JIKA BEGINI TERUS MAKA….

pembunuh dari IPDN/STPDN

pembunuh dari IPDN/STPDN“Jadi, mereka selama ini nggak dihukum, Pak?” mata polos bocah itu menatap lekat sambil memegang koran.

Mereka yang dia maksud adalah para terdakwa dan terpidana pembunuh siswa STPDN (kini IPDN) Wahyu Hidayat pada 2003. Mereka tetap bisa berkarier di birokrasi, termasuk yang masih merasa menunggu keputusan Mahkamah Agung.

Untunglah saya tidak, eh belum, menjadi guru IPS atau sejenisnya di sekolah. Pertanyaan macam ini gampang tapi menjawabnya tidak mudah, butuh kebijaksanaan (kalau kawicaksanan, hanya Wicak yang punya).

Guru akan kerepotan jika anak bertanya penuh desak, “Jadi, kalau nggak ada ramai berita di media, jaksa nggak akan menangkapi mereka lagi?”

Pendidikan juga berarti penanaman nilai-nilai, tentang apa saja yang luhur, yang seharusnya. Seiring perkembangan anak, tentu saja perlu penyodoran realitas untuk disikapi, bahwa apa yang semestinya ternyata jauh panggang dari api. Makin gede angka korupsi makin berkumungkinan ringan hukumannya, bahkan bisa bebas demi hukum.

Untung saya bukan guru IPS dan sejenisnya. Tanggung jawab saya tak seberat mereka. Padahal yang dihadapi tetap sama: pedagogi buruk dari penyelenggara negara.

Hanya ini yang bisa saya katakan: “Ada yang nggak beres, sayang.” Akan capek saya kalau menjelaskan belitan birokratis yang menyangkut memo, kesepakatan di luar hukum, penjaminan, sponsor atas nama semangat kedaerahan (atau malah demi kepetingan nasional), dan hal-hal aneh lainnya.

Taruh kata para terdakwa masih menunggu keputusan hukum yang berkekuatan pasti, maka demi kepentingan banyak pihak, termasuk perikeadilan dan pendidikan bagi rakyat, mestinya mereka tidak dipekerjakan.

Bagi hamba hukum, itu akan mempermudah pekerjaan, karena tinggal menangani orang biasa, bukan pejabat publik (sesuatu yang mestinya juga gampang ding).

Bagi si terdakwa, kalau kita berbaik sangka, akan lebih enak kalau dia tak menjabat — secetek apa pun jabatannya. Alangkah tak enaknya, bagi manusia normal yang berbudi luhur, jika ada bisik-bisik, “O, dia pejabat yang dulu disidang karena tuduhan membunuh itu ya?”

Misalkan mereka tak menjadi ambtenaar selagi menunggu keputusan MA, lantas setelah keluar keputusan yang mengukuhkan bagaimana?

Lebih khusus lagi sodokan hipotetis ini: sekeluarnya mereka dari menjalani hari-hari panjang (eh pendek) di rumah bui, untuk membayar tindakannya pada masa lalu, masih bolehkah jadi ambtenaar?

Semua orang tahu, meski gaji resmi tak sebesar perusahaan multi/transnasional, masih banyak orang yang mengantre jadi pegawai negeri atas sejumlah alasan. Stok yang lebih muda, dan semoga lebih cerdas lagi produktif, layak mendapat prioritas.

Tak penting adakah peraturannya, rasanya semua orang setuju (apalagi profesor pendidik calon birokrat), barang siapa eh… siapa pun yang pernah kesandung pelanggaran hukum serius, bukan cuma lupa memakai helm, tak layak jadi abdi negara.

Ternyata tak rumit persoalannya. Tak rumit untuk terpidana yang kasasinya ditolak MA. Tak rumit untuk seorang penggombal yang bukan guru IPS, bukan penegak hukum, bukan pejabat wilayah, pun bukan pemuja Dewi Formalina. Kecuali surat berkelakuan baik yang dipakai adalah dari Kepala LP: “Ybs selama blablabla… terampil mengelas dan mengobras…”.

Tautan:
+ Menimbang IPDN
+ Saya tidak anti-IPDN

© Ilustrasi: repro Koran Tempo

 

41 Responses to Pedagogi Buruk di Luar Kampus IPDN

  1. [...] Silahkan tuduh saya menggeneralisir, tapi bila akhirnya kapal itu tenggelam, mereka semua PANTAS dan HARUS ikut tenggelam. Ekstrim? Supaya lebih ekstrim, kapten kapal juga harus DIHUKUM MATI, BERKALI-KALI!!! *sambil nunjuk-nunjuk langit* Hehe, hiperbola sih, tapi anda mengerti kan? Kalaupun ada yang selamat, apalagi kalau sampai dijadikan pejabat, mereka bukan hanya jadi sampah, tapi SAMPAH BERACUN yang hanya akan jadi jongos para pembusuk di negeri ini. [...]

  2. [...] Buat anda yang menganggap ini adalah letupan emosi sesaat?, bagi anda yang ingin mempertahankan IPDN, bagaimana anda menjelaskan hasil ini, manusia terbaik bangsakah yang berbuat?, bagaimana dengan ini dan ini, Penguasa yang bijak kah mereka? [...]

  3. singgih INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Walah, bener paklik. lha saya guru IPS SD, mbingungi pas anak-anak (yang baru klas 5 dan 6) nrocos nanya tentang IPDN ama para ‘teroris gentayangan itu’. piye jal ? padahal, bagi anak SD, guru IPS adalah semacam ensiklopedi yang harus siap dibukak dan ditanyak. Lhah, paling pool, ya dijawab bahwa mereka lah yang harus ngubah negara ini. Sekali lagi, Piye jal ?

