recent Comments
dihas» semuanya akan mempertanggungjawabk an di mata Tuhan… itu juga kalau Tuhan tdk sedang tidur dan mogok bicara….
danparjo» aku duda 38 tnpa anak…krj ngajar musik…. aku cri janda to serius nikah bkn main main….umur 33-45..suku bebas
Totot» Buat saya tidak sulit. Dalam sejarah peradaban manusia, radikalisme selalu ada di semua tempat dan di setiap zaman. Jika tersedia ruang, mereka juga selalu menjadi ofensif. Menurut saya ini bukan persoalan FPI. Jika Sodara rajin mengikuti Metro Malam, setiap hari sedikitnya ada lima...
Judhianto» Yang lebih sulit adalah memahami Polri dan Pak Beye. Lha sudah jelas melanggar hukum kok dibiarkan, malah kesannya malah merestui kelompok psikopat itu. Jangan-jangan si Rizieq bakal punya kantor sendiri di Mabes Polri untuk memudahkan koordinasi?
hedi» Tuhan memelihara perbedaan di muka bumi selama jutaan tahun. Jangan coba-coba menyatukan perbedaan itu. Akan sia-sia. Demikian kata seorang bijak suatu waktu :D
Recent Trackbacks
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Kasian anak kota, nangkep capung aja masuk blog
:P
anakku suka nangkap capung. diiket ekornya pake benang trus dilepasin lagi. Horeeee aku punya pesawat terbang. Sadis yo Om?
wah, itu gambar capung yang waktu dulu saya kecil ngegigit saya pak de. gara-gara digigit capung waktu nangkep buntutnya, saya jadi takut sama capung sampe sekarang.
di sekitar rumah saya, capung dan belalang masih banyak. tapi pernah saya ajakin mereka naik bis waktu pulang kampung. di pinggir jalan banyak kebo. anak saya tereak2, ” ibu, ada gajah..ada gajaaahhh..”
oalah gustiiii….:(
Halah Paklik, jangankan yang di Jakarta, anak di kota kecil kayak Magelang sini aja banyak yang nggak tahu kinjeng je. tahunya dragonfly (karena liat merk sepatu gurunya yang jigo-nan). Lah, dikatakan maju ya belum, dikatakan tertinggal kok wis sok nguthani. piye iki ?
Paman.. saya kirim supri (surat pribadi) ke kontak.
Sudah pernah nyoba yang digoreng? Gurih dan enak juga ternyata.
Kalo capung pastinya ga pernah diakrabi pak sama anak-anak kota. Tapi kalo playstation pasti deh kayaknya. :D
Saya ingat waktu kecil menangkap capung dengan getah nangka yang dilekatkan pada lidi. Biasanya, sehabis panen, capung terbang bebas di hamparan sawah kampung.
Kami menikmatinya dengan berkerjaran, menemani capung menikmati makan siangnya.
kalau dikampung saya itu namanya papatong :D
waktu masih sd, suka nangkepin capung di sawah. kalau pagi-pagi biasanya mereka ‘tidur’ dan mudah ditangkep pake tangan (nggak pake alat).
abis ditangkep, biasanya kita iket kakinya sama serat dari pelepah pohon pisang. trus capungnya dilepasin lagi, tapi masih dikontrol sama tali yang udah diikatkan dikakinya hehehe.
hmm, sama seperti no 8, kadang capung dikasih baju dari kertas, trus dilepasin lagi.
*kasihan yah capungnya*
Capung merah dulu sering saya lihat di sawah belakang kampung. Dekat rumah cuma ada capung hijau biasa dan capung kuning (atau oranye, ya?).
Untungnya di pinggir Jakarta ini masih banyak ayam, bebek, kambing, angsa, dan teman-temannya. Jadi krucil ngga kuper-kuper amat sama hewan. Sesekali burung bangau lewat (terbang jauh di awan hehehe… ), tapi tak terjangkau daya lihat si bungsu yang belum mahir mengatur fokus.
Kopdar di bundaran HI? Naik sepeda juga, ngga? Hihihi… Sepedanya sepeda kumbang. Serangga numpang serangga :D
kerjaan macro yg ciamik, fokusnya perfect, keliatan sampek detail. dan hebatnya kok bisa nggak goyang blas toh itu kamera? paman ini memang punya tangan n mata sehebat sniper!
saya masih sering kesulitan moto macro. foto capung ini pake kamera apa toh paman? setelannya kayak gimana? your kung fu is very good.
waktu saya kecil…ibu saya selalu bilang….kalo ada anak yg masih ngompol…udelnya ta’ kasih capung biar brenti ngompolnya….
ada penjelasannya ga paman? hehe
Berbekal sapu lidi, waktu kecil saya kerap mengoleksi capung. Pyuk! Si capung terperangkap. Kemudian ‘holikopter’ kecil itu dimasukkan ke dalam kantong plastik. Karena tidak bisa bernapas, akhirnya capung-capung itu lemas dan mati. Dasar anak kecil! Mereka tidak tahu kalau binatang juga perlu bernapas seperti manusia…
kalau helikopter idenya dari capung ya?
Waktu masih di Papua, saya sering banget ngejar2 capung/kinjing… :)
Paman, mbok yo kuku ne itu dipotong :D
Wah ya susah paman. Di desa aja udah mulai jarang kok, apalagi yang kategori dhodhok-erok. beruntunglah kita-kita yang mengenyam masa kanak-kanak di desa hehehe…
Waktu SD suka ngejar2 Ndokerok (capung besar), kalau kecil ndokiyik. Yg merah mbranang disebut “gathutkaca”..kali karangan teman saya tu nama.. kalau dah ditangkap dikasih baju dari kertas, jadi terseok-seok terbangnya. Kasihan kalau ingat.. Apalagi yang dijepret pakai karet gelang, hancur badannya, tragis..
jadi yang suka kumpul2 di bundaran HI itu capung-capung ya, paman? :p
Paling seneng Kinjeng dom… sulit menangkapnya. Kalau kinjeng di daerah saya di ‘bali’, Yang merah namanya ‘Bambang-erang’, yang ijo namanya ‘Thithik-iyik’, kalau yang kebiru-biruan dan jarang namnya ‘Dhodhok-erok’
nah yang dipegang paman itu namanya ‘Thithik-iyik’.
btw: kok ndak pernah potong kuku?
masalah pendidikan ditanyakan saja sama kang urip nih..
yah begitulah, oom, ketidakterbatasan malah membuat kita terbatas, kita makin tergantung dengan teknologi, makin dimanjakan, dan ironisnya banyak produk teknologi yang juga merugikan lingkungan, jadi habitat si capung itu makin hari makin digilas oleh berbagai bangunan mal, payah nih :-)
saya juga seneng nangkepin capung waktu kecil.
sekarang juga lagi musim capung kayanya,
di depan rumah, banyak banget rombongan capung hilir mudik.
pernah nyoba capung bakar gak om?
enak dan garing lho.
Itu tangannya paman? Paman ini blogaholic ya? Hari minggu pun sempet-sempetnya posting..
–budiw
berarti ada untungnya saya tinggal di pinggiran kota. adik saya yang 6 tahun dah cukup banyak perbendaharaan serangganya.
semua peranti bisa dilibatkan pak dalam pembelajaran (mungkin juga sudah-setidaknya oleh mahasiswa UNJ), termasuk benda aslinya. tapi tergantung kreativitas guru, dan kadang… dana sekolah :D