SEKOLAH DINAS DIBUBARKAN KARENA KEKERASAN? NANTI DULU TO MAS…
Untuk jadi advokat, bukan pokrol, kudu lulus dari fakultas hukum. Lebih ketat lagi, untuk jadi dokter harus sekolah dulu di fakultas kedokteran (dulu: sekolah tabib tinggi). Untuk jadi apoteker harus tamat kuliah farmasi.
Taruh kata saya bikin Akademi Militer Gombalan, dengan bonus pelajaran esktra berupa lempar pisau ke orang yang terikat roda putar, dan menembak apel di atas kepala orang, maka lulusan terbaik tidak bisa begitu saja mendaftar ke Mabes TNI di Cilangkap. Kalau mendaftar ke Oriental Circus mungkin malah langsung dapat audisi. Bahkan siapa tahu langsung diterima kalau juga bisa menjinakkan singa, merangkap MC dan penyobek karcis — dan sesekali jual popcorn.
Begitulah, untuk jadi perwira tempur butuh sekolah khusus setingkat akademi. Tapi untuk jadi dokter militer, atau jadi hakim mahkamah militer, setahu saya tidak perlu jadi serdadu sejak prajurit satu/dua baru kemudian kuliah.
Profesi tertentu butuh sekolah khusus. Pastor berasal dari seminari. Pendeta (protestan) tertentu adalah tamatan sekolah teologi. Bahwa dalam praktik ternyata penggiat doa justru para sopir angkutan umum yang ugal-ugalan, tak tamat SD pula, itu adalah keajaiban spiritual nonsektarian, lintas iman pula.
Saya ndak ngerti pendidikan. Pun tak paham administrasi negara. Lebih dari itu saya bukan master of martial arts. Maka terhadap ide pembubaran IPDN karena ada pembunuhan, persoalannya bagi saya adalah seberapa butuh kita akan sekolah dinas setingkat S1?
Saya belum tahu sejarah sekolah-sekolah dinas pemerintah, jadi tolong Anda koreksi. Dalam pengandaian naif bin picik saya, sekolah-sekolah itu dulu muncul untuk memenuhi kebutuhan pegawai negeri yang berkualitas dalam bidangnya.
Dulu? Kapan? Yah, mungkin akhir 50-an sampai awal 60-an, ketika universitas belum berserak dan kuliah belum menjadi keharusan sosial. Dulu cukup tamat SMA setiap orang bisa bekerja jadi orang kantoran.
Nah, untuk memformat pegawai baru diperlukanlah sekolah khusus. Ada yang cuma kursus, ada yang cuma pendidikan dan pelatihan dasar, ada pula yang berupa perkuliahan selayaknya perguruan tinggi.
Jadi, kalau usul pembubaran sebuah sekolah dinas semata-mata karena ada kekerasan di dalamnya, bagi saya hanya tren reaksi sesaat semusim. Nanti kalau kasusnya berulang, usulan serupa didendangkan lagi.
Saya dulu, jujur saja, pernah termasuk penganut reaksi semusim yang pro-pembubabaran menwa gara-gara ada kasus kekerasan (yang saya juga lupa apa saja persisnya, tapi salah satunya kasus tewasnya The Manto).
Hanya saja alasan saya waktu itu lebih sok argumentatif akibat rasa kuciwa karena menwa terkesan kurang fungsional. Sebagai mahasiswa yang dilatih kemiliteran mestinya mereka berada di garis terdepan untuk melawan penyerbu kampus — siapa pun penyerbunya, terutama serdadu dan polisi. Juga tidak semestinya sebagian dari mereka menjadi pemasok info ke dinas intelijen militer seperti kasus di Semarang awal 90-an (padahal kalau menyangkut intel kampus, mahasiswa biasa pun ada).
Saya, waktu itu, berpendapat bahwa mereka yang ingin jadi serdadu setamat SMA punya dua pilihan. Mendaftar ke akademi militer atau kuliah biasa di kampus sipil lantas setelah lulus mendaftarkan diri sebagai calon perwira. Jadi selama kuliah tak perlu jadi tentara — kecuali dalam keadaan perang atau terkena wajib militer.