  4. Qky INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    IPDN? apaan tuch? NGGAK PENTING!

  5. thya INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Jadi, inti dari tulisan paman adalah:
    Jaman skarang anak sudah pintar-pintar,
    Informasi sudah sangat mudah diperoleh,
    Maka, jadilah ORANGTUA yang selalu bijaksana menyikapi perkembangan situasi sosial-politis, supaya tidak gagap ketika ditanya oleh sang anak & tidak asbun.
    ;-)

  6. mbèk INDONESIA Opera Windows says:

    yang saya heran dan ingin tahu, apa mereka yang terbukti menganiaya hingga si korban terbunuh tersebut tidak “impèn2en” ya? dengan kejadian itu kok ya masih bisa bekerja dengan santai…
    seperti lagunya iwan fals, nurani dimana dirimu…

  7. luluk NETHERLANDS Internet Explorer Windows says:

    Ini dia…STPDN and the gang…Ditengah kesibukan yang berhubungan dengan panganiayaan, masih sempat rupanya ber-prenster-ria. Cubak kita lihat kayak apa tampang anak2 STPDN…

    http://www.friendster.com/friends/12612764

  8. Rian INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Negara negara
    Negara harus adil
    Kalau tidak bubarkan saja
    Atau ku adukan pada sang sepi

  9. Biho INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    adili dan hukumlah sehukum-hukumnya :D

  10. agusset GERMANY Mozilla Firefox Windows says:

    kalau mereka masih bebas, sebenernya yg “salah” bukan IPDN lagi, tapi ya karena hukum di kita memang menganut azas “kekeluargaan” dan “musyawarah untuk mencapai mufakat”…

    sekalian aja bubarin indonesia, karena yg gak beres itu ternyata indonesianya… hahaha…

  11. hyuuga INDONESIA Opera Windows says:

    mereka dipekerjakan mungkin biar tahu bahwa sebenarnya kekerasan itu sangat tidak perlu dalam pekerjaan mereka. heu.., nampak tidak ngefek.

  12. didats KUWAIT Mozilla Firefox Windows says:

    otak-otak mereka itu memang udah di cuci abis.

    jadi, kayaknya memang salah satu jalan ya di bubarkan aja.

    ngeri ngeliat beberapa tahun mendatang, indonesia dipimpin oleh mereka-mereka.

    sayang, jadi kuwaiti di sini susah buat cowok…

    hahaha… :P

  13. mpokb INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    beuh.. antre tanda tangan camat buat KTP aja lama banget, kudu main cilukba dulu. kalau ada satu birokrat yg bisa bikin sistem tidak berbelit2, baru saya akui dia putra/putri terbaik.

  14. henny TAIWAN Internet Explorer Windows says:

    KASUS IPDN..capek ngomelnya ngak guna..wong yg bersangkutan telinganya budeg otaknya kosong

  15. bank al INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Foto Paman Tyo yg sebelah mana ?

  16. arya INDONESIA Mozilla Firefox Linux says:

    ow… kayak gitu toh muka2 pembunuh wahyu hidayat? :D

  17. Dulu sempat berpikir kalo hanya kasus korupsi saja yang bisa dimainkan, ternyata kasus pidana pun bisa dimainkan. oalah tobat-tobat

  18. harusnya pihak wahyu hidayat diwakili pengacara yg bonafid ka’ kasusnya alda itu lho, jadi kan presure-nya lbh mantaBH! kalo ga’ gembar gembor di media ga’ bakal ada yg denger apalagi brsimpati;(

    Ayo media, terus blow up IPDN, biar masyarakat tidak lupa (lagi)!!

  19. eka INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    Om apa pura pura gak ngerti ya? Kan yang bikin sekolah itu pejabat, jadi dia bikin sistem yang buat enak (dan aman) pejabat senior. Si pejabat baru jadi tetep tunduk nduk pada pejabat senior. PEjabat disini ya semua department, Depdagri kan temennya polri atau kehakiman. Sama aja toh.. Ya terus muter muter kaya gitu. Walo uang rakyat yang dipake dana sekolahan itu biar katanya dana pendidikan bisa nyampe 20% APBN diselewengkan untuk anggaran belanja sana sini, toh rakyat ributnya cuma di media saja. Ato yang kaya om gini ngomel ngomel ndiri di blog. Sudah untung hari ini saya baca blognya si om ni.

  20. Deny INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    kurang penanaman values di ipdn ya mungkin?
    cuma kedisiplinan aja dan balas dendam (kaya film india).

    om, ngasih usul dikit
    mbok ya kata-kata yang susah (ambtenaar dan pedagogi) itu dikasih acronym-nya dengan menggunakan html.
    jadi, orang yang awam dan krucil seperti saya ini,
    bisa ngerti dan nantinya bisa ikutan ngomong kaya ningrat :D

    suwun, om.

  21. Ekornya ikut bergoyang senada kepalanya, kan?
    Atau: ikan busuknya dari kepalanya dulu, iya kan?
    Mentalitas manusia (Indonesia): begitu pakai seragam (apakah seragam tukang parkir, polisi atau apapun) langsung merasa berada di atas masyarakat umum. Jadi ya tindakannya sewenang-wenang.

  22. prihatin INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    paman terlalu baik, bijak, konseptual tapi kita kan ga’ sabar. gimana kalo orang2 yg di photo sebelah disemprot pake mobil tinja???? setiap rt/rw patungan buat nyewa mobil tinja lantas nyemprot mereka para pembunuh itu???

    yg pragmatis gitu loh paman!!! :D

  23. anima INDONESIA Safari Mac OS says:

    kemaren saya nonton di sctv neh, memang bener-bener ada yang ga beres..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.