Kalau alasannya (cuma) menwa itu bagus untuk mengasah patriotisme, wah kegiatan pecinta alam juga begitu. Kalau alasannya (cuma) untuk melatih kedisiplinan, wala… unit kegiatan paduan suara juga memberikannya — bayangkan kalau setiap latihan satu lagu pesertanya gonta-ganti.
Ada yang bilang alasan saya, yang dimuat sebagai surat pembaca di Media Indonesia dan Tempo (belum zaman blog sih), itu lucu tapi masuk akal — dan sekaligus gombal. Saya tergerak menulis surat pembaca setelah mendapat berita alumni menwa akan melakukan sejumlah cara yang dilandasi bekal kemiliteran kalau korpsnya dibubarkan.
Kita tinggalkan kenaifan dan prasangka saya soal menwa. Bagaimana dengan kelanjutan sekolah-sekolah dinas setingkat D3 atau S1 atau sejenisnya?
Mestinya perlu kaji ulang tanpa niat melucu, mana yang masih relevan, dan mana yang tak diperlukan (cukup dengan diklat berjenjang). Bukan apa-apa, mereka dibiayai dengan uang rakyat.
Tautan:
+ Kekerasan dalam sekolah dinas pemerintah
+ Kaos trendi alumni IPDN
+ Galeri dukungan untuk IPDN





blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Zamannya Sekolah Beriklan | 31 03 2008 @ 17:11:41
[…] Saya tak tahu apakah IPDN, atau apalah namanya sekarang, perlu sepaket rencana komunikasi, yang muaranya tak hanya iklan di media tetapi juga lainnya. Artinya pengumuman pendaftaran hanya salah satu di antara itu. […]
antahbarantah | 19 12 2007 @ 23:10:59
Kepade semue siswe-siswe STPDN/IPDN, yang punye Sifet Penyikse ( utame yang wajeh-wajeh jeleknye yang nongol di teve-teve yang lagi pade mukulin-mukulin Yuniornye, GUE SUMPEHIN LU !!!!!!… BIER DISAMBER FIR’AOOONNN LUUUU !!!!! Daser Bajingen lu pade. GUE SUMPEHIN JUGE LU,… ELU-ELU PADE G BAKALAN DAPET KEBAHAGIAAN DIDUNIA AHERAT LU !!!! Goooooooo,..to HELL !
royakerly | 16 11 2007 @ 17:15:26
Two new studies show why some people are more attractive for members of the opposite sex than others.
The University of Florida, Florida State University found that physically attractive people almost instantly attract the attention of the interlocutor, sobesednitsy with them, literally, it is difficult to make eye. This conclusion was reached by a series of psychological experiments, which were determined by the people who believe in sending the first seconds after the acquaintance. Here, a curious feature: single, unmarried experimental preferred to look at the guys, beauty opposite sex, and family, people most often by representatives of their sex.
The authors believe that this feature developed a behavior as a result of the evolution: a man trying to find a decent pair to acquire offspring. If this is resolved, he wondered potential rivals. Detailed information about this magazine will be published Journal of Personality and Social Psychology.
In turn, a joint study of the Rockefeller University, Rockefeller University and Duke University, Duke University in North Carolina revealed that women are perceived differently by men smell. During experiments studied the perception of women one of the ingredients of male pheromone-androstenona smell, which is contained in urine or sweat.
The results were startling: women are part of this repugnant odor, and the other part is very attractive, resembling the smell of vanilla, and the third group have not felt any smell. The authors argue that the reason is that the differences in the receptor responsible for the olfactory system, from different people are different.
It has long been proven that mammals (including human) odor is one way of attracting the attention of representatives of the opposite sex. A detailed article about the journal Nature will publish.
cinta | 29 10 2007 @ 9:36:38
inu kencana kacian banget dia pengen jadi rektor tapi gak jadi jadi eh malah merusak nama dimana ia kerja…DASAR INU MANG GILA…ehm,,,tau gak dalam bahasa jepang inu itu berarti ANJING cocok banget dengan orangnya tuh…
jevri | 03 09 2007 @ 17:59:24
IPDN keren juga
Herdy Prabowo | 25 07 2007 @ 12:15:26
gitu deh
deden | 09 07 2007 @ 8:58:09
Saya tidak merasa paling benar, tapi langkah baiknya masalh pembubaran IPDN kita tanyakan kepada Pengguna/ User yaitu Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten Di Indonesia. Jika memang sudah tidak dibutuhkan, kami serahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwenang untuk mengambil keputusan untuk membubarkan STPDN/ IPDN. Terimakasih.
blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Inu Kencana Undercover | 06 07 2007 @ 10:38:28
[…] Beberapa praja STPDN/IPDN punya skandal seks dengan ibu rumah tangga di luar asrama. […]
dadan | 21 05 2007 @ 22:12:54
sok arogan kampungan tauuuu
tak sobek2 bajumu
baru tau
onoy | 21 05 2007 @ 22:11:03
mendingan jadi sekolah smackdown aja oooom
-tikabanget- | 20 04 2007 @ 8:26:29
iya, paman.. ^_^
reaksi semusim memang kadang ndak obyektif..
sluman slumun slamet | 18 04 2007 @ 17:06:26
pakdhe gambare takpek yo, tak gawe blog-ku
kalau gak boleh tak pukul lho
Harajuku Girl | 18 04 2007 @ 15:29:18
bubar aja deh ya… ;)
Dania | 18 04 2007 @ 11:12:37
Emang ga semua kampus kedinasan kaya gitu..
Nyatanya, kami yang di STAN adem ayem aja tuh.
Kita belajar pake duit rakyat, ga heran kalo tingkat DO di STAN amat tinggi. Dalam satu semester, bisa 40an orang dalam satu angkatan, satu spesialisasi yang kena DO. Ga sesuai standar? DO…
Makanya kami heran, ada alumni IPDN yang dulu kena kasus Wahyu Hidayat yang tetep dapet kerja, di Jabar pula. *Note, penempatan lulusan STAN di Pulau Jawa ibarat anugrah*
Kalo ada yang mengaitkan Kedinasan dengan kekerasan, nanti dulu…
Ga semua seperti itu.
Sekolah Kedinasan masih perlu, karena memang ada disiplin ilmu tertentu yang butuh sekolah spesialisasi yang hanya ada di Ilmu kedinasan.
Bwt para IPDN-ers…
Malulah, kalian belajar pake duit rakyat.
Kalo ternyata rakyat menghendaki dibubarkan?
helmi | 18 04 2007 @ 9:23:20
IPDN itu sekolah calon koruptor di golongan pemerintahan masyarakat,ada baiknya di bubarkan saja karena alumnusnya akan bakal menyusahkan saja
Dori | 18 04 2007 @ 0:10:50
Inu kencana Pigur Dosen Nomer 1
Bukan
Insan Praja Dididik Nendang dada
bubarkan IPDN, Ganti dengan unipersitas yang bisa mencetak calon pegawai negri yang ber akhlak baik jujur sopan berani bertanggung jawab
slalu terbuka, jangan kaya IPDN semua
tutup mulut (GTM)rektor dosen mahasiswa praja semua bisu ngga jujur
hanya satu dosen ya itu inu kencana, jujur berani terbuka mau bertanggung jawan seharusnya semua
dosen,rektor dan praja nyontoh kepada inu kencana
fernandogempar | 16 04 2007 @ 1:53:31
jangan2 film 300 itu pemerannya ngambil dari IPDN semua. :D
hyuuga | 15 04 2007 @ 18:27:59
Ayo dukung Pak Inu.
arya | 15 04 2007 @ 9:35:15
blognya ipdn itu lucu (jangan2 buat lucu2an aja)
banyak yang komentar. kebanyakan dgn nada marah (tmsk saya).
saya yakin, itu lucu2an aja kok. buat ngeliat reaksi kita2 yang emang lg sensitip sama isu ipdn ini.
venus | 15 04 2007 @ 1:04:25
http://ipdnmania.wordpress.com/2007/04/14/kampanye-hitam-itu-terus-berlangsung/
venus | 15 04 2007 @ 1:03:12
paman, sudah baca ipdnmania yg marah gara2 postingan ini? saya juga diamuk2..wakakaka…hajar bleeehhhh!!!
Rian | 13 04 2007 @ 20:34:08
IPDN = Institut Pebunuhan Dalam Negeri, baginya hanya ada satu kata “BUBARKAN!!!”
nYam | 13 04 2007 @ 11:02:38
nah ya itu dia. kalo sekolah si mas dibubarin juga dengan alasan kaya IPDN, jadi mikir, dimana kekerasannya? ga mungkin lah pukul-pukulan pake kalkulator:D
Institut Penganiayaan Dalam Ngeri « IPDNmania | 13 04 2007 @ 9:54:52
[…] Bagaimana dengan kelanjutan sekolah-sekolah dinas setingkat D3 atau S1 atau sejenisnya? Mestinya perlu kaji ulang tanpa niat melucu, mana yang masih relevan, dan mana yang tak diperlukan (cukup dengan diklat berjenjang). Bukan apa-apa, mereka dibiayai dengan uang rakyat NEXT >> […]
Jarar Siahaan | 13 04 2007 @ 0:54:37
tadi, begitu membaca topik ipdn ini, sebenarnya aku ingin berkomentar banyak.
tapi pas aku perhatikan lagi gambar IPDN SHOW, aku ketawa sendiri dan memutuskan “no comment” — gambar itu sudah menjelaskan semua yang ada di otakku.
hebat paman tyo.
salam.
Ahmad | 12 04 2007 @ 20:44:57
Jika Densus 88 lihai menggulung teroris, mengapa tidak dimanfaatkan untuk membekuk pelaku teror di IPDN?
Kita kadang alpa bahwa kekerasan itu bisa menghinggapi siapa saja.
Biho | 12 04 2007 @ 13:03:27
Bubarkan!
Qky | 12 04 2007 @ 12:55:03
DPR-nya aje, Oom, yg katro… mbok, ya, di-tinjau ulang, kepentingannya, kalo mo jadi Camat musti kayak gitu kekerasannya, berarti… idealnya, kalo mo jadi Presiden, kudu digebukin orang se-Endonesah, dulu, dong, Oom… Mana pake APBN lagi duitnya… dasar katro…
johnherf | 12 04 2007 @ 11:59:01
Kalau menggunakan gaya pemerintah mengelak, saya sependapat untuk menyebutkan ulah mahasiswa IPDN hanyalah perbuatan oknum. Untuk menghukum oknum (menangkap tikus), masakan dengan cara membakar rumah besar, misalnya. “Setali tiga angpao” dengan IPDN, lha untuk menangkap oknum pelaku kekerasan kok membubarkan proses belajar-mengajar di kampus. Yang keras (negatif) ada pada sejumlah oknum, yang tidak keras (positif) mungkin lebih banyak jumlahnya. Kecuali muncul bukti lain bahwa institut perguruan tinggi negeri mayoritas mahasiswanya berperangai kekerasan sangat tinggi dan membahayakan keselamatan sesama mahasiswa, bahkan dosennya!***
ndahmaldiniwati | 12 04 2007 @ 10:48:36
paman, kaos IPDN-nya laris manis tajung kimpul ya, koq dah abis ajah sih;(
IPDN dulu kan ada krn kebutuhan pegawai “berdedikasi&handal” yg juarang, skrg ka’nya ga’ butuh lagi deh IPDN, banyak koq lulusan pendidikan tinggi yg brkualitas (sprt saya contohnya hehehehe)
rombong rokok | 12 04 2007 @ 10:45:24
ha ha ha gambarnya apik tenan
beta | 12 04 2007 @ 8:38:01
Wah langsung slashdotted tuh geocities IPDNjaya.. ada yang punya picnya nggak?
Aspal | 12 04 2007 @ 8:37:03
“Bahwa dalam praktik ternyata penggiat doa justru para sopir angkutan umum yang ugal-ugalan, tak tamat SD pula, itu adalah keajaiban spiritual nonsektarian, lintas iman pula.”
Dapet data darimana nih?
Pernah jadi sopir angkutan Om?
:P
adi | 12 04 2007 @ 8:29:32
koreksi paman. tamat kuliah farmasi blm bs jd apoteker lho, mesti sekolah apoteker lg. dan lg setau saya stpdn/ipdn tu penerus sekolah MOSVIA jmn kolonial dulu.
tukang ketik | 12 04 2007 @ 8:21:22
“Kalau alasannya (cuma) menwa itu bagus untuk mengasah patriotisme, wah kegiatan pecinta alam juga begitu. Kalau alasannya (cuma) untuk melatih kedisiplinan, wala… unit kegiatan paduan suara juga memberikannya”
Betul-betul. Setuju banget…
beta | 12 04 2007 @ 8:19:48
dapet dari mana tuh link kaos IPDN? kocak2… pesen ah buat anak..
thya | 12 04 2007 @ 8:10:28
Sekolah ini dibuat dengan tujuan yang baik, dirusak oleh orang dalam sendiri (baca: siswa ato juga dosen mungkin ?).
Sebelum dibubarkan, sebaiknya diberesi dulu sistemnya. Membubarkan tidak selamanya menyelesaikan masalah.
BTW apakah di IPDN pernah diadakan kuisioner mengenai program tv favorit ?
Jangan2 acara smekdon adalah favoritnya para siswa…
;p
b0wo | 12 04 2007 @ 7:54:30
saya rela di pukuli waktu mengurus KTP, saya rela ditendangi waktu mengurus KK, surat nikah, Keterangan kelakuan baik, tapi… saya tidak rela di bunuh tuk itu…
boit | 12 04 2007 @ 1:22:06
mungkin kalo di indonesia, jadi kepala pemerintahan harus kuat dipukulin, ntar kalo ketemu massa yang demo trus ngamuk kan udah punya bekal.. artinya mereka udah mikirin masa depan indonesia, yang kemungkinan besar akan dikuasai organisasi massa.. gubbbrakkkk…
mbahatemo | 12 04 2007 @ 1:00:27
yg saya tahu, praktik2 kayak gitu ndak bisa dijadikan kultur lembaga sekolahan.. apapun namanya..
Yves | 11 04 2007 @ 22:37:12
Nggak usah ditutup. Dibekukan saja sementara, trus dibuka dengan nama lain, struktur lain, tempat lain, tema lain (misalnya: kimia, hukum), jenjang lain (misalnya: D3, D1, SMK), menggunakan anggaran yang selama ini dibuang untuk pembodohan luar biasa bernama APDN/STPDN/IPDN ini.
Anang | 11 04 2007 @ 21:44:16
BUBARKAN SAJA!
lenje | 11 04 2007 @ 21:33:37
Atau dibuat kayak sekdilu:D? Yang saya gak ngerti, kenapa cuma IPDN ya, sekolah dinas yang lain gak gitu. Sama gak ngertinya saya kenapa sampe sekarang masih ada tawuran antar sekolah di kawasan Budi Utomo (eh, masih gak sih?)
dinda | 11 04 2007 @ 21:02:06
stuj!
udah jamannya lah riset dulu yang bener dan objektip sebelum memutuskan. jangan ujug2 kontra, ujung2 bilang nggak. *ih, sejak kahwin, kok gw jadi wise begini yah? kikikikik*
ngadimin | 11 04 2007 @ 20:59:10
udah jangan terima praja baru sampai semua praja yang sekarang lulus.
ganti semua perangkat di ipdn, yang sekarang di mutasi aja :P
*gampang banget yah ngasih usulan*
agusset | 11 04 2007 @ 20:40:17
gak usah dibubarin, dijadiin sasana tinju atau perguruan pencak silat aja…
Obyektif | 11 04 2007 @ 20:27:58
http://www.youtube.com/watch?v=htcoUCI7y7c
Kenapa masih harus dipertahankan?
Obyektif | 11 04 2007 @ 20:19:57
IPDN (dulunya STPDN) memang pantas dibubarkan. Seperti yang diungkap oleh dosennya sendiri (Pak Inu) bahwa telah terjadi banyak sekali kematian yang tidak wajar karena kekerasan di IPDN maka sudah sepantasnya dibubarkan.
Mau jatuh korban berapa banyak lagi?
Mending DITUTUP daripada dibiarkan dan dikelola oleh orang-orang yang tidak becus dan isinya cuma kekerasan.
Tidak heran kalau kondisi Indonesia akan semakin terpuruk karena orang-orang yang duduk di pemerintahan berasal dari sekolah amburadul seperti IPDN.